“Uang Seribu”

Ada bapak-bapak pagi tadi berdiri di depan pintu pagar rumah, dari awal gw udah tahu doi pasti mau minta-minta.

 

Awalnya gw bilang “Maaf ya pak..” bermaksud menolak untuk memberi, tapi doi begitu ngeyel dan berkata “Tolong bu, seribu aja nggak ada artinya untuk ibu…”

 

Sebuah kalimat menyebalkan yang bikin kuping panas dan sayangnya sering sekali gw denger dari para peminta-minta. Sekalipun gw kasih dia hanya supaya dia tutup mulut dan angkat kaki dari sana, gw jadi berpikir tentang uang seribu itu.

 

Uang seribu dari kantong gw yang kata bapak tadi nggak ada artinya itu penanda “jurnal” gw. Demi mendapatkan tu seribu perak gw pergi pagi pulang malem, kegencet-gencet di kereta, kesirem air kubangan gara-gara supir tolol kopaja butut ngebut ke pinggir dan nyipratin tu kubangan air, berantem sama biker yang ngerebut hak pejalan kaki, ngegebrak pintu angkot karena nyaris nyerempet gw, memulai pekerjaan satu setengah jam lebih awal di kantor sambil terkantuk-kantuk demi bisa pulang cepet.

 

Dan uang seribu yang dikeluarin suami gw dari kantongnya? Itu hasil beberapa hari nggak tidur, bepergian dari ujung pulau ke pulau yang lain, yang bahkan beberapa nama tempatnya baru gw denger dan ternyata eksis di Indonesia, menyabung nyawa berpindah dengan satu pesawat ke pesawat yang lain, ngorbanin waktu nggak ketemu anak istri untuk waktu yang agak lama.

 

“Jadi pak, uang seribu itu berarti untuk saya”

 

 

Clodi: Review Awam

Sebagai ibu baru, ada banyak hal yang belum gw explore, bukannya malas update, tapi gw lebih suka nyari sesuai kebutuhan (jangan ditiru kaya gini ya..pemalas emang gw ini).

Bersyukurlah ibu-ibu yang ASInya lancar karena beberapa teman yang ASInya nggak keluar sama sekali bener-bener ngerasain banget yang namanya pengeluaran buat susu.

Begitu banyak “dongdongpetong” kebutuhan bayi, memaksa gw untuk membeli barang secara hati-hati. Bikin daftar prioritas berdasarkan skala kepentingan, seberapa pentingnya itu untuk bayi, dengan harga sekian apakah efisien dan bisa tahan lama. Jangan salah, semua pengen yang terbaik untuk anaknya, tapi dengan anggaran pas-pasan macem gw, skala prioritas selalu menjadi metode dasar dalam berbelanja (sound smart, eh? hahahahaha..pret.)

Selain susu, popok adalah benda paling penting dalam kehidupan bayi. Popok sekali pake itu harganya lumayan mencekik, apalagi anak gw tipe yang paling nggak betah kalo popoknya agak penuh, jadi lumayan boros. Tapi terus gw lihat ada temen yang anaknya pake popok berwarna yang kelihatannya terbuat dari kain, sebetulnya gw baru sadar itu setelah suami lihat di internet tentang clodi ini. Setelah dapet rekomendasi beli online yang lumayan murah (katanya, soalnya gw baru tahu jadi nggak terlalu ngerti, tapi setelah ngulik dan dibandingin di beberapa online shop, ternyata emang harganya standar segitu, cuma murah beberapa ribu aja).

Ada merek lokal dan internasional, perlu waktu beberapa hari untuk mempelajari barang baru ini (buat gw), akhirnya untuk nyoba pertama kali gw pilih merek lokal, namanya Pempem, pesen 4 pcs, dengan kuncian velcro. Ternyata pakenya mudah sekali, ada dua bagian: cover sama insert. Cover bagian luarnya, dan Insert bagian untuk nampung pipis.

Disaraninnya sih kalo malem pake dua insert kalo pipisnya banyak, tapi kemaren gw pake satu insert aja, bisa tahan sampe 8 jam, sedikit rembes di celana karena gw kurang masukin insert ke kantong covernya jadi menyembul dan basah karena ompolnya kena celana, jadi tipsnya: pastiin insert masuk dengan benar dan jangan sampe menyembul, kalo posisinya udah pas, ga bakalan rembes. Gw tes permukaan inner yang udah kena ompol dengan tissue, hasilnya lumayan kering, pantes aja anak gw anteng tidur sampe 8 jam.

Kelebihan clodi ini jelas menekan biaya pembelian popok dibandingin popok sekali pake, terbuat dari kain jadi kulit ga iritasi, selain itu..ramah lingkungan :). Katanya sih bisa dipake sampe berat 15kg atau sekitar 2 tahunan, tapi karena gw belum sampe 2 tahun, jadi we’ll see lah ya..ntar gw laporin lagi hasilnya :D. Tapi resikonya mesti extra waktu untuk nyuci, terutama kalo si bayi pup sebaiknya langsung dibersihin dan direndam paling nggak setengah jam setelah itu baru dicuci. Meski begitu nggak sampe lima menit kok nyuci clodi ini yang penting sebelumnya udah direndam, bahannya juga termasuk yang mudah dibersihin, kecuali kalo pup nggak langsung dibersihin, biasanya ada sedikit noda tipis di insertnya. Sebaiknya pilih clodi yang sesuai dengan berat bayi karena kalo clodi kekecilan kaki si bayi bisa ngangkang dan gw agak khawatir dengan itu.

