Pernahkah di suatu hari yang santai, lo buka laman news feed Facebook atau timeline Twitter, atau hanya sekedar ngecek recent updates di BBM (I feel like an idiot to have those three…) dan lo merasa seperi lagi nonton sinetron-sinetron murahan kemudian lo cuma bengong, mengerutkan dahi dan tanpa sadar terus bergumam “What..the..hell…”. 

Lalu lo inget bertahun-tahun yang lalu ketika internet masih dipake orang-orang tertentu untuk kepentingan pekerjaan, sebelum jatuh ke tangan remaja-remaja labil, saat itulah lo merasa era di masa lalu masyarakat jauh lebih pintar. Nggak ada hoax yang menyebar dalam itungan detik dari orang konyol yang kemudian diterus-sebarkan oleh orang-orang “polos” (well, seenggaknya begitulah pengakuan beberapa orang yang pernah gw tegur karena yang mereka sampein itu hoax, dengan innocent nya mereka berkata “Yah, namanya juga nyampein amanah..” WHAT??!!)

Yang jelas gw ngerasa internet dan sosial media bikin banyak orang menjadi “agresif”. Seperti banyak yang digambarkan banyak orang bahwa orang-orang di sosial media lebih ingin menunjukkan eksistensi dirinya.

Gw banyak nemuin orang-orang yang “pengen eksis” sampe-sampe gw ngerasa kalo dia kemasukan arwah Google. Gw nanya sama orang lain..tau-tau doi muncul dengan sebuah jawaban…salah pula. Atau ketika gw baca portal berita, gw menghindari baca komentar-komentar yang masuk di bagian bawahnya, karena gw tahu APAPUN beritanya, pasti jatuhnya akan menyinggung masalah SARA. Nggak ngerti lah para mas bro ini mau topiknya olahraga, politik, gosip (terutama gosip sih) pasti deh ujung-ujungnya saling menghina agama, orang-orang berjiwa kerdil.

Lalu gw menemukan spesies unik lainnya di kolam-kolam ini. Para moralis yang menyebar sudut pandang akan kebencian suatu hal, ibu muda yang berceramah dari “lapak-ke-lapak” supaya temen-temennya bersabar (menanggapi teman-temannya yang mengeluh tentang hidup mereka) tapi dia sendiri juga mengeluh (tapi jangan khawatir, bersamaan mengeluh di kalimat awal pada akhirnya ia akan menyemangati dirinya sendiri di akhir kalimat yang sama). Para pemrotes kenaikan BBM yang sebulan kemudian mengunggah foto-foto liburannya di Universal Studios (gw rasa liburan ke US lagi ngehits, karena beberapa minggu kemaren beberapa temen gw “terlihat” pergi ke sana, wondering kalo mereka saling kenal dan ketemu di pintu masuk lalu berkata “Hey, kamu temennya Nanda ya?” duh…

Daaan favorit gw adalah…para “korban media”. Orang-orang yang serius ngebahas hal-hal yang ada di TV, korupsi (kasus korupsi dan politik, terutama) sampe gosip si Bubu yang ternyata bukan keluarga kerajaan (sooo???). FYI, di saluran “TV Merah” kalo lo sering mantengin tu saluran (which I think it’s ridic), ada acara diskusi sekumpulan pengacara gitu…for me it’s like cirque du freak. Diskusi warung kopi, ujung-ujungnya ribut mulut. Orang bodoh macem gw lebih suka mengganti acara itu dengan acara masak memasak. Well, setidaknya selalu ada hasil akhir yang jelas dalam acara masak memasak.

Oh, dan akhir-akhir ini gw ngerasa kalo recent updates BBM jadi ajang pencitraan dan pembentuk alibi. Gw nggak akan sebut contohnya satu per satu lah ya, karena pasti bakal ada yang ngerasa hahahaha… Yang jelas lo langsung tahu deh maksud orang itu hanya dengan baca dari personal message BBM nya 😀

Sebetulnya itu semua bukan hal yang salah sih, toh benefit yang gw dapet dari sederet drama tersebut itu jelas: hiburan. Tapi bahkan hiburan yang sama pun lama-lama berubah menyebalkan. Gw nggak keberatan sih setiap kali gw buka laman media sosial yang gw dapatkan di sana adalah pasar, taman kanak-kanak dan posyandu, “World Trade Center”, sampe buku harian ABG puber. Cuma kadang gw kangen masa-masa dimana media sosial masih jadi tempat ketemu temen lama yang berbagi artikel dan tautan-tautan seru. That’s all…

*Dan ya, gw sadar akan kesalahan penggunaan sosial media-media sosial dalam urek-urekan ini, tapi gw nggak nerima kritik dari para Google Wannbes 😀

Advertisements

Jakarta Rasa Jakarta (Emang Begitu!)

– Suatu pagi menggerutu di Sevel –

Kantor gw terletak di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Setiap hari gw naik Commuter Line dari Bekasi dan turun di St.Cikini. Dari St.Cikini gw jalan kaki sekitar…ada mungkin ya 200 meter menuju ke kantor.
Bukan hal yang menyenangkan berjalan kaki di pagi hari menyusuri Jl.Cikini Raya. Pertama, lo ga akan pernah mendapatkan “jalan kaki sehat” di trotoar yang kerap berserak sampah itu karena kopaja-kopaja dan metromini yang melintas satu arah di jalanan di samping lo langsung “buang angin” berwarna hitam pekat (ya, gw bilang pekat) langsung ke hidung lo. Belum lagi kerap tampilan 3D moncong-moncong mereka yang kalo lagi nyalip kendaraan lain seakan bisa nyerang lo yang saat itu lagi jalan di trotoar (yang kata orang mestinya sih aman buat pejalan kaki), mengingatkan gw pada kasus sopir maut Afriyani.

