“Teachers Complex”

Beberapa hari yang lalu ketika gw lagi nonton Harry Potter di bioskop bareng beberapa temen, di tengah-tengah film yang seru tersebut tiba-tiba temen gw ketawa cekikikan sambil mandangin HP-nya. Gw pikir apa yang bisa lebih seru dari film ini? Dia lalu berbisik “Si S diceramahin sama si Mbak” katanya sambil ketawa tertahan. Karena konsentrasi gw lebih ke film, akhirnya gw nahan rasa penasaran sampe film selesai. Bener aja, mereka kembali ketawa setelah filmnya habis, trus gw cek apa sih yang bikin mereka ketawa…

Ternyata salah satu temen kami abis dikuliahin di status FB-nya dengan seseorang yang akhir-akhir ini baru ketahuan kalo perilaku beliau cukup “mengganggu”. Gw sih udah paham tabiat si Mbak yang suka memaksakan kuliah gratisnya ke orang-orang, cuma tulisannya kali ini bikin gw mengerutkan dahi.

Status si temen itu sebetulnya mungkin cuma ungkapan hatinya yang kayanya pasca patah hati dan “terdengar” sedikit keras. Tiba-tiba si Mbak muncul dengan kalimat pembuka “Heeuuh..muridku yang satu ini kok remed melulu ya?” disambung dengan kuliah beliau tentang perasaan. Tentu aja kita ketawa denger kata muridkumurid siapa?

Si Mbak ini emang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah menengah sih, tapi menyamakan orang-orang yang seumur dia dengan muridnya? Kayanya kita nggak pernah ngerasa ngebayar dia untuk jadi guru kita-kita deh…

And then I ask myself…apa ini ya yang namanya Teachers Complex? Hahahaha 😀 Gw nggak punya referensi ilmiah soal ini (juga nggak berusaha mengambil atau mencari), cuma sekedar penggambaran lebay aja hehehe…

Mau nggak mau gw jadi bertanya-tanya, gimana perasaan anak murid (yang beneran) punya guru kaya si Mbak ya? Sama temen-temennya aja suka mendominasi, udah gitu seneng banget yang namanya maksain pendapat dia ke orang lain. Apa lingkungannya nggak pernah ngajarin dia tentang perbedaan pendapat ya? Belum lagi kalo kita nggak setuju sama pendapatnya, dia bicara merendah hati yang lama-lama terkesan bahwa kita buruk. Kalo disinggung dan dia menjadi tersinggung (dimana dalam hal ini perasaannya yang sensitif sangat berlebihan) biasanya dia akan menerbitkan note di FB dengan kata-katanya yang puitis nan romantis yang mengundang simpati para pembaca berhati sensitif juga. Well, nggak masalah sih selama dia masih mau menghargai etika dengan tidak menyebut atau menyantumkan nama orang yang dia keluhkan (si chuwey pernah kena nih..hehehehe..deep condolence dear, yang waras ngalah :D)

Dulu, gw masih inget sebelum gw ngapus namanya, di pernah nulis note penuh kesedihan. Menurutnya, ada anak muridnya (murid beneran) menggambarkan dia sebagai guru yang menyebalkan dalam sebuah angket sekolah, jelas si Mbak tersinggung dan di beberapa statusnya terlihat mengutuk murid tersebut dengan cara khasnya (membawa-bawa nama Tuhan). Oh come on..-I think- they’re just kids, kids told what they saw and felt. Kaya nggak pernah jadi anak sekolahan aja. Bukannya mestinya dia bicara dari hati ke hati sama anak yang bersangkutan, membuka diri, tanya kenapa dia bisa menulis begitu apa salahnya trus koreksi diri, ini malah balik ngutuk tu anak. Mbak, just because you’re a teacher it doesn’t mean you’re always right. Guru yang baik itu berbagi Mbak, bukan menghakimi.

