Daddy’s Little Princess

Kalo ngikutin perkembangan cerita tentang kasus “suster ngesot” yang ditendang satpam di Bandung beberapa waktu lalu, gw cuma geleng-geleng kepala bacanya. Terakhir yang gw denger ayah si suster yang katanya pengusaha yang naro investasi di Bandung itu berkoar di media akan nyabut investasinya di Bandung gara-gara marah anaknya “dianiaya”. Banyak masyarakat yang terlihat marah dengan sikap keluarga si “suster ngesot” ini.

Kasus ini mengingatkan gw akan banyak dongeng tak terkenal tentang Putri Manja. Juga mengingatkan gw akan seorang tokoh bernama Fiona di sebuah novel terjemahan Tidak Ada Kastanyet di Wells (No Castanets at the Wells). Gw bahkan masih inget dengan jelas kutipan tentang bagaimana Trixie, pengasuhnya selalu kewalahan menghadapi putri majikannya. Suatu hari Trixie mendapati Fiona pulang sore hari dengan stoking dan baju yang kotor setelah seharian bermain di luar, sepatu baru yang dibelikan orangtuanya rusak. Ia memarahi Fiona karena sepatu barunya yang rusak, namun si putri majikan menjawab dengan angkuh “Lalu kenapa? Besok Ayahku akan membelikan sepuluh sepatu baru untukku!”. Tidakkah hanya karena kamu mampu membeli sepatu baru setiap saat bukan berarti bisa seenaknya merusaknya setiap hari? Sama aja kaya hanya karena kita mampu bayar tagihan listrik bukan berarti kita bisa seenaknya membiarkan semua lampu terang benderang?

Satu hal sering gw perhatiin hampir setiap hari. Setiap pagi, dari Stasiun Cikini ke kantor, gw jalan kaki kurang lebih sekitar entahlah..500 meter mungkin, bisa sih naik Metromini atau ojek atau bajaj, tapi rasanya sayang melewatkan acara pelemasan kaki setiap pagi. Banyak hal menarik ketika lo jalan kaki di pagi hari di tengah kota. Diantaranya, melewati sebuah sekolah yang terkenal karena dulu putri presiden pertama negara ini (dan putrinya itu juga pernah menjadi presiden) pernah sekolah di situ. Otomatis, dengan prestige seperti itu, mengundang banyak orang-orang untuk mendaftarkan anaknya di sekolah yang mereka anggap terbaik itu. Dari yang gw perhatiin kebanyakan sih murid-murid yang sekolah di sana dari keluarga mampu. Terdeteksi setiap makan siang mereka selalu nongkrong di resto cepat saji deket sekolah itu. Gile, orang kantoran aja nyarinya makanan kaki lima-an 😀

Tapi setiap pagi, ada hal yang sangat mengganggu gw. Sekolah tua dengan tempat parkir yang kecil itu, selalu ramai dengan orangtua-orangtua murid yang mengantar anak-anaknya. Saking kecilnya mereka yang mengantar cuma masuk sebentar, nurunin anaknya lalu pergi lagi. Tapi saking banyaknya mobil-mobil mewah para pengantar alhasil area itu jadi bikin macet lalu lintas.

Okelah, untuk yang anak-anak kecil mungkin masih bisa ditolerir dianter orangtuanya. Tapi yang udah 10 tahun ke atas? Bukankah itu saatnya mereka pergi sekolah sendiri? Jam masuk mereka juga ga terlalu pagi kok, standar sekitar jam 6.30 atau jam 7.00. Mereka bisa bangun pagi-pagi dan berangkat di saat jalanan belum terlalu padat. Sebagian mungkin sekalian nebeng Papanya kerja, tapi banyak gw lihat yang dianter supir keluarga yang satu mobil SUV cuma diisi dengan satu orang anak saja dengan pas supir, khusus untuk nganter mereka sekolah. Is that really necessary?

Gw punya sepupu (meskipun nggak terlalu deket) yang saat ini kuliah di kedokteran. Ayahnya, yang berarti Oom gw seorang dokter. Mereka tergolong dari keluarga mampu, dan bisa aja tu anak bawa mobil sendiri ke tempat kuliah yang jaraknya lumayan di Salemba dari rumahnya di Cibubur. Tapi sepertinya Ayahnya ga tertarik membiarkan anaknya bawa mobil. Bisa sih dia bawa mobil, tapi cuma untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Anaknya sendiri disuruh milih mau kos sama kaya temen-temennya atau pulang balik tapi naik bus umum. Alasannya, sang anak dinilai belum terlalu perlu untuk bawa mobil sendiri, kecuali dia udah kerja dan untuk kepentingan pekerjaan.

