Pasta: Seni di Atas Piring dan Chef Temperamental

Perlu gw akui bahwa demam K-Pop dengan band-band vokal keroyokan asal negeri ginseng tersebut sangat mengganggu dan sebelum itu sinetron Korea Boys Before Flowers jauh lebih mengganggu lagi. Aktor-aktor berpenampilan flamboyan, alur-alur cerita yang sama nggak mungkinnya kaya sinetron-sinetron murahan Indonesia..eeww…

Tapi..gw akui lagi kalo nggak semuanya seperti itu, beberapa waktu terakhir gw lumayan suka nonton serial Korea, selain episodenya sedikit (kecuali Cruel Temptation, sinetron kita banget, bedanya gw masih nangkep ada sisipan pesan moral disitu) jadi gw agak pilih-pilih juga nontonnya.

Salah satunya serial 20 episode yang sukses bikin beli DVDnya setelah nonton di stasiun swasta nasional: Pasta.

Pasta bercerita tentang Seo Yoo Kyeong, gadis muda yang bekerja sebagai asisten dapur di sebuah restoran Italia di Korea, La Sfera. Setelah tiga tahun jadi asisten dapur, suatu hari akhirnya Yoo Kyeong diperbolehkan pegang wajan dan resmi jadi salah satu koki disana. Tapi rupanya hari yang ia tunggu-tunggu untuk mulai membuat pasta adalah hari dimana La Sfera mempekerjakan seorang kepala dapur baru setelah memecat kepala dapur lama, Chef Totti, yang langsung dipulangkan ke Italia.

Kepala dapur baru itu bernama Choi Hyeon Wook, seorang Chef lulusan sekolah kuliner Italia yang temperamental dan benci koki wanita, prinsipnya adalah “Tidak boleh ada wanita di dapurku”. Ternyata di masa lalunya, Chef pernah dikecewakan oleh pacarnya yang seorang Chef juga sekaligus partnernya ketika masih di Italia yang kemudian kembali ke Korea menjadi seorang “celebrity chef”, Oh Se Yeong. Se Yeong pernah berbuat curang padanya untuk sebuah kemenangan dalam kompetisi Chef di Italia.

Adegan pertemuan awal mereka menurut gw agak basi, karena Yoo Kyeong dan Chef (panggilan Choi Hyeon Wook di sepanjang serial) bertemu tak sengaja di penyebrangan jalan, dan pertemuan keduanya waktu Chef diperkenalkan sebagai kepala dapur baru di tempat kerjanya.

Di minggu pertama Chef bekerja ia langsung memecat semua koki perempuan di La Sfera, termasuk Yoo Kyeong dan menggantinya dengan tiga koki lulusan sekolah kuliner Italia (yang merupakan murid setia Chef) dan merupakan awal pecahnya tim dapur menjadi dua kelompok: koki lokal (kelompok Korea) dan koki lulusan Italia (kelompok Italia).

Tidak terima karena ia baru saja menjadi koki, Yoo Kyeong selalu kembali ke La Sfera meskipun sudah ditendang berkali-kali sampai akhirnya ia mengungkap sebuah alasan yang cukup emosional kenapa ia ngotot ingin tetap bekerja di La Sfera. Impian Yoo Kyeong adalah menjadi koki pasta demi mendiang ibunya.

Suatu hari tak ada lagi kesempatan untuk Yoo Kyeong kembali ke La Sfera karena ia nekat bertaruh bahwa pastanya lebih disukai seorang pelanggan setia yang selalu memintanya untuk dibuatkan pasta. Yoo Kyeong kalah karena pasta buatan Chef jauh lebih sempurna. Ia benar-benar dipecat di depan pelanggan setianya, Kim San, yang ternyata menyimpan banyak rahasia.

Kim San adalah pemilik sebenarnya La Sfera, sekaligus pengagum rahasia Yoo Kyeong yang selalu mengirimkan gambar kaktus berbunga yang ditempel di kamar ganti koki. Merasa bersalah, Kim San menyuruh direktur Seol (direktur La Sfera) untuk membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengikuti audisi untuk mengisi posisi Yoo Kyeong.

Demi ingin kembali ke La Sfera, Yoo Kyeong berlatih keras membuat pasta yang sempurna dan mengikuti audisi tersebut. Karena itu adalah “audisi buta” (semua hidangan peserta akan dicicipi oleh Chef sendiri selaku juri tunggal tapi dengan mata tertutup lalu memilih siapa orang berdasarkan hidangannya) pasta buatan Yoo Kyeong disetujui oleh Chef dan akhirnya ia kembali lagi ke La Sfera.

Tapi tentu saja, Chef perfeksionis namun temperamental yang hobi meneriaki anak buahnya dan sempat nyaris menghajar Yoo Kyeong lama-lama jatuh cinta pada koki juniornya itu.