Lalu dia juga pernah bilang kalo dia “meng-copy” cara ngajar Pak T, wali kelas kami waktu SMA dulu. Untuk gw pribadi Pak T salah satu pengajar yang inspirasional, mengagumi beliau dan meniru cara-caranya yang positif sah-sah aja, tapi sampe copycat??? Lo nggak punya pribadikah?? Wajar aja hasilnya jadi kaya gitu, lo ya lo, apapun profesi lo jadilah diri lo sendiri, terinspirasi dari seseorang oke, tapi menjadi seseorang??? Is something really wrong with her???

Tapi Mbak…jadilah “guru” di depan murid-murid (murid beneran) anda di sekolah, tapi jadilah teman biasa di antara teman-teman anda, mengingatkan silahkan tapi Mbak juga mesti inget nggak semua orang sreg dengan cara anda (well, sebetulnya banyak orang yang nggak sreg dengan cara anda). Mbak, anda udah kehilangan salah seorang sahabat anda gara-gara cara anda yang kurang beretika di jejaring sosial, apa itu nggak memberi pelajaran untuk anda pribadi, Mbak? Jangan cuma bisanya nangis dengan tubuh gemetar lalu jatuh ke pelukan Mas Tampan, Mbak…koreksi diri lah…

Once again..I feels like the lady evil. Tapi gw paling nggak gw memetik banyak hikmah dari kejadian ini antara lain untuk sering-sering koreksi diri dan selalu memohon supaya hati gw nggak ditutup olehNya dari masukan-masukan orang lain…

Advertisements

Jeng…

Jeng…
Bukannya kami membenci kamu
Kami tahu kamu orang yang baik
Menasehati orang untuk tidak terjerumus
Menyebar apa yang kamu sebut kebaikan

Tapi Jeng…
Caramu itu lho

Kamu bilang kamu ini seorang guru
Buat saya kamu hanya pengajar biasa dan bukan seorang guru
Guru jauh lebih bijaksana
Guru itu membagi ilmunya
Bukan menghakimi seseorang salah atau benar
Lalu mendebat habis sampai kamu menghirup sendiri aroma kemenanganmu

Jeng…
Pernahkah kamu berpikir akan orang-orang di sekitarmu
Mereka yang bermulut manis
Dan mereka yang bermulut pedas
Yang bermulut manis tidak selalu menyampaikan manis nan murni
Yang bermulut pedas juga tidak selalu menyampaikan serat yang menusuk

Jeng…
Lama-lama saya berpikir kalau kamu sudah buta
Buta akan kata-kata yang hanya kamu sendiri yang terasa benar
Buta akan hal-hal yang kamu sendiri menyangka itu baik
Pernahkah kamu berpikir dengan sudut pandang orang lain?
Pernahkah kamu merasakan apa itu empati?
Pernahkah kamu merasakan “bagaimana jika saya yang ada di posisi orang tersebut?”

Jeng…
Jangan pikir saya membencimu
Saya justru merasa kasihan melihatmu
Teman-teman yang banyak bermulut manis padamu,
Ternyata membicarakan ketidaksukaannya akan kamu
Namun jangan salahkan mereka
Kamu sendiri yang menutup telinga akan kritik yang sudah sehalus mungkin mereka sampaikan

Jeng…
Pernahkah kamu mendengar mereka mengkritikmu?
Tidak pernah?
Dengar lagi…
Pernah?
Tidak mau dengar?
Kamu menutup telingamu?
Kamu hanya mendengar hatimu?
Atau kamu hanya mau mendengar hal-hal yang (kau anggap) baik?

Jeng…
Kami tidak mungkin bisa mengubah kamu
Tapi kalau kamu merasa kamulah yang paling dekat dengan Tuhan,
Sementara kami ini para kafir,
Bolehkah kami juga berdoa?

