Sang Mantan

Biasanya gw paaaaling nggak doyan nulis beginian, tapi kebetulan gw belajar satu hal dari kejadian ini dan juga mendapat sedikit pencerahan hehehehe….

Mungkin gw tipe orang yang cukup cepat membaca situasi karena pada saat gw baca tulisan wall-to-wall temen gw pada Sang Mantan: “Tanggal berapa jadinya? Apa yang bisa dibantu?” gw langsung mengendus bau pernikahan (padahal sebelumnya sama sekali gw nggak perduli soal itu dan Sang Mantan sendiri nggak pernah sounding perihal pernikahan di semua akun jejaring sosialnya seperti yang banyak orang kicaukan saat mereka akan menghadapi pernikahan mereka). Lalu beberapa jam kemudian yang bersangkutan pun SMS nanyain gw ada di rumah apa nggak karena mau nganterin undangan. Karena gw lagi keluar gw bilang kirim aja ke rumah atau SMS-in aja isi undangannya, karena yang penting kan isi undangan, bukan kulit undangan itu sendiri.

Sang Mantan sendiri…gw selalu ngerasa punya hubungan yang rumit sama manusia satu ini. Dulu pernah ada hal yang menurut gw belum selesai sama dia, tapi karena setelah putus (yang kurang diselesaikan itu) gw udah nemuin orang lain, jadi ya biarlah tak terselesaikan.

Pasca putus, ilfil udah jelas, banget malah. Gw selalu berusaha melepaskan kontak dari dia tapi tu orang adaaa terus, FB diadd, twitter difollow..hadeeeh… Kata suami gw, ya sudahlah nggak usah kaya gitu, nggak boleh mutusin silaturahmi, lagipula siapa tahu suatu hari nanti kita butuh dia. Gw pikir, iya sih… cuma tetep aja..males.

Karena sesuatu yang “terselesaikan” itulah gw bener-bener males ngadepin Sang Mantan. Ada hal-hal yang dulu (dan masih gw inget) yang masih bikin keki. Misalnya (contoh kecil), beberapa tahun yang lalu, di suatu sore yang panas hari kedua bulan puasa (gw inget banget tuh) mikrolet yang merupakan transportasi penting buat gw pulang pergi kerja ternyata demo, dan jurusan Kp.Melayu-Bekasi nggak ada satupun yang jalan! Mana badan lemes, tahu sendiri kerjaan gw banyak bergerak dan yang jelas lebih banyak ngoceh (itu sebabnya gw bisa turun 10 kg hanya dalam waktu tiga bulan, terima kasih diare!). Gw rasa nggak berlebihan kalo saat itu gw minta bantuan Sang Mantan untuk jemput dan nganterin gw pulang (dan gw tahu banget dia sangat available untuk itu). Ditelepon nggak diangkat-angkat, di SMS nggak dijawab-jawab. Akhirnya gw jalan pulang sambil terus coba hubungin dia, gw pikir ada mikrolet yang jurusan Pondok Gede yang masih narik, jadi setidaknya gw bisa naik sampe Pangkalan Jati dan minta dijemput disana. Setelah sampe Pangkalan Jatipun dia masih nggak bisa dihubungi (dan gw mulai naik darah kalo nggak inget itu baru hari kedua puasa). Nggak lama akhirnya tu telepon diangkat, gw bilang gw ada di Pangkalan Jati, bisa jemput nggak kesini soalnya dari Pangkalan Jati ke Bekasi nggak ada angkutan, M26 sama M19 nggak ada yang narik, otomatis taksi sama ojek yang jadi transport alternatif penuh terus. Dan apa jawabannya? “Yah, nggak bisa…mau nemenin temen belanja kamera”. Belanja kamera!! (Sejak saat itulah setiap kali gw lihat kamera ge langsung sebel) Akhirnya gw jalan kaki (sambil nengok-nengok kalo ada taksi kosong, beberapa kali ada tukang ojek cuma minta tarif gila-gilaan, cih..lebih baik gw menyiksa diri daripada nurutin pemerasan tu orang-orang) dari Pangkalan Jati sampe Kampung Dua (yang sering lewat Kalimalang silahkan hitung berapa jauh jaraknya), gw inget dari Pangkalan Jati itu udah jam 15.30 dan nyampe Kampung Dua hampir jam 18.00. Untungnyaaa…di Kampung Dua ada rumahnya Nanink (makasih ya Nanink dan sekeluargaaa..) karena hampir maghrib, gw mampir aja dulu, istirahat, shalat dan yang jelas pasti dikasih makan hahahahaha 😀 Tapi gw nggak cerita sama Nanink kenapa gw bisa jalan kaki, kalo iya dia pasti berkata “Udah gw bilang, dia tuh cowok nggak baik..” Dan kejadian itu mengorbankan sepasang sepatu “setengah juta” (I’m not bragging, it’s a joke karena gw nggak habis pikir cuma untuk sepatu flat kaya gitu aja harganya sampe setengah juta, nggak senyaman Crocs pula, dan waktu itu Crocs belum populer) yang dibeliin kakak gw buat gw.

