Jakarta Rasa Jakarta (Emang Begitu!)

– Suatu pagi menggerutu di Sevel –

Kantor gw terletak di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Setiap hari gw naik Commuter Line dari Bekasi dan turun di St.Cikini. Dari St.Cikini gw jalan kaki sekitar…ada mungkin ya 200 meter menuju ke kantor.
Bukan hal yang menyenangkan berjalan kaki di pagi hari menyusuri Jl.Cikini Raya. Pertama, lo ga akan pernah mendapatkan “jalan kaki sehat” di trotoar yang kerap berserak sampah itu karena kopaja-kopaja dan metromini yang melintas satu arah di jalanan di samping lo langsung “buang angin” berwarna hitam pekat (ya, gw bilang pekat) langsung ke hidung lo. Belum lagi kerap tampilan 3D moncong-moncong mereka yang kalo lagi nyalip kendaraan lain seakan bisa nyerang lo yang saat itu lagi jalan di trotoar (yang kata orang mestinya sih aman buat pejalan kaki), mengingatkan gw pada kasus sopir maut Afriyani.

Pernahkah liat video klip romantis tentang berjalan di tengah hujan di perkotaan, dengan payung besar dan mantel chic? Lo ga akan dapetin “rasa Manhattan” itu di saat hujan. Karena sopir-sopir ga punya otak dan pengendara motor kampungan ga akan pernah melihat pejalan kaki dan kubangan dalam visual mereka. Gw saranin lo bisa bertransformasi sebagai laba-laba, supaya bisa jalan nempel di dinding yang sejauh mungkin ga terletak tepat di pinggir jalan. Tapi gw kasih tahu, itu juga ga akan menyelamatkan lo dari cipratan maut. Nothing safe here.

Berikutnya, beberapa kali gw temui di jalanan ini orang gila. Mending kalo cuma orang gila berambut gimbal yang ngais-ngais sampah dan ngomong sendiri. Sekali waktu gw pernah nyaris dipukul sama orang gila laki-laki bertampang ganas. Dan baru tadi pagi ada orang gila berpenampilan necis berjenggot panjang nyaris nyentuh gw. I feel sorry for them, tapi suatu pihak harus menangani mereka. Kita ga pernah tahu orang-orang seperti itu bisa berbuat apa.

Seven Eleven pun udah nggak aman dan nyaman. Malam hari dihantui geng-geng ga jelas, dan pagi hari, ketika lo berharap bisa sarapan roti dan sekotak kopi di bar yang menempel di dinding kaca, memandang suasana pagi di kota besar, yang lo lihat mungkin anak punk ber-ukulele yang lagi nyengir genit ke arah lo, atau anak kecil dengan tangan menadah dan sesekali bikin gerakan menyuap sesuatu ke mulutnya. Di siang hari, tempat itu bahkan lebih parah, dihinggapi banyak ABG, beterbangan, berisik berkumpul bersama teman-teman mereka, tertawa liar dan belajar ucapan makian. Buat gw itu lebih mengerikan dari serangan gengster.

Belum lagi satu sekolah swasta di daerah itu (yang katanya mantan presiden Indonesia pernah menyekolahkan anaknya -yang juga mantan presiden- disana) menjadikan sebagian trotoar tersebut sebagai track lari murid-muridnya setiap hari Jumat (tapi udah hampir beberapa minggu sejak UN gw ga lihat lagi tu gerombolan murid-murid berlari, mungkin udah dipindah). Maksud gw…hell-o!! kalo gw jadi orangtua murid anak di sekolah itu gw pasti langsung protes ke sekolah!. Emang sih pada saat mereka lari itu ada beberapa guru yang mengawal, tapi cuma beberapa. Tanpa sepengetahuan guru itu, namanya anak-anak, ada aja saat mereka lari mendahului teman-temannya dengan turun ke jalan raya, melenceng dari trotoar. Gimana kalo pada saat itu dia ketabrak kendaraan yang lagi melaju kencang? Mudah untuk menyimpulkan bahwa “track” itu nggak aman.

“Emang begitu!” nggak gw perluin untuk mengomentari hala-hal kaya gini yang gw yakin tersebar di seluruh penjuru negara ini. Gw pun nggak bisa juga nyalahin pihak-pihak tertentu. Karena gw tahu kadang ya “Emang begitu!” lah orang-orang kita.