Jeng…
Kami berdoa semoga hatimu dibukakan olehNya
Kami berdoa semoga kamu lekas lepas dari kebutaanmu
Kami berdoa semoga cara pandangmu lebih diperluas
Kami berdoa semoga orang-orang yang kamu anggap teman, memang tulus berteman denganmu

Semoga lekas sembuh, Jeng….

Senandung Curhat

Belum lama ini, gw pernah nganterin laki gw dari Pasar Minggu ke sebuah bengkel gitar di daerah Rawamangun untuk mereparasi gitar. Karena waktu itu kebetulan gw lagi bawa tas gede dan menampakkan wajah yang mulai bete, laki gw rumangsani (tahu diri) untuk nggak nyuruh gw menyandang gitar yang mau diperbaiki. Tapi karena gw orang yang baik hatinya (dan lembut suaranya *wink wink*) dengan nada bete yang ditekan, menawarkan diri supaya gitar itu gw yang bawa. Laki gw bilang nggak usah lalu menyandang gitar tersebut di bagian depan badannya. Yang tadinya cuma bete malah berubah jadi kesel liat laki gw, dengan posisi gitar disandang di dada dan dia bawa motor pikir gw pastinya bakal ganggu dia berkendara dong? Tapi doi bersikeras dengan caranya disertai alasan “Dulu aku band-band-an kemana-mana ya bawanya begini”. Yeah rite.

Tapi setelah gw lihat gambar sampul komik ini, baru gw percaya kalo itu adalah posisi-ribet-yang-dapat-diterima. Oh ya, dan isi komik ini juga termasuk penjelasan-dan atau-curhat-jauh-dari-lubuk-hati-paling-tulus-dari-anak-band.

Sebenernya ni komik rilis udah lama, sekitar beberapa bulan yang lalu cuma di toko buku deket rumah stoknya abis dan pas kebetulan jalan-jalan ke Gramedia Matraman ternyata masih ada (hasil frustasi nggak kebeli buku tebal Babad Tanah Jawi yang ternyata mahal harganya dan kini hanya bisa memasukkannya ke dalam wish list berharap ada seorang baik hati yang membelikan untuk gw..hikz…).

What can I say bout this book? Duet personel band The Rain, Indra Prasta dan Aang Anggoro yang mengumpulkan curhat demi curhat mereka ke dalam sebuah komik. Yang jelas, memiliki keidentikan fakta-fakta yang sering diceritain laki gw tentang dunia anak band dengan cara yang lucu, ngena, ada bagian yang cukup “menonjok” tapi juga nggak menghakimi orang-orang yang seringkali berpandangan sinis terhadap band-band Indonesia. Kekurangan buku ini cuma satu: KURANG BANYAK ceritanya hehehehehe… 😀

Ada satu bagian yang bikin gw tiba-tiba ketawa, scene saat konser dimana apapun band yang lagi tampil di panggung itu, “bendera kupu-kupu” selalu ada 😀

Sebetulnya kalo ada kesempatan komik ini ada sekuelnya gw ngarep lebih banyak joke yang lebih..mmm…agak sedikit tajem kali ya, biar ketawanya lebih mantep hehehe…

Komik ini cukup aman untuk dibaca oleh siapa aja, berbagai kalangan dan usia, baik anak band atau bukan, tidak mengandung SARA (hoho) ataupun kata-kata makian (dibuktikan dengan tidak ditempelnya label Parental Advisory di sampul mukanya ehehe..), ringan dibawa kemana-mana (enteng sih), okelah untuk nemenin santai di waktu senggang saat tanggal tua, bokek dan lagi ga bisa kemana-mana 😀

Seperti yang pernah gw bilang di postingan yang lalu tentang anak band, umumnya mereka sama seperti kita dalam berusaha, bekerja dan mencapai cita-cita. Kadang nggak se-glamor yang terlihat, persaingan tajam dalam industri yang cukup kejam. Mungkin dengan penjelasan dalam buku tipis ini bisa membuat kita untuk nggak terlalu sinis dalam memandang mereka dan yang pasti lebih menghargai karya bangsa sendiri (look who’s talking now…) 😀

Adik Kecil

Kalo lo bener-bener pengen tahu perasaan gw yang sebenarnya.