20 episode, konsep ceritanya sebetulnya sederhana aja (namun lumayan mengena), tentang persaingan karyawan lokal dan lulusan luar negeri, kenapa hubungan cinta di tempat kerja kadang agak rumit, dan semacamnya tapi yang paling gw suka dari serial ini adalah..nggak lain dan nggak bukan..ada begitu banyak proses memasak disini hahahaha 😀 karena hampir setiap adegan ada di dapur, Master Chef Indonesia kalah deh stok gambar proses masaknya! Dan makanan-makanan itu…uh, menggugah selera banget, apalagi kalo lihat mereka udah mulai menghias piring dengan makanan, udah kaya penata rias lagi ngerias muka orang hehehe…it’s art on a plate 😀

Karena gw bukan koki tapi gw menyukai makanan, ada penjelasan-penjelasan ringan tentang hidangan di serial ini, seperti ada adegan dua orang kritikus makanan dateng ke La Sfera pesen steak tapi minta dibakar dengan kematangan cuma 10% saja, karena katanya dengan begitu bisa tahu daging yang disajikan berkualitas tinggai atau nggak, yah hal-hal semacam itulah…hehehehe 😀

Frase yang terkenal dari serial ini adalah “Ya, Chef!”, alasan lain kenapa gw suka serial ini adalah…gw selalu suka karakter laki-laki temperamental, meski begitu pria temperamental namun seksi dan ga pake acara pukul cewek cuma ada di cerita-cerita seperti ini, kalo di kehidupan yang sebenarnya gw sangat bersyukur dapet laki-laki kaya suami gw hahahaha 😀

Advertisements

Mrs.B (Sebuah Tingkatan Lain Dalam Cobaan Sosial)

Kenapa orang-orang suka penasaran sama urusan orang lain yang sebetulnya sama sekali nggak ada untungya sama mereka? Dan kenapa sebagian orang bisa bener-bener berperilaku kampungan? There I said…

Yaaa..yaaa… sebetulnya gw udah cukup terbiasa dengan perilaku aneh orang-orang di sekitar gw, cuma rasanya nggak nahan aja untuk nggak cerita.

Masih inget Cobaan Sosial alias si tetangga yang berbisik pada tetangga lain nanyain apa gw udah punya anak padahal gw cuma beberapa langkah dari dia? Kalo lo berpikir dia adalah ibu gosip terburuk dalam suatu RT, lo salah besar. Ternyata doi punya saingan dan gw bisa bilang…sedikit lebih parah.

Adalah pagi ini ketika gw berjalan kaki menuju rumah sakit untuk ngurus kepulangan bokap yang udah seminggu dirawat (dari pertama keluar rumah gw udah ngerasa kalo gw ngambil jalur yang salah menuju ke rumah sakit, gw nggak pernah suka lewat jalan yang dulu biasa gw lewatin kalo sekolah, di sepanjang jalan itu berjejer sarang-sarang ibu gosip, yang kalo pagi-pagi udah pada nongkrong buat gosip, heran…bukannya mereka mesti masak buat keluarganya?)

Pas gw lagi jalan, perasaan gw makin nggak enak lagi pas lihat salah satu biang gosip di komplek gw, Mrs.B, lagi (seperti biasa) nongkrong di depan rumahnya. Sebagai warga yang baik, gw tersenyum basa-basi sambil lalu. Baru beberapa langkah ngelewatin doi, dia nanya apa gw mau ke rumah sakit untuk jemput bokap, gw bilang iya. Lalu gw jalan lagi dan dia mulai teriak (karena gw mulai menjauh) kalo suaminya juga kemaren baru pulang dari rumah sakit setelah dirawat (dua hal yang gw katakan dalam hati: 1.Oh,I dont even know bout that dan 2.Kalo suaminya baru pulang dirawat tidakkah mestinya saat itu dia lagi ngurusin suaminya dan bukannya nongkrong nggak jelas pagi-pagi begitu?) Gw cuma menanggapi “Oh, iya” sambil senyum dan terus jalan.

Kemudian, dengan nada yang terdengar seakan sangat penting untuk dia ketahui, dia berteriak (ya, teriak) “Eh mbak! Udah punya anak belum??!!” Now what the hell is wrong with these people..

Gw nggak jawab, bahkan nggak nengok, cuma bikin gestur geleng-geleng kepala dan gw berharap dia tersinggung dengan gestur itu. Tapi, gw berani taruhan apapun dia nggak akan pernah ngerasa tersinggung, kulitnya setebal baja, badak…lewat.

Hal-hal seperti itu semestinya bikin gw wajib bersyukur karena dibesarkan dengan didikan yang baik. Meski begitu catatan tambahan lagi di daftar PR gw kalo suatu saat punya anak nanti, hal-hal kecil macam ngajarin sopan santun mungkin terlihat gampang, tapi gimana caranya apa yang diajarin itu bisa terus diingat dan dipakai si anak seumur hidupnya.

Dan demi Tuhan gw berusaha keras untuk nggak seperti Mrs.J. Mrs.B ataupun anaknya si Mrs.B yang nggak jauh beda kelakuannya kaya ibunya. Well, you know what they said…buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Maka bisa gw simpulkan bahwa Mrs.B adalah tingkatan lain dalam sebuah “Cobaan Sosial”.