Pernah minggu lalu gw pulang ke rumah naik angkot. Angkot lagi jalan pelan karena lalu lintas emang merayap. Tiba-tiba ada serombongan keluarga yang terdiri dari ibu muda, ibunya (udah agak tua), tiga orang ABG tanggung, dan dua anak kecil nyetop tu angkot. Karena di jalanan itu suka ada polisi dan ada tanda dilarang berhenti, si sopir angkot nggak berhenti, alias naikin penumpang sambil jalan pelan (“Emang Begitu!” #1: Habit Sopir Angkot). Si ibu muda inipun mendadak rempong dan teriak supaya si angkot berhenti dulu.

Setelah semua anggotanya duduk dalam angkot (dan mereka menyalahkan satu sama lain karena “Lelet sih lo!”) Si ibu muda pun complain ke sopir angkot:

“Bukannya berhenti dulu,bang! Ada orang tua nih, kalo jatuh bisa panjang urusannya! Emangnya kenapa sih berhenti disitu? Kan angkutan ini..” Katanya kesal. Sementara beberapa penumpang (termasuk gw) yang ada disitu senyum-senyum mendengarnya. Tadinya gw mau bilang “Kalo berhenti disitu ya kena tilang, bu…kan ada tanda dilarang berhenti..” Tapi setelah gw pikir percuma juga gw ngomong gitu, doi tipe orang yang “percuma dibantah, jangan tanya, pokoknya percuma” (“Emang Begitu!” #2: tipe orang yang mau nggak mau harus dimaklumi karena ke”tidak tahu”an mereka – dengan maksud sarkastis).

Jadi gw pikir…di tengah rasa hopeless akan keadaan ini, bolehlah bermimpi ada sedikit yang berubah. Jadi akan lebih bijaksana untuk nggak kembali memilih orang gila lainnya untuk memimpin ibukota ini. Meskipun gw tahu itu nggak akan berpengaruh ke banyak orang, tapi…Emang Begitu!

Pedestrian: Sebuah Lahan Sengketa

Pejalan kaki adalah orang yang diperlakukan paling nggak adil di jalanan. Dipaksa jalan ke pinggir nyaris masuk got, diklakson untuk jalan lebih ke pinggir lagi sementara jalanan yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka disabet para pemilik warung kaki lima.

Udah nggak terhitung lagi ketika gw lagi asyik jalan di trotoar nyusurin macetnya jalan utama di samping gw tiba-tiba ada motor dan orang idiot yang bawa motor tersebut bunyiin klakson nyuruh gw minggir karena di mau lewat di trotoar itu. Gw pun ke pinggir sambil nendang spakbor belakang tu motor (sayang nggak kena..sialan). Nggak berapa lama jalan tiba-tiba gw terusir dari trotoar dan terpaksa turun ke aspal jalan raya, minggir-minggir supaya nggak keserempet kendaraan karena di tengah-tengah trotoar tersebut berdiri warung nasi kaki lima yang ngabisin lebar badan trotoar itu sendiri. Dari belakang, mobil SUV ngebunyiin klakson nggak sabar karena badan gw nutupin beberapa jengkal jalannya.

Setelah kembali lagi ke trotoar, nggak lama kembali lagi mengalami pengusiran, kali ini trotoar dipake untuk tempat parkir motor dan mobil di depan deretan toko-toko yang nggak punya lahan parkir. Turun lagi ke aspal jalan raya, diklakson lagi sama supir-supir yang nggak sabar.

Pejalan kaki adalah simbol tua ketidakadilan. Kaki manusia adalah kendaraan ramah lingkungan, nggak menimbulkan polusi tapi selalu kalah sama mesin-mesin yang mencemarkan udara. Trotoar atau pedestrian adalah lahan sengketa bagi kendaraan bermotor, pedagang kaki lima dan pemilik sebenarnya tempat itu: pejalan kaki.

Nggak ada tempat untuk pejalan kaki dan mungkin pengendara sepeda di jalan-jalan ibukota. Jadi ketika gw lihat di suatu pagi seseorang naik sepeda dengan menggunakan kaos bertuliskan “Bike to Work” di punggungnya, gw selalu berdoa semoga orang-orang itu selamat sampai tujuan. Berjalan kaki dan berkendara pake sepeda di jalanan ibukota itu sama beresikonya seperti ibu-ibu yang sedang melahirkan: menyabung nyawa.

Belum lagi sebagian jenis motor gagah besar, yang suka bawa-bawa “magic jar” di belakang boncengannya, nggak cukup “magic jar” kadang ada yang suka nambahin nampelin “kotak sumbangan” yang ditempel di kanan kiri tepat dibawah tempat boncengan, alhasil kalo tu motor parkir mestinya bayar buat dua tempat. Banyak dari mereka yang juga suka nyerobot jalanan untuk pejalan kaki. That’s not cool, BRO.

