Pernahkah di suatu hari yang santai, lo buka laman news feed Facebook atau timeline Twitter, atau hanya sekedar ngecek recent updates di BBM (I feel like an idiot to have those three…) dan lo merasa seperi lagi nonton sinetron-sinetron murahan kemudian lo cuma bengong, mengerutkan dahi dan tanpa sadar terus bergumam “What..the..hell…”. 

Lalu lo inget bertahun-tahun yang lalu ketika internet masih dipake orang-orang tertentu untuk kepentingan pekerjaan, sebelum jatuh ke tangan remaja-remaja labil, saat itulah lo merasa era di masa lalu masyarakat jauh lebih pintar. Nggak ada hoax yang menyebar dalam itungan detik dari orang konyol yang kemudian diterus-sebarkan oleh orang-orang “polos” (well, seenggaknya begitulah pengakuan beberapa orang yang pernah gw tegur karena yang mereka sampein itu hoax, dengan innocent nya mereka berkata “Yah, namanya juga nyampein amanah..” WHAT??!!)

Yang jelas gw ngerasa internet dan sosial media bikin banyak orang menjadi “agresif”. Seperti banyak yang digambarkan banyak orang bahwa orang-orang di sosial media lebih ingin menunjukkan eksistensi dirinya.

Gw banyak nemuin orang-orang yang “pengen eksis” sampe-sampe gw ngerasa kalo dia kemasukan arwah Google. Gw nanya sama orang lain..tau-tau doi muncul dengan sebuah jawaban…salah pula. Atau ketika gw baca portal berita, gw menghindari baca komentar-komentar yang masuk di bagian bawahnya, karena gw tahu APAPUN beritanya, pasti jatuhnya akan menyinggung masalah SARA. Nggak ngerti lah para mas bro ini mau topiknya olahraga, politik, gosip (terutama gosip sih) pasti deh ujung-ujungnya saling menghina agama, orang-orang berjiwa kerdil.

Lalu gw menemukan spesies unik lainnya di kolam-kolam ini. Para moralis yang menyebar sudut pandang akan kebencian suatu hal, ibu muda yang berceramah dari “lapak-ke-lapak” supaya temen-temennya bersabar (menanggapi teman-temannya yang mengeluh tentang hidup mereka) tapi dia sendiri juga mengeluh (tapi jangan khawatir, bersamaan mengeluh di kalimat awal pada akhirnya ia akan menyemangati dirinya sendiri di akhir kalimat yang sama). Para pemrotes kenaikan BBM yang sebulan kemudian mengunggah foto-foto liburannya di Universal Studios (gw rasa liburan ke US lagi ngehits, karena beberapa minggu kemaren beberapa temen gw “terlihat” pergi ke sana, wondering kalo mereka saling kenal dan ketemu di pintu masuk lalu berkata “Hey, kamu temennya Nanda ya?” duh…

Daaan favorit gw adalah…para “korban media”. Orang-orang yang serius ngebahas hal-hal yang ada di TV, korupsi (kasus korupsi dan politik, terutama) sampe gosip si Bubu yang ternyata bukan keluarga kerajaan (sooo???). FYI, di saluran “TV Merah” kalo lo sering mantengin tu saluran (which I think it’s ridic), ada acara diskusi sekumpulan pengacara gitu…for me it’s like cirque du freak. Diskusi warung kopi, ujung-ujungnya ribut mulut. Orang bodoh macem gw lebih suka mengganti acara itu dengan acara masak memasak. Well, setidaknya selalu ada hasil akhir yang jelas dalam acara masak memasak.

Oh, dan akhir-akhir ini gw ngerasa kalo recent updates BBM jadi ajang pencitraan dan pembentuk alibi. Gw nggak akan sebut contohnya satu per satu lah ya, karena pasti bakal ada yang ngerasa hahahaha… Yang jelas lo langsung tahu deh maksud orang itu hanya dengan baca dari personal message BBM nya 😀

Sebetulnya itu semua bukan hal yang salah sih, toh benefit yang gw dapet dari sederet drama tersebut itu jelas: hiburan. Tapi bahkan hiburan yang sama pun lama-lama berubah menyebalkan. Gw nggak keberatan sih setiap kali gw buka laman media sosial yang gw dapatkan di sana adalah pasar, taman kanak-kanak dan posyandu, “World Trade Center”, sampe buku harian ABG puber. Cuma kadang gw kangen masa-masa dimana media sosial masih jadi tempat ketemu temen lama yang berbagi artikel dan tautan-tautan seru. That’s all…

*Dan ya, gw sadar akan kesalahan penggunaan sosial media-media sosial dalam urek-urekan ini, tapi gw nggak nerima kritik dari para Google Wannbes 😀

Jakarta Rasa Jakarta (Emang Begitu!)

– Suatu pagi menggerutu di Sevel –

Kantor gw terletak di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Setiap hari gw naik Commuter Line dari Bekasi dan turun di St.Cikini. Dari St.Cikini gw jalan kaki sekitar…ada mungkin ya 200 meter menuju ke kantor.
Bukan hal yang menyenangkan berjalan kaki di pagi hari menyusuri Jl.Cikini Raya. Pertama, lo ga akan pernah mendapatkan “jalan kaki sehat” di trotoar yang kerap berserak sampah itu karena kopaja-kopaja dan metromini yang melintas satu arah di jalanan di samping lo langsung “buang angin” berwarna hitam pekat (ya, gw bilang pekat) langsung ke hidung lo. Belum lagi kerap tampilan 3D moncong-moncong mereka yang kalo lagi nyalip kendaraan lain seakan bisa nyerang lo yang saat itu lagi jalan di trotoar (yang kata orang mestinya sih aman buat pejalan kaki), mengingatkan gw pada kasus sopir maut Afriyani.

