Preggo Notes #1

My senior wrote this on her FB (and I love it!) :

(JURNAL BUMIL) Sebelum hamil saya berikan tempat duduk di area publik pada ibu hamil krn logikanya ia sedang bawa bawaan berat.

Setelah hamil saya baru tahu bhw berdiri & jalan kaki terlalu lama bisa membuat kedua kaki menjadi bengkak, bagian bawah perut nyeri&kram perut serta kaki. Apalagi berdiri di dalam kendaraan yg bergerak.
******
Iseng: Nyusahin orang umum y bumil. Kalau gitu diantar dong naik kendaraan pribadi kalau naik umum nyusahin orang. Lagian orang hamil di rmh aja dong. Gw dulu hamil gk gitu. Lagian pk hamil…
********
Saya: info aja bro..kali aja belum tahu kenapa bumil gk kuat berdiri. (-RPS-)

Maunya sih kami (wanita hamil) diam saja di rumah, aman, nyaman, nggak terganggu dan “mengganggu” orang lain. Tapi maaf, kami juga punya kepentingan baik pribadi dan bahkan untuk orang banyak…

Dulu, sebelum hamil gw berusaha baik kepada para wanita hamil di transportasi publik, padahal gw nggak tahu seberapa susahnya mereka beraktivitas, tapi gw mikir gw punya mama yang pernah ngelahirin gw. Gw cuma ngebayangin gimana dulu mama bawa-bawa gw di dalem perut sampe 9 bulan lamanya. Setelah ngerasain sendiri gimana hamil itu, gw baru sadar kalo kami tidak hanya sekedar “membawa”. Kami harus menumbuhkan makhluk kecil di perut kami “sambil” membawanya kemana-mana: toilet, kamar, warung, kantor. Bukan cuma menumbuhkan, kami harus berhati-hati dalam setiap gerakan demi kelangsungan hidup mereka (terdengar berlebihan, tapi memang begitulah). Kami punya tanggung jawab bukan hanya pada makhluk kecil tersebut tapi Yang Maha Kuasa yang telah memberikannya, pada suami kami, pada keluarga yang lain dan yang pasti pada diri kami sendiri.

Kami berusaha keras untuk kuat. Paling nggak gw berusaha nggak “merengek” meminta belas kasihan orang untuk diberikan tempat duduk dalam transportasi publik. Gw anggap itu pendidikan awal buat si kecil “Be tough!”. Tapi tetaplah menyakitkan hati ketika orang-orang mulai meninggalkan etika dan rasa empati demi pembelaan yang gw yakin semua orang ngerasain: “Capek, abis kerja seharian”.

Gw maklum kalo sebagian orang (pura-pura) nggak tahu etika. Sekalipun pakaiannya bagus, terlihat bekerja di sebuah kantor yang bonafid, berpendidikan tinggi, tapi (pura-pura) nggak tahu etika, gw sangat maklum. Bekerja seharian di depan komputer sangat-sangat melelahkan dan sebuah tempat duduk dalam transportasi publik adalah sebuah keharusan, apalagi anda sudah bayar (sama seperti ratusan orang lainnya yang sudah memiliki tiket).

Tetaplah menyakitkan melihat wanita-wanita muda yang pura-pura nggak lihat (lalu…tuk! tiba-tiba mereka tertidur begitu gw berdiri di depan mereka) perut besar di depan hidungnya. Menyakitkan bahwa 3 dari 5 orang yang pernah ngasih gw duduk di dtransportasi publik adalah ibu-ibu yang sudah sangat berumur! Mereka memaksa gw untuk duduk karena mungkin mereka pernah tahu rasanya. Tapi lebih menyakitkan lagi melihat laki-laki muda duduk di bangku prioritas (khusus untuk orang cacat, manula, ibu hamil dan ibu yang membawa balita) nggak bergeming lihat perempuan hamil berdiri sampai datang petugas yang memintanya untuk berdiri.

Percayalah, kami sebetulnya juga nggak ingin terganggu dan “mengganggu” orang lain, tapi bisakah tidak memperlakukan kami seburuk itu? Semoga sebelum kalian berpura-pura tidur atau dengan cueknya malah cekikikan duduk di depan perempuan hamil yang sedang berdiri di depan kalian di sebuah transportasi umum, kalian ingat ibu kalian yang juga pernah merasakan apa yang kami rasakan 🙂

Advertisements