Year End Notes

Yang mau gw katakan pertama adalah, waw..beberapa hari menjelang tahun baru ini hampir nggak ada yang menyebut kata “Resolusi” (!!!) kenapa? Udah nggak asyik lagikah? 😀

As usual..karena hitungan “pijakan” gw bukan momen per tahun melainkan momen per hari jadi untuk kesekian kalinya gw menganggap momen seperti ini nggak terlalu penting, ditambah membayangkan orang tumpah ruah di jalanan menjelang dan setelah tengah malam (yang dipercaya sebagai penanda hari berganti) begitu sesak dan berisik bukanlah kesukaan gw, jadi gw amat sangat bersyukur bisa berada di rumah yang sangat nyaman bersama kedua orangtua, nonton film-film bagus (dimana salah satu stasiun TV bertindak sangat menyebalkan dengan menayangkan durasi film hanya setengah dari durasi iklan, yes you sucks), menyiapkan diri dikagetin bunyi ledakan-ledakan fireworks dan terompet (untung disini ga ada yang jual vuvuzela) tengah malam nanti sementara BBM terus berbunyi dari tadi sore berisi ucapan selamat tahun baru (padahal masih beberapa jam lagi dan mereka senang sekali curi start, menurut gw itu nggak asyik, gw lebih suka pemberian ucapan seperti itu tepat pada waktunya atau setelah belum lama waktunya berlalu, tapi terserahlah…)

Tapiiii…sebelum kalian semua menganggap gw orang yang selalu berpikiran negatif hanya karena gw nyaris males ikutan bersenang-senang seperti yang lain, gw cuma mau bilang..bagaimanapun selalu ada catatan sejarah pribadi.

Gw tahu, gw sadar, sebagian orang mungkin menganggap gw pribadi yang..entahlah, menurut catatan seorang yang mengaku Ibu Peri (yep, secara harafiah. Dan hey..! Gw Tinkerbell!) menggambarkan gw sebagai orang yang sangat negatif. Andaikata itu memang benar, inilah catatan setahun terakhir dari sudut pandang gw.

Dunia itu sebetulnya bersahabat, kehidupan juga sudah terkonsep, tapi seiring berjalannya waktu gw baru sadar kalo banyak sekali orang-orang lucu yang pernah gw temui. Hampir semua hal yang terjadi di sekitar gw bikin gw ketawa. Ketawa karena lucu ataupun ketawa sinis.

1. Dulu gw pernah berkomitmen, kalo sebetulnya iri itu seperti asap. Suatu waktu muncul di hadapan gw, tebal dan menyengat tapi lama-lama akan hilang begitu aja terbawa angin. Sampai saat ini gw emang belum bisa hamil karena ada sedikit masalah kesehatan yang katakanlah jadi penghambat bagi kami (gw dan suami gw) untuk bisa punya anak, usaha terus berjalan, tapi orang-orang sekitar pun juga terus berjalan dengan kehidupan mereka. Yang menikah setelah gw udah melahirkan, bahkan yang baru beberapa minggu menikah aja udah terdengar lagi hamil. Yang melahirkan menebar kebahagiaan mereka, yang anaknya dalam masa pertumbuhan dan lagi lucu-lucunya juga nggak kalah menebar kebahagiaan, dari mulai yang tahap wajar sampe berlebihan.

Jujur, gw udah lama capek sama yang namanya iri jadi sekarang-sekarang ini bisa dibilang gw nyaris nggak pernah lagi ngerasa iri sama mereka, solanya ini bukan kaya dapetin kerjaan impian sih, ini masalah karunia, so yes..I deal with it. Tapi, gw pun manusia, punya rasa nggak nyaman kalo sering dijejali hal-hal seperti itu. Diluar kemampuan gw pastinya untuk mengontrol bagaimana mereka menebar kebahagiaan, tapi pernahkah disadari suatu waktu kalo kadang kebahagiaan yang ditampilkan seseorang secara berlebihan bisa bikin orang lain nggak nyaman? I’m sorry, that’s what I felt.

Seringkali gw ngerasa tertekan dengan ketidaknyamanan ini tapi gw nggak bisa cerita ke orang lain, bahkan ke suami gw sendiri. Rasa nggak nyaman itu terakumulasi, menumpuk dan akhirnya gw cuma bisa menangis marah sampe suami gw bingung sendiri kenapa gw tiba-tiba nangis. Gw atasi dengan cara yang lebih religius, tenang sih, tapi kalo orang-orang itu mulai lagi gw akan mencoba untuk sabar lagi, dan begitu seterusnya. Itu sebabnya gw paling nggak suka nama gw ditag di foto anak kecil dan apalagi kalo itu anak dari temen yang sebetulnya gw nggak kenal-kenal amat. It’s quite made me mess, frankly.

2. Gw nggak terlalu suka nonton TV. Apalagi nonton berita. Kata orang nonton berita untuk memperluas wawasan, buat gw nonton berita seperti dibodohi. Gimana gw tahu kalo itu berita bener atau nggak bener? Hampir semua media bersikap berlebihan, dan ketika mereka bilang mereka obyektif buat gw itu sama sekali nol besar. Nggak ada penyampai berita (media) yang obyektif. Bahkan intonasi suara aja udah membuat berita yang disampaikan menjadi subyektif. Terutama sekali gw masih inget waktu lagi hangat-hangatnya Merapi meletus, gw nonton salah satu stasiun TV yang menurut gw beberapa penyiarnya super berlebihan. Di tengah-tengah kepanikan penduduk si host acara sedikit memaksa reporter yang ada di lapangan untuk mewawancarai penduduk yang saat itu sedang mengungsi. Apapun alasannya, nggak pernah ada lagi respek gw terhadap host wanita tersebut beserta stasiun TV itu.

