Cukup Bertanggungjawabkah Informasi Anda?

Setiap informasi yang kita berikan ke orang lain seharusnya bisa dipertanggungjawabkan, apalagi kalo informasi tersebut kita dapat dari orang lain dan kita terusin lagi ke orang yang lain pula.

Mungkin, beberapa orang mengenal gw sebagai orang yang paling jengkel sama yang namanya Broadcast Message tentang info-info yang selalu gw pertanyakan kebenarannya. Mungkin lo juga bosen denger keluhan gw tentang itu semua, tapi sebagian besar BM biasanya hoax.

Waktu awal-awal punya BB, gw juga termakan kebiasaan ngirim dan nerusin BM yang nyampe ke gw. Setelah lama-lama ternyata banyak yang isinya cuma hoax, sejak saat itu gw selalu berusaha mencerna lagi semua informasi yang gw terima dan bahkan (a little confess to make) gw jarang nerusin lagi semua informasi-informasi itu, meskipun banyak diantara dibubuhkan “kalimat ancaman” kalo gw nggak nerusin berarti gw nggak perduli, jahat akan kena kutuk or something…

Sebegitu mengganggunyakah hal itu bagi gw? Gw bilang IYA. Seluruh masyarakat yang ada di atas bumi ini semakin hari semakin menularkan sakit jiwa secara akut, tapi yang lebih parah adalah yang menularkan kebodohan yang akhirnya membuat orang menjadi sesat. Coba aja lo lihat ada berapa banyak situs-situs berita yang diparodikan punya luar negeri yang ngeberitain hal-hal yang nggak bener alias cuma buat lucu-lucuan tapi dikemas seperti serius sama mereka? Apa semua orang tahu akan hal ini?

Gw masih inget banget waktu salah seorang di kontak list BB gw dengan semangat 45 mem-BM tautan tentang berita bahwa Justin Bieber adalah laki-laki umur 60-an, paedofilia dan pake kedok JB untuk ngedeketin anak-anak di bawah umur. Atau waktu seseorang memposting bahwa Paris Hilton masuk islam dan yang menyedihkan banyak sekali orang yang percaya akan semua itu, bahkan rela bertengkar dengan orang yang mereka nggak kenal di forum komentar demi membela bahwa berita itu benar! Mereka sibuk mencaci maki sesama dan menghina…apa itu namanya kalo nggak adu domba jadinya?

THAT WAS PATHETIC, PEOPLE!!

Oke, itu cuma berita hiburan. Lalu gimana informasi-informasi yang pake bawa-bawa keyakinan? Yang ditulis dengan penuh emosi dan provokatif? Atau informasi yang biasa gw sebut “siraman rohani” tapi dengan catatan kaki di bawahnya barangsiapa yang nggak nerusin pesan ini akan sial? Atau kalo lo nerusin pesan ini “Ke 10 orang temen” maka dalam satu jam lo akan dapat kebahagiaan?? What the..?? Gw percaya Tuhan, nerusin atau nggak nerusin tu pesan kalo Tuhan mau gw dapet sial ya sial aja. Kalo Tuhan menghendaki gw dapet kebahagiaan ya dapet kebahagiaan aja. Apa namanya itu kalo bukan bikin orang jadi musyrik??

Beberapa orang pernah gw sanggah tentang informasi yang mereka berikan, dan jawaban mereka seakan nggak terima, hampir semuanya punya jawaban yang tipikal “Cuma nyampein doang.” Buat gw “Cuma nyampein doang” juga butuh pertanggungjawaban. Menyampaikan amanah butuh pertanggungjawaban. Gimana kalo amanah yang kita sampaikan untuk orang lain itu nggak bener? Akan ada pihak yang namanya tercemar, akan ada pihak yang tersesat, jangan salah…itu tanggungjawabnya juga besar.

Mungkin buat sebagian orang, nerusin BM hanyalah suatu tindakan kecil. Tapi pernah nggak mikir apa yang akan terjadi kalo isi BM itu nggak bener, atau akan menyebabkan orang lain punya keyakinan yang salah?

Beberapa bulan yang lalu gw pernah posting satu tulisan Jahat Tapi Tidak Cukup Pintar Intinya gw bilang kalo penipu sekarang tolol-tolol. Tapi belakangan gw baru tahu kalo gw nggak sepenuhnya bener, penipu tolol itu masih bisa menang selama ada orang-orang naif yang percaya sama mereka, dan kali ini terjadi sama tetangga gw sendiri.

Mereka ditelepon sama orang yang ngaku dari Telkom, dikasih tahu kalo mereka menang undian dapet motor diundi dan udah di salah satu stasiun TV, tapi mesti beli pulsa dulu seharga Rp.300.000,- dan mereka betul-betul percaya. Kakak gw udah ngasih tahu kalo dia juga sering dapet telepon kaya gitu, itu penipuan tapi tetangga gw itu nggak dengerin kakak gw malah nambahin kalo orang yang telepon tadi akan ngirim orang TV untuk ngeliput pemberian hadiah tersebut. Yeah right..sebulan kemudian yang dia lakukan cuma menghindari kakak gw.

Gw nggak bilang mereka bodoh (well yeah..kadang), gw cuma mau bilang selama ada orang-orang yang nggak hati-hati dalam nerima informasi, akan selalu ada orang jahat atau bahkan iseng yang manfaatin kenaifan mereka.

Jadi maafkan kalo gw suka ketus setiap kali merasa terganggu, itu berarti hal yang bikin gw terganggu itu udah teruji kebodohannya dan berulangkali terjadi. Marilah kita sedikit lebih bijaksana nanggepin info-info liar yang ada. And please…be wise with your gadget, karena itu bisa berubah jadi “teroris sosial” lo sendiri.

NB: Waktu itu seseorang juga pernah BM sebuah tautan yang katanya untuk ngunduh ikon lucu-lucu di BB, pas gw buka ternyata itu tautan gambar pocong, so listen up son of a bitch…that was not funny…AT ALL, wish “they” haunted you all the time.

SARCASTIC

“I just try to be really really honest with people when I think that they suck,you know?..no one gets it..” -Santana of Glee-

Sarcasm is not a CRIME, it’s a witty-honest-semi mocking way to describe silliness around us 🙂

picture by demotivational posters gallery

Dagelan Stasiun

Udah agak lama sejak lulus kuliah gw nggak lagi berangkat naik kereta sampai hampir sebulan yang lalu dan terakhir kemaren diajak suami gw belanja suku cadang band-nya di Glodok. Gw setuju dan kami memutuskan untuk naik kereta aja, selain cepet jarak dari stasiun Kota ke Glodok juga cukup dekat.

