(Bukan) Sekedar Putih

Lihat iklan produk pemutih di TV jadi inget tulisan si chuwey (IMO) 2 Iklan Terburuk 2010 Versi Chei beberapa waktu lalu. Tanpa bermaksud menghakimi si produk dan pihak pembuat iklan serta orang-orang yang punya ide atas iklan-iklan tersebut gw yakin temen gw itu amat sangat prihatin dengan kebanyakan iklan kosmetik (terutama produk pemutih kulit) yang tema iklannya sangat tipikal…ya kaya gitu deh… Well, setidaknya gw sama kaya doi, lumayan prihatin sama hal-hal kaya gitu.

Gw nggak menyalahkan pihak yang jualan, karena gimanapun yang namanya orang jualan pastinya pengen dagangannya laku, dulu temen gw pernah jual kosmetik MLM di kantor, dan temen gw itu adalah contoh yang bagus dengan “semangat menjual”nya. Dia nawarin kosmetik ke temen gw yang lain, si calon pembeli, otomatis dicobain lah nih sama si calon pembeli, blush on sama lipstik. Si calon pembeli lalu datengin gw untuk nanya pendapat gw. Kadang gw ngerasa beberapa orang bertanya ke orang yang salah tentang ini, gw jawab “Sumpah, nggak banget tu warna, lu kaya tante-tante penjaja cinta.”

Si calon pembeli pun histeris dan dia bilang si temen gw yang penjual itu bilang kalo dia cocok banget pake tu warna dan dia terlihat cantik dan segar. Gw cuma bisa nyengir, bingung mesti bilang apa, karena menurut gw itu nggak banget, lalu gw berusaha “menetralkan” kalo..yah..”cantik” itu kan relatif…sementara dalam hati gw tetep bilang dia terlihat seperti tante penjaja cinta… 😕

Begitupun dengan pedagang-pedagang skala besar ini, yang mampu membayar mahal mengiklankan produknya agar dilihat jutaan orang di negeri ini. Gw pikir…(ini sih gw pikir ya) dengan berkembangnya zaman, maka berkembang pula pemikiran orang. Gw pikir orang bisa lebih bijaksana menayangkan hal-hal yang (sepertinya mereka sadar) kalo bentuk tayangan kreatif bisa mempengaruhi jalan pikiran dan hidup seseorang. Tapi sebagian orang ternyata tetap pada fokus penjualan yang harus meningkat. Yah gw ngerti sih, untuk produk kosmetik tentu aja harus ditampilkan contoh hasil yang akan “diterima” orang yang memakai produk tersebut. Hasilnya mungkin akan bagus, tapi hasilnya juga berakhir pada pembetukan opini tentang sesuatu.

Mereka paham sekali target pasarnya sebagian besar remaja, remaja adalah sosok yang labil, yang baru mengenal ketertarikan pada lawan jenis. Please, deny this: “Hey, mau dapet pacar? pakai produk ini, kulit kamu nanti jadi putih, cowok suka sama cewek yang kulitnya putih.”

Gw sering nonton tayangan reality show U.E.K, yang nyari orang untuk dihipnotis. Biasanya banyak pasangan muda yang dihipnotis, biasanya pertanyaan yang paling sering dilontarkan sama sang host adalah “Apa sih yang bikin kamu suka sama dia?” Kebanyakan orang itu akan menjawab “Dia cakep, mas.” baru setelah itu “Dia baik, mas.”

Halo..apa kabar inner beauty?

Sebetulnya gw bukan tipe orang yang percaya akan inner beauty karena sama kaya paras cantik, nggak semua orang punya inner beauty (menurut gw). Yang gw yakini adalah semua orang punya rasa percaya diri hanya kadarnya berbeda-beda.

Cantik itu bukan sekedar berkulit putih, buktinya gw punya temen kulitnya putih tetep aja mukanya ga logis (maksud gw ga cakep) dan orang-orang menyebutnya “menang putih doang”. Alicia Keys, Beyonce Knowles adalah orang-orang dari ras kulit hitam, mereka tetep cantik kan? Dan Michael Jackson disukai bukan karena dia berganti kulit dari hitam ke putih tapi karena karya-karyanya yang memang bagus. Atau waktu awal-awal Sarah Sechan mejeng di MTV Asia sekitar sepuluh tahun yang lalu dan diantara VJ yang lain dia orang yang kulitnya terlihat lebih gelap dan dia masih jadi VJ favorit gw.