Atau cerita menyebalkan lainnya, tentang bagaimana dia janji mau nganterin gw ke undangan nikahan temen. Gw udah bilang sama dia dari jauh-jauh hari dan gw juga udah wanti-wanti kalo emang nggak bisa jangan bilang mendadak kecuali dia sakit atau ada keluarga yang meninggal. Dan gw dibiarkan menunggu tanpa kabar (seperti biasa, telepon nggak diangkat, SMS nggak dijawab) sampe siang dimana gw udah siap-siap mau pergi dan berharap dia segera dateng, dia nggak pernah muncul. Beberapa hari kemudian baru tu manusia muncul seolah nggak terjadi apa-apa. Pas gw tanya kenapa kemaren nggak dateng, alasannya pun nggak jelas, intinya dia nggak kemana-mana waktu itu. Kalo sekali sabar gw dikasih segepok uang, pastilah saat ini gw udah jadi milyuner!

Tapi karena gw nggak mau ambil pusing, ya sudahlah, lupakan saja. Jadi kalo saat ini gw masih “berteman” dengan dia di jejaring sosial, jelas aja gw masih ngerasa risih. Mau nggak mau semua “kegiatan” yang dia “umumkan” di sana kebaca sama gw, dan gw terlalu banyak memutar bola mata dan berkata “Yeah.Rite. I know who you are, so shut up.”

Lalu gw denger dia mau nikah dan anehnya…gw nggak menemukan satupun ungkapan sarkastis yang bisa gw pakai. Gw bahkan secara tulus turut berbahagia untuknya dan gw sadar bahwa pada waktu kita putus, dia nggak lebih baik dari gw dan gw juga nggak lebih baik dari dia. Gw rasa nggak ada yang salah dari hubungan yang berantakan di waktu itu. Ketika akhirnya gw menemukan laki-laki yang (sangat) baik dan calon istri Sang Mantan juga sepertinya perempuan yang baik, gw rasa itulah jalan kita masing-masing untuk menuju orang yang tepat (dan mungkin kita menyebutnya dengan “yang lebih baik).

Dan terima kasih tak terbatas untuk suami gw yang udah mendidik gw selama ini, bertambah lagi satu sudut pandang yang memperkaya cara berpikir. So, friends… kalo boleh gw berpendapat, mungkin setiap manusia tidak lebih baik daripada manusia lainnya dan dan semua hubungan buruk yang pernah terjadi adalah jalan untuk lebih dekat pada orang yang tepat.

Jadi untuk Sang Mantan, selamat ya! I thought I hate you, but now I realize that I’m happy for you! 😀

Satpam Multifungsi

Bisakah satpam hanya bertugas sebagai satpam saja?

Gw tahu di beberapa tempat job desk satpam kadang bertambah bahkan melenceng dari pekerjaan yang seharusnya sesuai bidangnya. Gw nggak tahu siapa yang memulai ide ini tapi sampai kemaren gw pikir itu adalah ide yang buruk. Sangat buruk.

Misalnya kaya bank, satpam bukan cuma bertugas sebagai keamanan, tapi juga mengarahkan bertanya serta mengarahkan nasabah yang mau setor, transfer, dan sebagainya. Atau di bagian reservasi tiket sebuah stasiun, kadang satpam juga bertugas ngasih nomor antrian untuk para calon pembeli tiket mengantri. Selama sifatnya hanya membantu (karena mungkin tempat-tempat tersebut kekurangan orang untuk melakukan tugas yang terlihat remeh tapi penting tersebut) gw sih senang-senang aja, tapi kalo seperti yang gw alami kemaren…eerrggghh….