Pedestrian akan selalu jadi lahan sengketa, dan kami para pejalan kaki mungkin akan selalu terusir dari tempat yang seharusnya diperuntukkan bagi kami.

Dagelan Stasiun

Udah agak lama sejak lulus kuliah gw nggak lagi berangkat naik kereta sampai hampir sebulan yang lalu dan terakhir kemaren diajak suami gw belanja suku cadang band-nya di Glodok. Gw setuju dan kami memutuskan untuk naik kereta aja, selain cepet jarak dari stasiun Kota ke Glodok juga cukup dekat.

Waktu tiba di loket tiket, tertulis di situ jadwal KRL Ekonomi AC yang “tidak lama lagi” akan berangkat adalah jam 9.15, denger pembicaraan calon penumpang di depan gw dengan petugas loket bahwa kereta tersebut ternyata belum datang. Gw sih nggak heran karena memang selalu seperti itu, bertahun-tahun dan “tradisi” itu belum berubah.

Ternyata di peron udah nangkring rangkaian gerbong KRL Ekonomi Non AC. Karena kami beli tiket untuk yang AC jadi…itu bukan KRL yang akan kami tumpangi. Karena KRL Ekonomi Non AC ini juga dari jadwal yang terlambat, otomatis setiap gerbongnya penuh sesak. Dan “tradisi” lain yang masih dipegang teguh para penumpang adalah beberapa orang masuk dan numpang di ruang masinis, juga penuh sesak. Nggak lama seorang laki-laki berseragam datengin ruang masinis di gerbong paling depan tersebut, tampangnya kesal dan berteriak “Turun bu, keretanya nggak akan jalan.”

Gw pikir keretanya rusak dan akan ada kekecauan penumpukan lagi, ternyata yang dia maksud “nggak jalan” adalah kereta itu nggak akan bisa jalan karena dia masinis kereta tersebut dan dia nggak bisa masuk ke ruang kemudi karena udah dipenuhi penumpang yang berjejal! Beberapa orang di peron ketawa, termasuk gw. Sungguh tontonan yang sangat menghibur. Kasihan juga itu masinis, udah mencak-mencak tapi nggak ada satu orang penumpangpun di dalam ruang kemudi itu yang nurut untuk keluar. Laki-laki yang paling pinggir di ruang kemudi itu malah cuek aja kaya orang budek. Karena nggak berhasil nyuruh penumpang keluar, akhirnya petugas keamanan berpakaian safari gelap pun mesti turun tangan untuk nyuruh penumpang-penumpang ngeyel tersebut keluar. Seorang ibu malah ada yang marah-marah disuruh keluar. Tidakkah semua itu begitu menghibur? 😀 😀 😀

Nggak banyak tontonan menarik di peron kecuali lihat padagang asongan yang jualan sembunyi-sembunyi, setiap ada satpam lewat mereka langsung membungkus dagangannya dengan kantong plastik hitam besar dan disembunyikan di bawah kursi tunggu. Ini salah satu perubahan yang gw lihat di stasiun ini, dulu di peron udah kaya pasar, banyak banget kios dagangan sekarang udah ditertibkan, diganti dengan bangku-bangku tunggu yang memang lebih dibutuhkan daripada kios makanan.

Jam 10.00, belum ada tanda-tanda KRL AC yang akan gw tumpangi datang, tapi mereka mengumumkan (oh..baik sekali..) bahwa “kereta anda” sudah ada di stasiun Pondok Jati, perkiraan gw akan makan waktu setengah jam untuk sampe ke Bekasi.

Jam 10.35, setelah bosan mandangin sekelompok ibu-ibu berseragam dari instansi pemerintahan yang mulai menggerutu kereta belum datang juga (gw menebak kalo mereka baru berangkat…jam segitu??) datanglah ini KRL yang bentuknya bagus, itukah keretaku tiba? Secara instingtif semua calon penumpang berdiri, merangsek maju sampe ke batas paling pinggir peron, lalu dari arah speaker yang serak-serak basah (kalo boleh gw jujur, speaker itu sepertinya udah harus diganti sejak sepuluh tahun yang lalu, karena yang gw denger cuma suara dari huruf vokal kalimat-kalimat yang disampaikan si petugas) bahwa kereta tersebut akan masuk dipo, alias nggak narik, alias penumpang kecewa sambil meneriakan “Huuu..!!!”