Sejauh ini sih gw cukup terbantu dengan adanya clodi ini, jadi…semoga bermanfaat reviewnya 😀

Preggo Notes #1

My senior wrote this on her FB (and I love it!) :

(JURNAL BUMIL) Sebelum hamil saya berikan tempat duduk di area publik pada ibu hamil krn logikanya ia sedang bawa bawaan berat.

Setelah hamil saya baru tahu bhw berdiri & jalan kaki terlalu lama bisa membuat kedua kaki menjadi bengkak, bagian bawah perut nyeri&kram perut serta kaki. Apalagi berdiri di dalam kendaraan yg bergerak.
******
Iseng: Nyusahin orang umum y bumil. Kalau gitu diantar dong naik kendaraan pribadi kalau naik umum nyusahin orang. Lagian orang hamil di rmh aja dong. Gw dulu hamil gk gitu. Lagian pk hamil…
********
Saya: info aja bro..kali aja belum tahu kenapa bumil gk kuat berdiri. (-RPS-)

Maunya sih kami (wanita hamil) diam saja di rumah, aman, nyaman, nggak terganggu dan “mengganggu” orang lain. Tapi maaf, kami juga punya kepentingan baik pribadi dan bahkan untuk orang banyak…

Dulu, sebelum hamil gw berusaha baik kepada para wanita hamil di transportasi publik, padahal gw nggak tahu seberapa susahnya mereka beraktivitas, tapi gw mikir gw punya mama yang pernah ngelahirin gw. Gw cuma ngebayangin gimana dulu mama bawa-bawa gw di dalem perut sampe 9 bulan lamanya. Setelah ngerasain sendiri gimana hamil itu, gw baru sadar kalo kami tidak hanya sekedar “membawa”. Kami harus menumbuhkan makhluk kecil di perut kami “sambil” membawanya kemana-mana: toilet, kamar, warung, kantor. Bukan cuma menumbuhkan, kami harus berhati-hati dalam setiap gerakan demi kelangsungan hidup mereka (terdengar berlebihan, tapi memang begitulah). Kami punya tanggung jawab bukan hanya pada makhluk kecil tersebut tapi Yang Maha Kuasa yang telah memberikannya, pada suami kami, pada keluarga yang lain dan yang pasti pada diri kami sendiri.

Kami berusaha keras untuk kuat. Paling nggak gw berusaha nggak “merengek” meminta belas kasihan orang untuk diberikan tempat duduk dalam transportasi publik. Gw anggap itu pendidikan awal buat si kecil “Be tough!”. Tapi tetaplah menyakitkan hati ketika orang-orang mulai meninggalkan etika dan rasa empati demi pembelaan yang gw yakin semua orang ngerasain: “Capek, abis kerja seharian”.

Gw maklum kalo sebagian orang (pura-pura) nggak tahu etika. Sekalipun pakaiannya bagus, terlihat bekerja di sebuah kantor yang bonafid, berpendidikan tinggi, tapi (pura-pura) nggak tahu etika, gw sangat maklum. Bekerja seharian di depan komputer sangat-sangat melelahkan dan sebuah tempat duduk dalam transportasi publik adalah sebuah keharusan, apalagi anda sudah bayar (sama seperti ratusan orang lainnya yang sudah memiliki tiket).

Tetaplah menyakitkan melihat wanita-wanita muda yang pura-pura nggak lihat (lalu…tuk! tiba-tiba mereka tertidur begitu gw berdiri di depan mereka) perut besar di depan hidungnya. Menyakitkan bahwa 3 dari 5 orang yang pernah ngasih gw duduk di dtransportasi publik adalah ibu-ibu yang sudah sangat berumur! Mereka memaksa gw untuk duduk karena mungkin mereka pernah tahu rasanya. Tapi lebih menyakitkan lagi melihat laki-laki muda duduk di bangku prioritas (khusus untuk orang cacat, manula, ibu hamil dan ibu yang membawa balita) nggak bergeming lihat perempuan hamil berdiri sampai datang petugas yang memintanya untuk berdiri.

Percayalah, kami sebetulnya juga nggak ingin terganggu dan “mengganggu” orang lain, tapi bisakah tidak memperlakukan kami seburuk itu? Semoga sebelum kalian berpura-pura tidur atau dengan cueknya malah cekikikan duduk di depan perempuan hamil yang sedang berdiri di depan kalian di sebuah transportasi umum, kalian ingat ibu kalian yang juga pernah merasakan apa yang kami rasakan 🙂

Daddy’s Little Princess

Kalo ngikutin perkembangan cerita tentang kasus “suster ngesot” yang ditendang satpam di Bandung beberapa waktu lalu, gw cuma geleng-geleng kepala bacanya. Terakhir yang gw denger ayah si suster yang katanya pengusaha yang naro investasi di Bandung itu berkoar di media akan nyabut investasinya di Bandung gara-gara marah anaknya “dianiaya”. Banyak masyarakat yang terlihat marah dengan sikap keluarga si “suster ngesot” ini.