Berawal dari suami gw yang ngajak muter ke beberapa mall untuk cari casing ipod, pilihan terakhir kita mampir ke BCP (taman maya bekasi *d’oh*), selain satu arah jalan pulang, gw pikir di BCP banyak toko-toko gadget beserta aksesorisnya, dan seinget gw disana pernah ada konter Apple yang kemudian gw tahu kalo ternyata udah nggak ada dan diganti dengan toko barang-barang hi-tech lainnya.

Dan kami menuju satu toko di lantai 2, letaknya agak di sudut, tokonya lumayan besar tapi sepi pengunjung. Sebetulnya gw pernah sekali ke sana untuk beli alas pendingin buat laptop, dan dari sejak itu sebetulnya gw udah nggak betah ke toko itu. Di pintu masuk (yang mana diatur dua jalur “pintu masuk” dan “pintu keluar”) udah bertengger satpam yang akan ngeliatin lo dari ujung kepala sampe ujung kaki, seakan semua orang yang masuk kesana dicurigai sebagai pengutil. Lalu (kalo toko itu lagi benar-benar sepi) mereka akan menguntit lo dengan ekor matanya dan sesekali mendekat ke arah dimana lo berdiri dan lagi lihat-lihat barang di display.

Itu waktu gw pas beli alas pendingin laptop. Kemaren, baruuu dua langkah ngelewatin pintu masuk (dimana masih ada satpam bertengger dan satu orang pramuniaga cewek)…bener aja, tu satpam mata elang mulai bikin gw nggak nyaman dengan tatapan curiganya, lalu dia nyamperin kita dan bertanya (dengan suara yang sama sekali nggak ada ramah-ramahnya)

“Cari apa mas?”
“Cari casing ipod” kata laki gw. Dan dia langsung bilang,
“Disini kita nggak jual ipod.” Dan gw udah berteriak Anj*ng!! dalam hati.
“Saya nyari casingnya” kata laki gw lagi.
“Iya, nggak ada.” katanya ngotot. Sementara si pramuniaga cewek yang berdiri di sampingnya diem aja.

Dan nggak afdol kayanya buat gw kalo nggak “memberikan tanggapan” atas apa yang gw terima. Akhirnya gw tarik laki gw langsung berbalik pergi sambil ngomong dengan suara keras,

“Oh, NGGAK ADA, kalo gitu nggak ada gunanya lagin kita di sini, pantes aja tokonya sepi, orang kaya gitu bikin orang males dateng.”

Dan gw masih belum puas kalo belum nunjuk batang hidung supervisor tokonya. Mungkin kalo gw kesana lagi, akan gw lakukan.

There’s Something About…Witch

Penyihir atau Witch bahasa kerennya, salah satu karakter kesukaan gw. Penyihir hijau yang selalu jadi tokoh antagonis di setiap dongeng, dibenci, diperangi dan diharapkan untuk musnah karena dinilai jahat dan licik. Meski begitu entah kenapa gw suka sekali dengan karakter ini, dan semakin suka setelah baca Wicked. Well, gw belum baca novel atau nonton sepenuhnya sih (baik film apalagi pertunjukan musikalnya).

Wicked adalah sebuh pertunjukan musikal yang diangkat dari novel Wicked: The Life and Times of the Wicked Witch of the West karya Gregory Macguire, semacam prekuel cerita klasik The Wonderful Wizard of Oz (pasti udah pada tahu dulu filmnya baik versi layar lebar atau versi TV sering diputer), prekuel ini bercerita dari sisi para penyihir di negeri Oz.

Tokoh utama di cerita ini adalah Elphaba yang berkulit hijau dan Glinda yang populer (di The Wizard of Oz nantinya Elphaba adalah penyihir jahat dari barat dan Glinda penyihir baik dari selatan) yang bertemu dan sama-sama belajar di Shiz University, jatuh cinta pada laki-laki yang sama, Fiyero. Karena tampilannya tidak secantik Glinda, Elphaba tidak yakin Fiyero bisa suka padanya.