Itu program berita, belum sinetron-sinetron yang..aduh..buat gw itu penghinaan terhadap seni peran. Semua artis sinetron itu (secara jujur gw katakan) nggak ada yang bisa akting, demi Tuhan! semua orang tahu dan sadar akan hal itu! Dan tayangan-tayangan informasi hiburan menganggap kegagalan-kegagalan karya itu nggak pernah ada. Mereka (dengan suara menggelikan dan berlebihan) akan terus nyerocos betapa gemilangnya akting si A. Damn…bukankah itu bentuk lain dari pembodohan?

Dan satu lagi yang sangat mengganggu adalah…artis sinetron dengan kualitas suara jauh di bawah standar mencoba untuk bernyanyi. Ya, betul, “don’t stop believing”, rite?, tapi demi Tuhan! Tidakkah semua hal yang akan dilakukan harus diukur dulu dengan kemampuan yang ada? Okelah, money rules, jadi yang tersisa sepertinya hanya masalah moral aja…

3. Bukannya gw nggak bersyukur, tapi dari awal dihadiahin Black Berry gw langsung ngerasa nggak nyaman. Gw menduga akan sering direpotkan oleh telepon pintar ini. Bener sih, dengan layanan yang ada gw ngerasa banget kalo gw bisa berhemat pulsa, sekarang kalo ketemu orang bukan nanya “Nomer lo berapa?” tapi “Pin lo berapa?”. Tapi ternyata selalu ada orang yang mengesalkan dalam kontak BBM gw. Salah satunya seorang teman lama yang sangat eksis, tiap dua belas jam ganti foto dan setiap tiga jam ganti status. Nggak ada masalah sih sebetulnya dengan itu, karena toh gw juga sedikit eksis di jejaring sosial dengan sering ganti status. Tapi keadaan mulai tidak menyenangkan (dan cenderung menyebalkan) kalo doi mulai mem-broadcast message terus menerus, dari doa harian sampe hoax semua dia broadcast! what the hell!. Terakhir sepertinya dia ganti nama kontaknya sendiri dan bikin gw bingung akan nama baru tersebut…ini siapa?

Terakhir yang dia broadcast adalah inti isinya kita dihimbau berdoa karena katanya ada habib di daerah Banten bermimpi tahun 2011 akan ada tsunami di seluruh Indonesia dimana di akhir pesan tersebut ditambahkan kalimat: kirim pesan ini ke 15 orang temanmu insya allah dalam waktu sehari anda akan mendapat kebahagiaan. Sebetulnya gw udah gemes banget, di kepala gw berkecamuk kata-kata pedes untuk gw bales, setelah beberapa lama merangkai kata-kata yang cukup hati-hati akhirnya gw bales “Iya berdoa, tapi kalo pake “kirim pesan ini ke 15 orang temanmu insya allah dalam waktu sehari anda akan mendapat kebahagiaan” mudah-mudahan nggak mengurangi pahalanya ya..”. Dia lalu menjawab namanya juga amanah harus disampaikan jadi percaya nggak percaya aja deh.

Dalam tingkatan sarkastik yang ekstrim gw mulai berpikir kalo pemerintah bener-bener harus membenahi pemerataan pendidikan yang layak untuk generasi mendatang. If you know what I mean. Jangan salah mengerti ya, gw nggak bilang dia bodoh atau semacamnya, tapi memang pendidikan yang berkualitas otomatis akan menghasilkan generasi dengan pemikiran yang berkualitas pula terutama dalam memilah informasi untuk dicerna (tidak ditelan bulat-bulat) apalagi untuk diteruskan ke orang lain. Kasihan, orang-orang seperti temen gw itulah incaran empuk para penyebar hoax.

4. Sehubungan dengan kasus terakhir yang menimpa gw dan bisa kalian baca di postingan-postingan sebelumnya, mengajarkan gw untuk nggak terlalu percaya sama orang lain, siapapun dia. Bukannya lantas jadi paranoid tapi “berbisnis” sama temen emang harus menerapkan asas “Friend is friend, business is business”, dan catatan untuk gw pribadi bisnis sama temen kayanya jadi pilihan terakhir aja deh, tapi ya lihat-lihat dulu sih orangnya. Masalahnya gw udah ketipu dua kali sama temen gw (orang yang berbeda), jadi catatan khusus buat gw yang bodoh ini untuk tidak terjebak ketiga kalinya sama siapapun!

Sebetulnya itu cuma sekelumit kegemesan gw aja. Gw emang tipe orang yang lebih sering menunjukkan tampang kesal daripada tampang bersyukur, gw emang jarang menuliskan kata-kata baik atau kalimat-kalimat religius di status update gw jadi mungkin orang-orang mengira gw emang orang yang negatif. Secara pribadi gw selalu menganggap doa itu percakapan pribadi antara gw dan Tuhan, meskipun kata orang “Biarin aja sih berdoa di depan banyak orang, biar banyak yang mengamini.” (bener ga sih pemilihan katanya? maksudnya banyak yang bilang amin gitu), yah terserah itu kan prinsip mereka, tapi hanya gara-gara gw nggak kaya mereka bukan berarti gw nggak pernah berdoa toh? Itu cuma masalah “prinsip menampilkan”. Meskipun gw berharap beberapa orang nggak mencoba “meluruskan” pendapat gw (minjem istilah temen, gw pikir itu penggambaran yang tepat) di saat gw nggak setuju dengan pendapat kebanyakan orang. Kadang gw pikir demokrasi nggak lebih dari sebuah kata pemanis di buku pelajaran sekolah.

