Biasanya…

Jenis ke-tipikal-an yang lain di Facebook.

Kalo status isinya marah-marah, biasanya banyak komentar yang berisi upaya menyabarkan si empunya status

Kalo status isinya lagi sedih nan galau, biasanya pada berkomentar membesarkan hati dan memberi semangat si sempunya status

Kalo status isinya lagi jatuh cinta, biasanya komentar terbanyak berbunyi “ciiieeee…”

Kalo status isinya kata-kata bijak atau doa, biasanya banyak yang nge-like

Kalo status isinya lagi maki-maki pemerintah beserta jajarannya, biasanya komentator yang lain ikutan maki-maki

Kalo status isinya lagi complain ke suatu provider, biasanya orang yang jarang komentar ikut ngasih masukan tentang provider yang bagus sesuai pengalamannya (dan yang providernya sama lalu kena masalah yang sama, ikutan ngeluh)

Kalo status isinya lagi makan, biasanya komentar yang paling banyak masuk adalah mereka yang berbunyi kelaparan dan makanannya minta dikirimin

Kalo status isinya lirik lagu, biasanya ada berbagai macam reaksi, misalnya:
1. Kalo si komentator kelewat hafal lagunya, dia akan meneruskan liriknya
2. Kalo si komentator ga tahu lirik lagunya tapi tahu judulnya dan kebelet pengen komentar, dia akan nulis judul lagunya saja
3. Kalo si komentator sama sekali nggak tahu itu lirik lagu, dia akan memberi reaksi yang berbeda sesuai dengan isi lirik tersebut

Kalo isi status penuh rasa syukur, biasanya komentator ramai-ramai mengucapkan “amiiin…”

Kalo isi status bercerita tentang bayi yang lucu, biasanya dibagi dua jenis komentator, misalnya:
1. Komentator yang belum punya anak, ikut merasa senang dan membayangkan betapa lucu bayi tersebut
2. Komentator yang sudah puya anak, sama, ikut merasa senang dan akan berbagi cerita betapa lucu pula anaknya
(dan gw sangat tidak sabar untuk melakukan hal nomor 2! Ibu-ibu, minggir!!)

Ada yang mau nambahin?

A Mom Like Me

Lagi-lagi lihat temen gw ditag namanya di sebuah foto anak kecil, kayanya sih anak temennya, tiba-tiba aja kepala gw diserang satu pertanyaan dengan rasa penasaran:

Akan menjadi ibu macam apa ya gw nanti?

Karena selama ini jujur aja, gw hampir nggak pernah punya visi tentang akan menjadi ibu seperti apa. Bukan bermaksud membandingkan dengan orang lain, tapi ngelihat temen-temen seumuran gw yang udah berkeluarga lengkap gw jadi bertanya-tanya…kenapa gw nggak seperti itu ya?

Jangankan belum punya anak, waktu itu gw pernah ketemu temen gw di sebuah mall, dia baru nikah dan belum punya anak tapi perilakunya jadi berbeda sekali. Dia jalan bareng suaminya dan membahasakan dirinya dengan “Saya”. Jelas aja gw sedikit kikuk, biasa dulunya Lu-Gue. Dan pas gw ngomong apa gitu sambil bercanda dia cuma tersenyum kecil, padahal dengan becandaan seperti itu dulu dia pasti ketawa lepas. Nggak ngerti deh apa dia sekarang jaim atau hidup udah bener-bener ngubah dia. Baru nikah aja udah berubah drastis seperti itu, gimana ntar punya anak?

Lalu banyak banget temen yang punya anak nggak jarang ngeluh capek (meskipun di akhir kalimatnya mereka terlihat “menyenangkan diri sendiri” dengan kalimat “tapi seneng dan harus semangat..”). Kadang gw pikir kebanyakan dari mereka aga “takut” terlihat mengeluh, padahal menurut gw mengeluh itu kan manusiawi. Namanya manusia wajar banget berkeluh kesah selama itu tidak dijadikan pekerjaan utama. Well, bukannya gw mencoba untuk sok tahu sih, cuma kadang gw selalu bertanya-tanya setiap kali seseorang terlihat sering ngupdate status tentang bagaimana bahagianya mereka, tentang lucunya anak mereka, tentang betapa baiknya pasangan mereka, is that real?. Mungkin karena gw selalu nulis sesuatu tapi belum tentu itu yang gw rasain jadi gw selalu bertanya-tanya apakah yang mereka tulis itu bener apa nggak…