Kalo lo punya adik terutama cewek, gw sarankan untuk nggak ngeledekin dia (terutama sekali tentang fisiknya) secara berlebihan karena semua hal tentang dia yang berasal dari saudaranya akan membentuk dia nantinya.

Kakak mana sih yang nggak ngerasa gatel untuk gangguin adiknya? Apalagi kalo ngeledekin yang berbau fisik “Jelek lo” atau “Item banget sih lo, anak siapa sih?” makin bereaksi dia makin seneng kan kadang ngeliatnya?

Well I tell you, meskipun mungkin umur adik lo masih sangat muda, kata-kata ledekan bisa cukup menyakiti hatinya dan nggak jarang bisa berpengaruh ke cara dia berpikir atau memperlakukan orang nantinya.

Akhir-akhir ini nampaknya gw baru sadar akan hal itu. Gw masih inget banget kata-kata ledekan untuk gw waktu masih kecil: item, jeding, keriting. Pada saat gw marah, kakak gw makin tertawa senang, itu bikin gw lebih tambah marah. Mungkin dia nggak tahu, kadang gw juga suka lihat cermin dan bertanya “Apa gw sejelek itu?”, mungkin dia juga nggak tahu kalo adiknya juga bisa merasa rendah diri gara-gara kata-katanya. Dan mungkin dia juga nggak tahu kalo adiknya sering berada lama di kamar mandi untuk sesi tambahan disela mandi: nangis.

Beberapa tahun di bawah rasa percaya kalo gw emang jelek (dan sampe sekarang kalo ada yang bilang gw manis meskipun dengan sopan mengucapkan terima kasih, tetep aja dalam hati gw bilang “Yeah rite“) lama-lama gw bosen juga dan akhirnya memutuskan untuk nggak mikirin hal itu, terutama waktu gw berhasil bikin hasta karya pertama gw dari botol minyak wangi dan Mama senyum lebaaaar banget mengomentari “Bagus amat, kok bisa kamu bikin begitu?” Saat itulah gw mulai melupakan fakta bahwa di dunia ada yang berwajah rupawan dan ada yang berwajah jelek.

Tapi tetep aja, ledekan-ledekan yang dilontarkan ke gw masih membekas setiap kali gw ngaca. Ya, gw emang jelek, item, pipi gembul, rambut keriting, dan itu betul-betul menimbulkan kemarahan. Kemarahan yang bisa bikin gw berkata-kata pedas ke orang lain. Rasanya betul-betul kacau. Tentu aja, seiring berjalannya waktu gw makin matang dan terkontrol tapi jauh di dalam diri gw rasa rendah diri itu masih ada sampe sekarang.

Segala keinginan gw yang nggak tercapai rasanya otomatis tersambung ke perasaan itu. Udah jelek nggak bisa apa-apa. Apalagi waktu SMA gw pengeeeen banget kaya temen-temen gw ikut kursus bahasa Inggris sepulang sekolah di hari-hari tertentu, seminggu tiga kali. Tapi untuk bilang ke orangtua gw nggak tega karena mereka udah biayain kakak gw yang waktu itu beberapa bahasa asing sekaligus. Gw selalu bertanya “Kenapa gw nggak bagi-bagi ke gw, satu aja?” Udah jelek nggak dikasih kursus, yeee…

Akhirnya gw beli beberapa buku “Mahir Berbahasa Asing Untuk Diri Sendiri”, gw umpetin karena kalo ketahuan gw takut diledekin lagi (oh ya, sepanjang masa pra remaja gw selalu dipenuhi ketakutan akan diledekin dalam hal apapun itu sebabnya gw nggak pernah cerita banyak ke keluarga, takut ntar diledekin). Sampe sekarang pun gw nggak pernah mahir berbahasa asing, gw cuma belajar dari sesi formal sekolah, dengerin lagu, nonton film dan baca buku. Sampe saat ini sih alhamdulillah gw survive kalo disuruh ngomong pake bahasa asing (bahasa asing disini maksudnya Bahasa Inggris ya) meskipun bocel-bocel, meski begitu setiap kali denger adik kelas gw yang amat sangat fasih bahasa Inggrisnya gw jadi kembali bertanya-tanya mungkin kalo dulu gw ikut les gw bisa sefasih itu.

