Caterpillar Story :)

Baru aja gw dapet telepon dari temen gw tersayang, suaranya putus-putus karena sinyal yang jelek. Sepintas terdengar kaya nangis apalagi kalimat pertama yang dia ucapkan adalah “Gw nggak terima!!” Gw pikir dia lagi ribut gitu sama siapa, ternyata…

Baru aja doi mencak-mencak lihat foto jadulnya waktu SMA yang diunggah di grup BBM…hadeeh..:D

Sebetulnya gw nggak terlalu mengenali dia di foto itu, karena dulu gw juga nggak terlalu kenal sama dia (hahahahaha :D) Setelah gw perhatikan lagi…emang lucu sih! Lalu gw berpikir how lucky she is!! 😀

Dulu doi emang gemuk pendek gitu (dan dia juga mengakui), tapi latihan-latihan pilatesnya beberapa tahun terakhir berhasil bikin si ulat bulu chubby ini berubah jadi kupu-kupu dan foto itu “bukti progress”nya, no kidding she’s damn stunning 😀

She must be proud, at least she’s a caterpillar who turns into a butterfly (me? I think I’m a caterpillar who turns into a fire dragon. LOL) Lalu tiba-tiba gw agak menyesal, karena dulu hampir nggak pernah suka difoto kecuali dipaksa. Gw terlalu sadar betapa jeleknya gw dulu sampe-sampe nggak pengen lihat foto gw sendiri. Bertahun-tahun kemudian ketika gw sadar bahwa hal terpenting bagi hampir semua remaja adalah tampilan luar, gw agak menyesal karena nggak punya kenangan caur untuk diketawain.

Beberapa hari yang lalu, setelah ngobrolin soal acara reuni sama beberapa teman di BBM, gw nanya ke suami gw “Mas, kenapa ya dulu SMA aku nggak punya pacar?” Suami gw ketawa dan berkata “Lha yo kowe elek tenan” (“Lha ya kamu jelek banget”). Mau marah nggak bisa, karena (sialnya) itu benar hahahaha 😀

Masa SMA adalah masa pertumbuhan fisik dan emosi, gw rasa nggak apa-apa menjadi gila sesaat di masa itu. Gw aja masih inget ada temen gw yang dulu sempet-sempetnya ngaku kena kanker (ok, that was hilarious) trus yang lain nggak mau kalah ikutan ngaku kena penyakit apa gitu (huahahahahahahahahaha XD), beberapa dari kami senang jadi pusat perhatian dengan cerita-cerita yang diada-adain. Jelek dan gila: masa remaja yang sempurna.

Masa di mana lo bahkan nggak tahu akan jadi apa tubuh dan kepribadian lo nantinya. Masa itu ya masa itu. Cewek-cewek berusaha tampil menarik di depan cowok-cowok. Sebagian berani tampil beda dengan sedikit berdandan, yang lainnya (salah satunya gw) nggak tertarik dan tetap setia pada seragam putih abu-abu standar tapi mengerutkan kemejanya atau memanjangkan sedikit roknya. Masa puber akan ketertarikan lawan jenis yang mungkin waktu itu kita salah artikan jadi “cinta” (ok, that was funny XDDD).

Jadi yah, emang intinya gw agak menyesal dulu nggak banyak berfoto. Gw punya sedikit masalah kepercayaan diri di atas kertas foto. I can own a stage, but I can’t stare a portrait of myself 😀

So…be proud, epoy! we were caterpillars until we chose a perfect time to turns into butterfly! 😀 😀 😀

Advertisements

Banyak Jalan (Nyasar) Menuju Ke…Blog Saya

Salah satu fitur yang gw sukai di wordpress adalah “Search Engine Terms“, dimana kiba bisa lihat orang-orang menggunakan beberapa kata kunci atau istilah di search engine untuk menemukan blog kita. Awalnya ada lah berasa ge-er pas lihat nama blog gw ternyata lumayan banyak dicari *PLAK! PLOK!* tapi lama kelamaan gw ngerasa lebih banyak yang nyasar daripada yang berniat nemuin ini blog.

Yang menarik dari orang-rang nyasar tersebut adalah kata-kata kunci atau istilah yang mereka pake atau bahkan apa yang mereka cari itulah yang bikin gw ketawa sampe pada akhirnya nyasar ke blog antah berantah ini, diantaranya adalah:

“Warung makan di Jogja yang bisa bungkusnya ada cap rumah makan”
-> Maksudnya rumah makan padang? biasanya sih kalo yang kemasan kardus ada cap rumah makannya

“Rempong itu apa”
-> Sering banget muncul ni kata kunci, hari gini masih aja ada yang nggak tau rempong itu apa?

“Sushi ala rumahan”
-> Penggemar sushi tapi nyaris bangkrut untuk ke restoran Jepang…senasib sama gw

“cewek mall ( paha mulus & dan pantat seksi)”
-> Ketebak banget deh kualitas ini orang…

“Gadis sadis”
-> Well, you got me 😀

“Emosi Tora Sudiro dorong wartawan”
-> Oh ya??? *buka situs gosip

“Dari arah stasiun Bekasi turun stasiun Pondok Jati”
-> Pasti lagi cari alamat! 😀

“Istri berkulit putri n suami kulit sawo matang jadi anak nya warna kulit nya apa ya”
-> Ada yang bisa jawab?