Menjadi kaya bukanlah sebuah kejahatan (well, kecuali kali kekayaan lo boleh nyolong atau korup ya), tapi alih-alih karena sayang lalu memberikan mereka dengan fasilitas-fasilitas mewah tanpa tanggungjawab, yah…menurut gw itulah proses terbentuknya monster kecil.

Kalo dibilang gw iri? Nggak, karena gw pun pernah ngerasain masa-masa bokap gw berjaya. Mainan-mainan yang anak-anak lain nggak punya, buku-buku keluaran terbaru. Tapi bokap gw selalu nekenin satu hal “Nggak selamanya Papa ada uang untuk beli ini semua, jadi kalo Papa lagi nggak ada, Papa akan bilang nggak ada.”

Jadi gw merasa prihatin sama orangtua-orangtua muda yang tiba-tiba meraih sukses, hidup berkecukupan lalu mulai memberikan anak-anaknya barang-barang yang sebetulnya belum perlu. iPhone terbaru untuk anak SD? Gw rasa kalo untuk alasan komunikasi mereka masih bisa pake ponsel yang sederhana. Keeogisan seseorang berawal dari perlakuan orangtua terhadapnya.

Jadi gw nggak merasa heran (meskipun masih tetep kesel ya, jelas) lihat begitu banyak orang seenaknya bersikap di ruang publik. Pernah di suatu sore, sepulang kerja di Commuter Line Jakarta-Bekasi (teteup ya, CL selalu punya banyak cerita), ada seorang ibu muda dan anaknya kira-kira usia TK. Betul sih, ibu itu emang bawa tas yang agak besar. Seseorang berbaik hati bangun dan nawarin mereka duduk. Setelah mereka duduk, di stasiun berikutnya agak banyak penumpang yang turun. Karena penumpang yang tadinya duduk di sebelah anaknya bangun, si ibu dengan santainya naro tas besarnya di sebelah anaknya, padahal masih ada orang yang berdiri di depannya. Kenapa juga tas mesti dikasih duduk? Padahal dia bisa taro itu tas di rak atas atau di lantai deket kakinya. Dari situ aja, si anak yang melihat minimal belajar “Nggak apa-apa naro tas diatas bangku, orang yang berdiri? orang berdiri yang mana ya?”.

Atau ketika seorang perempuan hamil besar yang baru naik di sebuah stasiun dengan kondisi CL sedang ramai. Betul, wanita, orangtua, wanita yang bawa dan terutama ibu hamil diprioritaskan untuk duduk. Karena bangku prioritas udah penuh dengan orang-orang “prioritas”, akhirnya seseorang dari bangku biasa berdiri supaya perempuan itu bisa duduk. Nggak ada ucapan “Terima kasih” meskipun basa-basi dari perempuan hamil tersebut. Mukanya tetep dingin seolah berkata “Nyingkir lo, itu emang hak gw”. Haruskah begitu? Sepele emang cuma dua kata, tapi itu bisa jadi kebiasaan yang lama-lama akan diturunkan secara nggak langsung ke anaknya.

Atau gw ngerasa gemes ketika lagi ngantri di kasir supermarket dua anak bercanda depan gw sampe salah satunya nginjek kaki gw. Sakit, iya, tapi bukan sakitnya yang gw permasalahin. Tepat di depan idung gw berdiri (yang ternyata) ibunya yang juga lagi ngantri. Dan itu ibu sama sekali nggak ngapai-ngapain lihat kelakuan anak-anaknya yang udah bikin orang lain ngerasa terganggung. Bahkan gw pikir tadinya itu bukan ibunya, karena dia cuma nengok ke gw, trus bengong lagi. Kalo itu kakak gw, mungkin udah gw jambak “Ajarin anak lo”.

Orangtua si “suster ngesot” itu bukan satu-satunya di dunia yang bersikap arogan. Bahkan gw lebih sering menganggap orang-orang seperti itu bodoh dalam mengedukasi anak-anaknya. Anak-anak umum dalam bercanda tapi mereka harus tahu batas-batasnya. Waktu SMP, gw inget banget, ada seorang temen si A, bermaksud ngerjain si B. Si A dan temen-temennya masukin dompetnya sendiri di tas si B lalu pura-pura kehilangan. Si B yang “tertuduh” sampe bersumpah demi apapun kalo dia nggak ngambil dompet itu, tapi emang bendanya ada di dalam tasnya. Belum cukup sampe nangis, si A terus aja ngerjain sampe si B pingsan karena shock dituduh seperti itu. Atau ketika seseorang yang misalnya takut sama cicak dan teman-temannya terus ngejer dia dengan membawa cicak sampe dia ketakutan. Gw paling benci bercandaan seperti itu. Lo nggak pernah tahu reaksi ekstrim orang-orang yang phobia terhadap sesuatu.