Waktu tiba di loket tiket, tertulis di situ jadwal KRL Ekonomi AC yang “tidak lama lagi” akan berangkat adalah jam 9.15, denger pembicaraan calon penumpang di depan gw dengan petugas loket bahwa kereta tersebut ternyata belum datang. Gw sih nggak heran karena memang selalu seperti itu, bertahun-tahun dan “tradisi” itu belum berubah.

Ternyata di peron udah nangkring rangkaian gerbong KRL Ekonomi Non AC. Karena kami beli tiket untuk yang AC jadi…itu bukan KRL yang akan kami tumpangi. Karena KRL Ekonomi Non AC ini juga dari jadwal yang terlambat, otomatis setiap gerbongnya penuh sesak. Dan “tradisi” lain yang masih dipegang teguh para penumpang adalah beberapa orang masuk dan numpang di ruang masinis, juga penuh sesak. Nggak lama seorang laki-laki berseragam datengin ruang masinis di gerbong paling depan tersebut, tampangnya kesal dan berteriak “Turun bu, keretanya nggak akan jalan.”

Gw pikir keretanya rusak dan akan ada kekecauan penumpukan lagi, ternyata yang dia maksud “nggak jalan” adalah kereta itu nggak akan bisa jalan karena dia masinis kereta tersebut dan dia nggak bisa masuk ke ruang kemudi karena udah dipenuhi penumpang yang berjejal! Beberapa orang di peron ketawa, termasuk gw. Sungguh tontonan yang sangat menghibur. Kasihan juga itu masinis, udah mencak-mencak tapi nggak ada satu orang penumpangpun di dalam ruang kemudi itu yang nurut untuk keluar. Laki-laki yang paling pinggir di ruang kemudi itu malah cuek aja kaya orang budek. Karena nggak berhasil nyuruh penumpang keluar, akhirnya petugas keamanan berpakaian safari gelap pun mesti turun tangan untuk nyuruh penumpang-penumpang ngeyel tersebut keluar. Seorang ibu malah ada yang marah-marah disuruh keluar. Tidakkah semua itu begitu menghibur? 😀 😀 😀

Nggak banyak tontonan menarik di peron kecuali lihat padagang asongan yang jualan sembunyi-sembunyi, setiap ada satpam lewat mereka langsung membungkus dagangannya dengan kantong plastik hitam besar dan disembunyikan di bawah kursi tunggu. Ini salah satu perubahan yang gw lihat di stasiun ini, dulu di peron udah kaya pasar, banyak banget kios dagangan sekarang udah ditertibkan, diganti dengan bangku-bangku tunggu yang memang lebih dibutuhkan daripada kios makanan.

Jam 10.00, belum ada tanda-tanda KRL AC yang akan gw tumpangi datang, tapi mereka mengumumkan (oh..baik sekali..) bahwa “kereta anda” sudah ada di stasiun Pondok Jati, perkiraan gw akan makan waktu setengah jam untuk sampe ke Bekasi.

Jam 10.35, setelah bosan mandangin sekelompok ibu-ibu berseragam dari instansi pemerintahan yang mulai menggerutu kereta belum datang juga (gw menebak kalo mereka baru berangkat…jam segitu??) datanglah ini KRL yang bentuknya bagus, itukah keretaku tiba? Secara instingtif semua calon penumpang berdiri, merangsek maju sampe ke batas paling pinggir peron, lalu dari arah speaker yang serak-serak basah (kalo boleh gw jujur, speaker itu sepertinya udah harus diganti sejak sepuluh tahun yang lalu, karena yang gw denger cuma suara dari huruf vokal kalimat-kalimat yang disampaikan si petugas) bahwa kereta tersebut akan masuk dipo, alias nggak narik, alias penumpang kecewa sambil meneriakan “Huuu..!!!”

Lima belas menit kemudian datang lagi KRL bagus tapi masuk ke peron yang ada di seberang peron tempat gw berdiri dimana ketutup sama KRL yang lagi berhenti dan akan masuk dipo tadi. Nggak ada pengumuman apa-apa, hampir semua calon penumpang kebingungan, bertanya-tanya apakah itu KRL yang terlambat tersebut yang akan ditumpangi mereka. Sebagian berinisiatif berlari-lari pindah ke peron seberang, gw juga hampir sempet ikutan lari tapi suami gw bilang mendingan tunggu aja karena nggak ada pengumuman apa-apa dan gw mulai emosi karena ketidakjelasan tersebut.

Nggak lama KRL yang ada di peron kami itupun bergerak dan mulai masuk ke dipo, digantikan KRL baru datang yang sudah pasti inilah KRL yang mestinya terjadwal untuk berangkat ke stasiun Kota jam 9.15 tadi. Untuk informasi, KRL-nya baru datang sekitar jam 10.50.

Masuklah gw ke gerbong berhawa sejuk itu dengan muka yang udah kusam. Oh iya, sekedar informasi aja sekitar sebulan yang lalu gw juga sama suami gw ke Glodok naik KRL, berangkat naik kereta Commuter (gw tulis jenis kereta sesuai dengan yang informasi tertulis di loket karcis) harga karcisnya Rp.9000,- lalu pulangnya dari stasiun Kota naik KRL Ekonomi AC dengan tarif Rp.4500,-. Nah kemaren terakhir ini gw naik KRL Ekonomi AC dengan tarif Rp.4500,- tapi gerbong yang gw naikin adalah gerbong kereta Commuter yang waktu itu pernah gw naik juga seharga Rp.9000,-. Semuanya sama, gerbongnya, AC-nya, tempat duduknya kecuali yang ini lampunya mati kalo Commuter yang waktu itu gw naikin lampunya nyala. Dan memikirkan hal tersebut seperti menebak-nebak masa depan yang mana semakin dipikirkan semakin bikin pusing, akhirnya gw menyimpulkan kalo yang membedakan adalah lampu di gerbong tersebut. Menyala dengan tarif Rp.9000, dalam keadaan mati dengan tarif Rp.4500,-. Joking. I mean sarcastic joking.

NB: I found out lately kalo yang membedakan harga itu ternyata tarif Rp.9000,- adalah KRL Ekspress dan yang Rp.4500,- nggak Express alias berhenti di semua stasiun hehehe..dan ternyata “Commuter” itu adalah nama kereta tersebut, baik yang ekonomi maupun express. Wow..thx to my sister yang alumni penumpang setia KRL selama beberapa tahun terakhir ini hahahaha 😀

Hampir jam 12 siang KRL adem itupun sampe di stasiun Kota dan gw menyadari kembali satu “tradisi” lain yang belum juga ditinggalkan oleh pihak penyedia jasa kereta ini. Peron-peron di stasiun Kota itu nggak setinggi peron-peron stasiun yang tergolong baru. Peron di sana masih sangat rendah dan alangkah bahagianya kalo salah satu ada yang mengalah (pilih salah satu): a) Peronnya ditinggikan, sesuai gerbong-gerbong kereta saat ini b) Tangga yang nempel di bawah gerbong gimana caranya bisa di”canggihkan” bisa nongol keluar waktu keretanya berhenti khusus di stasiun yang peronnya rendah atau c) Di peron-peron tersebut disediakan tangga-tangga kecil beroda yang bisa digeser sesuai letak pintu gerbong untuk turun penumpang.