Meski begitu Elphaba sangat berbakat dalam ilmu sihir yang kemudian direkrut oleh Sang Penyihir (The Wizard). Tapi Elphaba menjadi takut setelah mengetahui kalau Sang Penyihir bertanggungjawab atas penindasan bangsa hewan di Oz. Sang Penyihir memintanya untuk bergabung dengannya dan memandangnya sebagai pemberontakan bila Elphaba menolak. Terluka karena merasa dimanfaatkan, Elphaba dan Glinda melarikan diri dari situasi tersebut. Mereka bersembunyi di menara tertinggi dan mendengar diumumkannya bahwa Elphaba adalah penyihir jahat. Elphaba menyulap sapu untuk terbang dan meyakinkan Glinda untuk ukut bersamanya. Tapi Glinda tidak bisa meninggalkan hidupnya yang populer lalu menolaknya.

Setelah menjadi buron dengan sebutan The Wicked Witch of The West (penyihir jahat dari barat) Elphaba kembali ke istana Sang Penyihir untuk membebaskan para tahanan. Sang Penyihir berusaha kembali untuk mengajak Elphaba bergabung tapi ia menolaknya, ia berusaha lari tapi malah mendapati Fiyero. Keduanya mengakui perasaan cinta masing-masing yang ternyata dilihat oleh Glinda yang merasa kecewa (dan kekecewaan atas cinta selalu menimbulkan hal-hal yang mengerikan).

Glinda yang dalam kemarahan memberi tahu pada Sang Penyihir bahwa Elphaba akan melakukan apapun untuk adiknya, Nessarose yang kemudian digunakan untuk memancing Elphaba datang. Elphaba yang mendengar adiknya dalam bahaya segera terbang tapi terlambat, ia sampai tepat saat Glinda mengirim Dorothy dan Toto (masuk ke cerita The Wonderful Wizard of Oz). Penjaga istana menangkap Elphaba tapi Fiyero menghalaunya sehingga Elphaba bisa lari. Fiyero kemudian ditangkap dan disiksa sampai ia mengatakan dimana Elphaba berada. Di kastilnya, Elphaba berusaha merapal semua mantra untuk menolong Fiyero, lalu ia berpikir bahwa ia telah gagal dan mulai menerima reputasi sebagai penyihir jahat.

Sementara warga Oz mulai melakukan perburuan penyihir, Glinda melihat ini lalu pergi ke kastil Elphaba. Ia meminta Elphaba untuk melepaskan Dorothy tapi ditolaknya. Ia meminta Glinda berjanji untuk tidak membersihkan namanya dan berkuasa di Oz. Ketika ada kesempatan, Dorothy lari dan melemparkan sewadah ramuan pada Elphaba yang membuatnya meleleh. Glinda tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia melihat yang tersisa dari temannya hanya topi hitam dan botol ramuan. Glinda lalu mengusir Sang Penyihir dari Oz, lalu ia menjadi bagian dari warga Oz dan mengumumkan bahwa ia akan menjadi Glinda The Good yang akan merombak seluruh pemerintahan di sana.

Fiyero, yang diubah Elphaba menjadi orang-orangan sawah membuka pintu kastil Elphaba, disanalah ia, hidup seutuhnya dan mereka kembali bersama lalu meninggalkan Oz untuk selamanya.

— Gw ambil intisari di atas dari wikipedia.org/wickedmusical, sorry kalo bahasanya acak-acakan,soalnya gw terjemahin sendiri 😀 —

“The Untold Story of The Witches of Oz”, buat gw kisah ini juga sebagai refleksi “The Untold Story of The Bad Side Looks”. Bahwa semua orang punya sebuah sisi yang tak terkatakan. Yang terlihat baik bisa berbuat khianat dan yang terlihat buruk tidaklah betul-betul buruk. Menguatkan frase “Don’t Judge a Book by It’s Cover”.