Well, tiga puluh menit lagi akan banyak suara berisik terompet, bahkan sekarang aja fireworks udah rame dimana-mana. Tahun depan mungkin akan lebih berat lagi, gw cuma berharap akan terus diberi kesabaran dan ketabahan untuk menghadapinya, itu aja.

Oh ya, sebelum gw buka blog ini gw sempet baca berita terbaru seorang ulama yang dulu pernah heboh dengan pemberitaan poligaminya katanya menalak cerai istrinya. Ini membuktikan bahwa hal-hal ideal kurang lebih sama seperti misteri UFO atau Lochness, atau Yetti, atau sejenisnya…meskipun diyakini keberadaannya dan sebagian orang bersaksi pernah melihatnya tapi sepanjang waktu ini belum terbukti secara resmi keeksistensiannya.

Selama ini gw hidup penuh rencana tapi untuk rencana ideal gw cuma bisa tersenyum. Kalo terus menerus gw mengejar hal-hal ideal, gw nggak akan pernah menikmati hidup. Saat ini gw bertahan dengan bersyukur, hanya dengan bersyukur gw mampu membangun rasa sabar 🙂

Selamat menjalani hari-hari berikutnya, kawan! 😀

Lebih Dari Sekedar “Cukup Tahu Aja”

Kalau kalian baca postingan gw yang sebelumnya, well ini cuma sedikit terusan dan kesimpulan lainnya. Paket berisi kaset tersebut akhirnya datang juga dan betul adanya dugaan gw..kaset itu tetap nggak dikerjain selama sepuluh bulan ini. Pantes aja kemaren dia bilang nggak usah bayar..wong nggak dikerjain! Tapi kalo maksudnya nggak usah bayar utang gw yang dulu sebagai ganti rugi karena kaset ini, baru gw sadari kalo itu memang sangat pantas, harga yang waktu itu dia tagihkan ke gw emang lebih mahal dari harga rata-rata.

Jadi gw menyimpulkan bahwa orang ini, orang yang udah gw kenal sejak gw SD dan pernah satu kelas pula waktu SMA adalah orang yang sangat tidak kompeten dalam menjalankan pekerjaannya, usahanya atau apapun itulah. Ditambah kebiasaan istrinya yang sepertinya sejak pacaran terlampau mencampuri urusan pasangannya, ngirimin SMS “membela” ke orang-orang yang bermasalah dengan pasangannya… what a mess

Meski begitu, gw tetap masih bersyukur karena masih bisa belajar dari kebodohan gw sendiri. Bahwa berbisnis dengan teman nggak selamanya berhasil dan untuk itu tetap harus memancangkan “perasaan orang asing” alias untuk nggak terlalu percaya begitu aja. Lebih baik cari orang yang nggak di kenal sama sekali tapi ngejalanin usahanya secara profesional, ada nomor yang bisa dihubungi untuk complain dan yang jelas… NO INTERFERING WIFE, yang satu itu bener-bener luar biasa parah.

Akhirnya udah bisa ditebak, CUKUP SUDAH, gw nggak mau lagi berurusan sama orang itu (dan istrinya), dia bahkan nggak minta maaf secara sungguh-sungguh, cuma minta maaf karena kemaren nggak sempet ngirim kaset itu, bukan minta maaf karena udah ngecewain gw, apalagi minta maaf karena kaset tersebut betul-betul nggak dikerjain selama kurun waktu hampir setahun ini.

Oke, nggak apa-apa. Sekali lagi gw berusaha untuk menahan diri, gw anggap permintaan maaf karena “kemaren belum sempet dikirim kasetnya” sebagai permintaan maaf karena udah mengecewakan customernya. Tunggu! atau..karena gw baru naro kaset doang tapi belum bayar ya makanya nggak dikerjain? Kalo emang begitu kenapa dari dulu nggak bilang kalo gw mesti naro uang muka supaya bisa dikerjain?

See, Mister? Kurangnya komunikasi dalam sebuah bisnis itu sangat berbahaya. Dan untuk sang istri tercinta yang ngirim SMS ke gw meminta supaya gw mengkritik suaminya pada tempatnya kecuali gw mau ngejatuhin reputasi suaminya:

1. Apa yang gw tulis itu nggak ada yang aneh, gw nggak menggunakan bahasa kasar dan gw cuma bilang kalo gw sangat kecewa

2. Gw atau siapapun yang pernah dikecewain suami lo nggak perlu capek-capek nulis dan menyebarkan tentang betapa buruk cara kerjanya ke orang lain untuk ngejatuhin reputasi suaminya karena “Suami anda sudah lama menjatuhkan reputasinya sendiri sejak dia memutuskan nggak menggunakan komunikasi yang baik dengan orang-orang yang bekerja dengan dia.” Dan please, sekali lagi…mencampuri pekerjaan suami anda dengan ngirim SMS ke temen-temen atau orang-orang yang bermasalah dengan suami anda hanya akan membuat nama suami anda jauh lebih tercoreng lagi.