Kenapa? Karena, kalo kondisi orangnya masih seperti gw: muda, berpakaian kasual dengan sepatu santai, akan oke-oke aja loncat (ya, gw bilang “loncat” secara harafiah) dari ketinggian hampir dua meter (sebetulnya itu bahaya juga, karena dengan sepatu flat senyaman Crocs pun gw masih ngerasain semacem tegangan syaraf setelah loncat dari gerbong ke peron). Tapi kalo penumpangnya manula, ibu-ibu, para ibu hamil, anak kecil, cewek-cewek dengan seragam yang mengharuskan mereka pake rok pendek dan sepatu hak tinggi… tidakkah para penyedia jasa atau pengelola stasiun ngerasa sedikit nggak tega dengan penumpang-penumpang tersebut yang hampir selalu ada setiap hari di stasiun tersebut? Sedikit rasa kasihan? Sedikit rasa empati?

Dan yang terakhir yang mampu bikin gw tertawa di hari yang melelahkan itu, di luar toilet stasiun, ada dua buah bangku panjang saling berhadapan, di dekat kursi-kursi tersebut ada papan bertuliskan “Ruang Untuk Merokok”. Saat ini gw mengizinkan kalian untuk membayangkan senyum sarkastis gw yang paling manis. “Ruang” tersebut ada di luar bangunan, dimana tidak jau dari “Ruang” tersebut juga banyak orang yang merokok, bahkan di dalam ruang sungguhan pun ada banyak pula orang yang merokok! Jadi gw rasa “Ruang” tersebut sedikit tidak terlalu penting keberadaannya…maaf! 😀

Oke?

NB: Ini cuma “Potret” 😀

Another Crime Alert!

Jangan pernah meremehkan KTP atau SIM yang hilang. Kalo yakin hilang di suatu tempat sebaiknya cepet bikin laporan ke polisi. Kakaknya kakak ipar gw terseret masalah sama suatu komplotan gara-gara dompetnya hilang.

Sebut aja Ardi (bukan nama sebenarnya) si kakak dari kakak ipar gw, pulang dari urusan kerjaannya di daerah Tangerang dan mampir untuk shalat di sebuah masjid. Karena celana yang dipakainya kotor, khusus untuk shalat dia ganti pake sarung, celananya dia taruh di belakang dia. Selesai shalat, semua isi di kantong celananya, HP dan dompet udah hilang. Salah satu jamaah yang baru dateng emang lihat ada orang keluar terburu-buru dari masjid. Akhirnya seorang imam masjid tersebut berbaik hati minjemin telepon. Ardi kirim SMS ke no HP yang dicuri orang tadi bahwa dia cuma minta KTP sama SIM-nya aja dibalikin dan ditunggu sampai Ashar di masjid itu. Sampai Ashar pencuri itu nggak munculin batang hidungnya, akhirnya Ardi pulang dan nitip pada imam masjid tadi kalo-kalo dompetnya ketemu.

Malamnya ketika dia udah sampe di rumah tiba-tiba didatengin 4 orang laki-laki yang terus nyerocos kalo Ardi udah nyuri laptop seseorang! Komplotan itu ternyata megang SIM-nya Ardi dan mengaku kalo SIM tersebut ada di deket tas laptop dimana laptopnya udah hilang, dan tas itu berlokasi di daerah Cengkareng (jauh amat?). Secara logika ya, pencuri manapun kalo mencuri akan berusaha keras nggak ninggalin jejak sedikitpun, lha ini mau nyuri laptop kok yo ninggalin SIM?

Sementara tu komplotan bersikeras mau bawa Ardi ke Cengkareng dan Ardi pun bersikeras nggak mau pergi karena dia ngerasa dompet beserta isinya hilang, ketua RT disitu akhirnya menyarankan untuk nyelesain masalah ini di kantor polisi. Awalnya tu komplotan marah dan nggak mau ke kantor polisi, dia bahkan ngaku kalo dirinya juga polisi. Setelah ditantang sama ketua RT (“Ya bagus kalo lo polisi, makanya ke kantor polisi aja biar semuanya clear!) akhirnya mereka semua ke kantor polisi. Si komplotan berempat ini naik motor berdua-berdua, anehnya dua orang temennya kaya sengaja ketinggalan di belakang dan baru nyampe di kantor polisi satu jam kemudian setelah rombongan yang lain nyampe.

Setelah laporan, polisi nanya identitas salah satu komplotan yang ngaku polisi tersebut..eh, ujung-ujungnya dia ngaku kalo dia bukan polisi. Kakak ipar gw akhirnya nggak lamapun dateng ke sana, si komplotan masih bersikeras mau bawa Ardi ke daerah Cengkareng. Akhirnya kakak ipar gw balik ngajakin “Oke, kita semua ke sana, ikut di mobil gw aja.” Salah satu orang dari komplotan tersebut ngeles lagi, intinya dia ngerasa nggak aman kalo kakak ipar gw ikut dan nuduh mobil kakak ipar gw itu sewaan yang takutnya akan bawa kabur mereka (dari sini gw bertanya-tanya, ini komplotan niat jahat apa cuma orang stress yang kabur dari rumah sakit jiwa?). Salah satu dari komplotan itu terus ngomong nyerocos berapi-api seakan-akan berusaha mancing emosi. Kakak ipar gw jawab “Saya ini adik kandungnya jauh-jauh dari komplek Kejaksaan, masa iya saya mau celakain orang?”. Si komplotan tiba-tiba marah, katanya jangan bawa-bawa Kejaksaan trus mereka semua langsung pergi!

Sebelumnya mereka juga ngancem mau laporin Ardi ke kantor polisi daerah Cengkareng (yang katanya lokasi di mana “laptop” yang mereka ceritain itu hilang) dan anehnya SIM itu tetep mereka pegang. Si polisi tadi juga kaya nyalahin Ardi karena nggak langsung laporin KTP dan SIM-nya yang dicuri yang apesnya keburu dateng tu komplotan penjahat. Polisi itu bilang baru bisa bikin surat keterangan hilang kartu identitas Ardi setelah 15 hari dan memastikan nggak ada laporan tentang pencurian laptop yang diancamkan komplotan tadi.