Kasus ini mengingatkan gw akan banyak dongeng tak terkenal tentang Putri Manja. Juga mengingatkan gw akan seorang tokoh bernama Fiona di sebuah novel terjemahan Tidak Ada Kastanyet di Wells (No Castanets at the Wells). Gw bahkan masih inget dengan jelas kutipan tentang bagaimana Trixie, pengasuhnya selalu kewalahan menghadapi putri majikannya. Suatu hari Trixie mendapati Fiona pulang sore hari dengan stoking dan baju yang kotor setelah seharian bermain di luar, sepatu baru yang dibelikan orangtuanya rusak. Ia memarahi Fiona karena sepatu barunya yang rusak, namun si putri majikan menjawab dengan angkuh “Lalu kenapa? Besok Ayahku akan membelikan sepuluh sepatu baru untukku!”. Tidakkah hanya karena kamu mampu membeli sepatu baru setiap saat bukan berarti bisa seenaknya merusaknya setiap hari? Sama aja kaya hanya karena kita mampu bayar tagihan listrik bukan berarti kita bisa seenaknya membiarkan semua lampu terang benderang?

Satu hal sering gw perhatiin hampir setiap hari. Setiap pagi, dari Stasiun Cikini ke kantor, gw jalan kaki kurang lebih sekitar entahlah..500 meter mungkin, bisa sih naik Metromini atau ojek atau bajaj, tapi rasanya sayang melewatkan acara pelemasan kaki setiap pagi. Banyak hal menarik ketika lo jalan kaki di pagi hari di tengah kota. Diantaranya, melewati sebuah sekolah yang terkenal karena dulu putri presiden pertama negara ini (dan putrinya itu juga pernah menjadi presiden) pernah sekolah di situ. Otomatis, dengan prestige seperti itu, mengundang banyak orang-orang untuk mendaftarkan anaknya di sekolah yang mereka anggap terbaik itu. Dari yang gw perhatiin kebanyakan sih murid-murid yang sekolah di sana dari keluarga mampu. Terdeteksi setiap makan siang mereka selalu nongkrong di resto cepat saji deket sekolah itu. Gile, orang kantoran aja nyarinya makanan kaki lima-an 😀

Tapi setiap pagi, ada hal yang sangat mengganggu gw. Sekolah tua dengan tempat parkir yang kecil itu, selalu ramai dengan orangtua-orangtua murid yang mengantar anak-anaknya. Saking kecilnya mereka yang mengantar cuma masuk sebentar, nurunin anaknya lalu pergi lagi. Tapi saking banyaknya mobil-mobil mewah para pengantar alhasil area itu jadi bikin macet lalu lintas.

Okelah, untuk yang anak-anak kecil mungkin masih bisa ditolerir dianter orangtuanya. Tapi yang udah 10 tahun ke atas? Bukankah itu saatnya mereka pergi sekolah sendiri? Jam masuk mereka juga ga terlalu pagi kok, standar sekitar jam 6.30 atau jam 7.00. Mereka bisa bangun pagi-pagi dan berangkat di saat jalanan belum terlalu padat. Sebagian mungkin sekalian nebeng Papanya kerja, tapi banyak gw lihat yang dianter supir keluarga yang satu mobil SUV cuma diisi dengan satu orang anak saja dengan pas supir, khusus untuk nganter mereka sekolah. Is that really necessary?

Gw punya sepupu (meskipun nggak terlalu deket) yang saat ini kuliah di kedokteran. Ayahnya, yang berarti Oom gw seorang dokter. Mereka tergolong dari keluarga mampu, dan bisa aja tu anak bawa mobil sendiri ke tempat kuliah yang jaraknya lumayan di Salemba dari rumahnya di Cibubur. Tapi sepertinya Ayahnya ga tertarik membiarkan anaknya bawa mobil. Bisa sih dia bawa mobil, tapi cuma untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Anaknya sendiri disuruh milih mau kos sama kaya temen-temennya atau pulang balik tapi naik bus umum. Alasannya, sang anak dinilai belum terlalu perlu untuk bawa mobil sendiri, kecuali dia udah kerja dan untuk kepentingan pekerjaan.

Menjadi kaya bukanlah sebuah kejahatan (well, kecuali kali kekayaan lo boleh nyolong atau korup ya), tapi alih-alih karena sayang lalu memberikan mereka dengan fasilitas-fasilitas mewah tanpa tanggungjawab, yah…menurut gw itulah proses terbentuknya monster kecil.

Kalo dibilang gw iri? Nggak, karena gw pun pernah ngerasain masa-masa bokap gw berjaya. Mainan-mainan yang anak-anak lain nggak punya, buku-buku keluaran terbaru. Tapi bokap gw selalu nekenin satu hal “Nggak selamanya Papa ada uang untuk beli ini semua, jadi kalo Papa lagi nggak ada, Papa akan bilang nggak ada.”

Jadi gw merasa prihatin sama orangtua-orangtua muda yang tiba-tiba meraih sukses, hidup berkecukupan lalu mulai memberikan anak-anaknya barang-barang yang sebetulnya belum perlu. iPhone terbaru untuk anak SD? Gw rasa kalo untuk alasan komunikasi mereka masih bisa pake ponsel yang sederhana. Keeogisan seseorang berawal dari perlakuan orangtua terhadapnya.