Jadi meskipun sudah pasti gw nggak akan mau berurusan sama orang ini lagi, buat gw pribadi masalah ini lebih dari sekedar perasaan “cukup tahu aja”, gw cuma berdoa semoga orang itu bisa belajar dari kesalahan-kesalahannya dan untuk semua teman-teman yang memakai jasa temannya sendiri bisa lebih hati-hati, kalo gw sih sekarang kalo mau jasa sebuah pihak yang bukan usaha resmi gw lebih suka cari rekomendasi bahwa pihak/orang tersebut betul-betul beres dan yang sangat penting janjinya bisa dipegang.

NB: I’m sorry boy, lo pasti berpikir selama ini gw diam dan bersikap manis karena gw bodoh dan manut? Bukan, gw diam dan bersikap manis karena gw masih percaya hubungan pertemanan, tapi sayangnya lo nggak tahu kalo gw udah panik, marah dan nggak sabar…suami gw aja nyerah!

You’re lucky I didn’t made your life like living hell…

Business Is Business

Gw nulis disini sama sekali nggak ada maksud menjelekkan suatu pihak, gw cuma mau berbagi kekecewaan gw sama yang udah baca dan semoga bisa membuat orang lain lebih berhati-hati.

Gw sangat menghargai temen-temen gw yang ngejalanin bisnis, gw menghargai orangnya dan juga bisnisnya. Seinget gw, dari beberapa yang “berbisnis” sama gw, jarang tuh gw minta secara serius tarif diskon kecuali kalo itu temen dekeeet banget, itu juga niatnya bercanda, karena seperti yang udah gw bilang gw menghargai bisnis orang lain sekalipun itu temen gw sendiri.

Tapi ternyata seseorang udah bikin gw kecewa berat. Berawal dari laptop gw yang kena virus dulu (bahkan lapotopnya sekarang juga udah ga ada), beberapa orang ngasih informasi kalo si A bisa nanganin kaya gitu, gw tanya-tanya sama yang bersangkutan dan dia mengiyakan untuk benerin tu laptop. Meskipun ada bisik-bisik yang bilang, si A kan suka bisnisin temen, tapi gw nggak perduli. Gw pikir wajarlah kalo si A menganut “Friend is Friend, Business is Business”. Gw menganggap itu sama sekali bukan masalah, dan lagi waktu itu gw terdesak cuma dia tempat terdekat buat benerin tu laptop.

Laptop selesai, dan gw inget sebelum laptop itu dibenerin gw wanti-wanti ke si A untuk kasih tahu gw habis berapa untuk tagihannya, jadi gw ambil laptop sekalian bayar lunas, karena pada waktu itu gw minta tambahin uang ke laki gw untuk jaga-jaga takutnya kurang. Tapi pertanyaan akan tagihan itu nggak terjawab sampe saat gw ambil tu laptop dan dia nyodorin tagihan yang..menurut gw lumayan besar, karena sewaktu nggak ada jawaban akan berapa tagihan gw kemaren gw berinisiatif survey ke beberapa temen, biasanya berapa sih kalo benerin dengan kasus laptop seperti gw. Semua rata-rata menjawab harga kisaran yang sama, tapi ternyata yang gw terima lumayan juga apalagi itu bukan konter resmi laptop gw. Agak shock sebetulnya, tapi saat itu gw pikir ya sudahlah, yang penting laptop gw bener. Saat itu pula gw nggak bawa uang sesuai jumlah tagihan, masih kurang setengahnya. Jelas gw minta maaf dan gw akan bayar secepatnya toh kebetulan bersamaan dengan selesainya laptop tersebut gw titip sebuah kaset video untuk ditransfer ke CD. Soal kaset itu juga dia yang nawarin kalo mau ditransfer lewat dia tapi dia juga nitip ke temennya. Gw pikir, okelah sekalian aja toh gw juga males cari tempat transfer lain lagi. Akhirnya kekurangan uang tagihan laptop gw janjiin bayar sekalian kalo kaset itu udah selesai ditransfer, jadi biar nggak bolak-balik.

Gw inget itu bulan Februari tahun ini, dan sampe saat ini kaset itu nggak jelas gimana kabarnya. Beberapa kali gw tanyain, bahkan gw sempet ketemu sama dia waktu temen gw baru buka warnet dimana dibantu juga oleh si A, dia sih bilang maaf ya soalnya bla bla bla.. fine, gw bilang, nggak apa-apa padahal itu udah berbulan-bulan lamanya. Kenapa gw sabar? Kenapa gw masih percaya sama dia? Karena dia temen gw dari kecil dan SMA dan dia juga bantuin temen gw waktu buka warnet, itu yang bikin rasa percaya gw nggak pudar. Dan gw bener-bener berniat untuk bayar semuanya. SEMUANYA. TANPA MINTA DISKON “PERTEMANAN”.

Beberapa bulan yang lalu pas gw mau nanya lagi kabar kaset gw, pas gw denger salah satu temen gwagak bermasalah sama dia, akhirnya gw urung nanya soal masalah gw, maksud gw biarinlah dia selesain masalahnya dulu, ntar malah tambah puyeng lagi, gw tahu rasanya kena beberapa masalah sekaligus. Kalo bukan temen gw jelas gw udah complain abis, tapi sekali lagi gw masih mandang dia temen gw.