Kembali lagi ke tema. Bisakah gw jadi ibu yang baik dengan cara gw sendiri? Gw kayanya nggak bisa kalo disuruh untuk seperti orang lain. Misalnya disaat gw lihat “istri orang” dengan anggunnya pake sendal tinggi dan setelan cantik saat mereka jalan ke mall, gw masih nyaman dengan t-shirt, jeans dan sepatu crocs butut gw. Lalu akan menjadi tidak seimbangkah dunia ketika kebanyakan ibu menamakan anak mereka dengan nama-nama berbau religius sementara gw berencana menamakan anak gw dengan nama “Ganggeng Samudro”? Atau apakah gw akan terkucil dengan tidak membahasakan diri gw dengan “Bunda”? (oooke, yang ini murni lebay, jangan dihiraukan).

Ada berapa banyak anak yang mempunyai ibu yang terkenal dengan lelucon sarkastis? Apakah sebaiknya gw hapus blog ini setelah gw menjadi ibu? (hah??). Apakah anak gw baik-baik saja dengan ibu yang suka nulis ngelantur?

Intinya, bisakah gw jadi seorang ibu dengan diri gw yang seperti ini tanpa harus berubah jadi orang lain?

What would my kids be to have a mom like me.. πŸ™‚

From Merapi With Lesson

Beberapa hari kemaren pas gw ke Jogja gw nggak sabar pengen cepet pulang dan nulis semua yang udah gw lewatin disana, tapi mood berkata lain. Kembali gw lihat foto-foto di sana, tepatnya waktu gw berkunjung ke Merapi di area pasca erupsi hampir sebulan yang lalu, dan gw inget pada saat itu aja gw nggak bisa ngegambarin apa yang harus gw ceritain…

Waktu suami gw bilang mau ngajak gw ke Merapi jelas aja gw heran, ngapain? Ternyata gw baru tahu kalo tempat itu saat ini dibuka untuk umum. Dapet informasi dari ibu mertua gw (yang beberapa hari sebelumnya juga sempet dateng ke sana) tentang keadaan pasca erupsi. Akhirnya Sabtu pagi gw sama suami gw berangkat ke Merapi. Sempet diwanti-wanti sih untuk nggak berangkat terlalu siang karena selain panas, disana akan sangat rame orang apalagi pas weekend.

Bener aja, pas mulai naik ke Kaliadem (berangkat lewat Pakem) udah hampir panjang antrian mobil dan motor yang merayap di jalanan kecil beraspal kasar itu. Mobil dengan plat dari berbagai daerah, rata-rata sekeluarga, juga rombongan dari sebuah partai politik yang gw baru tahu tujuan mereka ke sana untuk kerja bakti.

Nggak jauh sebelum sampe ke lereng ada portal dimana setiap orang yang masuk ke area itu dikenai biaya Rp.5000,- per orang, pas suami gw mau menepikan motornya para penjaga portal itu malah ngasih isyarat untuk jalan terus, ternyata gw baru sadar kalo gw ada di tengah-tengah rombongan relawan dari partai politik yang gw bilang untuk kerja bakti tadi. Apalagi suami gw pake kaos item mirip-mirip mereka, saru deh…

Lalu kita mulai jalan menanjak, nggak jauh dari portal udah terlihat pohon-pohon kering meranggas di kanan kiri. Nggak munafik ada perasaan emosional ketika lihat semua itu. Batang-batang kering tanpa daun sehelaipun, bambu-bambu muda yang mestinya warna hijau kaya dipaksa mendadak berubah jadi bambu tua berwarna kuning. Ban motor yang gw naikin mulai terasa tertatih karena pasir abu (yang lebih mirip pasir pantai) mulai menebal di atas aspal.