“Bawa dompet pake sarung”
-> What???

“Mengapa HRD menasehati kita pada saat interview”
-> Oh ya? Maksud gw “oh ya?” dengan muka datar

“Kekasih Indra Prasta The Rain”
-> Cieeee…suka yaaaa… 😀 😀 😀

“Kata-kata sindiran buat teman yang tidak mau berteman sama kita”
-> Who are you? friend of fairy godmother? 😀

“Perkataan majikan yang bikin kesel supirnya”
-> For sure: Banyak! 😀 😀

Monster Duri

Pada suatu hari terdapat seorang gadis kecil, ia pendek, bertubuh bulat, berambut ikal dan berkulit gelap. Karena penampilannya yang ganjil ia sering diejek oleh saudara-saudaranya.
Gadis itu sedih, meskipun ia diam saat diejek saudara-saudaranya di lain waktu ia sendirian menatap cermin dalam kamarnya dan menangis “Mengapa aku tidak cantik?” tanyanya pada diri sendiri.

Karena terlalu sering menangis, air mata gadis itu habis dan matanya berdarah. Ia tak ingin bersedih tapi ejekan itu selalu diberikan padanya. Lalu datanglah seseorang di malam gelap, ia menawari gadis itu sesuatu.

“Namaku Dendam, aku bisa menghilangkan rasa perih dari keringnya air matamu”
“Benarkah?” Tanya gadis itu tak percaya, “Tapi bagaimana?”
“Setiap kali kau bersedih, kau tidak akan menangis dan kau tidak akan pernah merasakan perih lagi karena keringnya air matamu, tapi setiap kali kau merasa sedih atau marah satu duri tajam akan muncul dari tubuhmu.”
“Baiklah,” Gadis itu menyetujuinya., ia terlalu kesakitan untuk berpikir panjang. Dendam pun menghilang.

Keesokan harinya kakak sang gadis kembali mengejeknya “Kau berkulit gelap, kau bukan saudara kami, lihatlah pipimu itu seperti bola! Hahahaha…” Si gadis kembali bersedih, namun betapapun ia merasakan rasa marah atau sedih, ia tetap tak bisa menangis, hanya satu duri tumbuh dari tangannya.

Hari-hari berlalu dan duri yang tumbuh di tubuh gadis itu kian banyak. Terlalu sering ia bersedih dan marah, ia terlihat tenang namun durinya semakin banyak.

Suatu hari duri itu tumbuh hampir di sekujur tubuhnya, begitu banyaknya sehingga bila ia berjalan semua orang harus menyingkir. Saudara-saudaranya menjadi kesal karena mereka menjadi sering tertusuk duri setiap berada di dekatnya.

“Kau monster! Lihat kau baru saja menggores kulitku, ini sakit!”
“Sesungguhnya, kau yang menciptakan monster ini.” Sahut si gadis. “Setiap kali kau ejek aku dan aku merasa sedih atau marah, satu duri tumbuh di tubuhku, sekarang kau rasakan sakitnya setiap kali berada di dekatku.”

Meski begitu, duri-duri di tubuhnya tidak hanya mengganggu saudaranya tapi juga mengganggu orang lain yang berpapasan dengan gadis itu, mereka takut untuk berada di dekatnya khawatir duri-duri tersebut melukai mereka. Mereka menjulukinya Monster Duri.

Kisah Monster Duri tersebar ke pelosok desa dan terdengar oleh telinga seorang anak laki-laki. Karena pensaran ia memutuskan untuk mencari untuk melihat keberadaan Monster Duri tersebut.
Akhirnya anak laki-laki tersebut berhasil melihat sosok yang ia cari.

“Ah, itu sudah pasti ulah Dendam” gumamnya.

Suatu hari anak laki-laki tersebut mendekati Monster Duri yang sedang duduk termenung di bawah pohon nan rindang.

“Jangan mendekat!” Monster Duri memperingatkan “Duri-duriku bisa menyakitimu!”
“Kau tahu, duri itu bisa disembuhkan, kau bisa menghilangkan semua itu sehingga kau tidak lagi bisa menyakiti orang di sekitarmu.”
“Benarkah? Bagaimana caranya?”
“Kau hanya perlu mengusir Dendam dari dalam dirimu, ia yang menumbuhkan duri-duri itu dari dalam untuk menyakiti orang lain.”
“Tapi aku tak tahu caranya” kata Monster Duri sambil tertunduk sedih. “Aku lelah menjadi seperti ini padahal aku hanya ingin bersedih ketika diejek oleh saudara-saudaraku, bukan menyakiti mereka”
“Aku bisa meminjamkanmu Air Mata” kata si anak laki-laki, ia mengeluarkan sebotol kecil air mata. “Bila kau sedang sedih atau marah, kau bisa mencariku, katakan apa yang membuatmu sedih dan marah lalu kupinjamkan kau Air Mata ini sehingga matamu tak lagi kering.”

Begitulah akhirnya setiap kali Monster Duri merasa sedih dan marah ia mencari si anak laki-laki, ia bercerita apa yang dialaminya makan si anak laki-laki meminjamkan Air Mata agar ia bisa menangis. Setiap kali Monster Duri menangis, duri-duri di tubuhnya semakin berkurang.
Meski begitu Dendam tetap tak mau pergi dari tubuh Monster Duri yang kini sudah kembali menjadi gadis kecil biasa.

