Niobe, “Lelucon Untung”, dan Legenda Loyalitas

Niobe salah satu kisah yang pernah gw baca di serial Mitologi Yunani. Niobe adalah seorang ratu di salah satu daerah Yunani yang dihukum dengan sangat kejam oleh para dewa karena kesombongannya. Secara singkatnya Niobe adalah ratu yang berbahagia punya empat belas anak, tujuh perempuan dan tujuh laki-laki yang tampan dan cantik, suaminya raja yang baik. Bangga akan segala hal yang dia punya bukanlah kejahatan, tapi rasa bangga Niobe yang berlebihan membuat ia berani membandingkan dirinya dengan seorang dewi, Leto namanya. Leto adalah ibu dari dewa-dewi kembar Apollo dan Artemis. Ia menganggap Leto tidaklah seistimewa dirinya hanya karena mempunyai dua anak sedangkan putra putrinya dalah kebanggaan seluruh Yunani, suaminya adalah raja keturunan Zeus langsung. Leto yang tersinggung mendengarnya memanggil kedua anaknya, Apollo dan Artemis dengan penuh amarah karena kekurangajaran sang ratu. Kakak beradik itupun pergi dan membantai anak-anak Niobe seluruhnya, menghempaskan sang ratu ke jurang kehinaan tanpa menyisakan sedikitpun kebanggaan. Niobe akhirnya diubah menjadi gunung batu yang sampai sekarang masih ada terletak di gunung Sypilus, Turki, bentuknya seperti wajah wanita yang sedang bersedih, keberadaannya sering dihubungkan dengan mitos ini.

Entah kenapa gw langsung teringat kisah Niobe ini ketika beberapa bencana terjadi di Indonesia dengan rentang waktu yang sangat berdekatan. Gempa dan tsunami di Mentawai, dimana sejak gempa yang berkekuatan 7,2 SR terjadi sejak saat itulah selama 24 jam ke depan alarm Gempaloka (aplikasi yang ngasih tahu ada gempa secara online yang ada di HP suami gw) terus-terusan berbunyi ngabarin gempa susulan di daerah yang sama dalam rentang waktu yang juga berdekatan dengan kekuatan sekitar 5 sampai 6 koma sekian skala richter. Disusul meletusnya gunung Merapi yang letusannya lebih parah daripada letusan terakhir tahun 2006 yang lalu. Belum lagi bencana lokal ibukota pasca hujan besar yang mengakibatkan kemacetan yang mencengangkan yang katanya terparah sejak tiga tahun terakhir (semua orang update status massal: “Baru nyampe rumah jam 1 pagi!”).

Paling tidak para “korban” kemacetan bisa melampiaskan kekesalan mereka dengan ramai-ramai menyindir orang yang paling dinilai bertanggungjawab (dan masih terngiang-ngiang) akan janjinya dulu di kampanye pemilihan kepala daerah. Lalu bagaimana dengan korban gempa, tsunami dan letusan gunung? Kepada siapa mereka melampiaskan keluh kesah mereka?

God is a comedian with an audience too afraid to laugh -Voltaire-

Sepertinya Niobe ada di dalam diri setiap manusia. Berawal dari kebahagiaan yang mulus, keberuntungan yang datang terus menerus, rasa syukur yang kian terkikis membuat manusia lantas menjadi kebal akan rasa terima kasih dari sang pencipta.

Ada satu joke yang sering gw denger bahkan waktu gw ngalamin nemenin suami gw di rumah sakit pasca kecelakaan. Ada orang yang nanya “Suaminya patah tulang bagian mana mbak?” gw bilang “Untungnya cuma tangan saja pak, yang lain nggak apa-apa”. Bapak itu tersenyum “Iya, untung cuma tangannya saja..orang kita selalu banyak untungnya…” katanya seraya tertawa. Untuk sebagian orang “Lelucon Untung” mungkin lucu, tapi buat gw itu salah satu cara yang menyadarkan gw untuk bersyukur. Seberapapun parahnya kondisi seseorang terkena bencana “Untung” adalah teropong untuk melihat bahwa ada hal baik yang masih tersisa dalam penderitaan, dan hal baik itu bisa menjadi harapan.

Dulu, gw nggak pernah terlalu berempati seratus persen setiap denger bencana alam, tapi sejak punya keluarga di Jogja (and I really fall in love with this town) ada rasa sedih yang bener-bener sedih denger meletusnya Merapi kemaren dan yang pasti rasa khawatir itu ada.