Complicated. Kasian juga, kalo udah kena apes ya maka apeslah. Pelajaran buat semuanya untuk selalu berhati-hati, apalagi gw ngerasa makin hari hukum di Indonesia udah setipis kabut. Meskipun kita bener tapi kita nggak bisa ngandelin pihak yang seharusnya bisa kita mintain perlindungan, salah-salah malah kita yang jadi tersangka. Inget aja kasus konyol mahasiswa di Jogja yang harus masuk sel dan kena denda cuma gara-gara pas ada razia motor dia kebetulan lagi bawa pisau lipat, padahal itu alat standar untuk dia kerja sebagai relawan di Merapi. Pisau lipat! Ada berapa juta orang di negara ini yang bawa pisau lipat di dalem tas sehari-hari dan mahasiswa ini yang kena apesnya!

Setiap orang harus bisa melindungi dirinya sendiri, hampir udah nggak ada pihak keamanan yang bisa kita percaya, jaman sekarang ditolong orang hanya mengandalkan belas kasih dan kejujuran orang yang menolong, hukum udah makin ribet dan masyarakat awam dan terutama nggak berduit jarang ada yang survive dari hukum-hukum konyol…

_____________________________________________________________________________________________________

Never underestimated if you lost your ID or driving license. When you realized your ID or the driving license had lost you better as soon as possible made a report to the police. The elder brother of my brother in law named Ardi was dragged into complicated problem started when he lost his wallet.

Ardi was on the way home from his work in the Tangerang area and stop to pray in a mosque. Because of trousers that he worn were dirty, especially to pray substitute with the sarong, his trousers he placed behind him. Be finished prayed, all the contents in the pocket of his trousers, the mobile phone and the wallet has was lost. One of the congregations lately said he saw the person went out hurried from the mosque. Finally a mosque priest was kind-hearted borrowed him the telephone. Ardi sent the SMS to his own number that was stolen by this person that he only asked them to return his ID card and his driving license and he would waited for until Ashar time (Ashar time is about afternoon) in the mosque. Until Ashar the thief not showed up, then finally Ardi came home and asked to this mosque priest to called him if he found his wallet.

At night when he has arrived home suddenly there’s 4 men come looking for him who accused that Ardi has stole somebody’s laptop! The gang evidently arrest Ardi’s license and claimed if the license was near of the laptop bag where his laptop has lost, and the bag was located in Cengkareng area (very far? ). Logically, any thief will try hard not to left some tracks, now how come if someone stole a laptop and left his license??

Meanwhile this mysterious gank wanted to bring Ardi to Cengkareng and Ardi then insisted not wanted to go because he felt the wallet as well as his contents was lost, the chairman RT (a person who responsible for the area of residence where Ardi lived) there finally suggested to resolved the problem in police station. Initially the chief of the gank were angry to heard that and not wanted to police station, he said (with a little bullied) if himself also police. After being challenged by the chairman RT (Yes good if you’re a police, therefore to police station to make it clear! ) then finally all of them went to police station. The gank whose came as 4 men by riding two bikes which two person on a bike, strangely the two other looks deliberate late behind and arrived at police station one hour afterwards after the others arrived.

After made the report, the police asked the identity of the gank’s members whose said he’s a member of police which finally he admit that he’s not. My brother-in-law came to the police station after he got called meanwhile that gank was still insisting wanted to bring Ardi to Cengkareng. Then brother-in-law’s said to the gank “Ok, all of us will go there by my car.” One of the gank refused, he said basically he felt not safe if they used my brother-in-law’s car then accused that the car maybe a rental car and frightened him will they safe until Cengkareng (??) (I wondered, is this the gank with bad intention or a bunch of stressed people that bolted from the psychiatric hospital? ). One of them continued bullied looks like trying to pissed off everyone there. My brother-in-law explained “He’s (Ardi he means) my brother and I came here was very far from my house at Attorney General’s Office residence in Bekasi, why I wanna hurt you??” . The gank was suddenly angry, he said should not mention the Attorney General’s Office then all of them at once went!

Beforehand they also threatened would report Ardi to Cengkareng office of regional police (he said it was the location where the “laptop” was lost) and strangely they still kept Ardi’s license. The police was also “blamed” Ardi because didn’t reported his ID and license faster after he realized it was stolen. The police also explained that they only could make the certificate of this lost the after 15 days and decisive not had the report about the theft of the laptop that whose threatened by that gank.

Complicated. What a poor if has be hit by unlucky then it’s just…unlucky. The lesson for all of them to always be careful, moreover I felt law in Indonesia nowadays has as thin as the fog. Although being straightened by us but we couldn’t count to the side that necessarily we could asked for protection, a little mistakes could make turn into suspect. Remember about the foolish case of a college student in Jogja who was incarcerated at prison just because one day he passed the traffic raid especially for motorbike he by chance still brings the pocket knife, in fact that the standard implement for his work as the volunteer in mount Merapi. The pocket knife! How many millionss of people in this country that brought the pocket knife their bag everyday and this student that be hit by unlucky!!

Anyone must be able to protect himself, almost has not had the security side that could we believed, nowadays being helped by someone only relied on the mercy and the honesty of the the person that helped, the law has was increasingly complicated and the lay community and especially the poor one rarely survived from silly laws…

Untitled III (Sedikit Keprihatinan)

Beberapa hari yang lalu gw baca note temen gw, seorang ibu muda dengan anak yang masih kecil..usia TK sepertinya. Temen gw itu mengeluh, keluhan yang sama yang akhir-akhir ini lebih sering gw denger dari banyak ibu-ibu muda dan bahkan dari nyokap gw yang guru TK (sekarang udah pensiun sih). Zaman telah berlalu, konon saat ini hampir semua SD hanya mau terima anak yang udah bisa membaca dan menulis. Bahkan banyak SD di Jakarta hanya menerima anak-anak yang punya ijazah TK. Dari situ aja gw udah mulai bertanya: trus kalo yang orangtuanya pas-pasan nggak bisa masukin anaknya ke TK terlebih dahulu, gimana? Bukankah katanya SD itu bagian dari program wajib belajar? Kalaupun memang wajib belajar (wjib adalah harus, tidak boleh tidak, iya kan?) trus kenapa masih banyak anak-anak yang nggak sekolah di usia SD?