Sebesar itu dampak ledekan di masa kecil gw sampe saat ini. Gw masih jadi orang yang peragu, merasa jelek (meskipun sekarang udah di tahap “Iya jelek, trus kenapa?”) dan masih merasa marah yang bener-bener kacau.

Adik kecil suatu hari akan tumbuh dewasa tapi kedewasaan terdiri dari kepingan-kepingan masa kecil, jadi sekecil apapun kepingan yang lo berikan ke si adik kecil itu akan jadi bagian dari diri dia untuk selamanya, baik atau buruk. Jadi berbijaksanalah dalam memperlakukan mereka 🙂

Rempong!

Masih segar dalam ingatan gw waktu awal kasus video porno selebriti Indonesia beberapa bulan lalu meledak yang bikin hal itu jadi trending topic nomor satu di Twitter. Waktu itu orang-orang terus dan teerus ngomongin kasus “peterporn” sampe katanya beberapa seleb luar bertanya heran “peterporn” apaan sih? Emang ada kejadian apa? Siapa? Dimana? Trus gimana? Dan gw masih sangat inget tentang gimana topik itu ditanyakan seleb-seleb bule diberitakan di beberapa media online terkesan “bangga” karena (mungkin, ini mungkin lho ya) nama Indonesia jadi ikut kebawa-bawa gara-gara kasus itu. Dan gw lihat beberapa tweet orang-orang Indo bersemangat me-retweet pernyataan seleb-seleb bule yang kebingungan itu sambil menjelaskan apa itu “peterporn”. Yang jelas, gw pribadi cenderung merasa malu dengan hal itu. Terkenal kok gara-gara kasus video porno.

Lalu belum lama ini, saat si Mister dateng ke Jakarta, berkunjung ke istana dan menimbulkan apa ya..polemik mungkin tentang salah satu menteri yang punya prinsip untuk nggak bersalaman dengan wanita yang bukan muhrim tiba-tiba dia bersalaman sama istrinya si Mister. Kicau-kicau mulai rame ngomongin itu, gw lihat beberapa kicau sih, hmm..ada yang nyindir halus, ada yang terang-terangan “membantai”. Lalu pak menteri mengelurakan kicau klarifikasi tentang “insiden” itu. Alasan beliau, khilaf.

Untuk gw pribadi, gw bisa nerima alasan itu (nerima? emang gw siapeee… :D) semua orang pernah bergerak spontan, reflek dalam keadaan apapun. Coba inget-inget lagi, pernah nggak lo mendadak nampar temen lo waktu dia ngagetin lo ketika lo lagi bengong? (gw pernah hehehe…) yang jelas itu bukan kejadian yang disengaja kan? Mungkin si Pak Menteri juga begitu, bisa karena dia gugup atau terlalu gembira nerima tamu sehingga pikirannya jadi blank sehingga jabat tangan yang ditawarkan istri si Mister pun disambutnyalah. Gw pikir itu memang kekhilafan biasa, sederhana dan ketika ada yang berkicau mengatakan dia adalah orang yang munafik gw rasa itu sedikit berlebihan 🙂 Tapi ya terserah pendapat dan persepsi masing-masing lah ya, itu hak orang.