Mungkin semua orang juga tahu, ada cerita tambahan yang menarik perhatian sebagian orang pada berita tentang meletusnya gunung Merapi kemarin, apalagi kalo bukan keterkaitan tentang juru kuncinya yang iconic yang juga jadi korban bencana tersebut. Kisah si Mbah tersebar luas apalagi sejak dia jadi bintang iklan sebuh minuman beberapa tahun yang lalu. Opini masyrakat luas bermacam-macam, ada yang nganggep si Mbah pahlawan, ada juga yang berkomentar kalo beliau nggak jelas agamanya, meluk suatu agama tapi masih nyembah gunung, dan banyak lagi.

Gw sendiri memandang hal-hal seperti itu nggak mau mengaitkan antara agama si Mbah dan ritual-ritual yang sering dia jalani, dan gw menganggap keyakinan seseorang adalah urusan pribadi manusia pada Tuhannya. Gw hanya memandang kematian si Mbah adalah sebuah pelajaran tentang kebudayaan yang melahirkan sifat bahkan identitas orang-orang tertentu.

Si Mbah adalah abdi dalem Keraton. Gw memandang para abdi dalem adalah orang-orang yang kadang nggak bisa dimengerti oleh orang-orang modern. Seperti yang pernah gw bilang, mereka adalah pegawai kerajaan yang terkenal dengan gaji Rp.2000,- per bulan tapi yang penerimaannya harus melalui seleksi yang ketat. Untuk gw jelas menjadi abdi dalem bukan masalah mendapatkan gaji yang cukup. Mereka adalah orang-orang dengan loyalitas tinggi terhadap pemimpinnya. Dan waktu ada orang berkomentar “Kenapa sih mesti ada juru kunci segala? itu bener-bener pekerjaan yang nggak penting”, hati gw sedikit teriris. Untuk menjawab pertanyaan itu harus memahami sejarah panjang daerah tersebut. Bukan cuma sejarah, tapi juga harus mengerti falsafah dan pemahaman orang-orang sana. Jadi kalo memang nggak pernah baca sejarah dan mengerti sepenuhnya, gw sarankan untuk tidak berkomentar yang bersifat mencela.

Gw sendiri bukan orang Jawa, tapi gw menghargai adat masing-masing daerah dimanapun. Gw pernah baca beberapa artikel tentang asal-usul budaya masyarakat di suatu tempat dan gw menyimpulkan, kebiasaan dan kebudayaan itulah yang membentuk ciri orang-orang secara fisik maupun sifat yang sampe sekarang kita kenali satu sama lain (bahkan Vladimir Nabokov dalam novel terkenalnya “Lolita” pernah menggambarkan seorang tokoh dalam bukunya lewat tulisan “..Dia membuat gerak tubuh orang Jawa yang tak asing lagi, dengan pergelangan tangan dan tangannya menawarkan kepadaku kesopanan yang penuh humor..”, what an iconic dan darimana ia bisa mengenali hal-hal seperti itu? kebudayaan suatu masyarakat)

Kembali lagi pada si Mbah, meskipun banyak yang menyesali (bahkan Sultan waktu diwawancarai terdengar sedikit kesal saat dia cerita betapa keras kepalanya si Mbah sewaktu dia memintanya untuk turun gunung) kematian si Mbah, gw menghargai sifat loyalnya pada janji ketika dia diangkat menjadi juru kunci dulu. Gw nggak memandang penting nggaknya pekerjaan itu, atau apakah amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan sementara dia masih melakukan ritual-ritual kebudayaan, gw cuma ngambil pelajaran seperti itulah seharusnya seseorang memegang amanah yang orang lain berikan kepada dia. Meskipun orang-orang menganggapnya bodoh dan sia-sia, tapi dia tetap yakin akan tugasnya.

Don’t worry. Nothing wrong with looking like a fool if what you are doing is far from foolish -Paulo Coelho-

Meskipun banyak orang berpikiran sinis pada si Mbah tapi gw pikir kematiannya akan jadi legenda, tutur tentang arti loyalitas yang mudah-mudahan bisa diinget generasi yang akan datang, bahkan ketika tanah yang kita injak ini bener-bener hilang dan orang-orang yang hidup di atasnya (kita) juga ikut lenyap, biarlah cerita itu masih tetap ada, seperti Niobe, juga seperti Lelucon Untung :).

The Lady and The Pain (Suatu Hari di Radiologi)

Sepertinya perempuan ditakdirkan untuk sering merasakan sakit secara fisik dalam hal yang berhubungan dengan reproduksi. Dari mulai periode bulanan sampe proses melahirkan, bahkan ditambah ketika melalui serangkaian tes untuk program supaya bisa hamil.