Pernahkah liat video klip romantis tentang berjalan di tengah hujan di perkotaan, dengan payung besar dan mantel chic? Lo ga akan dapetin “rasa Manhattan” itu di saat hujan. Karena sopir-sopir ga punya otak dan pengendara motor kampungan ga akan pernah melihat pejalan kaki dan kubangan dalam visual mereka. Gw saranin lo bisa bertransformasi sebagai laba-laba, supaya bisa jalan nempel di dinding yang sejauh mungkin ga terletak tepat di pinggir jalan. Tapi gw kasih tahu, itu juga ga akan menyelamatkan lo dari cipratan maut. Nothing safe here.

Berikutnya, beberapa kali gw temui di jalanan ini orang gila. Mending kalo cuma orang gila berambut gimbal yang ngais-ngais sampah dan ngomong sendiri. Sekali waktu gw pernah nyaris dipukul sama orang gila laki-laki bertampang ganas. Dan baru tadi pagi ada orang gila berpenampilan necis berjenggot panjang nyaris nyentuh gw. I feel sorry for them, tapi suatu pihak harus menangani mereka. Kita ga pernah tahu orang-orang seperti itu bisa berbuat apa.

Seven Eleven pun udah nggak aman dan nyaman. Malam hari dihantui geng-geng ga jelas, dan pagi hari, ketika lo berharap bisa sarapan roti dan sekotak kopi di bar yang menempel di dinding kaca, memandang suasana pagi di kota besar, yang lo lihat mungkin anak punk ber-ukulele yang lagi nyengir genit ke arah lo, atau anak kecil dengan tangan menadah dan sesekali bikin gerakan menyuap sesuatu ke mulutnya. Di siang hari, tempat itu bahkan lebih parah, dihinggapi banyak ABG, beterbangan, berisik berkumpul bersama teman-teman mereka, tertawa liar dan belajar ucapan makian. Buat gw itu lebih mengerikan dari serangan gengster.

Belum lagi satu sekolah swasta di daerah itu (yang katanya mantan presiden Indonesia pernah menyekolahkan anaknya -yang juga mantan presiden- disana) menjadikan sebagian trotoar tersebut sebagai track lari murid-muridnya setiap hari Jumat (tapi udah hampir beberapa minggu sejak UN gw ga lihat lagi tu gerombolan murid-murid berlari, mungkin udah dipindah). Maksud gw…hell-o!! kalo gw jadi orangtua murid anak di sekolah itu gw pasti langsung protes ke sekolah!. Emang sih pada saat mereka lari itu ada beberapa guru yang mengawal, tapi cuma beberapa. Tanpa sepengetahuan guru itu, namanya anak-anak, ada aja saat mereka lari mendahului teman-temannya dengan turun ke jalan raya, melenceng dari trotoar. Gimana kalo pada saat itu dia ketabrak kendaraan yang lagi melaju kencang? Mudah untuk menyimpulkan bahwa “track” itu nggak aman.

“Emang begitu!” nggak gw perluin untuk mengomentari hala-hal kaya gini yang gw yakin tersebar di seluruh penjuru negara ini. Gw pun nggak bisa juga nyalahin pihak-pihak tertentu. Karena gw tahu kadang ya “Emang begitu!” lah orang-orang kita.

Pernah minggu lalu gw pulang ke rumah naik angkot. Angkot lagi jalan pelan karena lalu lintas emang merayap. Tiba-tiba ada serombongan keluarga yang terdiri dari ibu muda, ibunya (udah agak tua), tiga orang ABG tanggung, dan dua anak kecil nyetop tu angkot. Karena di jalanan itu suka ada polisi dan ada tanda dilarang berhenti, si sopir angkot nggak berhenti, alias naikin penumpang sambil jalan pelan (“Emang Begitu!” #1: Habit Sopir Angkot). Si ibu muda inipun mendadak rempong dan teriak supaya si angkot berhenti dulu.

Setelah semua anggotanya duduk dalam angkot (dan mereka menyalahkan satu sama lain karena “Lelet sih lo!”) Si ibu muda pun complain ke sopir angkot:

“Bukannya berhenti dulu,bang! Ada orang tua nih, kalo jatuh bisa panjang urusannya! Emangnya kenapa sih berhenti disitu? Kan angkutan ini..” Katanya kesal. Sementara beberapa penumpang (termasuk gw) yang ada disitu senyum-senyum mendengarnya. Tadinya gw mau bilang “Kalo berhenti disitu ya kena tilang, bu…kan ada tanda dilarang berhenti..” Tapi setelah gw pikir percuma juga gw ngomong gitu, doi tipe orang yang “percuma dibantah, jangan tanya, pokoknya percuma” (“Emang Begitu!” #2: tipe orang yang mau nggak mau harus dimaklumi karena ke”tidak tahu”an mereka – dengan maksud sarkastis).

Jadi gw pikir…di tengah rasa hopeless akan keadaan ini, bolehlah bermimpi ada sedikit yang berubah. Jadi akan lebih bijaksana untuk nggak kembali memilih orang gila lainnya untuk memimpin ibukota ini. Meskipun gw tahu itu nggak akan berpengaruh ke banyak orang, tapi…Emang Begitu!

Mrs.B (Sebuah Tingkatan Lain Dalam Cobaan Sosial)

Kenapa orang-orang suka penasaran sama urusan orang lain yang sebetulnya sama sekali nggak ada untungya sama mereka? Dan kenapa sebagian orang bisa bener-bener berperilaku kampungan? There I said…

Yaaa..yaaa… sebetulnya gw udah cukup terbiasa dengan perilaku aneh orang-orang di sekitar gw, cuma rasanya nggak nahan aja untuk nggak cerita.