Yang penting itu bukan putih, tapi kebersihan diri. Rajin cuci muka, rajin mandi, kan jadi lebih enak dilihat, nggak perduli apa warna kulit lo yang namanya bersih itu pasti kelihatan. Dan kalo lo masih denger ada laki-laki (selain ABG, maksud gw yang jauh lebih tua dari masa puber) masih bilang “Gw suka karena dia cantik, putih..” dia nggak lebih dari anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa dengan pemikiran yang dangkal.

Dan untuk penyumbang ide pembuat iklan kosmetik khusus produk pemutih kulit…gw cuma berharap ada seseorang atau suatu pihak yang mau berkampanye tentang..yah..sesuatu seperti “more than your white skin” untuk target pasar anda. Kulit asli perempuan Indonesia adalah sawo matang, nyaris lebih gelap bahkan dan itu sangat cantik dengan ke-khas-an nya, mereka hanya perlu dididik untuk merawat diri supaya lebih percaya diri, bukan dicuci otak untuk mati-matian membuat kulitnya seputih orang Eropa supaya banyak laki-laki tergila-gila, karena itu sangat berbeda.

Kalian yang berkulit gelap, kalian sama cantiknya karena kalian ikon bangsa ini yang sesungguhnya..and I mean it 😀

“Cobaan Sosial”

Gw rasa hampir semua orang yang hidup bertetangga pasti pernah dibuat keki 1/2 mati sama mereka. Apalagi gw..hahahaha 😀 Setelah temen gw beberapa kali mencak-mencak ngadepin tetangganya yang usil, hari ini giliran gw yang kemudian jadi khawatir populasi ibu-ibu berpikiran dangkal semakin meningkat.

Siang tadi waktu gw beli makanan ke warung langganan gw, ternyata di sana udah nongkronglah dua orang tetangga gw, bu D dan bu J. Karena gw pertama kali lihat bu D, otomatis berbasa-basi dong dengan sapaan “Eh, ibu..beli apa?” seramah mungkin. Si bu D ini pun juga menjawab dengan ramah, setelah itu gw ke ruangan sebelah yang cuma dipisah sedikit sekat untuk beli makanan yang khusus buat pesen Gado-Gado.

Nggak lama terdengarlah suara si bu J yang dari tadi ngobrol sama orang lain. Dengan suara yang terdengar dengan jelas di telinga gw karena jarak gw sama mereka nggak lebih dari tiga meter si bu J ini bertanya pada bu D “Siapa itu bu?”, bu D menjawab “Itu..si nanda..” lalu sekonyong-konyong, masih dengan suara yang sangat jelas terdengar oleh semua orang yang ada di warung itu dan tanpa merasa bersalah atas desibel suaranya ia bertanya lagi pada bu D “Ooo..udah punya anak belum, dia?”

Menurut lo…sumpah serapah apa yang gw teriakkan dalam hati sementara gw pura-pura ngobrol sama si mbak yang bikin Gado-Gado?

Maka, gw mengulang kembali kata-kata yang gw kutip dari seseorang di twitter khusus untuk si bu J itu:

“Ma’am, my back is not a voice mail, if you have something to say (or ask) to me, say it in front of MY “F” FACE!!!”

Dalam fantasi yang lebih liar mungkin gw akan ngangkat TOA dan ngasih pengumuman siapa pemilik si ibu ini, tolong diambil dan dibawa pulang. Ok, that’s a lil bit inappropriate…

But please, at least let me say “What the hell, ma’am?” Ngerti nggak sih kalo nanya seseorang yang nota bene ada di deket lo ke orang lain itu sangat tidak sopan? Trus yang lo ajarin ke anak-anak lo apa??? Gw udah cukup melihat banyak ibu muda dengan perilaku dangkal di berbagai jejaring sosial, ternyata di dunia nyata lebih banyak lagi… Paling nggak gw sungguh-sungguh berharap gw nggak akan seperti itu nantinya.