Pernahkah liat video klip romantis tentang berjalan di tengah hujan di perkotaan, dengan payung besar dan mantel chic? Lo ga akan dapetin “rasa Manhattan” itu di saat hujan. Karena sopir-sopir ga punya otak dan pengendara motor kampungan ga akan pernah melihat pejalan kaki dan kubangan dalam visual mereka. Gw saranin lo bisa bertransformasi sebagai laba-laba, supaya bisa jalan nempel di dinding yang sejauh mungkin ga terletak tepat di pinggir jalan. Tapi gw kasih tahu, itu juga ga akan menyelamatkan lo dari cipratan maut. Nothing safe here.

Berikutnya, beberapa kali gw temui di jalanan ini orang gila. Mending kalo cuma orang gila berambut gimbal yang ngais-ngais sampah dan ngomong sendiri. Sekali waktu gw pernah nyaris dipukul sama orang gila laki-laki bertampang ganas. Dan baru tadi pagi ada orang gila berpenampilan necis berjenggot panjang nyaris nyentuh gw. I feel sorry for them, tapi suatu pihak harus menangani mereka. Kita ga pernah tahu orang-orang seperti itu bisa berbuat apa.

Seven Eleven pun udah nggak aman dan nyaman. Malam hari dihantui geng-geng ga jelas, dan pagi hari, ketika lo berharap bisa sarapan roti dan sekotak kopi di bar yang menempel di dinding kaca, memandang suasana pagi di kota besar, yang lo lihat mungkin anak punk ber-ukulele yang lagi nyengir genit ke arah lo, atau anak kecil dengan tangan menadah dan sesekali bikin gerakan menyuap sesuatu ke mulutnya. Di siang hari, tempat itu bahkan lebih parah, dihinggapi banyak ABG, beterbangan, berisik berkumpul bersama teman-teman mereka, tertawa liar dan belajar ucapan makian. Buat gw itu lebih mengerikan dari serangan gengster.

Belum lagi satu sekolah swasta di daerah itu (yang katanya mantan presiden Indonesia pernah menyekolahkan anaknya -yang juga mantan presiden- disana) menjadikan sebagian trotoar tersebut sebagai track lari murid-muridnya setiap hari Jumat (tapi udah hampir beberapa minggu sejak UN gw ga lihat lagi tu gerombolan murid-murid berlari, mungkin udah dipindah). Maksud gw…hell-o!! kalo gw jadi orangtua murid anak di sekolah itu gw pasti langsung protes ke sekolah!. Emang sih pada saat mereka lari itu ada beberapa guru yang mengawal, tapi cuma beberapa. Tanpa sepengetahuan guru itu, namanya anak-anak, ada aja saat mereka lari mendahului teman-temannya dengan turun ke jalan raya, melenceng dari trotoar. Gimana kalo pada saat itu dia ketabrak kendaraan yang lagi melaju kencang? Mudah untuk menyimpulkan bahwa “track” itu nggak aman.

“Emang begitu!” nggak gw perluin untuk mengomentari hala-hal kaya gini yang gw yakin tersebar di seluruh penjuru negara ini. Gw pun nggak bisa juga nyalahin pihak-pihak tertentu. Karena gw tahu kadang ya “Emang begitu!” lah orang-orang kita.

Pernah minggu lalu gw pulang ke rumah naik angkot. Angkot lagi jalan pelan karena lalu lintas emang merayap. Tiba-tiba ada serombongan keluarga yang terdiri dari ibu muda, ibunya (udah agak tua), tiga orang ABG tanggung, dan dua anak kecil nyetop tu angkot. Karena di jalanan itu suka ada polisi dan ada tanda dilarang berhenti, si sopir angkot nggak berhenti, alias naikin penumpang sambil jalan pelan (“Emang Begitu!” #1: Habit Sopir Angkot). Si ibu muda inipun mendadak rempong dan teriak supaya si angkot berhenti dulu.

Setelah semua anggotanya duduk dalam angkot (dan mereka menyalahkan satu sama lain karena “Lelet sih lo!”) Si ibu muda pun complain ke sopir angkot:

“Bukannya berhenti dulu,bang! Ada orang tua nih, kalo jatuh bisa panjang urusannya! Emangnya kenapa sih berhenti disitu? Kan angkutan ini..” Katanya kesal. Sementara beberapa penumpang (termasuk gw) yang ada disitu senyum-senyum mendengarnya. Tadinya gw mau bilang “Kalo berhenti disitu ya kena tilang, bu…kan ada tanda dilarang berhenti..” Tapi setelah gw pikir percuma juga gw ngomong gitu, doi tipe orang yang “percuma dibantah, jangan tanya, pokoknya percuma” (“Emang Begitu!” #2: tipe orang yang mau nggak mau harus dimaklumi karena ke”tidak tahu”an mereka – dengan maksud sarkastis).

Jadi gw pikir…di tengah rasa hopeless akan keadaan ini, bolehlah bermimpi ada sedikit yang berubah. Jadi akan lebih bijaksana untuk nggak kembali memilih orang gila lainnya untuk memimpin ibukota ini. Meskipun gw tahu itu nggak akan berpengaruh ke banyak orang, tapi…Emang Begitu!