Bukti otentik kehancuran pertama gw lihat di sebelah kanan jalan, rumah yang setengah hancur di depannya terparkir tiga motor yang seluruh badannya berkarat dan ban-bannya meleleh nempel di atas tanah berpasir. Di samping kiri jalanan yang gw lewatin ada jurang besar penuh pohon kering tumbang, di atasnya wilayah Kaliurang terlihat jelas, bukitnya masih hijau. Ini disebabkan mungkin karena arah angin bertiup pada waktu itu jadi nggak kena awan panas, tapi ngelihatnya ironis banget, letaknya berdekatan yang satu area hijau sementara jurang yang jadi pembatas itu berarea tandus.

Lalu ngelanjutin ke tempat dimana banyak bus, mobil dan motor parkir. Namanya juga wilayah darurat jadi parkirnya nggak teratur tapi sebisa mungkin berjajar rapih meskipun nggak ada yang ngatur. Pasir abu di area ini semakin tebal sampe gw mesti bantuin dorong motor suami gw untuk parkir, setelah itu perjalanan ke atas dilanjutkan dengan jalan kaki.

Tadinya gw ragu apa etis kita “berwisata” ke daerah bencana? Setelah gw lihat dan pikir lagi, orang-orang yang “berwisata” ke sini adalah peluang bagi para penduduk setempat. Mereka jualan minuman dan makanan, dimana harganya jadi dipatok lebih mahal dari harga biasa, tapi buat gw itu sama sekali bukan masalah, toh tujuan gw kesini selain pengen lihat TKP sekaligus menyumbang mereka yang rata-rata kehilangan tempat tinggal.

Kehilangan tempat tinggal. Apa yang bisa gw ceritain? Rumah-rumah di area itu, tepatnya di dusun Kinahrejo, memang hancur, tinggal puing-puing aja. Atapnya jelas udah nggak ada, sisa-sisa dinding yang miring dan hanya tertahan sama bufet kayu rusak yang pegangannya terbuat dari plastik menampakkan bekas meleleh. Perabotan-perabotan rumah tangga masih banyak yang tertinggal. Cangkir-cangkir keramik dan gelas kaca masih utuh, cuma berlapis debu tebal aja. Perabot-perabot yang terbuat dari besi hampir semua berkarat. Ada sajadah utuh di dalam lemari yang pintunya tinggal setengah, dan Al Quran yang ada di salah satu rak bufet di puing rumah yang lain, pinggirannya hangus tapi tengahnya tetap utuh, basah seluruhnya mungkin tersiram hujan selama ini.

Di luar puing-puing rumah itu gw nemuin tengkorak sapi (atau kerbau?), entah dulunya ternak punya siapa. Semuanya bener-bener hancur, berubah status jadi artefak yang dipotret berkali-kali oleh para pengunjung.

Dan ya..semua pemandangan itu bikin gw berpikir…bencana waktu itu ternyata nggak main-main… Udara sepanas apa yang bisa bikin motor meleleh? Kemarahan macam apa yang bisa bikin seluruh rumah di dusun itu jadi puing? Berdiri di situ tetep nggak bisa bikin gw berani ngebayangin apa yang terjadi waktu itu, gimana kalo gw ada di sana pada waktu itu, apa yang terakhir kali diteriakin korban-korban yang terbakar pada waktu itu.

Dalam satu waktu di hidup gw, rasanya mulut ini seperti otomatis terus ngucapin Subhanallah tanpa henti. Sepulangnya dari sana, nggak jauh dari dusun Kinahrejo gw ngelewatin kaya semacem gedung serbaguna dimana rame sekali orang. Gw tanya sama suami gw, ada apa sih itu kok rame amat? Ternyata itu para pengungsi yang harta bendanya ludes dan nggak tahu mesti pulang ke mana. Di seberang gedung itu ada semacem rumah yang dijadiin sekolah darurat, tulisan di papan depannya “Sekolah Pintar Merapi”, mungkin untuk anak-anak yang mengungsi supaya mereka nggak ketinggalan pelajaran.