Sekarang gw ngerti kenapa sabar terhadap tetangga itu susah-susah gampang susah, karena menahan diri untuk nggak mencekik seseorang kadang terasa luar biasa. Tetangga adalah salah satu cobaan sosial, kalo dihindari lo akan digosipin macem-macem dengan berbagai prasangka kejam, dihadapi pun akan menguji kesabaran untuk nggak terpancing emosi. Simalakama sosial

Sabar…sabar… 😛

Tentang Sabar

Hanya kembali mengulang pesan moral tentang apa yang pernah gw ungkapkan dulu.

Tadi siang gw dan beberapa temen (dimana salah satunya mentraktir kami…yaaiiiyy!! tengkyu isheee..muah!) di salah satu restoran Jepang di sebuah Mall di Bekasi. Seperti biasa, setiap weekend resto tersebut rame dan mereka pake sistem daftar tunggu. Gw dan temen-temen gw pun menunggu lah di tempat duduk yang udah disediakan bersama beberapa kelompok pengunjung lain yang juga lagi menunggu.

Tiba-tiba datanglah tiga orang, ibu, bapak, dan seorang gadis kecil berusia mungkin sekitar kelas 5 SD dan gw asumsikan kedua orangtuanya itu mungkin nenek dan kakeknya karena terlihat terlalu tua untuk jadi orangtuanya, sepertinya mereka termasuk orang-orang kalangan the have. Kedua orangtua itu celingak-celinguk sebentar ke dalam dan bicara ke petugas yang mendaftar tamu. Dari yang gw tangkep, si petugas berusaha menjelaskan kalo saat itu resto lagi rame dan kalo mau mereka masuk daftar tunggu. Si gadis kecil kelihatan gelisah, jelas sekali kalo dia kelaparan yang langsung ditenangkan sama neneknya. Nggak lama mereka keluar dari tempat itu sambil sang kakek menggerutu kalo dia “males” makan di situ.

Oh, betapa rasa lapar dan rengekan anak kecil bisa membuat seseorang kehilangan kesabaran. Betapa rasa lapar membuat kita merasa ingin melahap seekor kuda sampai habis. Betapa rasa lapar membuat setiap orang yang nggak bisa memenuhi keinginan kita terlihat sangat buruk, menyebalkan dan bahkan jahat.

Lalu (bila mereka muslim, dan gw yakin karena sang istri mengenakan atribut keagamaan) apa gunanya setiap tahun mereka berpuasa? Apa mereka sekedar menjalankan “kewajiban setahun sekali” tanpa mendapatkan makna dari apa yang telah mereka lakukan? Mereka mampu menahan lapar dan haus (dan mudah-mudahan nafsu yang lain) selama kurang lebih 13 jam, trus kenapa nggak bisa sabar nunggu paling nggak setengah jam?

Dan mungkin hari ini gw belajar sesuatu bahwa kesabaran adalah mata pelajaran yang akan terus dipelajari seumur hidup 🙂

Untitled Anger

Gw inget, dulu waktu gempa besar melanda daerah Padang, semua orang tiba-tiba “berteriak” dan “merintih” di status update mereka. Lalu gw berkomentar, simple, gw cuma bilang daripada nulis kata-kata lebay melambai lebih baik kita langsung melakukan apa yang kita bisa, berdoa khusyu, meluangkan waktu sedikit baca yasin setelah shalat atau bahkan langsung nyumbang apa dibutuhkan untuk para korban. Dan gw masih inget, seorang Ibu Peri menilai gw sebagai orang yang tidak peka terhadap orang-orang yang kesusahan, kasarnya ge terkesan sebagai orang yang nggak perduli sama orang yang terkena bencana. Mungkin (mungkin nih ya) satu-satunya kesalahan gw adalah gw nggak ngomong di status update kalo saat itu gw menyempatkan diri baca yasin setelah shalat, berdoa dengan panik memohon apapun supaya situasi seperti ini mereda dan mendoakan semua para korban. Ibu Peri tidak akan pernah tahu itu, kan Bu? Well..persetan dengan anda Bu, karena untuk saya berdoa bukanlah sebuah narasi akan drama tragis di facebook.