Masih inget Cobaan Sosial alias si tetangga yang berbisik pada tetangga lain nanyain apa gw udah punya anak padahal gw cuma beberapa langkah dari dia? Kalo lo berpikir dia adalah ibu gosip terburuk dalam suatu RT, lo salah besar. Ternyata doi punya saingan dan gw bisa bilang…sedikit lebih parah.

Adalah pagi ini ketika gw berjalan kaki menuju rumah sakit untuk ngurus kepulangan bokap yang udah seminggu dirawat (dari pertama keluar rumah gw udah ngerasa kalo gw ngambil jalur yang salah menuju ke rumah sakit, gw nggak pernah suka lewat jalan yang dulu biasa gw lewatin kalo sekolah, di sepanjang jalan itu berjejer sarang-sarang ibu gosip, yang kalo pagi-pagi udah pada nongkrong buat gosip, heran…bukannya mereka mesti masak buat keluarganya?)

Pas gw lagi jalan, perasaan gw makin nggak enak lagi pas lihat salah satu biang gosip di komplek gw, Mrs.B, lagi (seperti biasa) nongkrong di depan rumahnya. Sebagai warga yang baik, gw tersenyum basa-basi sambil lalu. Baru beberapa langkah ngelewatin doi, dia nanya apa gw mau ke rumah sakit untuk jemput bokap, gw bilang iya. Lalu gw jalan lagi dan dia mulai teriak (karena gw mulai menjauh) kalo suaminya juga kemaren baru pulang dari rumah sakit setelah dirawat (dua hal yang gw katakan dalam hati: 1.Oh,I dont even know bout that dan 2.Kalo suaminya baru pulang dirawat tidakkah mestinya saat itu dia lagi ngurusin suaminya dan bukannya nongkrong nggak jelas pagi-pagi begitu?) Gw cuma menanggapi “Oh, iya” sambil senyum dan terus jalan.

Kemudian, dengan nada yang terdengar seakan sangat penting untuk dia ketahui, dia berteriak (ya, teriak) “Eh mbak! Udah punya anak belum??!!” Now what the hell is wrong with these people..

Gw nggak jawab, bahkan nggak nengok, cuma bikin gestur geleng-geleng kepala dan gw berharap dia tersinggung dengan gestur itu. Tapi, gw berani taruhan apapun dia nggak akan pernah ngerasa tersinggung, kulitnya setebal baja, badak…lewat.

Hal-hal seperti itu semestinya bikin gw wajib bersyukur karena dibesarkan dengan didikan yang baik. Meski begitu catatan tambahan lagi di daftar PR gw kalo suatu saat punya anak nanti, hal-hal kecil macam ngajarin sopan santun mungkin terlihat gampang, tapi gimana caranya apa yang diajarin itu bisa terus diingat dan dipakai si anak seumur hidupnya.

Dan demi Tuhan gw berusaha keras untuk nggak seperti Mrs.J. Mrs.B ataupun anaknya si Mrs.B yang nggak jauh beda kelakuannya kaya ibunya. Well, you know what they said…buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Maka bisa gw simpulkan bahwa Mrs.B adalah tingkatan lain dalam sebuah “Cobaan Sosial”.

“Cobaan Sosial”

Gw rasa hampir semua orang yang hidup bertetangga pasti pernah dibuat keki 1/2 mati sama mereka. Apalagi gw..hahahaha 😀 Setelah temen gw beberapa kali mencak-mencak ngadepin tetangganya yang usil, hari ini giliran gw yang kemudian jadi khawatir populasi ibu-ibu berpikiran dangkal semakin meningkat.

Siang tadi waktu gw beli makanan ke warung langganan gw, ternyata di sana udah nongkronglah dua orang tetangga gw, bu D dan bu J. Karena gw pertama kali lihat bu D, otomatis berbasa-basi dong dengan sapaan “Eh, ibu..beli apa?” seramah mungkin. Si bu D ini pun juga menjawab dengan ramah, setelah itu gw ke ruangan sebelah yang cuma dipisah sedikit sekat untuk beli makanan yang khusus buat pesen Gado-Gado.

Nggak lama terdengarlah suara si bu J yang dari tadi ngobrol sama orang lain. Dengan suara yang terdengar dengan jelas di telinga gw karena jarak gw sama mereka nggak lebih dari tiga meter si bu J ini bertanya pada bu D “Siapa itu bu?”, bu D menjawab “Itu..si nanda..” lalu sekonyong-konyong, masih dengan suara yang sangat jelas terdengar oleh semua orang yang ada di warung itu dan tanpa merasa bersalah atas desibel suaranya ia bertanya lagi pada bu D “Ooo..udah punya anak belum, dia?”

Menurut lo…sumpah serapah apa yang gw teriakkan dalam hati sementara gw pura-pura ngobrol sama si mbak yang bikin Gado-Gado?

Maka, gw mengulang kembali kata-kata yang gw kutip dari seseorang di twitter khusus untuk si bu J itu:

“Ma’am, my back is not a voice mail, if you have something to say (or ask) to me, say it in front of MY “F” FACE!!!”

Dalam fantasi yang lebih liar mungkin gw akan ngangkat TOA dan ngasih pengumuman siapa pemilik si ibu ini, tolong diambil dan dibawa pulang. Ok, that’s a lil bit inappropriate…

But please, at least let me say “What the hell, ma’am?” Ngerti nggak sih kalo nanya seseorang yang nota bene ada di deket lo ke orang lain itu sangat tidak sopan? Trus yang lo ajarin ke anak-anak lo apa??? Gw udah cukup melihat banyak ibu muda dengan perilaku dangkal di berbagai jejaring sosial, ternyata di dunia nyata lebih banyak lagi… Paling nggak gw sungguh-sungguh berharap gw nggak akan seperti itu nantinya.