Di perjalanan pulang, gw sekali lagi nengok ke belakang, puncak gunung yang terlihat besar tertutup awan. Gunung itu bisa saja meletus dan menghancurkan apa aja yang ada di dekatnya, tapi buat gw gunung itu salah satu dari banyak simbol dari alam yang menggambarkan siklus hidup. Setahun kemudian tanah yang hancur itu akan kembali indah karena banyak mineral yang dimuntahkan bikin tanah di sekitarnya jadi subur. Material-material yang sekarang berupa lahar dingin mengendapkan banyak pasir vulkanik dengan kualitas yang bagus, pasir itu bisa dijual begitupun batu-batu besar (yang ngelihatnya aja gw heran, gimana caranya batu sebesar rumah bisa menggelinding sejauh itu dari dalem gunung?) bisa dipecah dan dijual atau mereka dikumpulin untuk membangun rumah-rumah mereka yang hancur. Kayu-kayu juga tersedia, ada banyak pohon-pohon besar yang tumbang dengan kayu yang masih bagus. Semua tergantung gimana cara manusia mengolahnya.

Mungkin inilah regenerasi alam, semua udah ada siklus dan “jadwal”-nya. Selalu ada hikmah setelah bencana. There’s always sun shining after storm. Sekali lagi tergantung masing-masing manusia menyikapinya. Sejak bumi ada alam udah punya bahasa sendiri untuk berisyarat sama manusia, kadang manusianya kurang peka, atau yang lebih parah sebetulnya ngerti tapi pura-pura nggak tahu. Semua orang juga tahu kalo kita seenaknya lama-lama tempat yang kita tinggali akan hancur, tapi kebanyakan dari kita bener-bener cuek. Giliran terjadi bencana langsung sibuk main salah-salahan, padahal mungkin itu hanya siklus yang harus terjadi dan manusia sekitar nggak siap ngadepin karena kelamaan pura-pura nggak tahu.

Well yah, sedikit banyak kemaren itu jadi “wisata spiritual” gw juga. Meski begitu gw salut juga sama sebagian penduduk sana yang ngerasain bencana, kebanyakan dari mereka nggak berlama-lama berpangku tangan, orang-orang tua yang udah renta masih semangat jualan apapun hasil bumi yang tersisa yang bisa mereka jual, mungkin karena prinsip mereka “kalo nggak kerja ya nggak bisa makan”…

8 Tempat Makan Yang Patut Dicoba di Jogja (Versi Nanda)

Jogja, kota favorit gw untuk liburan. Ya suasananya, ya cerita-cerita menarik tentang sudut kotanya, dan yang jelas…makanannya. Sayang laki gw kalo gw tanyain makan yang enak dimana dia pasti ga bisa jawab, giliran udah makan di suatu tempat baru deh nyebutin ini-itu di sini-sana makanan yang enak, jadi kadang terpaksa gw catet supaya pas balik lagi ke sana bisa gw request tempat makannya.

Lupakanlah sejenak resto, cafe dan bistro. Jogja adalah tentang kebudayaan dan tempat makan kaki lima, jadi kalo lo ke Jogja dan cuma makan di McD..jiah..mending pulang lagi aja. Ini ada beberapa tempat makan yang sedikit banyak meninggalkan kesan (ceilee..) di lidah dan pikiran gw. Buat yang baru jalan-jalan ke Jogja, lumayan deh buat rekomendasi hehehe.. Buat yang orang Jogja, kasih masukan lebih banyak lagi dooong makanan yang enak dimana…hmmm..slurp! πŸ˜€

1. Gado-Gado Teteg, Lempuyangan

Letaknya ada di depan pom bensin Lempuyangan, nggak jauh dari jalan layang. Membuat gw sadar meskipun namanya sama-sama “Gado-Gado” tapi rasa dan ada bahan-bahan yang bikin berbeda dari Gado-Gado di Jakarta. Menurut gw sih rasa bumbu kacangnya mirip Lotek, dan Gado-Gadi disini pake daun selada. Agak berbeda tapi rasanya sama-sama enak. Oh ya, sekedar informasi iseng aja, gw baru tahu kalo kata “Gado-Gado” berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya “Campuran” πŸ˜€
Kalo mau maem disini sebaiknya dalam keadaan lapar karena porsinya lumayan “nampol” hehehe…