So, maybe I’ll try hard not to make my lil baby to be a prince or a princess or an angel. Sayang sama anak itu harus, tapi memuja mereka secara berlebihan, itu mengerikan. Seorang temen SMS gw beberapa hari yang lalu “Nda, lo lagi hamil ya?” gw bilang “Iya.” Dia tanya lagi “Kok ga bilang-bilang sih?” Gw jawab “Biarin, biar pada tahu sendiri, beside what dya expect? My status update says ‘aduuuhh muaaal..tapi tetap harus semangat demi si dede’..?” Dia cuma ketawa.

Gw bahagia, cuma ABG yang hamil kecelakaan yang merasa ga bahagia ketika dirinya hamil. Pastilah, dua tahun gw nungguin saat-saat ini. Tapi gw nggak mau memulai “pemujaan dini nan berlebihan” terhadap anak gw. Lagipula kalo gw terus-terusan “pamer” di media sosial, itu ga terlalu bijaksana juga. Meskipun itu dunia maya, tapi ada banyak orang di sana. Ada orang-orang yang pengen gw jaga perasaannya, ada orang-orang yang bahkan waktu pernikahannya lebih lama dari gw dan masih belum punya anak. Meskipun mereka bilang bahagia juga dengernya, tapi gw sangat mengerti kalo dalam waktu yang bersamaan mereka juga merasa sedikit sedih.

Biarlah gw dibilang aneh, tapi menjaga perasaan orang lain itu juga penting, meskipun kata dokter si jabang bayi ini baru terbentuk otaknya, paling tidak gw pengen mengajarkan pada si “otak kecil” ini tentang menjaga perasaan orang lain, dan itu gw lakukan bukan karena gw nggak bangga. Toh, (calon) ayahnya aja udah seneng setengah mati, bukankah itu kebanggan ga ternilai? 🙂

Homecoming Story

Kalo ada orang yang bilang “Baru sepuluh tahun udah ngadain reuni??” gw setuju dengan pertanyaan itu. Reuni sekolah yang sebenarnya adalah ketika lo udah berumur lima puluh tahun, sebagian besar udah punya cucu dan beruban lalu ketemu lagi dengan teman-teman sekolah (SMA, dalam hal ini) itulah yang membuat reuni terasa lebih berkesan.

But then, I think again. Kenapa mesti nunggu lima puluh tahun untuk ngumpul lagi? (secara besar-besaran maksudnya). Kenapa harus nunggu sebagian dari kita udah nggak tahu kemana lalu baru bikin reuni. Jadi gw pikir, buatlah reuni kapanpun kita mau. Satu tahun, dua tahun setelah lulus, whatever. Karena kita nggak pernah tahu siapa yang tiba-tiba pergi meninggalkan kita dan pada saat itu kita akan sangat merindukan mereka.

Rendezvous. Sebuah kata dalam bahasa Perancis yang berarti bertemu dengan spesifikasi tempat dan waktu. Sedikit mewakili tema malem reuni Sabtu kemaren. Hujan deras yang sempet bikin panitia sedikit down, but voila! satu per satu mereka datang begitu hujan reda 😀

“The Elders Seven”. Panitia reuni yang cuma tujuh orang, cuma punya satu ketua dan tujuh orang itu mengerjakan semuanya: bendahara, sekertaris, humas, seksi acara, seksi repot. Semuanya. I’m proud of these people, even I guess sometimes I’m a lil bit bitchy to push one of them (aaahahahahahaha XD).

But what makes me really proud adalah teman-teman yang udah ikut berpartisipasi. Sejak grup alumni khusus angkatan kami ini dibuat, respon terhadap informasi yang diupdate sangat-sangat sedikit. Gw ngerti sih, nggak semua orang sering mengakses Facebook. Dan yang biasanya cuma buka di HP (terutama BB yang lebih sering lemotnya) sering nggak bisa lihat update yang ada. Karena itu kita serung minta tolong beritanya disebar melalui apapun, maksud gw meneruskan hoax BBM aja sering, kenapa nggak membantu meneruskan berita yang udah jelas sumbernya ini?. Meski begitu selalu ada jenis orang yang diam-diam gw perhatikan di sosial media.