Sekarang gw ngerti kenapa sabar terhadap tetangga itu susah-susah gampang susah, karena menahan diri untuk nggak mencekik seseorang kadang terasa luar biasa. Tetangga adalah salah satu cobaan sosial, kalo dihindari lo akan digosipin macem-macem dengan berbagai prasangka kejam, dihadapi pun akan menguji kesabaran untuk nggak terpancing emosi. Simalakama sosial

Sabar…sabar… 😛

Cukup Bertanggungjawabkah Informasi Anda?

Setiap informasi yang kita berikan ke orang lain seharusnya bisa dipertanggungjawabkan, apalagi kalo informasi tersebut kita dapat dari orang lain dan kita terusin lagi ke orang yang lain pula.

Mungkin, beberapa orang mengenal gw sebagai orang yang paling jengkel sama yang namanya Broadcast Message tentang info-info yang selalu gw pertanyakan kebenarannya. Mungkin lo juga bosen denger keluhan gw tentang itu semua, tapi sebagian besar BM biasanya hoax.

Waktu awal-awal punya BB, gw juga termakan kebiasaan ngirim dan nerusin BM yang nyampe ke gw. Setelah lama-lama ternyata banyak yang isinya cuma hoax, sejak saat itu gw selalu berusaha mencerna lagi semua informasi yang gw terima dan bahkan (a little confess to make) gw jarang nerusin lagi semua informasi-informasi itu, meskipun banyak diantara dibubuhkan “kalimat ancaman” kalo gw nggak nerusin berarti gw nggak perduli, jahat akan kena kutuk or something…

Sebegitu mengganggunyakah hal itu bagi gw? Gw bilang IYA. Seluruh masyarakat yang ada di atas bumi ini semakin hari semakin menularkan sakit jiwa secara akut, tapi yang lebih parah adalah yang menularkan kebodohan yang akhirnya membuat orang menjadi sesat. Coba aja lo lihat ada berapa banyak situs-situs berita yang diparodikan punya luar negeri yang ngeberitain hal-hal yang nggak bener alias cuma buat lucu-lucuan tapi dikemas seperti serius sama mereka? Apa semua orang tahu akan hal ini?

Gw masih inget banget waktu salah seorang di kontak list BB gw dengan semangat 45 mem-BM tautan tentang berita bahwa Justin Bieber adalah laki-laki umur 60-an, paedofilia dan pake kedok JB untuk ngedeketin anak-anak di bawah umur. Atau waktu seseorang memposting bahwa Paris Hilton masuk islam dan yang menyedihkan banyak sekali orang yang percaya akan semua itu, bahkan rela bertengkar dengan orang yang mereka nggak kenal di forum komentar demi membela bahwa berita itu benar! Mereka sibuk mencaci maki sesama dan menghina…apa itu namanya kalo nggak adu domba jadinya?

THAT WAS PATHETIC, PEOPLE!!

Oke, itu cuma berita hiburan. Lalu gimana informasi-informasi yang pake bawa-bawa keyakinan? Yang ditulis dengan penuh emosi dan provokatif? Atau informasi yang biasa gw sebut “siraman rohani” tapi dengan catatan kaki di bawahnya barangsiapa yang nggak nerusin pesan ini akan sial? Atau kalo lo nerusin pesan ini “Ke 10 orang temen” maka dalam satu jam lo akan dapat kebahagiaan?? What the..?? Gw percaya Tuhan, nerusin atau nggak nerusin tu pesan kalo Tuhan mau gw dapet sial ya sial aja. Kalo Tuhan menghendaki gw dapet kebahagiaan ya dapet kebahagiaan aja. Apa namanya itu kalo bukan bikin orang jadi musyrik??

Beberapa orang pernah gw sanggah tentang informasi yang mereka berikan, dan jawaban mereka seakan nggak terima, hampir semuanya punya jawaban yang tipikal “Cuma nyampein doang.” Buat gw “Cuma nyampein doang” juga butuh pertanggungjawaban. Menyampaikan amanah butuh pertanggungjawaban. Gimana kalo amanah yang kita sampaikan untuk orang lain itu nggak bener? Akan ada pihak yang namanya tercemar, akan ada pihak yang tersesat, jangan salah…itu tanggungjawabnya juga besar.

Mungkin buat sebagian orang, nerusin BM hanyalah suatu tindakan kecil. Tapi pernah nggak mikir apa yang akan terjadi kalo isi BM itu nggak bener, atau akan menyebabkan orang lain punya keyakinan yang salah?

Beberapa bulan yang lalu gw pernah posting satu tulisan Jahat Tapi Tidak Cukup Pintar Intinya gw bilang kalo penipu sekarang tolol-tolol. Tapi belakangan gw baru tahu kalo gw nggak sepenuhnya bener, penipu tolol itu masih bisa menang selama ada orang-orang naif yang percaya sama mereka, dan kali ini terjadi sama tetangga gw sendiri.

Mereka ditelepon sama orang yang ngaku dari Telkom, dikasih tahu kalo mereka menang undian dapet motor diundi dan udah di salah satu stasiun TV, tapi mesti beli pulsa dulu seharga Rp.300.000,- dan mereka betul-betul percaya. Kakak gw udah ngasih tahu kalo dia juga sering dapet telepon kaya gitu, itu penipuan tapi tetangga gw itu nggak dengerin kakak gw malah nambahin kalo orang yang telepon tadi akan ngirim orang TV untuk ngeliput pemberian hadiah tersebut. Yeah right..sebulan kemudian yang dia lakukan cuma menghindari kakak gw.