“Kau tahu, aku tidak bisa mengusir Dendam dari tubuhmu, meski begitu kalau kau sedang bersedih dan marah, ingatlah untuk selalu mencariku.”

Gadis kecil itu sangat bahagia, ia pulang ke rumah dengan hati riang. Di rumah, keluarganya menyambut gembira gadis itu. Saudara-saudaranya yang penuh lukapun meminta maaf padanya.

“Maafkan kami, sesungguhnya kamilah yang pada awalnya membuat kau menjadi Monster Duri, kau sama cantiknya seperti gadis lain, sungguh!”

Gadis kecil itu semakin bahagia mendengarnya yang kemudian membuat Dendam menjadi tidak nyaman bersandar di tubuhnya. Dendam pun pergi menacri tubuh lain yang marah dan bersedih.
Sementara sejak saat itu, gadis kecil dan anak laki-laki tersebut menjadi sahabat, keduanya selalu berusaha ada satu sama lain agar Dendam tak kembali dan merenggut kebahagiaan mereka.

“Under Estimated”

Seperti biasa, commuter jurusan Jakarta-Bekasi penuh sesak, cuma kali ini tingkat kesadaran penumpang di gerbong khusus wanita sedikit membaik. Orang-orang berdingklik beberapa diantaranya secara sukarela berdiri ketika di tiap-tiap stasiun jumlah penumpang makin berjejal. Sebagian lainnya wassalam, semoga hatinya lebih terbuka untuk urusan yang lain ketimbang toleransi terhadap sesama wanita yang juga sama-sama kelelahan sepulang kerja.

Gw pun kebagian nyempil tanpa jatah gantungan. Otomatis pasang kuda-kuda dan jurus selancar ketika memasuki stasiun Jatinegara (soalnya rel di daerah itu agak miring dan kalo kereta lewat jadi berasa naik kapal kecil digoyang ombak).

Syukurlah selalu ada orang-orang aneh untuk ditonton. Di depan gw ada cewek yang lagi asyik BBM-an. Entah gimana caranya di suasana sesak begitu, gw aja susah payah ngirim pesan ke suami gw pake BBM cuma untuk kasih tahu gw udah di kereta jadi dia bisa siap-siap jemput gw di stasiun Bekasi.

Karena jarak yang begitu dekat dan posisi tu cewek ngebelakangin gw, otomatis gw lihat jelas LCD BBnya. Lebih tepatnya lagi, gw lihat jelas dengan siapa dia lagi chat dan semua pembicaraannya jelas banget kebaca sama mata gw. Dia lagi chat sama pacarnya berinisial RK. Dia juga laporan pandangan mata udah sampe stasiun mana setiap kali kereta berhenti untuk naik-turun penumpang.

Pembicaraan mereka makin seru sampe dia ngetik “Under Estimated”. Lalu pacarnya nanya:

Pacarnya: under estimated apaan?

Cewek: nggak bisa diprediksi

Pacarnya: bukannya “under estimated” artinya “meremehkan” ya?

Cewek: iya, selain itu artinya juga nggak bisa diprediksi, berasal dari kata “under” yang berarti tidak dapat, tidak bisa, aku kan english nya usefull

Pacarnya: nggak bisa diprediksi itu “unprediction”

Ceweknya: oh iya ya..ada kata-kata itu? biarin aja c, english ku kan gaul

Karena ngerasa “english” gw juga pas-pasan, gw pun berpikir keras tentang kesimpulan si cewek dalam mendefinisikan kata “under”. Trus gw inget, oooo…mungkin dia sering lihat frase “under construction” di sebuah laman internet atau proyek kerjaan di jalanan, itu berarti kan yang ditandai itu “nggak bisa dipake”. Ini mungkin lho…

Karena penasaran gw BBM temen gw yang jago “english” untuk nanyain perihal ini, tapi kayanya HPnya lagi ga aktif. Jadi, sampe saat ini gw masih penasaran, apakah “under estimated” bisa berarti “nggak bisa diprediksi”? Monggo, kita belajar “english” sama-sama.. 😀

Salah Rok Mini?

I feel weird. Begitu banyak hal yang mau gw ceritain, tapi gara-gara berita heboh pemerkosaan seorang karyawati di sebuah angkot yang berujung dengan kontroversi rok mini…gw jadi ngerasa aneh sendiri. Untuk hal-hal seperti ini seperti biasa…gw punya pendapat yang konvensional.

Apalagi tadi sempet baca satu artikel rame-rame para aktifis perempuan menolak untuk disalahkan karena udah pake rok mini. “Jangan salahkan rok mini, salahkan si pemerkosa”. Kurang lebih begitulah…

Gw cuma mau mengingat hari-hari kemaren, di mall, di angkutan umum, di mana-mana… Di Mall, misalnya, terutama mall-mall mewah, hotpants bukan lagi barang yang aneh untuk dipake. Mungkin bagi laki-laki yang melihat paha mulus dibalut hotpants ketat, itu anugerah. Tapi buat gw…jujur gw agak risih ngeliatnya, bukan karena gw iri paha gw nggak semulus itu, tapi coba lo perhatikan tatapan beberapa laki-laki yang ngeliat tu obyek (tanpa bermaksud menyudutkan baik gender laki-laki atau perempuan ya), jijik nggak sih lo liat tatapannya? Dan gw bisa memastikan itu bukan tatapan seorang pengapresiasi seni yang lagi menatap lukisan Monalisa di museum. Itu tatapan seandainya-paha-itu-bisa-saya-sentuh. Correct me if I’m wrong.