Lagu kesukaan gw di musikal ini adalah Defying Gravity (yang pertama kali gw denger di serial Glee), liriknya agak dalam menurut gw dan entah kenapa gw selalu bisa kembali bersemangat setelah denger lagu ini 😀
Ini adalah potongan dari musikal Wicked, dengan pemeran asli Idina Menzel (Elphaba) dan Kristin Chenowith (Glinda) (dan dua-duanya pernah jadi bintang tamu di Glee, fyi :D)

GLINDA
(Spoken) Don’t be afraid

ELPHABA
(Spoken) I”m not. It’s the wizard who should be afraid…of me

GLINDA
(spoken) Elphie, listen to me. Just say you’re sorry:
(sung) You can still be with the Wizard
What you’ve worked and waited for
You can have all you ever wanted:

ELPHABA
(spoken) I know:
(sung) But I don’t want it –
No – I can’t want it
Anymore:

Something has changed within me
Something is not the same
I’m through with playing by the rules
Of someone else’s game
Too late for second-guessing
Too late to go back to sleep
It’s time to trust my instincts
Close my eyes: and leap!

It’s time to try
Defying gravity
I think I’ll try
Defying gravity
And you can’t pull me down!

GLINDA
Can’t I make you understand?
You’re having delusions of grandeur:

ELPHABA
I’m through accepting limits
”cause someone says they’re so
Some things I cannot change
But till I try, I’ll never know!
Too long I’ve been afraid of
Losing love I guess I’ve lost
Well, if that’s love
It comes at much too high a cost!
I’d sooner buy
Defying gravity
Kiss me goodbye
I’m defying gravity
And you can’t pull me down:
(spoken) Glinda – come with me. Think of what we could
do: together.

(sung) Unlimited
Together we’re unlimited
Together we’ll be the greatest team
There’s ever been
Glinda dreams, the way we planned ’em

GLINDA
If we work in tandem:

BOTH
There’s no fight we cannot win
Just you and I
Defying gravity
With you and I
Defying gravity

ELPHABA
They’ll never bring us down!
(spoken) Well? Are you coming?

GLINDA
I hope you’re happy
Now that you’re choosing this

ELPHABA
(spoken) You too
(sung) I hope it brings you bliss

BOTH
I really hope you get it
And you don’t live to regret it
I hope you’re happy in the end
I hope you’re happy, my friend:

ELPHABA
So if you care to find me
Look to the western sky!
As someone told me lately:
“Everyone deserves the chance to fly!”
And if I’m flying solo
At least I’m flying free
To those who’d ground me
Take a message back from me
Tell them how I am
Defying gravity
I’m flying high
Defying gravity
And soon I’ll match them in renown
And nobody in all of Oz
No Wizard that there is or was
Is ever gonna bring me down!

GLINDA
I hope you’re happy!

CITIZENS OF OZ
Look at her, she’s wicked!
Get her!

ELPHABA
Bring me down!

CITIZENS OF OZ
No one mourns the wicked
So we’ve got to bring her

ELPHABA
Ahhh!

CITIZENS OF OZ
Down!

Heck!

Sebagian orang menganggap lucu waktu mereka diem-diem iseng mainin HP (BB terutama) temen mereka dan melakukan sesuatu yang jahil seperti ngirim boradcast message berisi kata-kata yang kurang pantas lalu nyebarin ke semua kontak di HP tersebut. Buat gw, sama sekali nggak ada yang lucu dari hal itu. Yang ada orang-orang yang nerima pesan itu tahu HP itu lagi dibajak dan berpikir bahwa si pembajak adalah orang yang konyol dan kekanak-kanakan.

Pernah nggak terpikir kalo hal kaya gitu bisa berakibat fatal buat seseorang? Mungkin kita nggak tahu diantara daftar kontak HP seseorang (atau bahkan kita sendiri) ada kontak orang-orang tertentu dimana di depan mereka kita mesti jaga reputasi kita, entah itu kontak kolega dengan hubungan yang serius, si boss, staff bawahan, atau mungkin mertua? Lalu..bam! Datanglah satu deret kata-kata berwarna ungu berisi kata-kata yang kurang pantes ke layar HP mereka. How do you feel if it happened to you?

Itu sebabnya gw paling marah sama siapapun yang melakukan hal seperti itu ke gw, termasuk laki gw yang pernah kaya gitu, meskipun isi BM nya cuma “Hai” atau “Chat yuk”, not even funny joke.

Call me too uptight, but…semua orang harus tahu bahwa selalu ada batas-batas yang nggak boleh mereka lewati, dan siapa yang harus tegas akan hal itu? Tentu aja kita sendiri. Lagipula bercanda nggak mesti dengan mempermalukan orang kan?