Tapi gw rasa Ibu Peri harus lihat sebuah status tolol milik teman dari teman gw yang ditunjukkin ke gw. Orang ini menulis bahwa dia bosan dengan berita-berita di TV yang isinya tentang tsunami Jepang terus menerus, orang ini bilang urusan dalam negeri lebih penting daripada berita bencana, orang ini sangat menunggu kasus-kasus konyol macam dagelan Gayus dibahas di TV. Orang ini juga yakin kalo berita-berita tentang tsunami Jepang akibat disetir “pihak Amerika” dan beberapa pihak yang menurut gw sangat mengandung SARA. Lihatlah betapa bodohnya orang-orang jenis ini. Mereka berapi-api, percaya sama drama dalam negeri yang betul-betul konyol dan melupakan peringatan yang sebenarnya di dalam bencana yang baru aja terjadi.

Mau tahu siapa yang “menyetir” tsunami? TUHAN. Tuhan yang “menampar” lewat bencana itu supaya dagelan-dagelan tolol beserta penonton-penontonnya yang nggak kalah tolol berhenti berbuat tolol dan segera mengingatNya.

Untuk orang dengan status tolol tersebut, pergilah anda ke tanah Aceh, lihat kapal besar yang nyangsang di tengah kota atau pergi sana ke puncak Merapi, lihat sepeda motor yang meleleh menempel ke tanah, kalo lo masih bilang dagelan Gayus jauh lebih penting daripada berita-berita itu, man…kayanya lo pasien pulang paksa dari klinik mental atau paling-paling lo punya kecenderungan idiot.

Maaf atas kata-kata kasar gw, tapi baru kali ini ada orang tolol bikin gw marah…

“Role Model”

Well…katanya sih hari ini Hari Perempuan Sedunia. Oke, sebetulnya peringatan-peringatan seperti itu nggak terlalu menginspirasi gw akan hal-hal “emansipasi”. Namun, kebetulan kemaren gw sempet baca artikel di OMG Hamil di Luar Nikah, Natalie Portman Dikritik tiba-tiba gw berpikir tentang sesuatu.

Pertama, gw salut sama gubernur yang mengkritik secara langsung orang-orang seperti itu (maksud gw, artis yang hamil di luar nikah dan digembar-gemborkan, bukan cuma Natalie Portman tentu saja) gw pikir…akhirnya! Ada juga seorang pejabat yang mampu menyentil hal-hal seperti ini dengan alasan yang rasional. Kalo disini ada orang yang ngomong kaya gitu pasti dibalikin lagi kesalahan-kesalahan orang yang ngomong tersebut. Yah..manusia…

Masalah hamil di luar nikah ini sebetulnya cukup menganggu buat gw. Selain karena diperkosa, hamil di luar nikah mestinya nggak dijadikan sebagai pilihan. Tanpa bermaksud menghakimi, gw rasa ada pihak-pihak tertentu yang (menurut gw) menjadi salah satu faktor yang mendorong statistik kasus ini terus meningkat dari waktu ke waktu (apa omongan gw udah terdengar cukup membosankan? :D)

Menurut lo, kita tahu gimana cara ciuman dari mana? Nggak mungkin kedua orang tua lo ngasih contoh di depan mata tentang gimana itu ciuman, atau gimana itu berhubungan badan, paling banter mereka cuma ngasih wejangan aja. Akui saja, kita lebih banyak tahu hal-hal itu dari film, barat terutama. Bahkan film untuk ukuran remaja aja nggak kurang dari adegan bercumbu yang dilanjutkan pertanyaan “Kamu pakai pengaman?”. Lalu produser-produser film murahan di negara inipun mulai menirunya. Gw masih inget banget dulu “kejebak” nonton film yang dibintangi artis cantik berinisial TK (oke, jangan tanya kenapa gw bisa nonton tu film, salahkan rasa bosan gw saat itu yang tiba-tiba bolos kerja dan main ke mall tanpa tujuan!), film yang digadang-gadang sebagai “American Pie”-nya Indonesia, dimana seorang seksolog terkenal negeri ini ikut main di film itu dan terlihat sangat nggak berwibawa (gw nggak tahu ya gimana pendapat beliau itu, tapi bagi gw itu seperti ngejatuhin reputasinya sendiri).

Okelah, kita-kita yang tinggal di kota besar kebanyakan punya selera dan nggak memilih film-film seperti itu, tapi yang di daerah terpencil? Yang sangat mengidolakan artis lokal (yang mana ketika nama artis itu disebut kita memutar bola mata) (oke, GW yang memutar bola mata) dimana mereka menjadikan artis tersebut sebagai panutan?