Kembali ke temen gw, dia kurang setuju dengan sistem pendidikan usia pra sekolah yang menurutnya yang belum saatnya dikenalkan pada anak-anak seusia mereka. Kalo gw nggak punya keponakan usia TK, mungkin gw akan bertanya: separah itukah? Sebetulnya keluhan temen gw ini udah sering gw denger dari ibu-ibu muda yang lain, dengan isi dan nada yang sama. Sayangnya, saat ini gw juga punya keponakan usia TK juga dan melihatnya pun emang cukup bikin iba.

Yang gw inget waktu gw TK, kerjaan gw setiap hari adalah main, nyanyi, menggambar, bersenang-senang dan gw punya semangat untuk belajar tulis baca ketika masuk SD. Keponakan gw yang masih TK itu setiap hari datang ke sekolah, disodorin hafalan, belajar nulis dan full PR Senin sampe Jumat. Bahkan libur panjang aja dikasih PR. Waktu itu gw cuma berpikir kalo ya..zaman emang udah berubah.

Suatu hari kakak gw (ibunya) pulang jemput keponakan gw itu dan bilang kalo keponakan gw diskors, nggak boleh sekolah dulu beberapa hari dan baru boleh masuk hari Senin minggu depannya. Jelas gw kaget (termasuk nyokap gw tentu aja, selama 40 tahun jadi guru TK baru kali ini dia denger anak TK diskors). Alasan si guru katanya keponakan gw ini melakukan beberapa kenakalan: lari-lari dan teriak di kelas sambil mengucapkan beberapa kata yang kurang sopan dan ngacak-ngacak crayon di dalem lemari. Gw akui, keponakan gw ini emang agak hiperaktif dan dia nggak bisa melakukan itu semua kecuali ada yang ngajak. Empat orang termasuk keponakan gw di sekolah itu, diskors. Sekolah yang dulu kita pilih karena dianggap punya pendidikan agama yang bagus, men-skors anak kecil yang bahkan nggak ngerti apa itu skors dan nggak ngerti kenapa bisa sampe dihukum nggak boleh sekolah. Setelah besoknya kakak gw ngadep ke guru dan kepala sekolahnya (dan mereka tetap menyangkal bahwa mereka udah men-skors keempat anak tersebut..hello!) akhirnya keponakan gw pindah ke sekolah dimana kepala sekolah di tempat barunya tertawa denger anak itu diskors.

Gw inget, dulu waktu gw TK gw sempet sekolah di tempat nyokap gw ngajar. Ada temen gw..beuh..nakal senakal-nakalnya..tapi guru-guru di tempat nyokap gw ngajar itu nggak ada sama sekali yang bahkan pake nada jengkel pun marahin dia. Ditegaskan iya, tapi diomelin sampe nyubit? Nggak ada. Dia cuma anak kecil, pasti punya kelemahan, pasti ada satu bujukan yang bikin kenakalannya mereda. Seorang anak nggak akan terus menerus nakal, pasti ada satu hal yang bisa bikin dia diem. Lalu gw mulai meragukan kualitas pengajar-pengajar sekarang (gw nggak sebut pendidik, karena mendidik jauh lebih sulit daripada mengajar, seumur hidup gw cuma ada beberapa guru yang gw anggap berhasil mendidik, yang lain cuma sebatas mengajar).

Gw emang nggak ngerti ya tentang psikologi anak dan psikologi pendidikan. Tapi akui aja deh, berapa anak yang masih bersemangat sekolah setelah kelas 1 SD? Gw sendiri punya pengalaman traumatis tentang sekolah. Temen-temen SD gw pasti tahu dulu gw pernah alpha dengan alasan yang nggak jelas sewaktu SD. Bahkan orang tua gw pun nggak tahu alasannya. Guru-guru cuma menganggap gw malas sekolah, setidaknya itu yang ditulis di raport: “Mutia, kamu itu cerdas hanya saja kamu agak malas.”

Ya jelas aja gw males sekolah, kalo setiap hari gw merasa beberapa guru lebih memperhatikan anak-anak yang bisa ngedeketin guru tersebut! Gw tahu gw lemah dalam bidang itung-itungan, terutama matematika. Gw butuh berkali-kali penjelasan untuk bisa ngerti, tapi seorang guru waktu itu, nyuruh gw ngerjain soal di depan kelas, dan gw nggak bisa dia malah bilang gw bego (dalam bahasa daerah) dan besoknya kalo gw ada yang nggak bisa ngerjain soal, gw disandera sampe sore nggak boleh pulang. Bu, kenapa ibu nggak lebih bersabar mengajarkan saya sampai mengerti daripada menyandera saya di sekolah sementara temen-temen yang lain tertawa mengejek dari balik jendela kelas?

Okelah, saat itu gw terima dibilang goblok, tapi setelah gw berturut-turut dapet nilai di atas 7 untuk matematika waktu kelas 1 SMP, gw baru sadar kalo salah satu keberhasilan siswa terletak dari cara seorang guru mengajar. Gw nggak akan pernah lupa sama guru matematika gw waktu itu (sekarah udah almarhumah), betapa dia sabar ngajarin gw yang lemot ini. Sayang aja pas kelas 2 gurunya balik lagi kaya salah satu guru SD gw. Galak sih nggak, cuma beberapa beliau ini kalo udah ada satu murid yang udah ngerti, beliau selalu membandingkan dengan kami yang lemot “Dia aja bisa, masa kamu nggak bisa?”. Lepas dari kelas satu dengan pemikiran matematika itu menyenangkan dan naik ke kelas dua yang serasa kembali ke neraka angka, sejak saat itu gw paling benci sama yang namanya matematika. Selesai.

Setuju dengan pendapat temen gw bahwa masa anak-anak adalah masa emas perkembangan mental mereka, apa-apa yang terjadi (termasuk perlakuan orang lain terutama) pada masa itu akan membentuk masa depan mereka, mereka nggak akan pernah lupa akan pengalaman-pengalaman itu.

Gw sedikit kecewa memang akan sosok guru-guru yang pernah ngajar gw, tapi gw lebih kecewa lagi lihat sosok guru-guru saat ini. Beberapa temen gw ada yang guru dan salah satu (atau dua) diantaranya bikin gw lebih mempertanyakan lagi kualitas mereka. Bagaimana mungkin seorang guru di jejaring sosial nulis kalimat makian padahal banyak anak muridnya yang membaca? Yang lain bahkan selalu nulis kalimat penuh kebencian meskipun emang ditujukan kepada seorang ikon “musuh publik” di negara ini, tapi kalimat itu tetaplah bernada kebencian?