Lima belas menit kemudian datang lagi KRL bagus tapi masuk ke peron yang ada di seberang peron tempat gw berdiri dimana ketutup sama KRL yang lagi berhenti dan akan masuk dipo tadi. Nggak ada pengumuman apa-apa, hampir semua calon penumpang kebingungan, bertanya-tanya apakah itu KRL yang terlambat tersebut yang akan ditumpangi mereka. Sebagian berinisiatif berlari-lari pindah ke peron seberang, gw juga hampir sempet ikutan lari tapi suami gw bilang mendingan tunggu aja karena nggak ada pengumuman apa-apa dan gw mulai emosi karena ketidakjelasan tersebut.

Nggak lama KRL yang ada di peron kami itupun bergerak dan mulai masuk ke dipo, digantikan KRL baru datang yang sudah pasti inilah KRL yang mestinya terjadwal untuk berangkat ke stasiun Kota jam 9.15 tadi. Untuk informasi, KRL-nya baru datang sekitar jam 10.50.

Masuklah gw ke gerbong berhawa sejuk itu dengan muka yang udah kusam. Oh iya, sekedar informasi aja sekitar sebulan yang lalu gw juga sama suami gw ke Glodok naik KRL, berangkat naik kereta Commuter (gw tulis jenis kereta sesuai dengan yang informasi tertulis di loket karcis) harga karcisnya Rp.9000,- lalu pulangnya dari stasiun Kota naik KRL Ekonomi AC dengan tarif Rp.4500,-. Nah kemaren terakhir ini gw naik KRL Ekonomi AC dengan tarif Rp.4500,- tapi gerbong yang gw naikin adalah gerbong kereta Commuter yang waktu itu pernah gw naik juga seharga Rp.9000,-. Semuanya sama, gerbongnya, AC-nya, tempat duduknya kecuali yang ini lampunya mati kalo Commuter yang waktu itu gw naikin lampunya nyala. Dan memikirkan hal tersebut seperti menebak-nebak masa depan yang mana semakin dipikirkan semakin bikin pusing, akhirnya gw menyimpulkan kalo yang membedakan adalah lampu di gerbong tersebut. Menyala dengan tarif Rp.9000, dalam keadaan mati dengan tarif Rp.4500,-. Joking. I mean sarcastic joking.

NB: I found out lately kalo yang membedakan harga itu ternyata tarif Rp.9000,- adalah KRL Ekspress dan yang Rp.4500,- nggak Express alias berhenti di semua stasiun hehehe..dan ternyata “Commuter” itu adalah nama kereta tersebut, baik yang ekonomi maupun express. Wow..thx to my sister yang alumni penumpang setia KRL selama beberapa tahun terakhir ini hahahaha 😀

Hampir jam 12 siang KRL adem itupun sampe di stasiun Kota dan gw menyadari kembali satu “tradisi” lain yang belum juga ditinggalkan oleh pihak penyedia jasa kereta ini. Peron-peron di stasiun Kota itu nggak setinggi peron-peron stasiun yang tergolong baru. Peron di sana masih sangat rendah dan alangkah bahagianya kalo salah satu ada yang mengalah (pilih salah satu): a) Peronnya ditinggikan, sesuai gerbong-gerbong kereta saat ini b) Tangga yang nempel di bawah gerbong gimana caranya bisa di”canggihkan” bisa nongol keluar waktu keretanya berhenti khusus di stasiun yang peronnya rendah atau c) Di peron-peron tersebut disediakan tangga-tangga kecil beroda yang bisa digeser sesuai letak pintu gerbong untuk turun penumpang.

Kenapa? Karena, kalo kondisi orangnya masih seperti gw: muda, berpakaian kasual dengan sepatu santai, akan oke-oke aja loncat (ya, gw bilang “loncat” secara harafiah) dari ketinggian hampir dua meter (sebetulnya itu bahaya juga, karena dengan sepatu flat senyaman Crocs pun gw masih ngerasain semacem tegangan syaraf setelah loncat dari gerbong ke peron). Tapi kalo penumpangnya manula, ibu-ibu, para ibu hamil, anak kecil, cewek-cewek dengan seragam yang mengharuskan mereka pake rok pendek dan sepatu hak tinggi… tidakkah para penyedia jasa atau pengelola stasiun ngerasa sedikit nggak tega dengan penumpang-penumpang tersebut yang hampir selalu ada setiap hari di stasiun tersebut? Sedikit rasa kasihan? Sedikit rasa empati?

