Posted on

Jakarta Rasa Jakarta (Emang Begitu!)

– Suatu pagi menggerutu di Sevel –

Kantor gw terletak di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Setiap hari gw naik Commuter Line dari Bekasi dan turun di St.Cikini. Dari St.Cikini gw jalan kaki sekitar…ada mungkin ya 200 meter menuju ke kantor.
Bukan hal yang menyenangkan berjalan kaki di pagi hari menyusuri Jl.Cikini Raya. Pertama, lo ga akan pernah mendapatkan “jalan kaki sehat” di trotoar yang kerap berserak sampah itu karena kopaja-kopaja dan metromini yang melintas satu arah di jalanan di samping lo langsung “buang angin” berwarna hitam pekat (ya, gw bilang pekat) langsung ke hidung lo. Belum lagi kerap tampilan 3D moncong-moncong mereka yang kalo lagi nyalip kendaraan lain seakan bisa nyerang lo yang saat itu lagi jalan di trotoar (yang kata orang mestinya sih aman buat pejalan kaki), mengingatkan gw pada kasus sopir maut Afriyani.

Pernahkah liat video klip romantis tentang berjalan di tengah hujan di perkotaan, dengan payung besar dan mantel chic? Lo ga akan dapetin “rasa Manhattan” itu di saat hujan. Karena sopir-sopir ga punya otak dan pengendara motor kampungan ga akan pernah melihat pejalan kaki dan kubangan dalam visual mereka. Gw saranin lo bisa bertransformasi sebagai laba-laba, supaya bisa jalan nempel di dinding yang sejauh mungkin ga terletak tepat di pinggir jalan. Tapi gw kasih tahu, itu juga ga akan menyelamatkan lo dari cipratan maut. Nothing safe here.

Berikutnya, beberapa kali gw temui di jalanan ini orang gila. Mending kalo cuma orang gila berambut gimbal yang ngais-ngais sampah dan ngomong sendiri. Sekali waktu gw pernah nyaris dipukul sama orang gila laki-laki bertampang ganas. Dan baru tadi pagi ada orang gila berpenampilan necis berjenggot panjang nyaris nyentuh gw. I feel sorry for them, tapi suatu pihak harus menangani mereka. Kita ga pernah tahu orang-orang seperti itu bisa berbuat apa.

Seven Eleven pun udah nggak aman dan nyaman. Malam hari dihantui geng-geng ga jelas, dan pagi hari, ketika lo berharap bisa sarapan roti dan sekotak kopi di bar yang menempel di dinding kaca, memandang suasana pagi di kota besar, yang lo lihat mungkin anak punk ber-ukulele yang lagi nyengir genit ke arah lo, atau anak kecil dengan tangan menadah dan sesekali bikin gerakan menyuap sesuatu ke mulutnya. Di siang hari, tempat itu bahkan lebih parah, dihinggapi banyak ABG, beterbangan, berisik berkumpul bersama teman-teman mereka, tertawa liar dan belajar ucapan makian. Buat gw itu lebih mengerikan dari serangan gengster.

Belum lagi satu sekolah swasta di daerah itu (yang katanya mantan presiden Indonesia pernah menyekolahkan anaknya -yang juga mantan presiden- disana) menjadikan sebagian trotoar tersebut sebagai track lari murid-muridnya setiap hari Jumat (tapi udah hampir beberapa minggu sejak UN gw ga lihat lagi tu gerombolan murid-murid berlari, mungkin udah dipindah). Maksud gw…hell-o!! kalo gw jadi orangtua murid anak di sekolah itu gw pasti langsung protes ke sekolah!. Emang sih pada saat mereka lari itu ada beberapa guru yang mengawal, tapi cuma beberapa. Tanpa sepengetahuan guru itu, namanya anak-anak, ada aja saat mereka lari mendahului teman-temannya dengan turun ke jalan raya, melenceng dari trotoar. Gimana kalo pada saat itu dia ketabrak kendaraan yang lagi melaju kencang? Mudah untuk menyimpulkan bahwa “track” itu nggak aman.

“Emang begitu!” nggak gw perluin untuk mengomentari hala-hal kaya gini yang gw yakin tersebar di seluruh penjuru negara ini. Gw pun nggak bisa juga nyalahin pihak-pihak tertentu. Karena gw tahu kadang ya “Emang begitu!” lah orang-orang kita.

Pernah minggu lalu gw pulang ke rumah naik angkot. Angkot lagi jalan pelan karena lalu lintas emang merayap. Tiba-tiba ada serombongan keluarga yang terdiri dari ibu muda, ibunya (udah agak tua), tiga orang ABG tanggung, dan dua anak kecil nyetop tu angkot. Karena di jalanan itu suka ada polisi dan ada tanda dilarang berhenti, si sopir angkot nggak berhenti, alias naikin penumpang sambil jalan pelan (“Emang Begitu!” #1: Habit Sopir Angkot). Si ibu muda inipun mendadak rempong dan teriak supaya si angkot berhenti dulu.

Setelah semua anggotanya duduk dalam angkot (dan mereka menyalahkan satu sama lain karena “Lelet sih lo!”) Si ibu muda pun complain ke sopir angkot:

“Bukannya berhenti dulu,bang! Ada orang tua nih, kalo jatuh bisa panjang urusannya! Emangnya kenapa sih berhenti disitu? Kan angkutan ini..” Katanya kesal. Sementara beberapa penumpang (termasuk gw) yang ada disitu senyum-senyum mendengarnya. Tadinya gw mau bilang “Kalo berhenti disitu ya kena tilang, bu…kan ada tanda dilarang berhenti..” Tapi setelah gw pikir percuma juga gw ngomong gitu, doi tipe orang yang “percuma dibantah, jangan tanya, pokoknya percuma” (“Emang Begitu!” #2: tipe orang yang mau nggak mau harus dimaklumi karena ke”tidak tahu”an mereka – dengan maksud sarkastis).

Jadi gw pikir…di tengah rasa hopeless akan keadaan ini, bolehlah bermimpi ada sedikit yang berubah. Jadi akan lebih bijaksana untuk nggak kembali memilih orang gila lainnya untuk memimpin ibukota ini. Meskipun gw tahu itu nggak akan berpengaruh ke banyak orang, tapi…Emang Begitu!

Advertisements

About duniananda

Seorang istri yang sok sibuk dengan urusan rumah tangga dan urusan-urusan kecil yang sering saya lihat dan dengar setiap hari hehehehe.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s