Sekitar beberapa hari yang lalu gw denger dari temen gw dia nikah, gw denger dari temen gw yang juga satu SD dan satu SMA sama gw dan si A, dia diundang dan gw nggak. Jelas gw heran, kenapa gw nggak diundang? Perasaan gw nggak pernah bermasalah sama dia selama ini. Tapi gw pikir lagi oh mungkin dia lupa kali. Trus besoknya gw tanya dia kok nikah ga ngundang-ngundang gw? Alsan dia limited invitation. Oke, buat gw hal-hal kaya gitu bukan masalah besar dalam hidup. Sambil gw tanya (masih dengan baik-baik dan berusaha untuk nggak menyinggung -kurang sabar gimana coba,gw?-) apa kabar kaset gw? Gw bahkan merelakan (sumpah,Demi Allah gw setulus hati) kalo emang belum dikerjain sama sekali nggak apa-apa, gw minta dikembaliin aja lagi, tapi tetep utang gw yang dulu gw bayar karena udah lama banget gw nggak enak juga. Tapi karena saat ini gw lagi kena cacar, jadi gw minta kasetnya dikirim via tiki dan uangnya gw transfer. Akhirnya dia minta nomor hape gw (ternyata nomor hape yang gw kasih dulu hilang) dan gw minta dikabarin secepat mungkin.

Sampe tadi malem terakhir gw nanyain masalah kaset itu di wall FB-nya karena masih nggak ada jawaban. Gw terpaksa nulis di wall FB karena 1) Beberapa kali gw SMS ke nomor yang dulu pernah dia kasih ke gw dan nggak ada balasan dan 2) Gw rasa (sekali lagi) gw udah cukup sabar dan berlaku sopan dengan mengirimi dia private message supaya orang-orang nggak banyak yang tahu masalah ini, karena gw paham reputasi adalah segalanya untuk para pebisnis.

Dan sampe tulisan ini dibuat tetep nggak ada balesan padahal gw nulis di wall-nya itu malem dan tadi pagi pas gw bangun gw sempet dia update status beberapa jam setelah gw nulis di wall-nya.

Man..come on. Kalo gw mau kasar: kalo lo mau bisnisin temen sendiri kerjanya juga PROFESIONAL dong! Gw nggak masalah lo mau “meres” berapapun juga, tapi sebagai customer yang MEMBAYAR gw minta jasa yang profesional dan sebagai teman gw minta kejujuran, itu aja.

Yah kalo yang bersangkutan baca ini, gw nggak tahu deh mesti ngomong apa lagi sama lo. Gw cuma minta kaset gw balik, karena ada temen gw yang mau pinjem dan BAHKAN nawarin transfer secara GRATIS. Gw selama ini nggak pernah punya pikiran buruk sama lo bahkan ketika banyak orang bilang kerja dan janji lo sangat mengecewakan, tapi ini udah hampir setahun. Gw sebetulnya nggak suka ngangkat masalah kaya gini di blog gw, tapi dapetin jawaban dari lo susah banget.

Untuk teman-teman yang lain, ini sih supaya lebih hati-hati aja. Yang jelas nggak semua orang seperti temen gw itu. Gw bahkan lebih salut sama temen gw yang punya OL Shop dan gw udah dua kali pesen sama dia, meskipun gw baru kenal dan barang kedua agak terlambat dia tetep tuh ngabarin, dan ketika barang dikirim dia juga ngabarin, komunikasi nggak putus dan emang begitulah bisnis seharusnya dijalanin.

Maaf, tapi setelah hampir setahun digantung gw pikir wajar kalo gw bilang “no more miss patience”.

———-update————

Akhirnya gw dapet kabar juga nggak lama gw nulis ini, tapi bukan dari si A sendiri tapi dari istrinya. Helooo…urusan gw sama suami lo kali dan kalo lo mau ngebela laki lo pastiin tahu ngerti masalahnya. Gw heran kenapa sih ada istri yang nggak bisa bedain mana yang urusannya dia dan mana yang bukan. Gw aja nggak pernah tuh ngurusin kerjaan laki gw, apalagi sampe SMS temen laki gw waktu dia bermasalah sama laki gw. Be smart! Not smart-ass. Meski begitu istrinya bilang tenang aja itu kaset pasti dikirim, yeah gw tunggu pastinya dan gw wanti-wanti untuk minta nomor pengirimannya supaya gw bisa ngecek barang itu udah sampe mana. Sedangkan dari si A sendiri? Tetep nggak ada jawaban apa-apa…gila ya… Segitunya tuh orang… Astaghfirullah….

I’m Not Judging, I’m Complaining

Cuaca ekstrim dan peralihan musim panas ke musim hujan (yang bahkan udah nggak jelas tiap hari masuk ke musim apa) bikin badan gw nge-drop. Suami gw tersayang juga ikut nge-drop sampe bela-belain izin ga ikut tur karena kondisinya. Flu berat seminggu lebih dan sekarang tinggal menyisakan pilek yang kadang bikin hidung luar biasa mampet. Ketika badan meriang dan yang lo inginkan cuma ngeleyeh di kasur, saat itulah lo pengen suasana yang setenang mungkin, nggak ada suara sekecil apapun yang bisa terdengar begitu cempreng di telinga. Bukan begitu? Kalo gw sih begitu…

Saat itulah, di bawah selimut tebal di siang bolong, hidung mampet sampe harus nafas lewat mulut, badan agak panas tapi berasa kedinginan, suamiku sayang nonton TV, sebuah acara musik lokal di stasiun TV swasta muter video klip seorang artis “multi talent” yang tempo hari jadi subyek gosip video mesum.