Dan yang terakhir yang mampu bikin gw tertawa di hari yang melelahkan itu, di luar toilet stasiun, ada dua buah bangku panjang saling berhadapan, di dekat kursi-kursi tersebut ada papan bertuliskan “Ruang Untuk Merokok”. Saat ini gw mengizinkan kalian untuk membayangkan senyum sarkastis gw yang paling manis. “Ruang” tersebut ada di luar bangunan, dimana tidak jau dari “Ruang” tersebut juga banyak orang yang merokok, bahkan di dalam ruang sungguhan pun ada banyak pula orang yang merokok! Jadi gw rasa “Ruang” tersebut sedikit tidak terlalu penting keberadaannya…maaf! 😀

Oke?

NB: Ini cuma “Potret” 😀

Untitled III (Sedikit Keprihatinan)

Beberapa hari yang lalu gw baca note temen gw, seorang ibu muda dengan anak yang masih kecil..usia TK sepertinya. Temen gw itu mengeluh, keluhan yang sama yang akhir-akhir ini lebih sering gw denger dari banyak ibu-ibu muda dan bahkan dari nyokap gw yang guru TK (sekarang udah pensiun sih). Zaman telah berlalu, konon saat ini hampir semua SD hanya mau terima anak yang udah bisa membaca dan menulis. Bahkan banyak SD di Jakarta hanya menerima anak-anak yang punya ijazah TK. Dari situ aja gw udah mulai bertanya: trus kalo yang orangtuanya pas-pasan nggak bisa masukin anaknya ke TK terlebih dahulu, gimana? Bukankah katanya SD itu bagian dari program wajib belajar? Kalaupun memang wajib belajar (wjib adalah harus, tidak boleh tidak, iya kan?) trus kenapa masih banyak anak-anak yang nggak sekolah di usia SD?

Kembali ke temen gw, dia kurang setuju dengan sistem pendidikan usia pra sekolah yang menurutnya yang belum saatnya dikenalkan pada anak-anak seusia mereka. Kalo gw nggak punya keponakan usia TK, mungkin gw akan bertanya: separah itukah? Sebetulnya keluhan temen gw ini udah sering gw denger dari ibu-ibu muda yang lain, dengan isi dan nada yang sama. Sayangnya, saat ini gw juga punya keponakan usia TK juga dan melihatnya pun emang cukup bikin iba.

Yang gw inget waktu gw TK, kerjaan gw setiap hari adalah main, nyanyi, menggambar, bersenang-senang dan gw punya semangat untuk belajar tulis baca ketika masuk SD. Keponakan gw yang masih TK itu setiap hari datang ke sekolah, disodorin hafalan, belajar nulis dan full PR Senin sampe Jumat. Bahkan libur panjang aja dikasih PR. Waktu itu gw cuma berpikir kalo ya..zaman emang udah berubah.

Suatu hari kakak gw (ibunya) pulang jemput keponakan gw itu dan bilang kalo keponakan gw diskors, nggak boleh sekolah dulu beberapa hari dan baru boleh masuk hari Senin minggu depannya. Jelas gw kaget (termasuk nyokap gw tentu aja, selama 40 tahun jadi guru TK baru kali ini dia denger anak TK diskors). Alasan si guru katanya keponakan gw ini melakukan beberapa kenakalan: lari-lari dan teriak di kelas sambil mengucapkan beberapa kata yang kurang sopan dan ngacak-ngacak crayon di dalem lemari. Gw akui, keponakan gw ini emang agak hiperaktif dan dia nggak bisa melakukan itu semua kecuali ada yang ngajak. Empat orang termasuk keponakan gw di sekolah itu, diskors. Sekolah yang dulu kita pilih karena dianggap punya pendidikan agama yang bagus, men-skors anak kecil yang bahkan nggak ngerti apa itu skors dan nggak ngerti kenapa bisa sampe dihukum nggak boleh sekolah. Setelah besoknya kakak gw ngadep ke guru dan kepala sekolahnya (dan mereka tetap menyangkal bahwa mereka udah men-skors keempat anak tersebut..hello!) akhirnya keponakan gw pindah ke sekolah dimana kepala sekolah di tempat barunya tertawa denger anak itu diskors.