2. Nasi Goreng Bakar Mr.Puen Cheng, Gejayan

Sesuai namanya, nasi goreng ini digoreng trus dibakar. Kelebihannya: beda kaya hampir semua nasi goreng biasa, nasi goreng ini jadi kering dari minyak. Ada nasi goreng bakar kambing, nasi goreng bakar sapi, nasi goreng bakar seafood…tinggal pilih ciiin…

3. Bakmi Kadin, Bintaran

Rata-rata pasti udah pada tahu deh, letaknya sebelah kantor Kadin, dari jembatan Sayidan setelah SMA Bopkri belok kanan. Menurut gw sih itu mie biasa tapi karena masaknya masih pake anglo jadi rasanya agak berbeda, matengnya rata dan aromanya khas. Kemaren sementara gw pesen mie goreng, laki gw pesen capcay goreng. Gw pikir capcay biasa trus digoreng, ternyata ada kaya potongan macem kwetiaw yang dipotong kecil-kecil, dan sayurannya juga ga terlalu banyak, kata laki gw itu namanya “cap jae”.

4. Sate Kambing Muda Pak Pong, Bantul

Kalo lagi main-main ke daerah Bantul misalnya ngunjungin makam raja-raja di Imogiri atau lihat-lihat kerajinan kulit di Manding, bolehlah ke Jl.Imogiri Timur KM17 untuk mampir makan tongseng di sini. Dagingnya empuk dan kuahnya khas Jawa banget: manis. Selain tongseng dan sate, disini juga ada sate klathak, apaan tuh? Datenglah…hehehehe…

5. Rujak Es Krim, Depan Keraton Pakualaman

Gw baru tahu kalo apa yng kita sebut sebagai rujak di sini (buah dipotong-potong) di sana namanya Lotis, sedangkan rujak itu sendiri di sana berupa buah yang diserut dan dikasih bumbu rujak. Nah, rujak es krim ini rujak buah serut dikasih satu scoop es krim di atasnya…beeeuuuhh…seger bangeeettt… asem, manis, asin, dingin! Biasanya sih gw mampir kalo udah capek jalan-jalan dan belum terlalu laper untuk makan. Tempatnya tepat di depan Keraton Pakualaman, rindang karena banyak pohon besar.

6. Nasi Goreng Sapi, Kotabaru

Bukanya sore, depan gereja Kotabaru. Mereka khusus sedia nasi goreng sapi aja. Ga terlalu istimewa sih, potongan daging sapinya juga kecil-kecil tapi meskipun itu ga dipakein daging apapun rasa nasi gorengnya tetep enak, wangi rempah. Kemaren gw pas lagi ujan dan laper, jadilah…terngiang-ngiang terus rasanya hehehe…

7. Gudeg Pawon, Janturan

Sesuai namanya, Pawon yang artinya Dapur, kita memesan makanan dengan masuk ke dapur orang, alias yang punya nih warung gudeg. Dari berbagai informasi yang gw denger, konon dulu orang ini jualan gudeg cepet abis lama kelamaan orang-orang yang nunggu gudegnya karena nggak mau kehabisan jadi ngedatengin rumahnya dan minta langsung ke dapurnya. Bukanya malem, jam 23.30, jadi selama ini selalu batal karena ngantuk dan baru kemaren malam sebelum pulang menyempatkan diri ke sana. Untuk rasa sih relatif menurut gw, cuma unik aja. Orang-orang yang makan di sana pun ngobrolnya pelan-pelan karena nggak enak sama tetangga kanan kiri yang rumah-rumahnya udah gelap. Karena sistemnya “minta di dapur” ngantrinya pun mesti sabar, apalagi kalo makanannya baru mateng…

8. Angkringan Lek Man, Sebelah Utara Stasiun Tugu

Yep, angkringan adalah tempat yang selalu menyenangkan buat gw: harganya murah, lauknya meriah dan tempatnya santai πŸ˜€ Ada buanyak angkringan di Jogja, tapi yang paling dikenal ya tempat ini. Meskipun yang paling dikenal warung Lek Man sendiri tapi udah banyak berjejer di kanan kirinya warung angkringan yang lain. Ambil nasi kucing, pilih lauk (dibakar atau nggak), pesen minuman trus nongkrong deh di trotoar seberang jalan yang udah dialasin tikar. Paling enak abis makan ngobrol dulu sambil minum kopi Jos. Tapi sayang kemaren nggak sempet kesana karena udah seminggu berturut-turut ujan dari sore sampe malem. Angkringan adalah tempat dimana telinga gw selalu mendengar Katon bernyanyi “..musisi jalanan mulai beraksi..” πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Meskipun relatif, tempat-tempat makan ini cuma pilihan gw dari sekian banyak aja. Jadi jangan men-somasi gw kalo tahu-tahu menurut lo yang gw tulis di sini ternyata rasanya ga enak ya wkwkwkw…