Lalu kelak gw punya anak nanti, beberapa tahun ke depan, harus gw titipin ke institusi pendidikan terbaik mana? Apakah masih ada nantinya tempat menimba ilmu yang baik itu? Apakah anak gw nanti tetep akan jadi bagian dimana usia 5 tahun udah harus jago matematika dan fasih bahasa asing? Apakah anak gw akan tetep jadi bagian “diskriminasi kemampuan” dimana kepintaran selalu dinilai dengan angka? Apakah angka yang tinggi bisa menjamin kejujuran seorang anak dimana dia nggak berbuat curang untuk mendapatkan nilai tersebut? Lalu dimana pelajaran “menggunakan hati” yang ideal yang diceritakan Andrea Hirata lewat Laskar Pelangi-nya? Masih adakah budi pekerti seperti itu? Masih tersisakah Ibu Muslimah lainnya di masa yang akan datang?

Kalo anak TK udah mengalami skors saat ini, trus lima tahun mendatang apa hukuman untuk nggak ngerjain PR? (dimana gw masih mengerutkan dahi, haruskan anak TK dikasih PR?) Nggak heran kalo saat ini gw lihat banyak jasa-jasa penjual skripsi yang bahkan udah berani pasang iklan di koran! Dapatkan nilai yang tinggi itulah anak kebanggaan orang tua.

Semoga kasus anak TK diskors cuma terjadi di eks sekolah keponakan gw itu aja, pelajaran untuk gw dan mungkin ibu-ibu yang lain untuk lebih bener-bener teliti milih sekolah, kalo ada rekomendasi lebih bagus. Untuk sistem pendidikan pra sekolah saat ini, gw nggak tahu siapa yang memulai, mungkin awalnya berniat baik yaitu untuk naikin standar kualitas anak, tapi sebaiknya lebih diperhatikan cara menyampaikan ilmu pada anak-anak. Ada kalanya anak-anak nggak ngerti kalo mereka lagi dihukum, jadi kadang ya sia-sia aja menghukum orang yang nggak ngerti lagi dihukum. Meskipun mereka kecil dan belum tahu apa-apa tapi memori mereka akan terus menyimpan apa yang orang-orang di sekitarnya katakan dan lakukan di masa itu. Tolong, lebih bijaksana lagi menangani anak-anak…

NB: gw baru aja baca satu artikel yang dishare kakak gw, semoga bermanfaat:
Kompas Female/Ada Apa dengan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia?

Everyday I Love You

Sering gw menyadari kalo hidup ini betul-betul nggak mudah. Apalagi dulu waktu awal-awal mau nikah buaaanyak banget orang bilang kalo pernikahan itu awal masalah baru, betapa sulitnya menyatukan dua kepala, dan lain-lain yang jauh lebih horor.

Hampir dua tahun gw nikah dan alhamdulillah kehidupan gw sejauh ini masih wajar-wajar aja. Bertengkar yang wajar, kemesraan yang wajar dan masalah-masalah lain yang juga tergolong masih wajar. Sejak gw memutuskan berhenti dari pekerjaan gw, konsekwensi yang udah gw pahami adalah bakal cekak terus. Jujur, secara manusiawi gw ungkapkan bahwa ada kalanya menjadi cekak adalah menyebalkan, tapi alhamdulillah itu nggak sampe bikin frustasi. Karena sejak dulu gw selalu beranggapan bahwa uang bukan segalanya. Jadi udah bisa makan hari ini aja gw udah bersyukur banget. Emang sih, gw nggak bisa lagi foya-foya tiap minggu kaya dulu. Sekarang kalo ada acara ngumpul sama temen-temen beberapa hari sebelumnya gw mesti “puasa”.

Laki gw sih bisa dibilang mampu lah kalo cuma buat jajan gw, tapi lama-lama gw rumangsani (tahu diri) juga. Betul, dia emang suami gw, kewajibannya adalah menafkahi gw lahir dan batin (dan gw anggap ngumpul sama temen-temen itu kebutuhan batin), tapi lihat suami gw berangkat sebelum ayam jago teriak dan pulang ke rumah udah mendekati adzan subuh…hati siapa yang nggak luluh…

Banyak yang nanya emang lo nggak mau kerja lagi nda? Siapa bilang? Kalo ada kerjaan yang cocok gw mau lah. Cuma sekarang gw emang agak pilih-pilih dan nggak terlalu ngoyo. Gw nggak mau lagi terjebak di lingkungan dimana setiap hari bos besar “mengharuskan” (gw kasih tanda kutip ya, artinya ada makna tertentu jadi bukan secara harafiah) semua karyawannya bersikap ceria di depannya, memuji penampilannya hari itu dan semua basa-basi lainnya. Sekalinya gw lupa nggak sadar pasang tampang bete dan nggak sadar kalo dia lewat maka akan ada kabar burung dimana gw dicap nggak sopan, dan seakan gw karyawan paling buruk di kantor itu. Belum lagi orang-orang yang dengan mata gw sendiri saksinya bisa berubah jadi komunitas hutan liar nan kanibal. Sebelum rapat kami berteman, di ruang rapat kami saling menyerang dan setelah rapat dia berusaha berbaik-baik lagi sama gw. Lagipula sejak dulu gw juga punya cita-cita sendiri, pekerjaan yang dulu bikin gw nggak memungkinkan ngejer cita-cita gw dan gw nggak mau selamanya jadi budak orang lain.

Lha! Malah jadi curhat gini??

Sebetulnya bukan gw yang mau gw ceritain, tapi perasaan-perasaan gelisah, sedih yang kadang berasal dari hal-hal di atas yang nggak jarang jadi awal pertengkaran antara gw sama suami gw. Perempuan yang cenderung emosional dan laki-laki yang merasa lelah banting tulang untuk keluarga, semua pasangan pasti mengalami itu.

Belajar dari banyak cerita pernikahan yang gagal, bahkan temen gw sendiri dulu sempet katanya mau cerai gara-gara bertengkar terus sama suaminya. Haruskah cerai? Dan kenapa bisa sampe bertengkar?

Gw menilai kalo gw termasuk pasangan yang beruntung karena meskipun suami gw juga sering pergi lama tapi masih ada pasangan yang hidupnya mesti terpisah jauh yang komunikasi mereka susah payah dijaga dengan bantuan teknologi. Lalu kenapa gw yang tergolong masih sering ketemu suami gw malah asyik masing-masing sama HP-nya? Yep, ada kalanya suami gw itu bener-bener nggak ngeh ada dunia lain selain HP-nya, karena itu gw nggak segan ngerebut HP dari tangannya kalo udah keterlaluan. Selama ini kami berusaha untuk terus ngobrol selama ada kesempatan untuk ngobrol. Ngomongin apa aja, kerjaan dia, berita-berita yang ada di TV, buku yang lagi gw baca, cerita-cerita konyol, apapun.