Itu di Mall, tempat yang sedikit lebih “aman” karena di tempat itu semua orang (berpura-pura?) hal-hal seperti itu adalah wajar sampai matanya melirik ke obyek tersebut dengan pikiran macem-macem.

Lalu gimana dengan cewek-cewek yang sering gw lihat di angkot dengan rok pendek dan makin pendek ketika di duduk (dan lo tahu bener pastinya duduk di angkot itu sangat nggak nyaman), baju dengan leher berbelahan rendah (yang kalo mau naik atau turun angkot otomatis makin rendah tu belahan) atau jeans pas pinggul yang kebetulan dipadu dengan baju yang nggak cukup panjang, pas duduk, itu jeans akan melorot sampe memperlihatkan garis bokong lo, seksi? nope…gw lihatnya jijik, nggak ada indah-indahnya sama sekali.

Sekarang gimana mungkin nyalahin orang lain yang berbuat iseng kalo orang itu sendiri “menawarkan” sesuatu untuk diisengin? Emang sih kalo sampe ada aturan tertulis “Dilarang pakai rok mini” itu konyol dan nggak mengatasi kasus-kasus asusila yang ada secara tuntas, tapi kita punya pilihan lho… Beda kalo kita nggak punya pilihan, tapi ini kita masih bisa keluar masuk toko-toko pakaian dan aksesoris yang punya begitu banyak pilihan supaya bisa tampil menarik, tanpa harus terlihat skanky.

Tapi tentu aja, itu balik lagi sih ke masing-masing orang. Kalo gw pribadi emang dasarnya paling nggak suka kalo ada orang yang ngisengin gw di jalan meskipun cuma sebatas kata-kata, bahkan dalam keadaan dimana mood gw lagi sangat buruk biasanya gw bales dengan kata-kata paling nyelekit, kalo perlu menghina secara fisik tu pria-pria berbau tengik. Jadi gw mengupayakan tindakan preventif dengan nggak berpenampilan mencolok (kecuali lain halnya kalo naik mobil pribadi ya).

Jadi menurut gw berkata “bukan salah rok mini” itu sama konyolnya dengan aturan tertulis “dilarang memakai rok mini”. Suatu kalimat yang kurang bijaksana dan kaya akan ego. Mereka mungkin bisa berkata seperti itu sampai mereka sendiri yang tertimpa musibah.

Perbaiki aja dulu masing-masing tampilan kita, girls. Kalo penampilan lo udah ketutup (dan tidak ketat ya) tapi sampe diisengin juga, yah…itu laki-laki yang ngisengin bolehlah untuk dikebiri…gatel kalo nggak sakit jiwa tu orang…

Bakso Mangkel

Gw nggak pernah memandang orang dari status sosial, umur, agama, suku, atau derajat, atitude adalah parameter gw dalam menghargai seseorang. Nggak perduli dia tua, muda, anak-anak, orang terkenal atau gembel, kalo orang itu bersikap sopan gw akan sangat menghargai, sebaliknya kalo dia sengak, nggak akan pernah gw anggep sekalipun dia orang tua, persetan.

Hari ini mood gw berantakan, bukan karena pada akhirnya gw nggak dapet bakpia Kurnia Sari dari kemaren karena kehabisan (alasan tokonya gara-gara karyawannya banyak yang mudik dan dibajak tempat lain, mereka cuma bikin sedikit, dan tiap kesana sepagi apapun selalu habis, maaf ya teman-teman yang nitip!), tapi karena abis makan mie ayam di daerah Kolombo.

Itu adalah warung mie ayam favorit gw dan suami, setelah pulang dari pasaran di Prambanan gw minta mampir kesitu. Setelah pesen gw lihat orang di meja sebelah ada yang makan pake bakso juga, padahal setahu gw mie ayam disitu settingannya ga pake bakso, ternyata di sebelah warung mie tersebut ada warung bakso malang. Karena gw lihat orang di meja sebelah itu bisa pesen bakso dan satu mangkok baksonya lumayan banyak (sekitar 6 biji lah) akhirnya gw ikutan pesen ke warung sebelah. Laki gw ga mau, katanya baksonya semangkok berdua aja, karena dia pikir juga isinya banyak.

Nggak lama baksonya pun dianter, gw agak kaget juga kok isinya cuma 4 biji (gw pesen baksonya aja, persis seperti orang di meja sebelah yang sebelumnya gw lihat). Positip tingkinglah gw: oh, mungkin orang yang di meja sebelah itu minta porsinya ditambah karena dia bawa anak kecil. Udahlah tuh, gw ma laki gw makan, mie ayam plus bakso.

Setelah selesai, gw ke warung sebelah untuk bayar baksonya. Karena laki gw cuma habis 13rb aja untuk 2 mangkok mie ayam dan 2 gelas es jeruk, logika gw 4 biji bakso nggak mungkin harganya lebih dari 5rb, yah paling mahal 5rb deh. Ternyata pas gw mau bayar dikasih harga 8rb! untuk 4 biji bakso!! Yang bikin gw agak curiga tu tukang baksonya pake jeda dulu lagi sebelum bilang harganya, jelas banget gw diperes!!