Segitu dulu, ditunggu masukan yang lain ya karena gw suuukkkaaa banget…makan! oh ya ampun…

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meterβ„’ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 3,700 times in 2010. That’s about 9 full 747s.

In 2010, there were 100 new posts, growing the total archive of this blog to 109 posts. There were 67 pictures uploaded, taking up a total of 3mb. That’s about 1 pictures per week.

The busiest day of the year was April 23rd with 242 views. The most popular post that day was Baju Yang Tepat.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, bloglovin.com, dinnaputriaprila.blogspot.com, Google Reader, and chuwey.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for duniananda, abstrak cinta, karyawati mall sexy, sue sylvester, and duniananda.wordpress.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Baju Yang Tepat April 2010
3 comments

2

Cinta,Diskriminasi dan Sesuatu Yang Tak Tergantikan July 2010
4 comments

3

howdy! October 2008
4 comments

4

Perasaan si Wanita Jahat April 2010
4 comments

5

Ugly and…Rejected! May 2010
4 comments

Thanx for everyone for visit and read this blog! πŸ˜€

Only For Adults?

Gw nonton serial Glee sore ini di sebuah saluran TV swasta nasional dan gw baru sadar kalo mereka melewatkan satu episode yang seharusnya ada sebelum episode hari ini. Hafal ya bow soalnya gw sering nonton DVD nya dan kebetulan episode yang dilompati itu salah satu favorit gw, Theatrical. Setelah gw pikir-pikir lagi…aaahh yaa..mungkin itu sebabnya mereka nggak menayangkan episode ini, dari pada nanti menuai protes mendingan dilewatin aja, mungkin seperti itu, atau bisa jadi filmnya hilang satu episode, gw juga nggak tahu pasti.

Waktu kemaren gw nonton yang season 2 dan ada begitu banyak adegan yang cukup bikin gw ngangkat alis, gw yakin kalo serial ini memang untuk target dewasa meskipun ceritanya tentang anak-anak SMA. Dari season 1 pun sebetulnya udah kelihatan, mereka ngangkat hal-hal yang menurut gw sedikit tabu kalo diomongin di masyarakat kita. Namun mengingat negara sana yang bebas dan gw lihat di Oprah parahnya masalah-masalah yang dialami remaja sana, jadi mungkin wajar aja si pembuat serial ini “membahas” isu yang ada lewat film.

Dari awal serial ini pun udah ngebahas soal SARA, gay, seks bebas, hamil di luar nikah. Wew..sounds creepy isn’t it?, waktu pertama kali nonton juga gw sempet agak heran, kok temanya remaja tapi ceritanya begini sih? Setelah gw tonton semuanya season pertama sampe habis gw baru ngerti kalo sebetulnya ada banyak pesan yang disampaikan di dalamnya. Meski begitu gw maklum kalo stasiun TV nasional itu banyak memotong adegan-adegannya, kita semua tahu sebagian masyarakat kita temperamen tinggi, apa yang dilihat pertama kali kalo terlihat nggak pantes mereka akan langsung ribut dan langsung melabelkan “ngajarin nggak bener”, ya..gw sangat paham itu.. (setidaknya itulah yang sering gw lihat dan cermati)

