Banyak Jalan (Nyasar) Menuju Ke…Blog Saya

Salah satu fitur yang gw sukai di wordpress adalah “Search Engine Terms“, dimana kiba bisa lihat orang-orang menggunakan beberapa kata kunci atau istilah di search engine untuk menemukan blog kita. Awalnya ada lah berasa ge-er pas lihat nama blog gw ternyata lumayan banyak dicari *PLAK! PLOK!* tapi lama kelamaan gw ngerasa lebih banyak yang nyasar daripada yang berniat nemuin ini blog.

Yang menarik dari orang-rang nyasar tersebut adalah kata-kata kunci atau istilah yang mereka pake atau bahkan apa yang mereka cari itulah yang bikin gw ketawa sampe pada akhirnya nyasar ke blog antah berantah ini, diantaranya adalah:

“Warung makan di Jogja yang bisa bungkusnya ada cap rumah makan”
-> Maksudnya rumah makan padang? biasanya sih kalo yang kemasan kardus ada cap rumah makannya

“Rempong itu apa”
-> Sering banget muncul ni kata kunci, hari gini masih aja ada yang nggak tau rempong itu apa?

“Sushi ala rumahan”
-> Penggemar sushi tapi nyaris bangkrut untuk ke restoran Jepang…senasib sama gw

“cewek mall ( paha mulus & dan pantat seksi)”
-> Ketebak banget deh kualitas ini orang…

“Gadis sadis”
-> Well, you got me 😀

“Emosi Tora Sudiro dorong wartawan”
-> Oh ya??? *buka situs gosip

“Dari arah stasiun Bekasi turun stasiun Pondok Jati”
-> Pasti lagi cari alamat! 😀

“Istri berkulit putri n suami kulit sawo matang jadi anak nya warna kulit nya apa ya”
-> Ada yang bisa jawab?

“Bawa dompet pake sarung”
-> What???

“Mengapa HRD menasehati kita pada saat interview”
-> Oh ya? Maksud gw “oh ya?” dengan muka datar

“Kekasih Indra Prasta The Rain”
-> Cieeee…suka yaaaa… 😀 😀 😀

“Kata-kata sindiran buat teman yang tidak mau berteman sama kita”
-> Who are you? friend of fairy godmother? 😀

“Perkataan majikan yang bikin kesel supirnya”
-> For sure: Banyak! 😀 😀

Advertisements

Monster Duri

Pada suatu hari terdapat seorang gadis kecil, ia pendek, bertubuh bulat, berambut ikal dan berkulit gelap. Karena penampilannya yang ganjil ia sering diejek oleh saudara-saudaranya.
Gadis itu sedih, meskipun ia diam saat diejek saudara-saudaranya di lain waktu ia sendirian menatap cermin dalam kamarnya dan menangis “Mengapa aku tidak cantik?” tanyanya pada diri sendiri.

Karena terlalu sering menangis, air mata gadis itu habis dan matanya berdarah. Ia tak ingin bersedih tapi ejekan itu selalu diberikan padanya. Lalu datanglah seseorang di malam gelap, ia menawari gadis itu sesuatu.

“Namaku Dendam, aku bisa menghilangkan rasa perih dari keringnya air matamu”
“Benarkah?” Tanya gadis itu tak percaya, “Tapi bagaimana?”
“Setiap kali kau bersedih, kau tidak akan menangis dan kau tidak akan pernah merasakan perih lagi karena keringnya air matamu, tapi setiap kali kau merasa sedih atau marah satu duri tajam akan muncul dari tubuhmu.”
“Baiklah,” Gadis itu menyetujuinya., ia terlalu kesakitan untuk berpikir panjang. Dendam pun menghilang.

Keesokan harinya kakak sang gadis kembali mengejeknya “Kau berkulit gelap, kau bukan saudara kami, lihatlah pipimu itu seperti bola! Hahahaha…” Si gadis kembali bersedih, namun betapapun ia merasakan rasa marah atau sedih, ia tetap tak bisa menangis, hanya satu duri tumbuh dari tangannya.