Sebetulnya ini keluhan gw yang kesekian kali setiap kali ada orang yang nggak bisa nyanyi tapi maksa jadi penyanyi (pengertian “penyanyi” buat gw adalah udah masuk dapur rekaman, punya video klip dan diorbitkan secara resmi oleh sebuah label rekaman resmi dan diedarkan secara nasional), dan beberapa kali gw ngungkapin keluhan gw di depan umum selalu aja ada orang yang balik mengeluh “Nggak usah nge-judge orang, lihat aja diri lo sendiri.”

Gw udah ngelihat diri gw sendiri setiap hari selama bertahun-tahun, karena itu gw nggak pernah maksa jadi penyanyi karena gw nggak bisa nyanyi, gw nggak maksa jadi model karena gw nggak cantik dan gw nggak pernah maksa jadi pragawati karena gw nggak tinggi.

Yang namanya penyanyi itu tugasnya nyanyi kan? Apa modalnya? Suara bagus bukan? Kalo model syarat utamanya wajahnya enak dilihat, suara nomor sekian. Kalo penyanyi? Siapa yang setuju kalo SYARAT UTAMA PENYANYI HARUS BERSUARA BAGUS? *Gw setuju*.

Betul, gw setuju dengan saran “Kalo nggak suka nggak usah ditonton, matiin aja TV-nya” dan gw pun juga udah meraba-raba tangan gw sejauh jangkauan nyari remote TV untuk ganti saluran daripada mesti denger doi nyanyi. TAPI, di luar masalah itu, sebagai “pendengar” dan “pemirsa” gw juga berhak dong dapet tayangan bagus, denger nyanyian dengan vokal berkualitas bagus? Jujur, kuping gw ngerasa terganggu. Kalo lo pernah denger ada orang nyanyi fales pasti juga males kan dengernya? Apalagi dalam keadaan sakit, suara itu jadi terdengar seperti dengungan lebah “Bzzzzzzzzzz….nnggggggg…” dan terdengar lebih cempreng. Satu-satunya dengungan yang pengen gw denger cuma dentingan cepat piano yang melantunkan The Flight of Bumblebee.

Ya, gw mengeluh akan orang-orang itu, bisakah mereka tetap pada “mono talented” saja dimana mereka ahli dalam suatu hal yang mereka memang ahli akan hal itu? Kalo emang model ya model aja, kalo emang artis sinetron (meskipun yang dia bisa cuma akting melotot dan nangis) ya artis sinetron aja, kalo emang ngerasa nggak bisa nyanyi nggak usah maksa dan nggak usah mengiyakan tawaran yang ada. Melakukan hal yang bukan ahlinya adalah “kejahatan”, Nona… Itu seperti..malpraktek dalam dunia tarik suara, suara yang tidak terlatih secara profesional bisa mengganggu pendengaran yang mendengar, demi seluruh bakat yang ada di seluruh muka bumi ini, kasihanilah kami!

Tolooooong..kasihanilah pendengaran kamiiiiiii…. 😦 *nangis sambil pukul-pukul dinding*

Ratu Drama

Guess what? Gw bisa menghasilkan 200rb dari menangis wuahahahaha…:D 😀 😀

Dimulai dari datangnya sebuah paket kecil untuk suami gw. Sekilas lihat tu paket aja gw langsung tahu apa isinya dan secara otomatis nyusun rencana, ditambah lihat ekspresi wajah laki gw waktu gw “membantu” membuka paket itu, udah cengar-cengir ga karuan..hmmm..makin gw kerjain nih…

Bener aja isinya adalah jam tangan yang dia beli lewat internet. Menyisipkan sebuah fakta yang menurut gw cukup beralasan kenapa lantas kemudian gw memainkan peran si Ratu Drama: sayangku cintaku itu udah punya jam tangan dengan merk yang sama yang dibelinya lewat internet juga, kondisinya masih bagus bahkan lebih bagus yang pertama dari pada yang dia beli kedua ini, waktu gw tanya kenapa pake acara beli lagi jawabannya adalah: “Abis sayang yang itu (jam tangan yang pertama) kena baret terus kacanya kalo lagi kerja.”

Gw interogasi dan sedikit memaksa dia buka internet untuk ngecek berapa harga jam tangan itu sebagai prelude plot Ratu Drama gw. Masih dengan tampang yang serba salah (oh, suamiku yang baik dan nggak bisa bohong!) dia lihatin ke gw harganya seratus tujuhpuluh ribu sekian, maka meledaklah si aktris dalam diri gw,

“Kamu keterlaluan! beli jam tangan sampe dua begitu, kemaren aku minta beliin buku harga segitu katanya mahal! Tega!”

Karena sebetulnya gw juga keki berat karena gw pikir dia beli jam tangan buat gw dan ternyata bukan, jelas rada marah juga (wkwkwkwkw :D) yang membuat mata gw mulai berkaca-kaca. Laki gw masih cengar-cengir sambil bergumam entah alasan apa supaya gw nggak marah. Lalu gw bilang,

“Aku nggak mau tahu, kamu bisa belin itu untuk aku, ganti pake mentahnya (alias ganti pake uang!)”

“Haaahh???” Doi membelalak yang gw yakin dia pasti udah tahu gw bakal ngajuin penawaran itu.