Lalu artis-artis tersebut, idola mereka, diberitakan hamil tanpa suami tapi tetap tertawa dan bahkan seperti bangga mengumumkan kalau bayi dalam kandungannya sehat-sehat saja, seakan itu sama sekali bukan masalah dan semua orang bisa seperti dia? Role Model.

Ada yang bilang “Jangan lihat negatifnya, yang penting kan karyanya”. Betul, tapi sekali lagi gw tekankan orang-orang ini..yang di negara ini disebut dengan “Artis” adalah Role Model bagi penggemarnya, pahlawan bagi pengagumnya, inspirasi bagi setiap tindakannya, dalam dalam tingkatan yang lebih ekstrim, mereka akan melakukan apa yang idola mereka lakukan.

Kalo yang hamil di luar nikah ini orang berduit, mereka mungkin bisa ngatasin semua masalahnya, entah diaborsi atau dirawat beneran. Lah kalo orang yang nggak punya? Itu sebabnya setiap hari yang kita denger di program berita kriminal pasti setidaknya ada dua berita tentang bayi yang dibuang.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, itu sebabnya kenapa hampir setiap orang menganggap hari pernikahan salah satu momen terbesar dalam hidup mereka, karena mereka akan memasuki fase hidup yang baru, membangun rumah tangga, punya keturunan, hidup yang bener-bener berbeda ketika membentuk keluarga baru. Setiap agama pun mengagungkan ikatan pernikahan, karena itu salah satu yang membedakan kita dengan hewan, bukan?

Dan gw rasa hampir semua orang pasti tahu kalo seks bebas itu beresiko tinggi mendatangkan penyakit. Gw rasa kalo semua orang bener-bener sadar akan hal ini pasti secara sukarela akan berhenti dari kebiasaan kumpul kebo.

Itu sebabnya gw ngerasa sedikit terganggu dengan pemberitaan waktu seorang artis lokal SM yang waktu itu sempet heboh karena hamil di luar nikah, ibunya ngomong di depan media seakan itu hal yang biasa. Oke dia mendukung anaknya, tapi mommy… tahukah dengan raut wajah bahagia menceritakan anak anda yang hamil tanpa suami itu anda baru saja mencontohkan sesuatu yang salah pada seseorang? Anak anda bisa merawat bayinya karena anda sekeluarga mampu, tapi seseorang yang anda “beri contoh” menjadi seperti anak anda mungkin aja anak seorang petani miskin yang hidupnya nggak seberuntung anak anda yang glamor?

“Hey! Kalian bisa seperti saya! Saya hamil, tidak punya suami, dan saya tetap bisa hidup. Jadi tidak apa-apa!” Role Model.

Untuk hal-hal kaya gini gw mungkin sedikit lebih konservatif, karena wanita-wanita yang hamil tanpa suami lalu hidupnya indah nggak sebanyak yang kita lihat di film-film Hollywood. Gw juga nggak menyudutkan para “Artis” tapi sayangnya lebih dari separuh masyarakat terutama perempuan remaja dan ibu rumah tangga percaya pada tayangan infotainment yang sangat tidak sehat itu. So stop looks like whoring around, would you?

Dan selamat Hari Perempuan Sedunia! Semoga kita bisa lebih bijaksana menjadi seorang perempuan, bijaksana dalam bertindak, berkata-kata dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Another Blur Blabber

Karena isu telepon pintar gw yang menurut gw sangat bodoh karena nggak mau diam sejak seseorang menambahkan nama gw ke grup ex teman-teman kuliah dulu, maka beberapa hari ini gw ubah ke modus “hening”. Ketenangan itu ternyata harus dibayar dengan ketertinggalan informasi akan berita duka dari temen gw dan satu unggahan foto yang bikin gw ketawa sekaligus kaget.

Well, gw harap nggak ada mantan temen kuliah gw yang baca ini blog 😀

Dulus sekali, gw pernah suka sama seseorang di kampus yang sama tapi fakultas yang berbeda, oke sebut aja namanya Lio. Gw kenal Lio karena gabung di sebuah klub beladiri kampus. Sejujurnya, gw nggak tahu pasti apakah rasa suka gw dulu itu serius apa nggak, yang gw inget…I crushed every time I saw him every single day. Lio inideket sama temen gw, namanya Lia (for easy :D) deket dalam artian (yang gw lihat) sebagai temen, sering nonglrong bareng, cerita-cerita dan sebagainya, karena pembawaan Lia yang cenderung “nggelendot” ke setiap orang, gw memandang mereka biasa aja.