Ya udah, gw diem aja. Gw cerita ke laki gwpun buat apa tho, nggak lucu juga kalo mesti gw ajak ribut tu tukang bakso.

Gw sih bukan masalah uangnya, tapi caranya itu lho. Apa karena dia tahu gw bukan dari daerah situ trus seenaknya aja meres orang? Kenapa ya banyak orang yang udah tahu hidupnya susah tapi cari duitnya pake acara curangin orang, yang ada dia malah nutup jalan rejekinya sendiri.

Kesel sih, jelas gw jengkel, tapi yah yang jelas haram gw beli bakso di situ lagi. Hati-hati tuh, warung bakso malang di daerah Kolombo, tepatnya di seberang distro, makan di tempat mie ayamnya aja deh, jangan ke sebelahnya, jancuk tenan.

Jadi makin gw perkuatlah tentang parameter gw yang pertama kali gw bilang, gw nggak perduli lo orang susah, lo curang dan nggak jujur ya lo pasti makin seret rejekinya.

Untuk tukang bakso tadi, Tuhan maha adil ya, dan gw nggak pernah ikhlas sama cara lo tadi, silahkan makan tu duit ga berkah.

From Jogja With Laugh

Jogja,1 September 2011

11.46

Akhirnyaaaa…mudik lebaran 2011. Saat tulisan ini dibuat gw lagi terkantuk-kantuk di tengah ceramah berbahasa Jawa di acara arisan trah keluarga besar suami gw. Oh yeah,terbengong-bengong di “zona roaming” sementara teh panas dan snack udah abis sementara perut laper nunggu ke acara makan siang bener-bener ga bisa nahan gw untuk ga ngutak-ngatik HP.

Ini kedua kalinya gw ikut arisan trah, karena mudik ke Jogja pun nggak setiap tahun. Apalagi tahun ini gw “back to ngantor” otomatis ga bisa sesuka hati bolak-balik ke Jogja kaya dulu, jadi gw berniat untuk menikmati abis-abisan setiap sudut kota ini.

Sama kaya pulang ke Tanjungkarang, kembali ke kota ini ga pernah bikin gw bosen. Selalu ada yang menarik di setiap jengkalnya. Terutama waktu melancong ke Alun-Alun Utara semalem. Dalam perjalanan ke Alun-Alun Utara via Malioboro yang meriah akan lampu dan orang-orang, tepat di perempatan nol kilometer gw dikejutkan dengan terbaliknya seekor kuda penarik andong. Sumpah, kasihan banget lihatnya! Kata laki gw itu mungkin beban yang dia bawa terlalu berat, pas kusir ngasih aba-aba untuk jalan tu kuda kaget, jadi deh doi jatuh ke samping dan terlihat terkejang-kejang karena berusaha untuk bangun, beberapa polisi di seberang kayanya langsung lari untuk nolongin…well, minimal nolongin ngamanin andong takut si kuda kelindes kendaraan yang melaju di belakangnya.

Sampe di Alun-Alun Utara, suasana rame, banyak yang pasang kembang api (maksudnya kembang api yang disebut orang dengan “fireworks” ya, bukan kembang api yang bisa dipegang) persis suasana tahun baru.

Dapatlah kita warung tenda yang nyediain tiker buat lesehan, trus pesen bandrek susu dan roti bakar keju. Bandrek susunya…aaawww…manis buuaangeeett…kayanya selain susu kental manis, ditambahin gula juga, tapi diluar rasa manis yang mengganggu itu bandreknya luar biasa khas minuman Jawa: wangi rempah nan kental. Sambil menikmati bandrek dan roti bakar keju, kita nontonin aja gitu keramaian yang terhampar sambil sesekali ketawa nontonin kembang api meledak di langit. Kembang apinya sih ga lucu, tapi mobil-mobil ber-alarm dengan sensor sensitif yang terparkir di area itu yang bikin gw ngakak. Setiap kali kembang api meledak (terutama yang berdaya ledak agak keras) mesti ada alarm mobil yang bunyi. Alhasil, orang-orang yang ada disitu juga ketawa dengernya. Banyangin aja setiap beberapa detik kembang api meledak disusul bunyi alarm, yang punya mobil ga jauh-jauh deh dari remote alarmnya nyahahahaha 😀

22.15

Iiiihh…akhirnya nyampe rumah jugaaa… Setelah pulang dari arisan trah tadi siang langsung nyium bau kasur dan zzzz….

Oh iya, bagi yang mau tahu kelanjutan setelah gw terkantuk-kantuk dengerin ceramah dalam bahasa Jawa di acara tadi siang, setelah itu ada acara foto bersama para sesepuh dilanjut makan siang. Menunya sederhana: soto. Disajikan di atas meja prasmanan dalam mangkok-mangkok adalah isian soto: daging sapi, bihun, seiris tomat, kecambah, dan daun bawang. Di piring-piring besar ada lauk pelengkap: tahu bacem dan perkedel kentang. Nggak lupa makanan pokok orang Indonesia: nasi, lalu berikut kuah soto, sambel dan jeruk nipisnya. Ada minuman menyegarkan berupa es buah dengan sirup cocopandan di meja minuman. Setelah makan siang ada acara doorprize. Masing-masing keluarga bawa beberapa hadiah yang dibungkus kertas kado. Dulu sih itu diundi kaya acara pengundian doorprize biasa, tapi kata adik gw tahun ini diprioritaskan buat dikasih ke anak-anak kecil karena yang kemaren-kemaren ada yang nggak dapet jadi nangis, selain itu kado-kado ini bisa jadi penyemangat generasi mudanya supaya selalu hadir setiap tahun 😀