Begitulah, akhirnya malamnya dia ngasih dua ratus ribu ke gw sebagai “kerugian moral”. Tapi pada akhirnya gw tolak, dengan dua alasan:

1. Kalo gw terima uang itu rasa bersalahnya akan habis begitu aja, biarlah jam tangan itu jadi prasasti rasa bersalah *me,awful*

2. Nggak tega gw sebetulnya dan lagipula gw cuma main-main aja sejak awal. Keki sih beneran, tapi semua bisa dibicarakan, setelah gw sampein uneg-uneg kenapa gw marah dia pun ngerti dan dia juga ngasih alasan kenapa dia beli jam tangan sampe dua kali, gw juga ngerti kok..namanya kerja outdoor dan jam tangan yang pertama itu lapis kaca jadi sering baret, sayang juga. Sedangkan yang kedua itu lapis plastik dan gw rasa lebih murah harganya daripada yang pertama, jadi mau diapa-apain juga cuek aja. Masing-masing menjelaskan dan masing-masing coba mengerti, udah deh..plong 😀

Pesan moralnya adalah: semua masalah bisa dibicarakan (tanpa mainin peran Ratu Drama tadi, jangan dicontoh ya..itu sangat..sangat keterlaluan). Oke mungkin awalnya emosi, tapi jangan pernah memutuskan sesuatu atau bicara dalam keadaan emosi.

Menjadi Ratu Drama yang sebenarnya sangat sangat tidak keren. Kalo cuma untuk sebuah tagline, Ratu Drama emang terdengar lucu, tapi dalam kehidupan nyata gw rasa lebih banyak ngeribetin aja. Mengingatkan gw pada seseorang yang akhir-akhir ini menggemparkan temen-temen gw.

Orang yang itu lagi sih. Mestinya orang itu beruntung masih ada orang yang beda pendapat dengannya karena dengan begitu dia bisa belajar dari sudut pandang lain, tapi dia nggak mau denger. Sampe pada akhirnya orang-orang mulai sadar gimana dia dan ngerasa mulai “males” bergaul sama dia, dia lalu memposisikan dirinya sendiri sebagai korban. Mengumumkan ke orang lain kalo dia dituliskan (oleh gw mungkin?) sebagai orang yang buruk. Itulah Ratu Drama yang sebenarnya. “Nggak ada kompromi, di atas panggung ini cuma gw.”

Paling nggak gw bisa belajar satu hal dari dia: terus koreksi diri dan terus mempelajari sudut pandang orang lain supaya hati dan telinga nggak tertutup rapat sama suara-suaranya sendiri. Haah..jadi ngomongin lagi..penting banget sih.

Nite,folks! :-*

Chains of Hoax, Chains of Idiots

Terkutuklah orang yang pertama kali memulai Hoax.

Kemaren, beberapa temen gw dua kali mem-broadcast pesan yang sama: “Bila profile picture anda tidak muncul itu karena Black Berry Indonesia sedang maintenance, untuk mengaktifkannya kembali kirim pesan ini ke seluruh kontak anda”. Karena memang seharian kemaren tiba-tiba profile picture gw juga hilang begitu saja, dan status temen-temen gw nggak keliatan padahal mereka udah update kemana tau.

Sebagai awam IT, gw emang awam tapi gw juga nggak goblok-goblok amat, apa hubungannya ngaktifin profile picture sama nge-broadcast pesan ke semua kontak. Sayangnya hal ini udah terjadi selama bertahun-tahun dengan perihal berbeda dan akhir pesan yang sama.

“Saat ini database Facebook sudah penuh, supaya akun anda tidak terhapus kirimkan pesan ini ke sepuluh wall teman-teman anda.”

Doh! Atau berita bencana yang bisa bikin geger orang banyak:

“BMKG mengumumkan akan terjadi gempa berkekuatan 8 SR di daerah Lampung Selatan, segera sebarkan berita ini agar tidak jatuh banyak korban.”

Gempa tidak bisa diprediksi, sayang. Dan orang tersebut bahkan mempermalukan dirinya sendiri dengan menjadikan hoax tersebut sebagai status FB-nya.

Tapi yang lebih mengesalkan lagi daripada hoax-hoax brengsek itu kalo udah nerima pesan berisi doa bla..bla..bla.. dengan akhir bertuliskan:

“Kirimkan pesan ini ke tujuh teman anda, maka dalam tujuh jam anda akan mendapat kebahagiaan.”

Atau

“Sambungkan pesan ini atau kesialan akan mendatangi anda.”

Musyrik lo?

Sejujurnya, kita butuh filter untuk tahu benar apa nggaknya sebuah pesan yang sampai dan untuk itu KITA HARUS CARI TAHU, kalo udah tahu pesan itu nggak bener, NGGAK USAHLAH DITERUSIN LAGI KE ORANG-ORANG, KARENA ITU SAAAAANGAT MENGGANGGU DAN CUMA AKAN BIKIN DIRI ANDA TERLIHAT TOLOL.

Jadi PLEASE! (memohon sambil membenturkan kepala ke dinding) please..please..please.., jadilah pengguna teknologi yang bijak dan cerdas, nggak perlu cerdas deh tapi minimal kalo emang lo ragu akan sebuah pesan, cari tahu dulu bener apa nggak, kalo nggak bener udah..ga usah diterusin, dan jangan usil ngirim kebohongan-kebohongan ke orang lain, lo mau tiba-tiba ada orang celaka gara-gara kebohongan yang lo sampein?

Be smart! not smart-ass!

NB: ya, gw sangat-sangat terganggu dengan semua pesan sampah yang sampe ke gw selama ini, dan lo tahu kan..sekarang penyebar hoax bisa diancam hukuman serius…

Iklan Tengah Malam

Ada sesuatu yang mengganggu gw dua hari terakhir ini. Tepatnya waktu tengah malem tempo hari gw lagi nonton TV, ditengah-tengah insomnia, ada iklan layanan masyarakat. Mungkin dalam rangka memperingati hari ADIS sedunia, itu iklan layanan masyarakat yang mengkampanyekan untuk selalu menggunakan kondom dalam melakukan hubungan beresiko.