Gw nggak bilang mereka bodoh (well yeah..kadang), gw cuma mau bilang selama ada orang-orang yang nggak hati-hati dalam nerima informasi, akan selalu ada orang jahat atau bahkan iseng yang manfaatin kenaifan mereka.

Jadi maafkan kalo gw suka ketus setiap kali merasa terganggu, itu berarti hal yang bikin gw terganggu itu udah teruji kebodohannya dan berulangkali terjadi. Marilah kita sedikit lebih bijaksana nanggepin info-info liar yang ada. And please…be wise with your gadget, karena itu bisa berubah jadi “teroris sosial” lo sendiri.

NB: Waktu itu seseorang juga pernah BM sebuah tautan yang katanya untuk ngunduh ikon lucu-lucu di BB, pas gw buka ternyata itu tautan gambar pocong, so listen up son of a bitch…that was not funny…AT ALL, wish “they” haunted you all the time.

Another Crime Alert!

Jangan pernah meremehkan KTP atau SIM yang hilang. Kalo yakin hilang di suatu tempat sebaiknya cepet bikin laporan ke polisi. Kakaknya kakak ipar gw terseret masalah sama suatu komplotan gara-gara dompetnya hilang.

Sebut aja Ardi (bukan nama sebenarnya) si kakak dari kakak ipar gw, pulang dari urusan kerjaannya di daerah Tangerang dan mampir untuk shalat di sebuah masjid. Karena celana yang dipakainya kotor, khusus untuk shalat dia ganti pake sarung, celananya dia taruh di belakang dia. Selesai shalat, semua isi di kantong celananya, HP dan dompet udah hilang. Salah satu jamaah yang baru dateng emang lihat ada orang keluar terburu-buru dari masjid. Akhirnya seorang imam masjid tersebut berbaik hati minjemin telepon. Ardi kirim SMS ke no HP yang dicuri orang tadi bahwa dia cuma minta KTP sama SIM-nya aja dibalikin dan ditunggu sampai Ashar di masjid itu. Sampai Ashar pencuri itu nggak munculin batang hidungnya, akhirnya Ardi pulang dan nitip pada imam masjid tadi kalo-kalo dompetnya ketemu.

Malamnya ketika dia udah sampe di rumah tiba-tiba didatengin 4 orang laki-laki yang terus nyerocos kalo Ardi udah nyuri laptop seseorang! Komplotan itu ternyata megang SIM-nya Ardi dan mengaku kalo SIM tersebut ada di deket tas laptop dimana laptopnya udah hilang, dan tas itu berlokasi di daerah Cengkareng (jauh amat?). Secara logika ya, pencuri manapun kalo mencuri akan berusaha keras nggak ninggalin jejak sedikitpun, lha ini mau nyuri laptop kok yo ninggalin SIM?

Sementara tu komplotan bersikeras mau bawa Ardi ke Cengkareng dan Ardi pun bersikeras nggak mau pergi karena dia ngerasa dompet beserta isinya hilang, ketua RT disitu akhirnya menyarankan untuk nyelesain masalah ini di kantor polisi. Awalnya tu komplotan marah dan nggak mau ke kantor polisi, dia bahkan ngaku kalo dirinya juga polisi. Setelah ditantang sama ketua RT (“Ya bagus kalo lo polisi, makanya ke kantor polisi aja biar semuanya clear!) akhirnya mereka semua ke kantor polisi. Si komplotan berempat ini naik motor berdua-berdua, anehnya dua orang temennya kaya sengaja ketinggalan di belakang dan baru nyampe di kantor polisi satu jam kemudian setelah rombongan yang lain nyampe.

Setelah laporan, polisi nanya identitas salah satu komplotan yang ngaku polisi tersebut..eh, ujung-ujungnya dia ngaku kalo dia bukan polisi. Kakak ipar gw akhirnya nggak lamapun dateng ke sana, si komplotan masih bersikeras mau bawa Ardi ke daerah Cengkareng. Akhirnya kakak ipar gw balik ngajakin “Oke, kita semua ke sana, ikut di mobil gw aja.” Salah satu orang dari komplotan tersebut ngeles lagi, intinya dia ngerasa nggak aman kalo kakak ipar gw ikut dan nuduh mobil kakak ipar gw itu sewaan yang takutnya akan bawa kabur mereka (dari sini gw bertanya-tanya, ini komplotan niat jahat apa cuma orang stress yang kabur dari rumah sakit jiwa?). Salah satu dari komplotan itu terus ngomong nyerocos berapi-api seakan-akan berusaha mancing emosi. Kakak ipar gw jawab “Saya ini adik kandungnya jauh-jauh dari komplek Kejaksaan, masa iya saya mau celakain orang?”. Si komplotan tiba-tiba marah, katanya jangan bawa-bawa Kejaksaan trus mereka semua langsung pergi!

Sebelumnya mereka juga ngancem mau laporin Ardi ke kantor polisi daerah Cengkareng (yang katanya lokasi di mana “laptop” yang mereka ceritain itu hilang) dan anehnya SIM itu tetep mereka pegang. Si polisi tadi juga kaya nyalahin Ardi karena nggak langsung laporin KTP dan SIM-nya yang dicuri yang apesnya keburu dateng tu komplotan penjahat. Polisi itu bilang baru bisa bikin surat keterangan hilang kartu identitas Ardi setelah 15 hari dan memastikan nggak ada laporan tentang pencurian laptop yang diancamkan komplotan tadi.