Tapi ada kalanya gw ngerasa kalo cuma ngobrol itu nggak cukup. Ada kalanya ketika tangan kami bersentuhan satu sama lain secara nggak sengaja aja udah bikin sesuatu yang gembira muncul begitu aja. Lalu gw sadar kalo kontak antar manusia sama pentingnya seperti komunikasi lisan. Gw yakin semua orang pernah ngerasain di suatu waktu kalo “sentuhan tidak pernah berbohong”, betul?

Jadi gw memutuskan dan menuntut satu hal dari suami gw sejak beberapa waktu belakangan ini (eits! sebelumnya gw peringatkan ini cuma untuk orang yang udah menikah ya..ntar gw dikira ngajarin yang nggak bener lagi!) : “I wanna kiss at least once a day” kecuali kalo dia lagi keluar kota selama berhari-hari tentu saja (cium tu bantal). Meski begitu gw nggak lantas mengira dengan begini kita nggak akan bertengkar. Percayalah, bertengkar itu sehat selama nggak ada yang menyakiti secara fisik, dengan catatan setelah bertengkar harus bicara baik-baik tentang apa keinginan masing-masing.

Hari ini suami gw beli water purify karena air PAM yang ngalir ke bak mandi kotor terus. Bentuknya kaya tabung kecil, isinya potongan arang kecil-kecil, dengan saringan di bawahnya, ditempel ke keran jadi air yang keluar dari keran ngelewatin tabung kecil itu dulu sebelum jatuh ke bak mandi. Awal dibuka keluar sedikit air hitam, mungkin dari arangnya, tapi setelah itu airnya emang jadi bening banget, beda sama air sebelum pake penyaring itu.

Seperti itulah pertengkaran bagi gw, kaya arang penyaring air. Semua orang tahunya arang itu kotor dan selalu ninggalin bekas hitam dimana-mana, padahal kalo digunakan dengan tepat dia bisa sangat berguna, dia bisa menjernihkan air bahkan menyembuhkan diare! (lo liat deh tuh norit terbuat dari apa). Pertengkaran bisa kita gunakan untuk penyaring kebosanan ataupun salah paham dalam sebuah hubungan.

Jadi jangan ragu untuk menyentuh pasangan lo setiap hari. Gw nggak perduli suami gw ketawa denger permintaan gw itu. Buat gw umur itu misteri, kita nggak pernah tahu kapan akan berakhir. Jangan dipusingin tapi dinikmati dan lakukan apa yang pengen gw lakukan, nggak perduli setiap hari gw cekak yang penting batin gw tenang. Lebih baik gw makan tempe tiap hari dari pada mesti senyum sama orang yang nggak pengen gw senyumin. Terdengar sok idealis? Itu kan kata orang lain, untuk apa mikirin apa yang dibilang orang kalo hidup lo bukan mereka yang jalanin… 😀 😀 😀

Anyone Can Write

Sebuah pertanyaan yang membuat gw sedikit tersanjung (baca: ge-er) datang pagi tadi di surel gw. Yang berasa mual bacanya ga usah diterusin bacanya huahahaha 😀

Menurut gw sih nih orang bercanda kalo nggak salah sasaran, dia nanya “gimana sih caranya bisa nulis kaya lo di blog?” Gw bilang ya lo register dulu supaya punya akun di blog, trus nulis deh. Ternyata maksud doi lebih spesifik, diulang lagi pertanyaannya “gimana sih caranya supaya gw bisa nulis kaya lo?”

Pernah ngerasain ge-er sampe orang-orang berkata “Najong” ke lo? Yah, kaya gitu lah rasanya (masih ketawa yang bikin najong). Sebetulnya bukan fokus ke-najong-an gw yang mau gw omongin. Tapi pertanyaan temen gw itulah yang sering sekali gw denger dimana-mana, maksudnya dimana-mana yang lebih banyak ditujukan bukan untuk gw. Lalu banyak artikel-artikel yang gw baca tentang “Tips Menulis”.

Menurut gw pribadi, selain menulis karya ilmiah dan naskah calon novel yang mau diajukan ke penerbit, menulis itu nggak butuh tips. Apalagi nulis di blog, isinya mau curhatan terus kek, caci maki kek, apa kek, itu hak semua yang udah register.

Buat gw menulis adalah menyuarakan apa yang gw pikirkan. Kalo semua orang merasa pikirannya bisa bicara (dan semua orang pasti punya pikiran yang berbicara) maka dia pasti bisa menulis (kecuali kalo dia ga belajar tulis baca waktu kecil, yaiyalah!). Mulailah dengan menulis apa yang lo rasakan, lalu ceritakan apa yang lo lihat sama kaya lo ngegosip cuma bedanya apa yang lo gosipin nggak keluar dari mulut tapi lo tulis, just like chat on YM 😀

Tulis pake bahasa lo sendiri, lupakan itu kekakuan EYD, itu sih urusan belakangan karena lo nggak nulis untuk bikin skripsi atau tesis. Tulislah apa yang dirasakan dan dibisikkan “orang yang bersembunyi di dalam tubuh lo”. Semua yang kita tulis (menurut gw) itu punya nyawa. Karena kalo kita nulis berdasarkan apa yang kita rasakan, separuh emosi kita ada di tulisan itu. Misalnya, saat ini kita lagi marah karena sesuatu dan nulis tentang kemarahan itu, nggak perduli seperti apa susunan bahasanya, orang yang membaca pasti akan ikut ngerasain marah yang kita gambarin. Itu juga berlaku kalo misalnya lo nulis sesuatu yang sebetulnya nggak pengen lo tulis, pasti yang baca nggak akan ngerasain apa-apa.

Ada yang bilang untuk mahir menulis kita harus banyak membaca. Menurut gw itu betul, karena bagaimanapun apa yang kita baca akan menjadi contekan untuk kita menulis, entah temanya, entah gaya bahasanya. Tapi kalo tiba-tiba untuk memaksakan membaca apalagi membaca yang nggak disukai..yang ada satu paragraf nggak akan selesai dibaca karena lo nggak akan bisa memahami tulisan satu paragraf itu, kenapa? Karena lo nggak suka. Itu sih pengalaman gw hahahaha 😀

Jadi nggak usah merasa kaku lah untuk mulai menulis, jangan pernah berpikir kalo menulis itu cuma bisa dilakukan sama orang-orang pinter (hello..orang awam macam gw juga punya hak untuk menulis dan dipublikasikan..sendiri :D). Menurut gw (lagi) menulis itu baik untuk kesehatan jiwa! Karena itu membantu mengurangi stress disaat (misalnya) kita bener-bener nggak tahu mesti cerita ke siapa, dan itu juga sangat membantu melatih cara berkomunikasi. Setelah selesai nulis lo akan baca kembali tulisan lo dan mulai menentukan (secara instingtif) mana kata-kata yang pantas untuk dikomunikasikan dan mana yang kurang pantas (editing).