Urusan keluarga udah selesai semua, abis maghrib gw diajak makan Mie Godog di Janti. Tepatnya sih warung kaki lima tepat di bawah jalan layang Janti, deket shelter busway. Gw rekomendasikan Mie Godognya deh, kuahnya enak banget dan harus dimakan panas-panas biar terasa enaknya. Isinya tuh mie (yang biasa buat Mie Aceh) dicampur bihun, telor, dan sayuran pelengkap, masaknya masih pake anglo jadi gw rasa disitulah salah satu kunci rasa sedapnya.

Selesai makan mampir ke pasar Klithikan, seperti biasa. Salah satu pasar tradisional favorit gw. Los-los bagian depan banyak dijual barang-barang loakan: lampu-lampu gantung, candelier model jaman dulu, sampe kamera-kamera jaman Soekarno dan pemutar piringan hitam dipamerin disana. Los-los bagian belakang khusus jualan baju-baju, kebanyakan sih baju cowok, ditandai dengan berjejernya manekin setengah badan (alias cuma dari leher sampe perut) di atas rak di hampir tiap kios. Manekinnya maskulin bow, perutnya aja sixpack, sayang aja terbuat dari plastik! 😀

Selesai lihat-lihat di Klithikan akhirnya gw berniat balik aja deh, kali ini lewat Alun-Alun Kidul. Owh em jiii…ga kalah rame sama di Alun-Alun Lor (Utara), ada kembang api juga, antrian kendaraan macet. Gw pikir ada pawai karena ada beberapa kereta gowes (itu lho model kaya odong-odong tapi di tiap bangkunya ada gowesannya, apa ya namanya) berhias lampu warna-warni yang bisa dibentuk. Meriah banget! Selang lampunya ada yang bentul Doraemon, ulet bulu gemuk, kebanyakan sih yang lucu-lucu, kereta-kereta itu disewain untuk digunain keliling area Alun-Alun, kebanyakan sih yang nyewa keluarga muda gitu, meskipun ngantri macet tapi kayanya pada seneng banget.

Baru setelah itu pulang ke rumah. Nah, sekarang gw mau bobo dulu, capek juga ngetik di HP. Selamat liburan ya guys! Mohon Maaf Lahir dan Batin! 🙂

Puasa Kali Ini (Catatan Ramadhan 2011)

Bukannya gw mencoba bersikap sok idealis, cuma kadang gatel aja gitu lihatnya…

Adalah seorang teman, bekerja di sebuah instansi pemerintahan, yang dulu sering bikin gw heran dengan berangkat kerja dua jam setelah jam absen yang ditentukan dan pulang dua jam sebelum jam pulang resmi berdentang (dan temen-temen gw juga heran ngelihat si ibu satu ini, bos bukan, presiden juga bukan…)

Lalu okelah kita maklum setelah melihat di mana di bekerja (no offense, ini fakta, kalo ga percaya ntar gw kenalin sama orangnya, soalnya doi bahkan tanpa malu-malu mengumumkan penyimpangan jam-jam tersebut di status update-nya, dan orang-orang cuma bilang “Ah, biasa aja itu mah..yang lebih parah banyak”)

Kemudian yang gw denger sih dari sebagian teman kalo beberapa kantor (dan mungkin instansi pemerintahan) selama bulan puasa ini memberikan kebijakan (lagi-lagi) berupa keringanan pada karyawannya tentang aturan jam kerja, katanya sih jam pulang dipercepat.

Bagi gw yang sejak dulu nggak pernah dapet keringanan seperti itu (juga bonus lain macam gaji ke-13 atau mendadak cuti bersama) itu udah anugerah banget, yang jelas kerja jadi semangat soalnya cuma sebentar (seminggu lima hari kerja dengan diskon waktu, THR, dan cuti bersama yang cukup panjang *belum yang “mencutikan diri” kalo cuti bersama dirasa kurang*, kurang apa lagi sih?).

Dan tiba-tiba si ibu nan berbahagia ini ternyata pulang lebih cepat lagi dari jam pulang yang sudah dipercepat. Kalo perlu dzuhur belum abis udah pulang. Alasannya klasik: mau belanja buat buka puasa dan (lagi-lagi) anak selalu menjadi alasan tak terbantahkan untuk bisa pulang lebih cepat.

Sorry nih, intermezzo aja, karena yang gw lihat sehari-hari orangtua gw (tanpa bermaksud berbangga berlebihan tentang ortu gw) mereka juga bekerja, nyokap gw terutama dari gw masih kecil kalo nggak keburu masak buat buka puasa gw jamin ada banyak warung makan di negara ini yang Insya Allah buka dari siang sampe menjelang bedug maghrib, kalo perlu 24 jam buat ke waktu sahur lagi. Gw sebagai anak yang masa kecilnya sering lihat ortu gw pulang telat ke rumahpun nggak merasa terganggu dengan jadwal pekerjaan mereka. FYI, ortu gw dua-duanya pegawai pemerintah. Jadi gw agak heran kalo lihat orang-orang dengan pekerjaan yang sama kaya ortu gw bisa punya kebiasaan yang begitu berbeda, “kok bisa..”