Beda sama gw, yang nggak terlalu akrab sama banyak laki-laki kecuali untuk urusan tugas kuliah, gw emang nggak berani sama yang namanya deketin cowok (pada waktu itu ya hahahaha..setelah itu mah sorong ke kanan sorong ke kiri :D)

Akhirnya gw cerita sama Lia…yah, cuma cerita ketertarikan gw sama Lio. Trus entah gimana (gw agak lupa prosesnya) terakhir yang gw tahu Lia bersedia “mendekatkan” gw sama Lio. Mungkin salah gw juga kali ya yang terlampau minderan dan penakut, gw lebih suka menghindar setiap kali latihan dimana ada gw, Lio dan Lia, lebih tepatnya pura-pura cuek, tapi mau 😀

Suatu hari, gw inget banget waktu itu sore, di toilet perempuan sekitar lima belas menit sebelum gw masuk kelas untuk ujian. Lia bilang ke gw, dia minta maaf (dan dia ngomong dari balik bilik toilet, setelah gw buka pintu dia udah kabur duluan) karena dia udah jadian sama Lio.

Perasaan gw saat itu? Antara biasa aja, kecewa dan kesel kenapa dia ngomong kaya gitu pas gw mau ujian! Tapi karena gw profesional, hal itu nggak mengganggu konsentrasi ujian gw (yaiy! :D). Waktu berlalu, jelas Lia nyaris kelihatan menghindar dari gw sejak saat itu. But I played it cool tapi kejadian itu bikin gw bersumpah nggak akan pernah percaya orang lain selain apa yang gw lihat sendiri, terutama nggak akan percaya sama yang namanya mak comblang. Gw juga masih inget betapa gw jadi sedikit bitchy sama temen-temen gw sendiri gara-gara itu. Meski begitu gw menyangkal terhadap diri gw sendiri kalo gara-gara Lia lah gw seperti itu.

Lalu pas wisuda mereka juga terlihat berdua, dan gw pikir…oke, ternyata emang mereka saling suka.

Meski begitu saat itu gw bertanya-tanya, sama Lia terutama karena gw nggak terlalu kenal Lio. Kalo dia emang suka sama Lio sebelum gw bilang gw suka sama dia, kenapa dia mesti ngejanjiin gw untuk bantuin? Dan kalo tiba-tiba setelah gw cerita trus dia juga suka sama Lio, apakah itu sedikit…bitchy?. Kalo gw yang ada di posisi Lia yang no.2 gw bagaimanapun gw nggak akan nyakitin temen gw, apalagi yang udah gw “janjiin”.

Singkat kata, satu jam yang lalu ternyata Lia ada di grup mantan teman kuliah di BBM dan dia mengunggah foto suami dan dua anaknya, suami itu adalah Lio. They’re married and I’m laugh. Seriously, I’m laugh 😀 😀 😀 Jujur gw nggak pernah berharap ketemu Lia lagi, bukan karena Lio tapi karena sikapnya waktu itu.

Betul, itu semua udah berlalu tapi salah satu sifat jelek gw adalah selalu merasa terganggu setiap kali orang yang nggak pengen gw lihat muncul kembali. Maaf ya maaf pada waktu itu, tapi muncul kembali…I don’t know.

Yah, sebetulnya lucu aja pas gw lihat foto itu, kaget-kaget gimana hahahaha 😀

But life is just life, and maybe feeling is only a feeling. Life sometimes can be so freak and funny made this bitchy mind diggin stupid ideas to write.

Gw berusaha nggak dendam dengan orang-orang macam Lia, cuma kadang-kadang gw lebih suka mereka menyingkir dengan rasa bersalah.

Kejam, oke ulangi:

Gw berusaha nggak dendam dengan orang-orang macam Lia, cuma kadang-kadang gw lebih suka nggak ketemu mereka lagi di hari-hari ke depan, forgive and forget..rite? Meskipun nggak bisa dipungkiri bahwa dunia ini bukan cuma milik gw, dunia ini juga milik orang lain yang punya kehidupan di atasnya, salah satunya Lia dan keluarga kecilnya.

Another blur blabber, guys…another blur blabber 😀