Jadi gw nggak merasa heran (meskipun masih tetep kesel ya, jelas) lihat begitu banyak orang seenaknya bersikap di ruang publik. Pernah di suatu sore, sepulang kerja di Commuter Line Jakarta-Bekasi (teteup ya, CL selalu punya banyak cerita), ada seorang ibu muda dan anaknya kira-kira usia TK. Betul sih, ibu itu emang bawa tas yang agak besar. Seseorang berbaik hati bangun dan nawarin mereka duduk. Setelah mereka duduk, di stasiun berikutnya agak banyak penumpang yang turun. Karena penumpang yang tadinya duduk di sebelah anaknya bangun, si ibu dengan santainya naro tas besarnya di sebelah anaknya, padahal masih ada orang yang berdiri di depannya. Kenapa juga tas mesti dikasih duduk? Padahal dia bisa taro itu tas di rak atas atau di lantai deket kakinya. Dari situ aja, si anak yang melihat minimal belajar “Nggak apa-apa naro tas diatas bangku, orang yang berdiri? orang berdiri yang mana ya?”.

Atau ketika seorang perempuan hamil besar yang baru naik di sebuah stasiun dengan kondisi CL sedang ramai. Betul, wanita, orangtua, wanita yang bawa dan terutama ibu hamil diprioritaskan untuk duduk. Karena bangku prioritas udah penuh dengan orang-orang “prioritas”, akhirnya seseorang dari bangku biasa berdiri supaya perempuan itu bisa duduk. Nggak ada ucapan “Terima kasih” meskipun basa-basi dari perempuan hamil tersebut. Mukanya tetep dingin seolah berkata “Nyingkir lo, itu emang hak gw”. Haruskah begitu? Sepele emang cuma dua kata, tapi itu bisa jadi kebiasaan yang lama-lama akan diturunkan secara nggak langsung ke anaknya.

Atau gw ngerasa gemes ketika lagi ngantri di kasir supermarket dua anak bercanda depan gw sampe salah satunya nginjek kaki gw. Sakit, iya, tapi bukan sakitnya yang gw permasalahin. Tepat di depan idung gw berdiri (yang ternyata) ibunya yang juga lagi ngantri. Dan itu ibu sama sekali nggak ngapai-ngapain lihat kelakuan anak-anaknya yang udah bikin orang lain ngerasa terganggung. Bahkan gw pikir tadinya itu bukan ibunya, karena dia cuma nengok ke gw, trus bengong lagi. Kalo itu kakak gw, mungkin udah gw jambak “Ajarin anak lo”.

Orangtua si “suster ngesot” itu bukan satu-satunya di dunia yang bersikap arogan. Bahkan gw lebih sering menganggap orang-orang seperti itu bodoh dalam mengedukasi anak-anaknya. Anak-anak umum dalam bercanda tapi mereka harus tahu batas-batasnya. Waktu SMP, gw inget banget, ada seorang temen si A, bermaksud ngerjain si B. Si A dan temen-temennya masukin dompetnya sendiri di tas si B lalu pura-pura kehilangan. Si B yang “tertuduh” sampe bersumpah demi apapun kalo dia nggak ngambil dompet itu, tapi emang bendanya ada di dalam tasnya. Belum cukup sampe nangis, si A terus aja ngerjain sampe si B pingsan karena shock dituduh seperti itu. Atau ketika seseorang yang misalnya takut sama cicak dan teman-temannya terus ngejer dia dengan membawa cicak sampe dia ketakutan. Gw paling benci bercandaan seperti itu. Lo nggak pernah tahu reaksi ekstrim orang-orang yang phobia terhadap sesuatu.

So, maybe I’ll try hard not to make my lil baby to be a prince or a princess or an angel. Sayang sama anak itu harus, tapi memuja mereka secara berlebihan, itu mengerikan. Seorang temen SMS gw beberapa hari yang lalu “Nda, lo lagi hamil ya?” gw bilang “Iya.” Dia tanya lagi “Kok ga bilang-bilang sih?” Gw jawab “Biarin, biar pada tahu sendiri, beside what dya expect? My status update says ‘aduuuhh muaaal..tapi tetap harus semangat demi si dede’..?” Dia cuma ketawa.

Gw bahagia, cuma ABG yang hamil kecelakaan yang merasa ga bahagia ketika dirinya hamil. Pastilah, dua tahun gw nungguin saat-saat ini. Tapi gw nggak mau memulai “pemujaan dini nan berlebihan” terhadap anak gw. Lagipula kalo gw terus-terusan “pamer” di media sosial, itu ga terlalu bijaksana juga. Meskipun itu dunia maya, tapi ada banyak orang di sana. Ada orang-orang yang pengen gw jaga perasaannya, ada orang-orang yang bahkan waktu pernikahannya lebih lama dari gw dan masih belum punya anak. Meskipun mereka bilang bahagia juga dengernya, tapi gw sangat mengerti kalo dalam waktu yang bersamaan mereka juga merasa sedikit sedih.