– Mengaku sering ketinggalan informasi, padahal gw tahu dia sering update status atau baru aja main game online. Motif orang ini nggak jelas, tapi gw rasa dia cuma males gabung aja, well I’ve been there, gw juga pernah kaya gitu, jadi gw ngerti banget deh 😀

– Aktif di grup, saran ini saran itu, kritik ini kritik itu, ngomongnya macem orang-orang DPR lagi rapat. Tapi begitu pelaksanaan, he just dismissed. Oh yeah, the real NATO has come…No Action Talk Only. I never take serious of these kids’s critics. I never take serious of these kids existence.

“Illuminati Brotherhood/ Sisterhood”. Ini adalah tipe orang yang sangat setia pada gank-nya, “Lo ikut, gw ikut, lo nggak ikut, gw juga nggak”. Sepertinya temannya cuma itu-itu aja. But, I’ve been there too. Dan secara alami ini terjadi pada banyak perempuan, karena emang sih kalo nggak ada temen untuk pergi ke suatu tempat dan membayangkan garing sendirian, itu mimpi buruk. Tapi satu orang mematahkan teori ini Sabtu malem kemaren. Ada satu cowok, gw lupa (sebetulnya gw bener-bener nggak tahu siapa namanya) tapi mukanya familiar, sejak awal dia bener-bener sendirian, duduk di meja sendirian, mainin HP sampe gw bertanya-tanya, ini orang anak Etniez apa bukan ya? Tapi dia udah pegang suvenir, berarti namanya udah terdaftar. Dan ada satu lagi cowok, namanya Oyen, (gw bener-bener nggak inget, maaaafff…) pertama kali dateng mukanya udah berseri-seri meskipun orang-orang di meja registrasi sama sekali nggak mengenali dia, tapi dengan riangnya dia nanggepin kita. I’m really proud of them 😀

– “Innoying” (looks innocent but totally annoying). Semua orang udah paham akan informasi yang ada, termasuk beliau ini, tapi di satu titik yang aneh dia memaksa penyelenggara melakukan hal yang nggak masuk akal demi kepentingan pribadinya. And we just like…God, are You sure killing is illegal?
*Epoy in read, you know what I mean, “that BB conversation” 😀

Tapiiii…alhamdulillah yaaa…semua ke-hectic-an itu terbayar dengan tiga jam berasa jadi anak umur 16 tahun lagi (well, untuk sebagian adalah umur 16 dengan junior-junior merek :D). Sebetulnya acara jadi mundur kurang lebih satu jam karena hujan. Tapi gw nggak mau nyalahin hujan, kenapa gw harus nyalahin berkah?

Salah satu guru yang dateng (yang kita undang) adalah guru BP waktu SMA dulu, Ms.E. Dan gw sama Epoy setuju waktu ngebahas di taksi dalam perjalanan pulang kalo beliau sama sekali nggak berubah, sepuluh tahun masih dengan aura muda yang sama, masih dengan senyum tulus yang sama. Beliau meyakinkan gw akan satu statement klasik: “Senyum adalah obat awet muda”. Karena pada saat itu gw nggak menghiraukan kerutan di wajahnya, yang gw lihat cuma senyum, senyum, dan senyum…and it’s awsome :).

Gw seneng ruangan kecil itu rusuh gara-gara anak-anak ex IPA 3 (Dessy cs, tadinya gw udah mau panggil kemanan in case kalian mendadak tawuran hahahahaha :D). Hampir semuanya suka tayangan slide foto-foto jadulnya. Cuma gw nggak puas, mestinya itu slide ditayangan pake proyektor di atas dinding biar lebih besar dan semua lihat dengan jelas, tapi karena satu dan lain hal akhirnya kita cukup pake TV home theater fasilitas Nic’s. Gw juga seneng semua ikut berpartisipasi dengan games-nya.

Seperti yang panitia bilang waktu itu, inti dari acara ini sebetulnya temu kangen. Ketemu, melepas kangen, bertukar cerita. Cuma sayang kurang lama, mungkin lain kali ada pihak lain yang bisa ngadain jauh lebih baik dari ini. Dengan panitia yang lebih banyak dan lebih jelas hahahahaha 😀

Si Niex bilang doi girang ketemu gebetan lamanya dan gw baru inget kalo gebetan lama gw nggak dateng padahal gw lihat namanya udah terdaftar haghaghag :D, mungkin karena hujan deras itu juga. Kalo gw mau jujur sebetulnya gw nggak terlalu kenal dekat sama sebagian orang yang dateng Sabtu kemaren, tapi lihat mereka senang, gw ngerasa kaya ketemu gank lama 😀

I really missed you guys, and proud of you all. Semoga akan ada acara-acar berikutnya yang nggak cuma senang-senang aja ya 🙂 🙂 🙂