Kadang gw jengah aja lihatnya. Sepertinya banyak yang ngejadiin puasa sebagai alasan untuk mengurangi porsi kewajiban mereka (kalo kata “bermalas-malasan” terlalu kasar untuk gw pake). Bukankah puasa yang “bernilai” adalah puasa yang kita lewati dengan penuh tantangan tapi kita tetap ikhlas? Kita nggak pernah lupa kalo puasa itu berarti nggak makan, nggak minum dan nggak boleh marah, tapi mudah-mudahan kita nggak lupa juga kalo puasa itu juga bersikap ikhlas.

Sorry deh kalo gw terdengar sok tahu. Cuma gw selalu mengumpamakan kalo berpuasa di bulan Ramadhan itu seperti tantangan kuis: kalo mau hadiah yang lebih besar otomatis permainannya juga lebih sulit.

Lagipula setahu gw bekerja, berusaha, berikhtiar dalam agama kita itu juga sebuah kewajiban (curi dengar ceramah pak ustad subuh kemaren) kalo kita ngediskon sendiri apa yang udah jadi kewajiban kita (dalam hal ini misalnya jam kerja yang udah ditentuin) tidakkah itu sama aja kita ngediskon sendiri pahala kita? Sama aja shalat yang seharusnya lima waktu tapi cuma dikerjain empat atau tiga. Semacam itulah.

Kalo emang nggak sanggup kerja (buat cewek yang udah menikah terutama) kenapa nggak berhenti aja, toh bukankah perempuan nggak terlalu diwajibkan untuk mencari nafkah dan dianjurkan mengurus keluarga. Tapi kalo udah berkomitmen untuk bekerja (misalnya untuk bantuin suami) ya jalanin dong komitmennya.

Atau ada lagi kejadian waktu dulu. Pada saat jam kerja pelayanan publik berlangsung, gw mendapati beberapa orang karyawan lagi ngaji (di bulan puasa juga nih). Bener sih, alangkah baiknya kalo di bulan suci kita banyak mengaji, tapi sayangnya sering beberapa dari mereka gw dapati menunda bekerja demi mengaji. Kalo sampe itu membuat pekerjaan jadi terbengkalai bukannya sama juga bohong? Sama aja kalo dibalik lo kerjaaaaa terus tapi urusan akhirat? Tidakkah lebih baik kalo berusaha untuk seimbang? Semua ada waktunya.

Sambil nulis ini gw semakin sadar bahwa ada begitu banyak hal yang gw atau kita pikir kita mengerti tapi ternyata kita (dan gw terutama) belum mengerti. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama belajar, karena sejak dulu gw yakin kalo itu semua demi kebaikan manusia itu sendiri kok. Buat gw puasa itu sebetulnya latihan mental dengan diri kita sendiri sebagai pengawasnya. Dan diawasi diri sendiri ternyata jauh lebih sulit daripada diawasi oleh orang lain :).

NB: Mohon maaf untuk semua kata-kata yang dirasa kurang berkenan, maaf kalo ada yang tersinggung…tapi bener kaaan..hehehehe 😀

Hello Ghost (The Review)

Beberapa review yang gw baca tentang film Hello Ghost ini kebanyakan bilang kita akan dibuat nangis di akhir film setelah ketawa di awalnya. Karena gw bukan penyuka film drama termasuk Korea (karena rata-rata aktornya berwajah “cantik”) tapi karena diajak dan katanya juga lucu jadi ya..bolehlah.

Hello Ghost bercerita tentang Kang Sang Man yang hidup sebatang kara, kesepian dan merasa dirinya tak berguna. Beberapa kali mencoba bunuh diri gagal terus, suatu hari dalam usaha percobaan bunuh diri yang kesekian kalinya Sang Man nyaris meninggal. Setelah kejadian itu ia lalu punya kemampuan untuk melihat arwah. Ia bertemu empat arwah yang terus mengikutinya: arwah lelaki gendut yang perokok berat, arwah kakek tua genit, arwah perempuan yang selalu menangis dan arwah anak kecil yang nakal. Menurut dukun yang ditemui Sang Man, ia tak bisa mati kalau arwah-arwah tersebut masih mengikutinya, untuk mengusir mereka ia harus membantu para arwah melaksanakan permintaan mereka.

Sang Man yang ingin sekali mati mau tak mau membantu para arwah tersebut, si kakek genit ingin mengembalikan kamera seseorang yang ia pinjam yang saat itu dimiliki oleh seorang polisi. Lelaki gendut perokok ingin mengendarai mobil tua lamanya dan berenang di laut. Si anak kecil yang nakal ingin menonton film animasi di bioskop dan si perempuan yang selalu menangis ingin memasak dan makan malam bersama orang-orang yang ia sayangi.

Dalam menjalankan misinya, Sang Man bertemu dengan Jung Yun Soo, seorang perawat di sebuah rumah sakit. Latar belakang tentang keluarga masing-masing antara Sang Man dan Yun Soo sedikit menohok, Yun Soo yang membenci ayahnya yang sedang sekarat dan Sang Man yang merindukan sebuah keluarga.