Biarlah gw dibilang aneh, tapi menjaga perasaan orang lain itu juga penting, meskipun kata dokter si jabang bayi ini baru terbentuk otaknya, paling tidak gw pengen mengajarkan pada si “otak kecil” ini tentang menjaga perasaan orang lain, dan itu gw lakukan bukan karena gw nggak bangga. Toh, (calon) ayahnya aja udah seneng setengah mati, bukankah itu kebanggan ga ternilai? 🙂

Homecoming Story

Kalo ada orang yang bilang “Baru sepuluh tahun udah ngadain reuni??” gw setuju dengan pertanyaan itu. Reuni sekolah yang sebenarnya adalah ketika lo udah berumur lima puluh tahun, sebagian besar udah punya cucu dan beruban lalu ketemu lagi dengan teman-teman sekolah (SMA, dalam hal ini) itulah yang membuat reuni terasa lebih berkesan.

But then, I think again. Kenapa mesti nunggu lima puluh tahun untuk ngumpul lagi? (secara besar-besaran maksudnya). Kenapa harus nunggu sebagian dari kita udah nggak tahu kemana lalu baru bikin reuni. Jadi gw pikir, buatlah reuni kapanpun kita mau. Satu tahun, dua tahun setelah lulus, whatever. Karena kita nggak pernah tahu siapa yang tiba-tiba pergi meninggalkan kita dan pada saat itu kita akan sangat merindukan mereka.

Rendezvous. Sebuah kata dalam bahasa Perancis yang berarti bertemu dengan spesifikasi tempat dan waktu. Sedikit mewakili tema malem reuni Sabtu kemaren. Hujan deras yang sempet bikin panitia sedikit down, but voila! satu per satu mereka datang begitu hujan reda 😀

“The Elders Seven”. Panitia reuni yang cuma tujuh orang, cuma punya satu ketua dan tujuh orang itu mengerjakan semuanya: bendahara, sekertaris, humas, seksi acara, seksi repot. Semuanya. I’m proud of these people, even I guess sometimes I’m a lil bit bitchy to push one of them (aaahahahahahaha XD).

But what makes me really proud adalah teman-teman yang udah ikut berpartisipasi. Sejak grup alumni khusus angkatan kami ini dibuat, respon terhadap informasi yang diupdate sangat-sangat sedikit. Gw ngerti sih, nggak semua orang sering mengakses Facebook. Dan yang biasanya cuma buka di HP (terutama BB yang lebih sering lemotnya) sering nggak bisa lihat update yang ada. Karena itu kita serung minta tolong beritanya disebar melalui apapun, maksud gw meneruskan hoax BBM aja sering, kenapa nggak membantu meneruskan berita yang udah jelas sumbernya ini?. Meski begitu selalu ada jenis orang yang diam-diam gw perhatikan di sosial media.

– Mengaku sering ketinggalan informasi, padahal gw tahu dia sering update status atau baru aja main game online. Motif orang ini nggak jelas, tapi gw rasa dia cuma males gabung aja, well I’ve been there, gw juga pernah kaya gitu, jadi gw ngerti banget deh 😀

– Aktif di grup, saran ini saran itu, kritik ini kritik itu, ngomongnya macem orang-orang DPR lagi rapat. Tapi begitu pelaksanaan, he just dismissed. Oh yeah, the real NATO has come…No Action Talk Only. I never take serious of these kids’s critics. I never take serious of these kids existence.

“Illuminati Brotherhood/ Sisterhood”. Ini adalah tipe orang yang sangat setia pada gank-nya, “Lo ikut, gw ikut, lo nggak ikut, gw juga nggak”. Sepertinya temannya cuma itu-itu aja. But, I’ve been there too. Dan secara alami ini terjadi pada banyak perempuan, karena emang sih kalo nggak ada temen untuk pergi ke suatu tempat dan membayangkan garing sendirian, itu mimpi buruk. Tapi satu orang mematahkan teori ini Sabtu malem kemaren. Ada satu cowok, gw lupa (sebetulnya gw bener-bener nggak tahu siapa namanya) tapi mukanya familiar, sejak awal dia bener-bener sendirian, duduk di meja sendirian, mainin HP sampe gw bertanya-tanya, ini orang anak Etniez apa bukan ya? Tapi dia udah pegang suvenir, berarti namanya udah terdaftar. Dan ada satu lagi cowok, namanya Oyen, (gw bener-bener nggak inget, maaaafff…) pertama kali dateng mukanya udah berseri-seri meskipun orang-orang di meja registrasi sama sekali nggak mengenali dia, tapi dengan riangnya dia nanggepin kita. I’m really proud of them 😀

– “Innoying” (looks innocent but totally annoying). Semua orang udah paham akan informasi yang ada, termasuk beliau ini, tapi di satu titik yang aneh dia memaksa penyelenggara melakukan hal yang nggak masuk akal demi kepentingan pribadinya. And we just like…God, are You sure killing is illegal?
*Epoy in read, you know what I mean, “that BB conversation” 😀

Tapiiii…alhamdulillah yaaa…semua ke-hectic-an itu terbayar dengan tiga jam berasa jadi anak umur 16 tahun lagi (well, untuk sebagian adalah umur 16 dengan junior-junior merek :D). Sebetulnya acara jadi mundur kurang lebih satu jam karena hujan. Tapi gw nggak mau nyalahin hujan, kenapa gw harus nyalahin berkah?