Gw inget, dulu waktu gw TK gw sempet sekolah di tempat nyokap gw ngajar. Ada temen gw..beuh..nakal senakal-nakalnya..tapi guru-guru di tempat nyokap gw ngajar itu nggak ada sama sekali yang bahkan pake nada jengkel pun marahin dia. Ditegaskan iya, tapi diomelin sampe nyubit? Nggak ada. Dia cuma anak kecil, pasti punya kelemahan, pasti ada satu bujukan yang bikin kenakalannya mereda. Seorang anak nggak akan terus menerus nakal, pasti ada satu hal yang bisa bikin dia diem. Lalu gw mulai meragukan kualitas pengajar-pengajar sekarang (gw nggak sebut pendidik, karena mendidik jauh lebih sulit daripada mengajar, seumur hidup gw cuma ada beberapa guru yang gw anggap berhasil mendidik, yang lain cuma sebatas mengajar).

Gw emang nggak ngerti ya tentang psikologi anak dan psikologi pendidikan. Tapi akui aja deh, berapa anak yang masih bersemangat sekolah setelah kelas 1 SD? Gw sendiri punya pengalaman traumatis tentang sekolah. Temen-temen SD gw pasti tahu dulu gw pernah alpha dengan alasan yang nggak jelas sewaktu SD. Bahkan orang tua gw pun nggak tahu alasannya. Guru-guru cuma menganggap gw malas sekolah, setidaknya itu yang ditulis di raport: “Mutia, kamu itu cerdas hanya saja kamu agak malas.”

Ya jelas aja gw males sekolah, kalo setiap hari gw merasa beberapa guru lebih memperhatikan anak-anak yang bisa ngedeketin guru tersebut! Gw tahu gw lemah dalam bidang itung-itungan, terutama matematika. Gw butuh berkali-kali penjelasan untuk bisa ngerti, tapi seorang guru waktu itu, nyuruh gw ngerjain soal di depan kelas, dan gw nggak bisa dia malah bilang gw bego (dalam bahasa daerah) dan besoknya kalo gw ada yang nggak bisa ngerjain soal, gw disandera sampe sore nggak boleh pulang. Bu, kenapa ibu nggak lebih bersabar mengajarkan saya sampai mengerti daripada menyandera saya di sekolah sementara temen-temen yang lain tertawa mengejek dari balik jendela kelas?

Okelah, saat itu gw terima dibilang goblok, tapi setelah gw berturut-turut dapet nilai di atas 7 untuk matematika waktu kelas 1 SMP, gw baru sadar kalo salah satu keberhasilan siswa terletak dari cara seorang guru mengajar. Gw nggak akan pernah lupa sama guru matematika gw waktu itu (sekarah udah almarhumah), betapa dia sabar ngajarin gw yang lemot ini. Sayang aja pas kelas 2 gurunya balik lagi kaya salah satu guru SD gw. Galak sih nggak, cuma beberapa beliau ini kalo udah ada satu murid yang udah ngerti, beliau selalu membandingkan dengan kami yang lemot “Dia aja bisa, masa kamu nggak bisa?”. Lepas dari kelas satu dengan pemikiran matematika itu menyenangkan dan naik ke kelas dua yang serasa kembali ke neraka angka, sejak saat itu gw paling benci sama yang namanya matematika. Selesai.

Setuju dengan pendapat temen gw bahwa masa anak-anak adalah masa emas perkembangan mental mereka, apa-apa yang terjadi (termasuk perlakuan orang lain terutama) pada masa itu akan membentuk masa depan mereka, mereka nggak akan pernah lupa akan pengalaman-pengalaman itu.

Gw sedikit kecewa memang akan sosok guru-guru yang pernah ngajar gw, tapi gw lebih kecewa lagi lihat sosok guru-guru saat ini. Beberapa temen gw ada yang guru dan salah satu (atau dua) diantaranya bikin gw lebih mempertanyakan lagi kualitas mereka. Bagaimana mungkin seorang guru di jejaring sosial nulis kalimat makian padahal banyak anak muridnya yang membaca? Yang lain bahkan selalu nulis kalimat penuh kebencian meskipun emang ditujukan kepada seorang ikon “musuh publik” di negara ini, tapi kalimat itu tetaplah bernada kebencian?

Lalu kelak gw punya anak nanti, beberapa tahun ke depan, harus gw titipin ke institusi pendidikan terbaik mana? Apakah masih ada nantinya tempat menimba ilmu yang baik itu? Apakah anak gw nanti tetep akan jadi bagian dimana usia 5 tahun udah harus jago matematika dan fasih bahasa asing? Apakah anak gw akan tetep jadi bagian “diskriminasi kemampuan” dimana kepintaran selalu dinilai dengan angka? Apakah angka yang tinggi bisa menjamin kejujuran seorang anak dimana dia nggak berbuat curang untuk mendapatkan nilai tersebut? Lalu dimana pelajaran “menggunakan hati” yang ideal yang diceritakan Andrea Hirata lewat Laskar Pelangi-nya? Masih adakah budi pekerti seperti itu? Masih tersisakah Ibu Muslimah lainnya di masa yang akan datang?