Film ini juga menyelipkan beberapa adegan “komedi hitam” yang penuh ironi. Misalnya adegan ketika polisi sungai lagi sibuk menyelamatkan orang-orang yang terjun dari jembatan untuk bunuh diri, baru korban yang satu diselamatkan ke perahu, terdengar suara ceburan lagi orang lain yang juga bunuh diri, menggambarkan sebagaimana yang sering diberitakan (terutama akhir-akhir ini) bahwa kasus bunuh diri di Korea semakin meningkat.

Atau adegan salah satu lelaki yang ditemui Sang Man saat menjalankan permintaan lelaki gendut perokok yang ingin memiliki kembali mobilnya. Lelaki yang juga perokok berat tersebut punya istri yang sedang hamil dan mengidap kanker paru-paru akibat terpapar suaminya yang perokok berat. Istrinya mengalami dilema kalau ia menjalankan terapi kanker, bayinya mungkin nggak selamat, akhirnya sang istri memilih untuk nggak menjalankan terapi, ia memilih dirinya yang mati perlahan karena kanker demi menyelamatkan bayinya, dan bagi si suami yang ada tinggal penyesalan.

Secara keseluruhan yang gw tangkep dari film ini adalah tentang “hidup dalam kehidupan”, it’s a charming and funny movie. Gw nggak tahu siapa itu Tae Hyun Cha (as known played in My Sassy Girl), tapi mesti gw akui aktingnya bagus ketika dia jadi “orang lain” karena badannya dipake sama arwah-arwah yang minta dibantu.

Dan air mata gw mengalir (yang gw yakin banyak orang yang nangis nonton bagian ini hahaha :D) sewaktu adegan dimana ternyata Sang Man selama ini mengalami “hilang ingatan” akibat terlalu syok. Bahwa ternyata arwah-arwah tersebut adalah keluarganya sendiri, flash back kenangan menyakitkan tentang kecelakaan yang merenggut semua nyawa keluarganya dan meninggalkan dia sebagai satu-satunya yang selamat.

It’s a fresh movie, thx Blitz karena nggak cuma nayangin film-film Hollywood yang selalu menyuguhkan alur “heroik” yang gampang ketebak. Ini adalah film kedua setelah 3 Idiots yang bikin gw ketawa dan nangis pada saat yang bersamaan 😀

Pedestrian: Sebuah Lahan Sengketa

Pejalan kaki adalah orang yang diperlakukan paling nggak adil di jalanan. Dipaksa jalan ke pinggir nyaris masuk got, diklakson untuk jalan lebih ke pinggir lagi sementara jalanan yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka disabet para pemilik warung kaki lima.

Udah nggak terhitung lagi ketika gw lagi asyik jalan di trotoar nyusurin macetnya jalan utama di samping gw tiba-tiba ada motor dan orang idiot yang bawa motor tersebut bunyiin klakson nyuruh gw minggir karena di mau lewat di trotoar itu. Gw pun ke pinggir sambil nendang spakbor belakang tu motor (sayang nggak kena..sialan). Nggak berapa lama jalan tiba-tiba gw terusir dari trotoar dan terpaksa turun ke aspal jalan raya, minggir-minggir supaya nggak keserempet kendaraan karena di tengah-tengah trotoar tersebut berdiri warung nasi kaki lima yang ngabisin lebar badan trotoar itu sendiri. Dari belakang, mobil SUV ngebunyiin klakson nggak sabar karena badan gw nutupin beberapa jengkal jalannya.

Setelah kembali lagi ke trotoar, nggak lama kembali lagi mengalami pengusiran, kali ini trotoar dipake untuk tempat parkir motor dan mobil di depan deretan toko-toko yang nggak punya lahan parkir. Turun lagi ke aspal jalan raya, diklakson lagi sama supir-supir yang nggak sabar.

Pejalan kaki adalah simbol tua ketidakadilan. Kaki manusia adalah kendaraan ramah lingkungan, nggak menimbulkan polusi tapi selalu kalah sama mesin-mesin yang mencemarkan udara. Trotoar atau pedestrian adalah lahan sengketa bagi kendaraan bermotor, pedagang kaki lima dan pemilik sebenarnya tempat itu: pejalan kaki.

Nggak ada tempat untuk pejalan kaki dan mungkin pengendara sepeda di jalan-jalan ibukota. Jadi ketika gw lihat di suatu pagi seseorang naik sepeda dengan menggunakan kaos bertuliskan “Bike to Work” di punggungnya, gw selalu berdoa semoga orang-orang itu selamat sampai tujuan. Berjalan kaki dan berkendara pake sepeda di jalanan ibukota itu sama beresikonya seperti ibu-ibu yang sedang melahirkan: menyabung nyawa.

Belum lagi sebagian jenis motor gagah besar, yang suka bawa-bawa “magic jar” di belakang boncengannya, nggak cukup “magic jar” kadang ada yang suka nambahin nampelin “kotak sumbangan” yang ditempel di kanan kiri tepat dibawah tempat boncengan, alhasil kalo tu motor parkir mestinya bayar buat dua tempat. Banyak dari mereka yang juga suka nyerobot jalanan untuk pejalan kaki. That’s not cool, BRO.

Pedestrian akan selalu jadi lahan sengketa, dan kami para pejalan kaki mungkin akan selalu terusir dari tempat yang seharusnya diperuntukkan bagi kami.