Complicated. Kasian juga, kalo udah kena apes ya maka apeslah. Pelajaran buat semuanya untuk selalu berhati-hati, apalagi gw ngerasa makin hari hukum di Indonesia udah setipis kabut. Meskipun kita bener tapi kita nggak bisa ngandelin pihak yang seharusnya bisa kita mintain perlindungan, salah-salah malah kita yang jadi tersangka. Inget aja kasus konyol mahasiswa di Jogja yang harus masuk sel dan kena denda cuma gara-gara pas ada razia motor dia kebetulan lagi bawa pisau lipat, padahal itu alat standar untuk dia kerja sebagai relawan di Merapi. Pisau lipat! Ada berapa juta orang di negara ini yang bawa pisau lipat di dalem tas sehari-hari dan mahasiswa ini yang kena apesnya!

Setiap orang harus bisa melindungi dirinya sendiri, hampir udah nggak ada pihak keamanan yang bisa kita percaya, jaman sekarang ditolong orang hanya mengandalkan belas kasih dan kejujuran orang yang menolong, hukum udah makin ribet dan masyarakat awam dan terutama nggak berduit jarang ada yang survive dari hukum-hukum konyol…

_____________________________________________________________________________________________________

Never underestimated if you lost your ID or driving license. When you realized your ID or the driving license had lost you better as soon as possible made a report to the police. The elder brother of my brother in law named Ardi was dragged into complicated problem started when he lost his wallet.

Ardi was on the way home from his work in the Tangerang area and stop to pray in a mosque. Because of trousers that he worn were dirty, especially to pray substitute with the sarong, his trousers he placed behind him. Be finished prayed, all the contents in the pocket of his trousers, the mobile phone and the wallet has was lost. One of the congregations lately said he saw the person went out hurried from the mosque. Finally a mosque priest was kind-hearted borrowed him the telephone. Ardi sent the SMS to his own number that was stolen by this person that he only asked them to return his ID card and his driving license and he would waited for until Ashar time (Ashar time is about afternoon) in the mosque. Until Ashar the thief not showed up, then finally Ardi came home and asked to this mosque priest to called him if he found his wallet.

At night when he has arrived home suddenly there’s 4 men come looking for him who accused that Ardi has stole somebody’s laptop! The gang evidently arrest Ardi’s license and claimed if the license was near of the laptop bag where his laptop has lost, and the bag was located in Cengkareng area (very far? ). Logically, any thief will try hard not to left some tracks, now how come if someone stole a laptop and left his license??

Meanwhile this mysterious gank wanted to bring Ardi to Cengkareng and Ardi then insisted not wanted to go because he felt the wallet as well as his contents was lost, the chairman RT (a person who responsible for the area of residence where Ardi lived) there finally suggested to resolved the problem in police station. Initially the chief of the gank were angry to heard that and not wanted to police station, he said (with a little bullied) if himself also police. After being challenged by the chairman RT (Yes good if you’re a police, therefore to police station to make it clear! ) then finally all of them went to police station. The gank whose came as 4 men by riding two bikes which two person on a bike, strangely the two other looks deliberate late behind and arrived at police station one hour afterwards after the others arrived.

After made the report, the police asked the identity of the gank’s members whose said he’s a member of police which finally he admit that he’s not. My brother-in-law came to the police station after he got called meanwhile that gank was still insisting wanted to bring Ardi to Cengkareng. Then brother-in-law’s said to the gank “Ok, all of us will go there by my car.” One of the gank refused, he said basically he felt not safe if they used my brother-in-law’s car then accused that the car maybe a rental car and frightened him will they safe until Cengkareng (??) (I wondered, is this the gank with bad intention or a bunch of stressed people that bolted from the psychiatric hospital? ). One of them continued bullied looks like trying to pissed off everyone there. My brother-in-law explained “He’s (Ardi he means) my brother and I came here was very far from my house at Attorney General’s Office residence in Bekasi, why I wanna hurt you??” . The gank was suddenly angry, he said should not mention the Attorney General’s Office then all of them at once went!

Beforehand they also threatened would report Ardi to Cengkareng office of regional police (he said it was the location where the “laptop” was lost) and strangely they still kept Ardi’s license. The police was also “blamed” Ardi because didn’t reported his ID and license faster after he realized it was stolen. The police also explained that they only could make the certificate of this lost the after 15 days and decisive not had the report about the theft of the laptop that whose threatened by that gank.

Complicated. What a poor if has be hit by unlucky then it’s just…unlucky. The lesson for all of them to always be careful, moreover I felt law in Indonesia nowadays has as thin as the fog. Although being straightened by us but we couldn’t count to the side that necessarily we could asked for protection, a little mistakes could make turn into suspect. Remember about the foolish case of a college student in Jogja who was incarcerated at prison just because one day he passed the traffic raid especially for motorbike he by chance still brings the pocket knife, in fact that the standard implement for his work as the volunteer in mount Merapi. The pocket knife! How many millionss of people in this country that brought the pocket knife their bag everyday and this student that be hit by unlucky!!

Anyone must be able to protect himself, almost has not had the security side that could we believed, nowadays being helped by someone only relied on the mercy and the honesty of the the person that helped, the law has was increasingly complicated and the lay community and especially the poor one rarely survived from silly laws…

Biasanya…

Jenis ke-tipikal-an yang lain di Facebook.