Kalo anak TK udah mengalami skors saat ini, trus lima tahun mendatang apa hukuman untuk nggak ngerjain PR? (dimana gw masih mengerutkan dahi, haruskan anak TK dikasih PR?) Nggak heran kalo saat ini gw lihat banyak jasa-jasa penjual skripsi yang bahkan udah berani pasang iklan di koran! Dapatkan nilai yang tinggi itulah anak kebanggaan orang tua.

Semoga kasus anak TK diskors cuma terjadi di eks sekolah keponakan gw itu aja, pelajaran untuk gw dan mungkin ibu-ibu yang lain untuk lebih bener-bener teliti milih sekolah, kalo ada rekomendasi lebih bagus. Untuk sistem pendidikan pra sekolah saat ini, gw nggak tahu siapa yang memulai, mungkin awalnya berniat baik yaitu untuk naikin standar kualitas anak, tapi sebaiknya lebih diperhatikan cara menyampaikan ilmu pada anak-anak. Ada kalanya anak-anak nggak ngerti kalo mereka lagi dihukum, jadi kadang ya sia-sia aja menghukum orang yang nggak ngerti lagi dihukum. Meskipun mereka kecil dan belum tahu apa-apa tapi memori mereka akan terus menyimpan apa yang orang-orang di sekitarnya katakan dan lakukan di masa itu. Tolong, lebih bijaksana lagi menangani anak-anak…

NB: gw baru aja baca satu artikel yang dishare kakak gw, semoga bermanfaat:
Kompas Female/Ada Apa dengan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia?

Jangan Pernah Nebeng Lagi!

Sekitar seminggu yang lalu (atau lebih ya?) mungkin beredar berita (lagi) kalo MUI Banten ngeluarin fatwa haram bagi pria membonceng seorang wanita (pake motor,kalo mobil namanya nebeng! eh,sama aja ya? :P) yang bukan muhrimnya atau lawan jenis tanpa ikatan pernikahan.

Lah..kalian semua pasti udah males komentar, begitu juga gw..paling-paling cuma bisa muterin bola mata.

Agak ngeri nih nulisnya bisa-bisa gw disabet pedang ato dibom lagi rumah gw. Bukan fatwanya yang mau gw omongin, cuma denger beritanya jadi inget temen-temen gw di kantor yang dulu.

Sebagian besar pekerja di rumah sakit tempat gw kerja dulu adalah perempuan, terutama yang berprofesi sebagai perawat. Pelayanan poliklinik dibagi dua shift, shift terakhir pulang sekitar jam 9 malem. Ada sih mobil kantor yang khusus buat nganter para pegawai yang pulang malem tapi cuma sampe terminal terdekat, yang jelas nggak dianterin sampe rumah (jauh kaleee :D). Dulu gw punya temen, seorang refraksionis namanya Rizki (hai Rizki! apa kabar! :D), kebetulan rumahnya di pondok kopi satu arah banget ke rumah gw yang di Bekasi. Setiap hari dia bawa motor, otomatis jadi salah satu inceran ibu-ibu dan remaja putri yang cari tebengan kalo pulang malem. Bagian terlucu adalah ketika gw sama partner dinas gw waktu itu, namanya mbak Eko (hai mbak! piye kabare? :D) main dulu-duluan nge-booking Rizki untuk nebeng (yang lihat duluan langsung booking!). Sebetulnya gw biasa pulang sendiri, dan mbak Eko biasanya cuma nebeng sampe hatle busway depan kantor Bakrie, karena letak rumah sakit nggak di pinggir jalan raya alias agak masuk ke dalem dan di atas jam 7 di taman Setiabudi gelap banget, jadi kalo pada shift malem menjelang pulang langsung ribut tanya sana sini siapa yang bawa motor, syukur-syukur yang searah biar bisa nebeng lebih jauh, hemat ongkos!

Biasanya mbak Eko dijemput suaminya jadi Rizki bisa gw kuasai..hahahaha… Lumayan bo, pulang cuma modal 2000 perak! Sekarang kalo diharamin..jangan mandang gimana gw hemat ongkos gara-gara nebeng deh, ibu-ibu yang berprofesi sebagai perawat yang nggak dijemput suaminya dan harus pulang malem? Dengan nebeng dia bisa menjangkau tempat atau terminal terdekat dengan selamat tanpa khawatir lagi jalan trus tau-tau dijambret? Itu cuma satu contoh, di lapangan hampir setiap jengkal kita ditemui alasan kenapa kita butuh “aksi nebeng”.