Salah satu guru yang dateng (yang kita undang) adalah guru BP waktu SMA dulu, Ms.E. Dan gw sama Epoy setuju waktu ngebahas di taksi dalam perjalanan pulang kalo beliau sama sekali nggak berubah, sepuluh tahun masih dengan aura muda yang sama, masih dengan senyum tulus yang sama. Beliau meyakinkan gw akan satu statement klasik: “Senyum adalah obat awet muda”. Karena pada saat itu gw nggak menghiraukan kerutan di wajahnya, yang gw lihat cuma senyum, senyum, dan senyum…and it’s awsome :).

Gw seneng ruangan kecil itu rusuh gara-gara anak-anak ex IPA 3 (Dessy cs, tadinya gw udah mau panggil kemanan in case kalian mendadak tawuran hahahahaha :D). Hampir semuanya suka tayangan slide foto-foto jadulnya. Cuma gw nggak puas, mestinya itu slide ditayangan pake proyektor di atas dinding biar lebih besar dan semua lihat dengan jelas, tapi karena satu dan lain hal akhirnya kita cukup pake TV home theater fasilitas Nic’s. Gw juga seneng semua ikut berpartisipasi dengan games-nya.

Seperti yang panitia bilang waktu itu, inti dari acara ini sebetulnya temu kangen. Ketemu, melepas kangen, bertukar cerita. Cuma sayang kurang lama, mungkin lain kali ada pihak lain yang bisa ngadain jauh lebih baik dari ini. Dengan panitia yang lebih banyak dan lebih jelas hahahahaha 😀

Si Niex bilang doi girang ketemu gebetan lamanya dan gw baru inget kalo gebetan lama gw nggak dateng padahal gw lihat namanya udah terdaftar haghaghag :D, mungkin karena hujan deras itu juga. Kalo gw mau jujur sebetulnya gw nggak terlalu kenal dekat sama sebagian orang yang dateng Sabtu kemaren, tapi lihat mereka senang, gw ngerasa kaya ketemu gank lama 😀

I really missed you guys, and proud of you all. Semoga akan ada acara-acar berikutnya yang nggak cuma senang-senang aja ya 🙂 🙂 🙂

The Entertrainment Series: I (almost) Kissed a Girl And I (don’t) Like It

I used to love have a seat on daily train Commuter Line,but this morning people became crowded and I have no interresting to snatched and punched each other just to get a seat. However, I have favorite spot on train whenever I can’t sit: standing right next to automatic door. Anticipating more passengers to push in at Manggarai station, yes..the spot was very strategic. At least I don’t have to “ask politely” to any passengers for give me less path to the door!

Well, after I found my fave spot, I start to listen my mp3 playlists. Passengers increase more and more after we took off from Bekasi. Then a girl get into this stuffy train. She pushed and pushed until…voila! Strike a pose right in front of me. I don’t like the position between me and her since first time she jumped in.

Then she grabbed the jamb beside me so her hand almost punched my nose.

Theeen, the tide of passengers attacked us, pushed her close to me. Then I realized that we have that awkward moment of face-to-face. Duh, unless she’s Katy Perry, I didn’t expect something happened accidentally.

That’s why I used to prepared mask. Not because I’m germs-phobic but…well, we never know who’s brings what kind of disease that could spread by air. I’m wearing mask especially when train get stuffy, or when I walked from station to office.

But I still don’t get it why that girl looks comfort by standing very close to me. Maybe she has no choice but me… I’m a type who wants to push people everytime they stand too close to me 😀

The Entertrainment Series: “Preggo or Fat?”

This is really awkward. I try to be nice on train by giving a seat to an old woman, a mother who bring her kids and ofcourse: pregnant women.

But sometimes I feel like an idiot. Not once, not even twice, but often I give my seat to a “wrong target” meanwhile I really need mine.

I’m so embarrassed to myself, I don’t know which the pregnant one or a woman who just fat!! They seems have similar shapes!. I know..I know…it’s sooo stupid!

So note this: so sorry to all fat womens which I thought they were pregnant. I didn’t mean to made them feels “Damn! Am I that fat??” But just say I’m a kind of rare “miracle stupidity” who didn’t even passed my biology subject on high school… I just try to be nice! :O

Caterpillar Story :)

Baru aja gw dapet telepon dari temen gw tersayang, suaranya putus-putus karena sinyal yang jelek. Sepintas terdengar kaya nangis apalagi kalimat pertama yang dia ucapkan adalah “Gw nggak terima!!” Gw pikir dia lagi ribut gitu sama siapa, ternyata…

Baru aja doi mencak-mencak lihat foto jadulnya waktu SMA yang diunggah di grup BBM…hadeeh..:D

Sebetulnya gw nggak terlalu mengenali dia di foto itu, karena dulu gw juga nggak terlalu kenal sama dia (hahahahaha :D) Setelah gw perhatikan lagi…emang lucu sih! Lalu gw berpikir how lucky she is!! 😀

Dulu doi emang gemuk pendek gitu (dan dia juga mengakui), tapi latihan-latihan pilatesnya beberapa tahun terakhir berhasil bikin si ulat bulu chubby ini berubah jadi kupu-kupu dan foto itu “bukti progress”nya, no kidding she’s damn stunning 😀

She must be proud, at least she’s a caterpillar who turns into a butterfly (me? I think I’m a caterpillar who turns into a fire dragon. LOL) Lalu tiba-tiba gw agak menyesal, karena dulu hampir nggak pernah suka difoto kecuali dipaksa. Gw terlalu sadar betapa jeleknya gw dulu sampe-sampe nggak pengen lihat foto gw sendiri. Bertahun-tahun kemudian ketika gw sadar bahwa hal terpenting bagi hampir semua remaja adalah tampilan luar, gw agak menyesal karena nggak punya kenangan caur untuk diketawain.