Hal yang paling mencolok dari serial ini adalah tokoh Kurt yang di usia remaja udah ngaku kalo dirinya gay. Hidup Kurt di sekolah sangat-sangat nggak mudah, yang jelas dia selalu diolok-olok sampe ditekan dengan cara-cara kasar. Lalu Quinn, pemandu sorak yang populer dan cerdas, reputasinya langsung runtuh begitu dia bikin kesalahan yang bikin dirinya hamil. Masa-masa hamil dimana dia tetep harus sekolahpun nggak mudah, dia juga diejek bahkan diusir sama orangtuanya. Atau Puck, bad boy sekolah yang selalu terkesan bangga karena ke-Yahudi-an nya, bandel, suka ngerjain orang-orang yang lebih lemah tapi di sisi lain dia orang yang jujur dan selalu berusaha bersikap sebagai pria sejati. Belum lagi pelatih pemandu sorak Sue Sylvester yang ngomongnya tanpa tedeng aling-aling dan cenderung bikin orang bahkan anak muridnya sendiri tertekan, sisi penyayang Sue ditunjukkin waktu dia nerima seorang murid yang sepertinya mengidap down syndrom (atau semacam agak terbelakang gitu) sebagai salah satu anggota cheerleadersnya, itu karena dia punya kakak perempuan yang juga mengidap penyakit yang sama dengan anak itu.

Gw pikir karakter-karakter yang ada di serial ini manusiawi, yang sedikitnya bisa gw tangkep adalah “semua orang berbuat salah, tapi gimana cara orang tersebut memperbaiki kesalahannya dan bangkit dari masalah-masalahnya”, bukan cuma sekedar don’t stop believing tentang bahwa kita bisa meraih mimpi dan cita-cita kita.

Seiring berjalannya waktu misalnya Quinn akhirnya berubah dan mulai bisa nerima kesalahan yang dia buat, atau temen-temen di klub nerima Kurt apa adanya. Setiap karakter punya masalah masing-masing dan menjadi dewasa dengan menghadapi masalahnya dan menjadi kuat dengan dukungan temen-temen.

Itu aja sih menurut gw, karena gw terlanjur tahu urutan episode dan adegannya jadi kalo ada yang dipotong-potong pasti berasa hehehe… πŸ˜€ Terutama di episode Funkification tadi gw inget banget mestinya ada adegan Terry Schuester ngomong ke si Puck “I thought Jews supposed to be smart.” karena dia nangkep basah Puck lagi mengkhayal main gitar pake sapu dan terlihat bener-bener konyol, buat gw pribadi sih itu sisipan komedi biasa tapi mungkin bagi sebagian orang terdengar rasis kali ya…

Jadi kesimpulan gw sekali lagi bahwa serial ini emang untuk dewasa, but.. kalo gw boleh lebih spesifik, untuk penonton yang (sebaiknya) berpikiran dewasa. Bukankah banyak yang bilang usia boleh tua tapi belum tentu dewasa? If you know what I mean. Meski begitu mudah-mudaha stasiun TV yang bersangkutan udah pikir masak-masak sebelum memutuskan nayangin serial ini di masyarakat kita, bukan cuma tergiur supaya ratingnya tinggi hanya karena di negeri asalnya emang serial TV paling laris. Mudah-mudahan mereka juga udah matang menimbang kalo budaya mereka dan budaya kita berbeda sampai penanganan isu-isu yang sama juga di jalan yang berbeda. Menurut gw percuma kalo nayangin tapi dipotong habis nyaris setengahnya (belum lagi dipotong iklan sponsor terutama).

Daaaan…sepertinya gw agak yakin kalo yang season 2 nggak ditayangin, kalopun nekat mungkin tayang tengah malem kali ya.. Soalnya bisa-bisa durasi filmnya cuma 20 menit saking banyak yang dipotong πŸ˜€

Eksperimen Sushi

I Looooooove Sushi!

Karena nggak bisa setiap saat bisa ke resto Sushi, gw mulai nyari di internet resep Sushi rumahan yang cara bikinnya gampang dan bahan-bahannya juga gampang dicarinya, maklum gw kan paling nggak mau ribet. Akhirnya gw nemuin satu. Karena beberapa teman meremehkan kemampuan gw memasak, maka gw buktiin dimana ada kemauan (makan Sushi) disitu ada jalan (bikin Sushi). Cara bikinnya cukup gampang kok, yang kita butuhkan adalah:

Nasi, well..kira-kira 2 cup beras…
Harus gw akui Sushi yang sempurna emang enaknya pake beras Jepang karena teksturnya agak-agak kaya ketan gitu jadi nggak cepet buyar, tapi jangan khawatir! Beras lokal pun sama sekali tidak apa-apa, tapi dimasaknya sampai pulen atau sedikit lembek ya, karena kalo dimasak kaya nasi untuk bikin nasi goreng ntar cepet buyar dan rasanya kurang enak.