Gw ngerti sih, mereka memutuskan fatwa itu pasti dengan alasan, dengan dasar yang sebetulnya baik dan bahkan ada sasaran yang sebetulnya pengen mereka “sentil”. Tapi buat gw itu sama aja kaya…lo mau membasmi tikus di rumah lo dengan cara ngebakar rumah lo sendiri…dan bahkan sasarannya belum tentu kena.

Gw juga tahu ada baaaanyak pasangan yang (terutama nih) lagi pacaran kalo naik motor mendekap erat pada yang membonceng. Sebetulnya agak lucu juga nih, jadi inget dulu lagi. Dulu sekali waktu gw lagi pendekatan sama seorang cowok (ahoy!) dan dia khusus jemput gw ke kantor dengan motornya, gw boncengan dengan malu-malu. Akhirnya gw pegangan motor sama kalo gw lagi naik ojek (dan syukurlah gw hampir ga pernah naik ojek abis abangnya suka maksa dan bawa motornya suka ngebut, kapok!), peganganlah gw pada kedua sisi tempat duduk di belakang. Si cowok itu udah bilang “Nda, pegangannya ke depan aja jangan megang tempat duduk.” Waktu itu gw cuek, gw pikir pasti dia lagi cari kesempatan dalam kesempitan. Tapi ternyata tarikan gas sehalus apapun pasti terasa dan itu bikin gw kaget setengah mati, beberapa kali gw hampir ngejengkang. Sejak saat itu gw kalo naik motor sama siapapun gw pasti pegangan ke depan. Butpegangan ke depan kan bukan berarti harus mendekap sekenceng-kencengnya, kalo kaya kasus gw nebeng sama Rizki gw cukup pegangan jaket sampingnya atau tasnya yang kalo nggak bawa banyak-banyak tetep disandang di punggungnya. Kalo sekarang sih sama suami gw naik motor mendekapnya banyak gaya hahahahaha 😀 😀

Lain lagi temen gw nanggepin berita itu “Jadi nanti kalo gw lagi naik motor trus lihat ibu-ibu terkapar di jalanan dan nggak ada siapapun berarti gw boleh nggak perduli untuk nganterin tu ibu ke rumah sakit, nggak mungkin kan gw boncengin yang bukan muhrim? kan dia bukan emak ato bini gw?” Lebay cun..tapi bisa aja terjadi (tapi sumpah lebay banget hahahahaha).

Jadi maksud gw..aduh..gimana ya, seperti yang udah gw bilang kalo sentimen kaya gini gw takut ancaman bom, ntar rumah gw dilemparin tabung gas elpiji 3kg kan repot juga…

Kalo seseorang atau suatu pihak dengan enaknya memutuskan ini nggak boleh dan itu nggak boleh di atas tanah yang sarat banget perbedaan..dilematis juga. Suatu hari ini akan mengubah pandangan orang (atau sudah) akan suatu pihak dimana akan timbul kebencian dan..yah, gw rasa emang sudah terjadi. Tapi apapun yang terjadi gw tetep percaya, keyakinan gw selalu mengajarkan yang terbaik cuma masalah persepsi yang nerima beda-beda. Sesuatu diterjemahkan sebagai A oleh suatu kelompok dan bisa ditafsirkan B oleh yang lain, dan banyak lagi..dan banyak lagi.

Tapi gw selalu inget satu hal, sesuatu yang dikatakan bos gw untuk nenangin gw waktu mau diinterogasi di kantor polisi tentang suatu kasus “Pada dasarnya (kalo) kita nggak berniat berbuat jahat (atau nggak bener) maka Insya Allah segalanya lancar-lancar saja.” Maksud gw, kembali lagi sih ke orang-orangnya. Sebetulnya kita nggak perlu ngembangin hukum yang aneh-aneh untuk orang-orang brengsek, kita cuma butuh pendidikan berkualitas sejak kecil. Dengan pendidikan yang bermutu (dan bener) orang akan tumbuh dengan akal untuk bedain mana yang bener dan mana yang lebih baik. Tapi sepertinya keadaan udah terlampau kacau jadi…yah..ginilah.

Jadi untuk temen-temen gw yang shift malem itu..selamat yeee…makanya jalan rame-rame ke halte kalo mobil anteran udah ga muat..pada ndut-ndut sih..untung gw udah ga disana, berkurang yang ndut satu hehehehe… 😀