Kalo status isinya marah-marah, biasanya banyak komentar yang berisi upaya menyabarkan si empunya status

Kalo status isinya lagi sedih nan galau, biasanya pada berkomentar membesarkan hati dan memberi semangat si sempunya status

Kalo status isinya lagi jatuh cinta, biasanya komentar terbanyak berbunyi “ciiieeee…”

Kalo status isinya kata-kata bijak atau doa, biasanya banyak yang nge-like

Kalo status isinya lagi maki-maki pemerintah beserta jajarannya, biasanya komentator yang lain ikutan maki-maki

Kalo status isinya lagi complain ke suatu provider, biasanya orang yang jarang komentar ikut ngasih masukan tentang provider yang bagus sesuai pengalamannya (dan yang providernya sama lalu kena masalah yang sama, ikutan ngeluh)

Kalo status isinya lagi makan, biasanya komentar yang paling banyak masuk adalah mereka yang berbunyi kelaparan dan makanannya minta dikirimin

Kalo status isinya lirik lagu, biasanya ada berbagai macam reaksi, misalnya:
1. Kalo si komentator kelewat hafal lagunya, dia akan meneruskan liriknya
2. Kalo si komentator ga tahu lirik lagunya tapi tahu judulnya dan kebelet pengen komentar, dia akan nulis judul lagunya saja
3. Kalo si komentator sama sekali nggak tahu itu lirik lagu, dia akan memberi reaksi yang berbeda sesuai dengan isi lirik tersebut

Kalo isi status penuh rasa syukur, biasanya komentator ramai-ramai mengucapkan “amiiin…”

Kalo isi status bercerita tentang bayi yang lucu, biasanya dibagi dua jenis komentator, misalnya:
1. Komentator yang belum punya anak, ikut merasa senang dan membayangkan betapa lucu bayi tersebut
2. Komentator yang sudah puya anak, sama, ikut merasa senang dan akan berbagi cerita betapa lucu pula anaknya
(dan gw sangat tidak sabar untuk melakukan hal nomor 2! Ibu-ibu, minggir!!)

Ada yang mau nambahin?

“Love Matters”

Gw buka twitter malam ini, membaca beberapa pertanyaan tentang cinta dan gw ngerasa seperti lagi duduk di sebelah Brittany Pierce dengan mimik wajah “What??”

Well, kisah cinta gw sebelum menikah terhitung pendek untuk jangka waktu pacaran (cuma satu mantan) dan cukup panjang untuk rentang waktu menggebet laki-laki (gebet maksimal, hasil minimal) jadi gw kadang bertanya kenapa banyak orang menanyakan hal-hal seperti ini:

1. Apa yang kamu lakukan ketika kamu masih sayang sama mantan?

Doh! ya ngomong lah… “gw masih sayang” kalo dia masih sayang juga dan masih single, ajak aja balikan, kalo udah ga sayang atau udah ga single ya tinggalin..kaya ga ada orang lain aja.

2. Kalo ada yang ngasih harapan sama kita tapi dia udah punya pacar, gimana?

Ya nggak gimana-gimana..mau aja dimainin sama tu orang…

3. Apa yg akan kamu lakukan ketika sedang naksir sama seseorang?

Oh, please…

4. Apa yang kamu lakukan kalo ini hari terakhir kamu bertemu dengan orang yang kamu cintai?

What is this? Romantic Hollywood movie?

5. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menyukai cowok/cewek lain tapi kamu sudah punya pacar?

Itu namanya NGGAK MAU RUGI, sayang…

6. Apa reaksimu kalo tau ternyata mantan mu sangat membenci mu?

Hah? Situ oke??

7. Apa reaksimu jika orang yang kamu suka bilang “Maaf, aku tidak suka sama kamu, aku sudah mencintai orang lain”?

Lihat jawaban No.1, kalimat paling akhir

8. Apa reaksimu kalo temen-temennya pacar mu gak suka liat kamu pacaran sama dia?

Mengutip My Happy Ending-nya Avril Lavigne:
“You’ve got your dumb friends, I know what they say.. They tell you I’m difficult, but so are they! But they don’t know me, do they even know you?”

9. Apa untungnya kalo masih berhubungan/temenan sama mantan pacar?

YOU tell me, sebetulnya gw punya jawaban serius untuk ini…manfaatkan networkingnya, bukan yang lain.

10. Apa reaksimu kalo ada orang yang deket sama kamu tapi dia lagi deket juga sama orang lain?

Itu pentingnya memupuk rasa nggak cepet ge-er. Lihat jawaban No.2

Ditilik dari pertanyaan-pertanyaannya sih yang mengajukan paling anak-anak usia remaja sampe awal 20-an. Cukup beruntung mereka nggak nanyain pertanyaan-pertanyaan itu ke gw, bacanya aja bikin gw nggak bisa berkata-kata hahaha 😀

nite folks! 🙂 🙂 🙂

Iseng-Iseng Berhadiah

Gw cuma pengen tahu apa maksud pak polisi tadi.

Sepulang check up dari rumah sakit gw sama laki gw memutuskan untuk ngelayap dulu, kali ini nonton di XXI Mega Mall. Di perempatan lampu merah deket Mega Mall kita berhenti karena kebetulan lampu merah. Di perempatan itu ada beberapa polisi yang lagi ngawasin lalu lintas. Tahu-tahu polisi yang berdiri di deket motor gw nyuruh laki gw menepi (padahal itu lagi berhenti lampu merah). Trus dia minta laki gw nunjukkin SIM. Dikasih. Dibolak-balik itu SIM. Jeda sedikit trus minta keluarin STNK. Dikasih. Dibolak-balik tu STNK. Trus dia ngelirik motor laki gw, diliatin atas ke bawah bawah ke atas seluruhnya. Trus…melengos ngeloyor.

Gw tanya laki gw “Kenapa dia?” laki gw ngangkat bahu “Mbuh, gagal kali mau ‘iseng-iseng berhadiah'”.