Oke, gw nggak terlalu perduli pendapat-pendapat pro dan kontra tentang hal itu, tapi yang mengganggu gw adalah hampir sama kaya kasus video porno yang lalu. Semua orang terus ngomongin hal itu (di Twitter terutama) sampe beberapa orang luar akhirnya tahu masalah itu. Sebetulnya gw paling males nerus baca tulisan-tulisan seperti itu tapi beberapa diantaranya gw baca nggak ngenakin dan itu ditulis oleh orang luar. Seakan mereka memandang kebanyakan orang kita bertingkah seperti yang digambarkan para pemberi pendapat pedas terhadap Pak Menteri. Alhasil, sindiran-sindiran itu jadi nggak menyenangkan lagi. Lo suka dinilai seperti itu? Gw nggak.

Siapa yang pertama kali ngebesarin soal “insiden” itu? Kita-kita juga. Jadi kalo tiba-tiba ada orang luar ikut-ikutan berpendapat dan menilai “Oh..ternyata orang Indonesia itu begitu…” ya..itulah resiko me-“rempong”-kan sesuatu.

Bergaul dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda mestinya bisa sedikit bijaksana, apalagi di jejaring sosial. Apa yang kita lihat dan baca (juga apa yang mereka lihat dan baca) hanyalah di permukaan, otomatis kita (dan mereka) menilai orang pun hanya di permukaan, hanya sebatas menebak sifat orang-orang dari apa yang mereka tulis. Dan kita nggak bisa dengan naifnya berkata “Don’t judge us like that!” atau “We’re not like that!”. Kamu adalah apa yang kamu katakan, atau kalo diadaptasi untuk jejaring sosial, kamu adalah apa yang kamu tulis. Meskipun mungkin yang sebenernya kita nggak gitu-gitu juga, tapi tetep orang lain akan memandang seperti itu. Coba kalo lo liat orang terus menuliskan kata-kata makian di status update atau tweet mereka, kebanyakan orang pasti akan berpikir kalo dia adalah orang yang kasar, meskipun aslinya dia nggak begitu.

Jadi please, hati-hatilah… Berpendapat atau mengkritik seseorang atau sesuatu dalam diskusi dengan orang-orang sah-sah aja, cuma nanti kalo ada orang lain yang ikutan berpendapat dengan memukul rata semua orang dengan orang yang tadi dikritik ya resikonya mungkin kita akan tersinggung. Karena secara nggak sadar, saat kita berteriak tentang seseorang, yang mendengar pasti akan menoleh ke yang teriak dan yang diteriaki. If you know what I mean.

🙂

Pahlawan Tanpa Tanda Tanya*

Kalo ada yang nanya siapa sosok pahlawan dalam hidup gw, secara pribadi dan kalo cuma dikasih kesempatan menjawab cuma satu orang gw akan jawab: Papa!. Tentu aja karena dia selalu menyelamatkan gw selama 27 tahun ini. Dia menyelamatkan gw dari kebodohan dengan menyekolahkan gw, menyelamatkan gw dari kelaparan pastinya dengan memberi nafkah yang layak, menyelamatkan gw dari perilaku liar dengan pelototan dan sentilan tangannya terutama waktu gw kecil dan kita bertandang ke rumah saudara atau orang lain. Dan yang jelas, Papa menyelamatkan gw dari kemungkinan menjadi orang bodoh dengan mengenalkan benda bernama Buku ke gw sejak kecil. Untuk yang terakhir adalah jasa beliau paaaaaaling berharga bagi gw.

Setiap orang punya sosok pahlawannya masing-masing dan untuk kali ini mungkin banyak yang setuju bahwa para relawan yang sedang bekerja di daerah bencana sana adalah pahlawan. Pahlawan Tanpa Tanda Tanya. Karena mungkin bila ada yang bertanya kepada mereka kenapa mereka mau melakukan itu, bertaruh nyawa, nggak dibayar, bermodal keberanian dan kemampuan mungkin mereka cuma diam, paling banter karena alasan ingin membantu sesama, tapi gw yakin sebelum menjawab itu pasti ada jeda diam. Jeda itu adalah nurani yang bicara.