Jadi, mulailah menulis dan berbagi pada semua orang apa aja yang terjadi di dunia lo sendiri dan dunia dari sudut pandang lo! Anyone can write, yes we can! 😀 😀 😀

Pak X

Suatu pagi Pak X terbangun dari tidurnya, hidungnya mengendus-endus sesuatu yang baunya sangat tidak sedap. Pak X mengikuti udara bau tersebut berharap menemukan sumbernya. Ternyata baunya semakin kuat ketika ia mendekati pintu depan rumahnya, ia lalu membuka pintu dan terkejutlah ia karena di depan pintunya terdapat sekarung penuh kotoran. Pak X mengenali karung tersebut yang biasa dipakai oleh tetangga sebelah rumahnya, Pak Y. Penuh kemarahan Pak X mendatangi rumah Pak Y dengan membawa serta sekarung penuh kotoran tersebut, digedornya pintu rumh Pak Y dengan kasar. Tak lama si empunya rumah membuka pintu dan Pak X langsung menyemrpotnya “Berani sekali anda menaruh kotoran di depan pintu rumah saya!! Anda pikir anda siapa??!!”. Pak Y melirik kantung kotoran tersebut dan tersenyum “Itu pupuk dari keponakan saya yang di desa, kemaren kan bapak bilang kehabisan pupuk untuk kebun kecil bapak, pupuk ini memang bau tapi ini kualitas terbaik, tadi saya beberapa kali mengetuk pintu rumah bapak tapi tidak ada jawaban, karena sudah semakin siang dan saya mau pergi, makanya pupuk itu saya letakkan saja di depan pintu.”

Sebetulnya itu ilutrasi singkat pengantar mata kuliah manajemen pemasaran gw dulu, pengenalan awal tentang gimana setiap individu punya persepsi yang berbeda tentang sesuatu. Gw akan selalu inget ilustrasi ini, terutama beberapa minggu terakhir.

Beliau No.1. Betapa sebagian orang lebih mudah mengungkapkan isi hatinya di jejaring sosial daripada di dunia nyata. Jadi nggak heran kalo kadang gw merasa jejaring sosial jaduh lebih “meriah” ketimbang sekelompok orang berkumpul bertukar pikiran. Meski begitu gw agak kecewa sama beberapa orang “teman” yang katanya berprofesi sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah, dimana banyak murid-muridnya yang menambahkan beliau-beliau ini ke daftar “teman”nya. Yang satu pernah secara emosional memaki dengan kata-kata yang sangat kasar di statusnya, sampe beberapa muridnya berkata “Kok bapak ngomongnya gitu sih?”. “Education on internet”. Gw inget dia beberapa kali memaki seperti itu dan gw bertanya-tanya apakah ada rasa penyesalan atau malu di dalam hatinya, karena kalo gw jadi dia lebih baik setelah itu gw hapus status gw, tapi ternyata beliau tidak melakukannya.

Yang lain lebih unik lagi, profesi yang sama, makian yang berbeda. Emang sih, makian Beliau No.2 ini nggak sekasar makian Beliau No.1 yang bener-bener mengucapkan sepatah kata kotor. Beliau No.2 lebih “idealis”. Ia hanya (lebih sering) memaki koruptor dan pemerintah, gagah dan lantang “menyuarakan kebenaran”, meskipun gw nggak terlalu yakin akan kebenaran bahwa lagu-lagu dari sebuah boyband yang sangat populer di era 90-an akhir adalah lagu-lagu homo, itu pendapat beliau.

Karena seringnya beliau ini “terbaca” terlihat sangat ketat terhadap ini itu, pernah suatu hari gw sama temen gw berbuat usil (usil yang nggak mencelakai orang lho…) gw suruh temen gw untuk nulis di statusnya “Lanjut mau dugem”, dan yang lain ikut berpartisipasi dengan komentar-komentar yang nggak kalah liar, padahal mah..yang ada lagi pada kekenyangan abis makan pizza. Eh bener aja, Beliau No.2 ikut terpancing sama status temen gw itu. Dia sih cuma komentar singkat “Emang agamanya apa?”. Saat itu gw mempelajari sesuatu yang baru: betul, saling mengingatkan itu perlu, tapi pastikan anda tahu sesungguhnya apa yang sebetulnya sedang dilakukan orang tersebut sebelum mengingatkan. Karena kalo sasarannya nggak pas cuma akan bikin diri anda terlihat dangkal. Lagipula “menilai” seseorang hanya dari status update, bukankah itu sedikit….dangkal? (kecuali alay, perasaan mereka mudah ditebak dari kata-kata manjanya).

Terakhir, si Beliau No.2 ini kembali melantangkan sesuatu tentang (apa yang menurutnya) kebenaran, kali ini gw setuju juga sih tentang kebenaran tersebut. Lalu ada temennya yang komentar yang pasti sih bagi gw itu nada bercanda tapi sama sekali ga ada kata-kata hinaan. Lalu tiba-tiba muncul teman Beliau No.2 yang lain yang langsung memaki-maki si komentator pertama dan menuduhnya sombong, nggak berperasaan dan ujung-ujungnya menilai orang tersebut dari profile picture-nya.

Dunia tidak akan pernah damai meskipun tanpa penjahat namun diisi dengan orang-orang macam Pak X yang emosional. Kenapa dulu Belanda mudah menguasai kita? Karena kita gampang dikomporin, gampang diadu domba hanya dengan beberapa kata. Setelah kita berpikir panjang dan menyusun strategi, pada akhirnya kita menang.

Nggak heran lah kalo sekarang banyak kekerasan dimana-mana, gw ngerasa generasi yang sekarang menurunkan banyak kebencian ke generasi berikutnya yang menurut gw sebetulnya nggak perlu. Untuk bisa menjadi generasi yang besar perlu pendidikan berkualitas tanpa sedikitpun disisipin kebencian, dan pada akhirnya mereka yang akan memilih harus berbuat apa nantinya. Menurut gw kasih sayang dengan sendirinya akan mencerdaskan seseorang, ketenangan akan membuat seseorang bisa berpikir lebih jernih dengan begitu mereka akan belajar mana yang baik dan mana yang lebih baik. Lha kalo dari kecil udah dicekokin lo mesti benci sama ini lo mesti benci sama itu, mau jadi apa generasi itu? Yang ada perang terus sampe kiamat.

Jadilah orang yang religius juga cerdas. Ngangkat pedang mestinya jadi pilihan terakhir selama segala perang bisa dikalahkan dengan otak.