Beberapa hari yang lalu, setelah ngobrolin soal acara reuni sama beberapa teman di BBM, gw nanya ke suami gw “Mas, kenapa ya dulu SMA aku nggak punya pacar?” Suami gw ketawa dan berkata “Lha yo kowe elek tenan” (“Lha ya kamu jelek banget”). Mau marah nggak bisa, karena (sialnya) itu benar hahahaha 😀

Masa SMA adalah masa pertumbuhan fisik dan emosi, gw rasa nggak apa-apa menjadi gila sesaat di masa itu. Gw aja masih inget ada temen gw yang dulu sempet-sempetnya ngaku kena kanker (ok, that was hilarious) trus yang lain nggak mau kalah ikutan ngaku kena penyakit apa gitu (huahahahahahahahahaha XD), beberapa dari kami senang jadi pusat perhatian dengan cerita-cerita yang diada-adain. Jelek dan gila: masa remaja yang sempurna.

Masa di mana lo bahkan nggak tahu akan jadi apa tubuh dan kepribadian lo nantinya. Masa itu ya masa itu. Cewek-cewek berusaha tampil menarik di depan cowok-cowok. Sebagian berani tampil beda dengan sedikit berdandan, yang lainnya (salah satunya gw) nggak tertarik dan tetap setia pada seragam putih abu-abu standar tapi mengerutkan kemejanya atau memanjangkan sedikit roknya. Masa puber akan ketertarikan lawan jenis yang mungkin waktu itu kita salah artikan jadi “cinta” (ok, that was funny XDDD).

Jadi yah, emang intinya gw agak menyesal dulu nggak banyak berfoto. Gw punya sedikit masalah kepercayaan diri di atas kertas foto. I can own a stage, but I can’t stare a portrait of myself 😀

So…be proud, epoy! we were caterpillars until we chose a perfect time to turns into butterfly! 😀 😀 😀

Banyak Jalan (Nyasar) Menuju Ke…Blog Saya

Salah satu fitur yang gw sukai di wordpress adalah “Search Engine Terms“, dimana kiba bisa lihat orang-orang menggunakan beberapa kata kunci atau istilah di search engine untuk menemukan blog kita. Awalnya ada lah berasa ge-er pas lihat nama blog gw ternyata lumayan banyak dicari *PLAK! PLOK!* tapi lama kelamaan gw ngerasa lebih banyak yang nyasar daripada yang berniat nemuin ini blog.

Yang menarik dari orang-rang nyasar tersebut adalah kata-kata kunci atau istilah yang mereka pake atau bahkan apa yang mereka cari itulah yang bikin gw ketawa sampe pada akhirnya nyasar ke blog antah berantah ini, diantaranya adalah:

“Warung makan di Jogja yang bisa bungkusnya ada cap rumah makan”
-> Maksudnya rumah makan padang? biasanya sih kalo yang kemasan kardus ada cap rumah makannya

“Rempong itu apa”
-> Sering banget muncul ni kata kunci, hari gini masih aja ada yang nggak tau rempong itu apa?

“Sushi ala rumahan”
-> Penggemar sushi tapi nyaris bangkrut untuk ke restoran Jepang…senasib sama gw

“cewek mall ( paha mulus & dan pantat seksi)”
-> Ketebak banget deh kualitas ini orang…

“Gadis sadis”
-> Well, you got me 😀

“Emosi Tora Sudiro dorong wartawan”
-> Oh ya??? *buka situs gosip

“Dari arah stasiun Bekasi turun stasiun Pondok Jati”
-> Pasti lagi cari alamat! 😀

“Istri berkulit putri n suami kulit sawo matang jadi anak nya warna kulit nya apa ya”
-> Ada yang bisa jawab?

“Bawa dompet pake sarung”
-> What???

“Mengapa HRD menasehati kita pada saat interview”
-> Oh ya? Maksud gw “oh ya?” dengan muka datar

“Kekasih Indra Prasta The Rain”
-> Cieeee…suka yaaaa… 😀 😀 😀

“Kata-kata sindiran buat teman yang tidak mau berteman sama kita”
-> Who are you? friend of fairy godmother? 😀

“Perkataan majikan yang bikin kesel supirnya”
-> For sure: Banyak! 😀 😀

Monster Duri

Pada suatu hari terdapat seorang gadis kecil, ia pendek, bertubuh bulat, berambut ikal dan berkulit gelap. Karena penampilannya yang ganjil ia sering diejek oleh saudara-saudaranya.
Gadis itu sedih, meskipun ia diam saat diejek saudara-saudaranya di lain waktu ia sendirian menatap cermin dalam kamarnya dan menangis “Mengapa aku tidak cantik?” tanyanya pada diri sendiri.