Hari-hari berlalu dan duri yang tumbuh di tubuh gadis itu kian banyak. Terlalu sering ia bersedih dan marah, ia terlihat tenang namun durinya semakin banyak.

Suatu hari duri itu tumbuh hampir di sekujur tubuhnya, begitu banyaknya sehingga bila ia berjalan semua orang harus menyingkir. Saudara-saudaranya menjadi kesal karena mereka menjadi sering tertusuk duri setiap berada di dekatnya.

“Kau monster! Lihat kau baru saja menggores kulitku, ini sakit!”
“Sesungguhnya, kau yang menciptakan monster ini.” Sahut si gadis. “Setiap kali kau ejek aku dan aku merasa sedih atau marah, satu duri tumbuh di tubuhku, sekarang kau rasakan sakitnya setiap kali berada di dekatku.”

Meski begitu, duri-duri di tubuhnya tidak hanya mengganggu saudaranya tapi juga mengganggu orang lain yang berpapasan dengan gadis itu, mereka takut untuk berada di dekatnya khawatir duri-duri tersebut melukai mereka. Mereka menjulukinya Monster Duri.

Kisah Monster Duri tersebar ke pelosok desa dan terdengar oleh telinga seorang anak laki-laki. Karena pensaran ia memutuskan untuk mencari untuk melihat keberadaan Monster Duri tersebut.
Akhirnya anak laki-laki tersebut berhasil melihat sosok yang ia cari.

“Ah, itu sudah pasti ulah Dendam” gumamnya.

Suatu hari anak laki-laki tersebut mendekati Monster Duri yang sedang duduk termenung di bawah pohon nan rindang.

“Jangan mendekat!” Monster Duri memperingatkan “Duri-duriku bisa menyakitimu!”
“Kau tahu, duri itu bisa disembuhkan, kau bisa menghilangkan semua itu sehingga kau tidak lagi bisa menyakiti orang di sekitarmu.”
“Benarkah? Bagaimana caranya?”
“Kau hanya perlu mengusir Dendam dari dalam dirimu, ia yang menumbuhkan duri-duri itu dari dalam untuk menyakiti orang lain.”
“Tapi aku tak tahu caranya” kata Monster Duri sambil tertunduk sedih. “Aku lelah menjadi seperti ini padahal aku hanya ingin bersedih ketika diejek oleh saudara-saudaraku, bukan menyakiti mereka”
“Aku bisa meminjamkanmu Air Mata” kata si anak laki-laki, ia mengeluarkan sebotol kecil air mata. “Bila kau sedang sedih atau marah, kau bisa mencariku, katakan apa yang membuatmu sedih dan marah lalu kupinjamkan kau Air Mata ini sehingga matamu tak lagi kering.”

Begitulah akhirnya setiap kali Monster Duri merasa sedih dan marah ia mencari si anak laki-laki, ia bercerita apa yang dialaminya makan si anak laki-laki meminjamkan Air Mata agar ia bisa menangis. Setiap kali Monster Duri menangis, duri-duri di tubuhnya semakin berkurang.
Meski begitu Dendam tetap tak mau pergi dari tubuh Monster Duri yang kini sudah kembali menjadi gadis kecil biasa.

“Kau tahu, aku tidak bisa mengusir Dendam dari tubuhmu, meski begitu kalau kau sedang bersedih dan marah, ingatlah untuk selalu mencariku.”

Gadis kecil itu sangat bahagia, ia pulang ke rumah dengan hati riang. Di rumah, keluarganya menyambut gembira gadis itu. Saudara-saudaranya yang penuh lukapun meminta maaf padanya.

“Maafkan kami, sesungguhnya kamilah yang pada awalnya membuat kau menjadi Monster Duri, kau sama cantiknya seperti gadis lain, sungguh!”

Gadis kecil itu semakin bahagia mendengarnya yang kemudian membuat Dendam menjadi tidak nyaman bersandar di tubuhnya. Dendam pun pergi menacri tubuh lain yang marah dan bersedih.
Sementara sejak saat itu, gadis kecil dan anak laki-laki tersebut menjadi sahabat, keduanya selalu berusaha ada satu sama lain agar Dendam tak kembali dan merenggut kebahagiaan mereka.