Cuka Beras, bahasa kerennya Rice Vinegar dua sendok makan cukup, secara instingtif biasanya cewek pinter mengira-ngira berapa banyak untuk nanti dicampur ke nasi, ini bisa dibeli di supermarket besar seperti Giant atau Carrefour.

Nori, pake selembar aja dulu ya..
Rumput laut cari yang bentuknya lembaran untuk bungkusnya, biasanya gw nitip kakak gw sepulang doi kerja di Kem Chick, karena kantornya deket situ, yang paling murah itu kalo nggak salah harganya 20rb, isi lima lembar apa sepuluh lembar gitu..

Ikan Salmon Fillet/ Ikan Tuna Fillet
Buat isi Sushinya, tapi isian ini tergantung selera lho, kalo nggak suka daging ikan mentah bisa diisi yang lain, crab stick, omelet telur, kyuri (timun jepang), nugget juga nggak apa-apa, namanya bikin sendiri ya suka-suka yang bikin hehehe
Kalo isian kesukaan gw adalah salmon/tuna dan daun bawang, paling ntar ditambah sedikit mayonaise di sentuhan terakhirnya. Ikannya diiris tipis-tipis aja, terutama Salmon harganya mahal bow jadi untuk diganti dengan bahan lain sangat-sangat boleh hehehe…Oh ya, sekedar tips buat yang suka daging ikan mentah jangan lupa dicuci sebersih-bersihnya ntar akan mengurangi sendiri bau amisnya, kalo masih kecium juga dan nggak suka bau amisnya boleh pake setetes air jeruk nipis, sebaiknya sih nggak terlau banyak ntar aromanya jadi gimana gitu…

Gula (dua sendok makan) dan Garam (satu sendok makan)
Gula dan garam lokal, ga usah bingung…

Soyu
Merk apa aja, kalo gw kemaren yang Kikkoman tapi jangan heran kalo ntar rasanya nggak sama kaya soyu yang ada di resto-resto Jepang ya, yang ini rasanya lebih tajam

Mayonaise dan Wasabi
Kalo suka aja. Wasabi gw belum pernah nemuin di supermarket kaya Giant atau Carrefour tapi ada produk mayonaise dengan rasa wasabi, tapi gw lupa apa merknya hehe..maap πŸ˜€

Bamboo Mat
Atau tatakan bambu, ada di supermarket, kalo nggak ada gw dapet rekomendasi bisa ngegunain sepotong kardus, teksturnya harus keras namun lentur, penting untuk membantu menggulung Sushi.

Siap?

-Campur cuka beras, gula dan garam, panasin sebentar sampe garam dan gulanya larut

-Campur larutan cuka tersebut dengan nasi yang udah disiapkan di mangkok yang enak dipake buat ngaduk. Aduk-aduk sampai larutan merata ke seluruh nasi.

-Siapin selembar nori di atas alas bambu. Taruh nasi di sisi yang deket sama kita, didadar rata dengan lebar paling nggak sepanjang jari telunjuk, tipis-tipis aja. Nasinya jangan didadar ke seluruh nori ya, jadi sisain space yang cukup banyak

-Taro isian di atas nasi di pinggir yang paling dekat dengan kita

-Mulai menggulung sambil sedikit ditekan-tekan supaya padat, jangan terlalu keras nanti bisa buyar

-Potong dengan pisau yang sangat tajam, kalo pisaunya tumpul bisa-bisa Sushinya hancur, kalo pisau di dapur agak tumpul nggak usah beli lagi, cukup diasah pake ulekan batu, gosok bolak-balik mata pisaunya ntar jadi tajam

-Siap dimaem bareng-bareng pake soyu dan mayonaise

Sebaiknya sih lihat videonya aja, dulu gw nggak ngerti kalo cuma baca resep doang, dengan video akan lebih jelas visualisasinya dan penting untuk lihat cara ngegulungnya.. Selamat mencoba! πŸ˜€