Karena terlalu sering menangis, air mata gadis itu habis dan matanya berdarah. Ia tak ingin bersedih tapi ejekan itu selalu diberikan padanya. Lalu datanglah seseorang di malam gelap, ia menawari gadis itu sesuatu.

“Namaku Dendam, aku bisa menghilangkan rasa perih dari keringnya air matamu”
“Benarkah?” Tanya gadis itu tak percaya, “Tapi bagaimana?”
“Setiap kali kau bersedih, kau tidak akan menangis dan kau tidak akan pernah merasakan perih lagi karena keringnya air matamu, tapi setiap kali kau merasa sedih atau marah satu duri tajam akan muncul dari tubuhmu.”
“Baiklah,” Gadis itu menyetujuinya., ia terlalu kesakitan untuk berpikir panjang. Dendam pun menghilang.

Keesokan harinya kakak sang gadis kembali mengejeknya “Kau berkulit gelap, kau bukan saudara kami, lihatlah pipimu itu seperti bola! Hahahaha…” Si gadis kembali bersedih, namun betapapun ia merasakan rasa marah atau sedih, ia tetap tak bisa menangis, hanya satu duri tumbuh dari tangannya.

Hari-hari berlalu dan duri yang tumbuh di tubuh gadis itu kian banyak. Terlalu sering ia bersedih dan marah, ia terlihat tenang namun durinya semakin banyak.

Suatu hari duri itu tumbuh hampir di sekujur tubuhnya, begitu banyaknya sehingga bila ia berjalan semua orang harus menyingkir. Saudara-saudaranya menjadi kesal karena mereka menjadi sering tertusuk duri setiap berada di dekatnya.

“Kau monster! Lihat kau baru saja menggores kulitku, ini sakit!”
“Sesungguhnya, kau yang menciptakan monster ini.” Sahut si gadis. “Setiap kali kau ejek aku dan aku merasa sedih atau marah, satu duri tumbuh di tubuhku, sekarang kau rasakan sakitnya setiap kali berada di dekatku.”

Meski begitu, duri-duri di tubuhnya tidak hanya mengganggu saudaranya tapi juga mengganggu orang lain yang berpapasan dengan gadis itu, mereka takut untuk berada di dekatnya khawatir duri-duri tersebut melukai mereka. Mereka menjulukinya Monster Duri.

Kisah Monster Duri tersebar ke pelosok desa dan terdengar oleh telinga seorang anak laki-laki. Karena pensaran ia memutuskan untuk mencari untuk melihat keberadaan Monster Duri tersebut.
Akhirnya anak laki-laki tersebut berhasil melihat sosok yang ia cari.

“Ah, itu sudah pasti ulah Dendam” gumamnya.

Suatu hari anak laki-laki tersebut mendekati Monster Duri yang sedang duduk termenung di bawah pohon nan rindang.

“Jangan mendekat!” Monster Duri memperingatkan “Duri-duriku bisa menyakitimu!”
“Kau tahu, duri itu bisa disembuhkan, kau bisa menghilangkan semua itu sehingga kau tidak lagi bisa menyakiti orang di sekitarmu.”
“Benarkah? Bagaimana caranya?”
“Kau hanya perlu mengusir Dendam dari dalam dirimu, ia yang menumbuhkan duri-duri itu dari dalam untuk menyakiti orang lain.”
“Tapi aku tak tahu caranya” kata Monster Duri sambil tertunduk sedih. “Aku lelah menjadi seperti ini padahal aku hanya ingin bersedih ketika diejek oleh saudara-saudaraku, bukan menyakiti mereka”
“Aku bisa meminjamkanmu Air Mata” kata si anak laki-laki, ia mengeluarkan sebotol kecil air mata. “Bila kau sedang sedih atau marah, kau bisa mencariku, katakan apa yang membuatmu sedih dan marah lalu kupinjamkan kau Air Mata ini sehingga matamu tak lagi kering.”

Begitulah akhirnya setiap kali Monster Duri merasa sedih dan marah ia mencari si anak laki-laki, ia bercerita apa yang dialaminya makan si anak laki-laki meminjamkan Air Mata agar ia bisa menangis. Setiap kali Monster Duri menangis, duri-duri di tubuhnya semakin berkurang.
Meski begitu Dendam tetap tak mau pergi dari tubuh Monster Duri yang kini sudah kembali menjadi gadis kecil biasa.

“Kau tahu, aku tidak bisa mengusir Dendam dari tubuhmu, meski begitu kalau kau sedang bersedih dan marah, ingatlah untuk selalu mencariku.”

Gadis kecil itu sangat bahagia, ia pulang ke rumah dengan hati riang. Di rumah, keluarganya menyambut gembira gadis itu. Saudara-saudaranya yang penuh lukapun meminta maaf padanya.

“Maafkan kami, sesungguhnya kamilah yang pada awalnya membuat kau menjadi Monster Duri, kau sama cantiknya seperti gadis lain, sungguh!”

Gadis kecil itu semakin bahagia mendengarnya yang kemudian membuat Dendam menjadi tidak nyaman bersandar di tubuhnya. Dendam pun pergi menacri tubuh lain yang marah dan bersedih.
Sementara sejak saat itu, gadis kecil dan anak laki-laki tersebut menjadi sahabat, keduanya selalu berusaha ada satu sama lain agar Dendam tak kembali dan merenggut kebahagiaan mereka.