Dulu, kalo denger cerita temen-temen gw tentang “polisi iseng” yang suka nyari-nyari kesalahan pengendara, gw kadang suka nggak percaya. Gw pikir..ngapain kurang kerjaan amat kaya begitu. Tapi hari ini sepertinya gw tarik kembali rasa nggak percaya gw, sungguh aneh tuh orang. Ngebut nggak, ngelanggar marka jalan nggak, nerobos lampu merah nggak. Mungkin dia juga kecewa karena kami berdua pake helm SNI, spion motor ada dua, dan surat-surat lengkap.

Kira-kira apa sebetulnya maksud dia memberhentikan kami yang sudah berhenti ya…

Untitled II

Hari ini full smile!! 😀 😀 😀

Setelah potong rambut dari salon hari ini, karena males pulang gw putuskan untuk ngelayap dulu ke Mall terdekat. Gw udah kenal Mall ini sejak gw duduk di bangku SMP, dan semakin kesini semakin dipenuhi toko-toko mewah. Misi gw hari ini kesana adalah nyari blus, maka gw ke salah satu toko baju terbesar disana. Mondar-mandir nggak dapet yang cocok, gw brenti dan duduk sebentar di kursi. Trus gw baru sadar kalo ternyata pramuniaga disana semuanya pada pake wig bermodel Bob. Jujur aja, mereka terlihat seperti manekin di kios-kios ITC. Padahal gw suka tata rambut mereka yang lama, sanggul cepol atau ala French Twist, lebih rapih dan wajar. Udah wig-nya bentuknya kasar banget, sumprit aneh bangeeeettt….

Karena nggak ada blus yang cocok di hati, akhirnya gw muter-muter aja sekalian. Di Lobby gw lihat spanduk besar menggantung dari langit-langit sampe lantai 2. Tulisannya “Jadikan Donor Darah Sebagai Gaya Hidup”, pokoknya intinya ajakan untuk donor darah gitu deh, ada logo besar juga diatasnya, PMI. Gw pikir itu cuma iklan layanan masyarakat aja tapi ternyata PMI juga buka “konter” di lantai 4 Mall itu, kemaren gw pernah lihat dan dari dinding kacanya gw juga lihat ada beberapa orang yang sepertinya lagi donor darah juga. Gw nggak tahu sih mungkin ada alasan tertentu humasnya nggak ngasih tahu sekalian di spanduk itu kalo mereka ada di lantai 4 seandainya ada pengunjung Mall yang tiba-tiba berminat donor darah saat itu juga. Kalo mereka tambahin sedikit kalimat “Kami hadir di lantai 4” kan akan lebih enak. Maksud gw rata-rata orang yang diajak “Makan mie yang enak yuk” biasanya spontan menjawab “Dimana?”.

Setelah selesai muter-muter tanpa hasil akhirnya gw pulang. Kebtulan jalan depan bekas SMA gw dulu, ada anak SMA naik motor (nggak tahu tuh anak sekolah situ apa bukan, kayanya bukan soalnya tampangnya beda -bukan sombong tapi siswa-siswa sekolah gw nggak ada yang sedekil itu hehehe). Motornya..yah, biasa kali ya anak seumuran gitu dimodifikasi sedemikian rupa, motor bebek stangnya lah dibikin panjang, mesin bawah didodorin (maksudnya dibikin lebih rendah jadi ceper gitu) mungkin dia lupa kalo ini Bekasi dimana jalanannya nggak semulus Beverly Hills, alhasil tiap ngelewatin polisi tidur dia mesti sedikit brenti dan naikin roda depan motornya owh em ji… XD Bapak-bapak yang lagi nyebrang depan gw ngakak “Lihat tuh..sengsara dibikin sendiri..” wakakakakakaka…. Lagi heran gw kadang sama orang-orang yang suka modif ngasal gitu, dik..dik..kamu itu beli motor yang didesain melalui berbagai penelitian mahal oleh insyinyur-insinyur terbaik, bentuknya udah ergonomis kok ya malah dibikin jadi nyusahin diri sendiri…

Masih di lingkungan ex sekolah tercinta, gw pun berbelok dan dikejutkan dengan trotoar tempat orang-orang biasa jalan kaki ngelewatin jalan itu sekarang tertutup barisan tong-tong lebar berisi tanaman, setiap satu meter sepanjang trotoar sampe mentok. Maaf ya, siapapun yang punya ide itu pasti ada yang salah dengan otaknya.

Mungkin maksudnya baik mau bikin “jalur hijau” dipinggir jalanan aspal yang panas, tapi semula itu adalah trotoar, bentuknya sudah memenuhi standar trotoar (bahkan udah dicat zebra), banyak orang-orang yang melewati trotoar itu menghindari jalanan aspal tempat kendaraan lalu lalang dan (Demi Tuhan!) itu adalah trotoar ternyaman karena nggak dibajak pedagang dan warung kaki lima (paling nggak sampe sebelum ujung pertigaan) lha kok dibajak sama jalur hijau juga…tumbuhan punya hak, tapi pejalan kaki juga cukup menderita, lagipula jalur hijau udah ada ditengah-tengah tepatnya di pembatas dua jalur jalanan tersebut.

Hastaga…gw jadi senyum-senyum gimana gitu sepanjang jalan (sambil sesekali minggir menghindari motor dan angkot dimana gw berbagi jalanan bersama mereka). Lama-lama gw jadi mikir…sebetulnya gw yang punya kecenderungan berpikir terlalu jauh, atau dunia emang udah dipenuhi orang-orang yang suka nggak mungkin? 😕