Sejak awal bencana-bencana itu terjadi gw yakin ada banyak orang bilang “Kalo gw bisa pasti gw kesana deh bantuin..”. Tentu, siapa yang nggak tergerak hatinya untuk membantu orang yang sedang kesusahan (eerr..ga termasuk di dalamnya bapak-bapak buncit yang cuek bae plesir sana-sini disaat sebagian orang kehilangan nyawanya, kadang gw pengen nanya sama keluarga orang-orang itu: “Itu keluarga anda?”) tapi tentu nggak semua orang bisa melakukan apa yang para relawan lapangan itu lakukan. Melihat di TV mereka bekerja berlomba dengan maut untuk menolong orang, membuat hati kadang trenyuh.

Tadi siang di TV, selain hebohnya berita kunjungan si Mister Presiden ke sini ada satu liputan yang bikin gw ketawa sekaligus trenyuh. Di salah satu pengungsian di daerah Sleman ada sekelompok ibu-ibu yang menggelar jasa potong rambut gratis bagi para pengungsi. It’s so..I don’t know how to describe it. Mungkin aneh dan lucu dilihatnya tapi gw cuma bisa bilang..wow, pahlawan bersenjata sisir dan gunting :D.

Niat mereka untuk membantu begitu besar, kemampuan mereka menata rambut dan itulah yang mereka lakukan. Mungkin dengan begitu para pengungsi yang lagi stress bisa sedikit terhibur dengan memotong rambut atau cuma sekadar mencuci rambut saja, minimal bisa membuat mereka tersenyum.

Mungkin kata-kata “Kita semua adalah pahlawan” bukan cuma sekedar penghibur. Setelah gw pikir-pikir lagi, kita memang berpotensi menjadi pahlawan dengan cara apapun. Kita bisa membantu orang dengan tenaga, dengan menyumbangkan materi sampai membantu dengan melakukan hal yang sangat mudah tanpa harus menimbulkan biaya: berdoa. Berdoa untuk orang lain berarti membantu memberi mereka kekuatan bahkan tanpa orang tersebut tahu.

Kita semua adalah pahlawan ketika hati kita tergerak untuk membantu orang yang sedang kesusahan. Diwujudkan dengan turun ke lapangan menjadi relawan, menyumbangkan hal-hal yang kita mampu berikan, bahkan berbisik kepada Tuhan agar melepaskan penderitaan dari mereka. Bahkan, kita semua adalah pahlawan yang lebih baik lagi kalo melakukan itu semua tanpa banyak bicara, tanpa berteriak kesal pada orang yang memang nggak ada niat untuk membantu, juga tanpa menggerutu menyalahkan apa atau siapa.

Pahlawan tidak selalu terlihat gagah berani (sama seperti mbak Dee Lestari berkata “Malaikat tidak selalu rupawan” hehehe..jadi inget tu lagu :P). Pahlawan lahir dari ketulusan dan melakukan sesuatu dengan ikhlas, nggak perlu umbul-umbul besar, nggak perlu juga mencaci orang yang nggak minat membantu.

Nggak apa-apa kalo kamu nggak punya tubuh yang kuat untuk menggendong korban yang lemah, juga nggak apa-apa kalo kamu nggak punya harta yang lebih untuk disumbangkan, tapi kamu pasti punya sepotong hati untuk berdoa paling nggak sehari sekali untuk mereka yang di sana dan itulah kamu..pahlawan yang tak terlihat bagi mereka. Pahlawan tanpa tanda tanya kenapa kamu mau melakukan itu.

Jadi, sudahkah kamu berdoa untuk orang lain hari ini?

*Jargon ini pernah gw lihat di suatu tempat sekilas, lupa dari mana tapi siapapun itu yang menulis saya pinjam ya..tulisan anda menginspirasi saya hehehe 😀