“Hubungan Beresiko”

Kata-kata di iklan itu kurang lebih begini: “Gunakan kondom setiap melakukan hubungan beresiko”. Di iklan itu ada seorang perempuan (gw asumsikan dia seorang pelacur; baju seronok, berdiri di pinggir jalan), trus ada laki-laki berwajah “gatel” (genit maksud gw) datengin perempuan itu dimana dia (dengan bahasa tubuhnya) menolak si lelaki. Trus lelaki gatel itu ngeluarin bungkusan kondom dari sakunya dan barulah si perempuan mau ikut lelaki itu.

Well, bagus mereka naro iklan itu tengah malem (sudah seharusnya), tapi tetep aja gw ngerasa terganggu ngelihatnya. Mungkin pesannya jelas: gunakan kondom untuk mencegah AIDS, tapi ada satu hal yang gw pikir sedikit rancu. Is this mean prostitutes are legal now?. Maksud gw, apa sekarang ini pelacuran bener-bener jadi hal yang biasa?

Maafkan pikiran gw yang mungkin dianggap terlalu jauh untuk sebuah iklan, tapi yang gw tangkep dari iklan itu: “Gunakan kondom setiap melakukan hubungan beresiko” sama seperti seseorang berkata “Gunakan helm kalo naik motor”. Semua orang tahu naik motor punya resiko kecelakaan yang tinggi kalo nggak hati-hati mengendarainya, karena itu selalu gunakan helm untuk melindungi kepala dari luka yang lebih parah (atau bahkan kematian).

Apa sekarang pelacuran udah jadi hal yang bener-bener biasa banget? Apa sekarang udah nggak bisa lagi ada peringatan kalo melacur dan menggunakan jasa pelacur bisa menimbulkan penyakit sampe-sampe harus “Gunakan kondom setiap melakukan hubungan beresiko“. Jadi sekarang hubungan beresiko udah bener-bener nggak bisa dibendung? Kalo emang iya…

Ladies, keep up your mans up…coz every thing could be happen now… karena sewaktu-waktu pasangan lo, anak lo kelak atau salah satu keluarga lo bisa aja terkena penyakit karena hubungan beresiko yang sepertinya saat ini nggak lagi terdengar seperti sesuatu yang wajib dijauhi padahal itu sangat berbahaya.

Sorry sebelumnya, gw nggak bermaksud menceramahi tapi udah waktunya kita lebih aware sama kesehatan dan keselamatan kita masing-masing dimana sebagian besar dipengaruhi pola hidup.

“Love Matters”

Gw buka twitter malam ini, membaca beberapa pertanyaan tentang cinta dan gw ngerasa seperti lagi duduk di sebelah Brittany Pierce dengan mimik wajah “What??”

Well, kisah cinta gw sebelum menikah terhitung pendek untuk jangka waktu pacaran (cuma satu mantan) dan cukup panjang untuk rentang waktu menggebet laki-laki (gebet maksimal, hasil minimal) jadi gw kadang bertanya kenapa banyak orang menanyakan hal-hal seperti ini:

1. Apa yang kamu lakukan ketika kamu masih sayang sama mantan?

Doh! ya ngomong lah… “gw masih sayang” kalo dia masih sayang juga dan masih single, ajak aja balikan, kalo udah ga sayang atau udah ga single ya tinggalin..kaya ga ada orang lain aja.

2. Kalo ada yang ngasih harapan sama kita tapi dia udah punya pacar, gimana?

Ya nggak gimana-gimana..mau aja dimainin sama tu orang…

3. Apa yg akan kamu lakukan ketika sedang naksir sama seseorang?

Oh, please…

4. Apa yang kamu lakukan kalo ini hari terakhir kamu bertemu dengan orang yang kamu cintai?

What is this? Romantic Hollywood movie?

5. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menyukai cowok/cewek lain tapi kamu sudah punya pacar?

Itu namanya NGGAK MAU RUGI, sayang…

6. Apa reaksimu kalo tau ternyata mantan mu sangat membenci mu?

Hah? Situ oke??

7. Apa reaksimu jika orang yang kamu suka bilang “Maaf, aku tidak suka sama kamu, aku sudah mencintai orang lain”?

Lihat jawaban No.1, kalimat paling akhir

8. Apa reaksimu kalo temen-temennya pacar mu gak suka liat kamu pacaran sama dia?

Mengutip My Happy Ending-nya Avril Lavigne:
“You’ve got your dumb friends, I know what they say.. They tell you I’m difficult, but so are they! But they don’t know me, do they even know you?”

9. Apa untungnya kalo masih berhubungan/temenan sama mantan pacar?

YOU tell me, sebetulnya gw punya jawaban serius untuk ini…manfaatkan networkingnya, bukan yang lain.

10. Apa reaksimu kalo ada orang yang deket sama kamu tapi dia lagi deket juga sama orang lain?

Itu pentingnya memupuk rasa nggak cepet ge-er. Lihat jawaban No.2

Ditilik dari pertanyaan-pertanyaannya sih yang mengajukan paling anak-anak usia remaja sampe awal 20-an. Cukup beruntung mereka nggak nanyain pertanyaan-pertanyaan itu ke gw, bacanya aja bikin gw nggak bisa berkata-kata hahaha 😀

nite folks! 🙂 🙂 🙂