Kami berdua (gw sama laki gw) akhirnya memutuskan konsultasi ke dokter ahli kandungan dengan harapan bisa nemu solusi untuk segera hamil. Setelah konsul ditetapkanlah beberapa rangkaian tes yang harus kami jalani. Mari kita tidak membicarakan tes yang laki gw jalani karena itu kelewat mudah, fokusnya adalah tes yang GW jalanin. Awalnya gw nggak terlalu ngebayangin detil prosesnya, yang gw tahu secara garis besar aja dokter akan ngambil sample cerviks dengan alat bernama speculum dan gw pikir akan sedikit terasa sakit. Namun ternyata MEMANG sakit. Sebetulnya sakitnya justru bukan pas pengambilan sample tapi bunyi speculum yang bikin gw sedikit merinding (dan terakhir malam ini gw lihat gambar alat itu…bikin lutut gw lemes dan bersyukur nggak lihat bentuknya sebelum semua tindakan itu dilakukan). Setelah Papsmear, dokter juga minta gw melakukan pemeriksaan HSG.

Sedikit aja penjelasannya yang gw tahu secara garis besar, Histerosalfingografi atau HSG dilakukan untuk mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur, intinya bermain lagi dengan speculum (oh Tuhan..) dimasukkin selang dan disemprotin cairan kontras (semacem cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika diberi sinar X) lalu nanti akan kelihatan ada atau tidaknya kerusakan atau sumbatan di alat reproduksi yang dimaksud.

Prinsip kerja pake cairan kontras ini sih sebetulnya gw udah paham, karena dulu waktu kerja di rumah sakit mata ada pemeriksaan yang juga pake cairan kontras, salah satunya buat foto fundus (foto untuk bagian dalam mata), cuma tentu aja caranya beda. Cairan kontras untuk foto fundus disuntik lewat tangan, kontras untuk HSG langsung dimasukin ke alat reproduksi kita. Dari pertama kali tandatangan surat persetujuan tindakan, gw udah nebak caranya dan gw pikir akan dapet bius epidural tapi ternyata kata susternya nggak perlu. It’s scares me..a little. Nanya ke beberapa orang tentang gimana rasanya pun sebetulnya nggak akan membantu karena mereka yang udah mengalami akan menjawab “Sakit banget!” lengkap dengan mimik penderitaan mereka. Why thanks, It’s scares me more.

Sempet kepikiran beberapa hari sebelum pelaksanaan tindakan. Ya, jauh di dalam diri gw terdapat seorang lebay sejati yang paling nggak tahan sama rasa sakit secara fisik dan akan terus khawatir sampe tindakan itu selesai. Tindakan itu dilakukan hari ini dan suami gw masih ada di luar kota. Tapi itu sama sekali nggak masalah sih, rasa takut dan khawatir gw menghapus habis tentang siapa yang akan nganter gw ke rumah sakit, gw pikir toh pada saat pemeriksaan siapapun yang nganter pasti nunggu di luar dan gw dipaksa berani ngejalanin semua hal di ruang penuh mesin besar itu bersama dokter dan asistennya. Meski begitu Mama tersayang rela duduk sambil terkantuk-kantuk nungguin gw.

Sebelumnya tindakan dijanjikan jam 6 sore. Tapi sang dokter yang ramah tersenyum dan bilang habis Maghrib saja soalnya nanggung dan mempersilahkan gw untuk shalat dulu. Setelah selesain semua administrasinya, melongok keluar langit mulai gelap. Waktu si dokter bilang shalat Maghrib aja dulu gw langsung ngibrit ke Musholla, ngambil wudhu dan nyamber mukena yang di gantung di dinding. Setelah gw pake mukena dan bersiap untuk shalat gw baru sadar kalo ruangan tempat shalat itu sepi, cuma gw sendiri. Biasanya (terutama waktu Maghrib) pasti penuh orang, ini pada kemana? Apa emang nggak ada yang shalat? Ternyata emang belum adzan! Huh..saking nervousnya gw sampe lupa kalo belum denger adzan yang ternyata masih dua puluh menit lagi. Rasa panik kadang bener-bener bisa bikin orang nyaris kehilangan logika.

Lalu akhirnya maghrib pun tiba, masih diselimuti rasa panik dan takut gw jadi rada nggak konsen shalat dan masih sempet merhatiin jamaah perempuan di sebelah gw shalat sendiri sementara yang lain ikut berjamaah, masih juga sempet bertanya dalam hati…kok dia ga ikut shalat berjamaah ya? *Hadoh*

Selesai shalat balik lagi ke ruang radiologi, dikasih obat pencahar sama suster. Nggak lama setelah dipake terasa pengen poop. Setelah itu baru dipanggil untuk tindakan.

Setelah ganti baju, disuruh tiduran di..apa ya namanya? tempat untuk berbaring tapi bukan tempat tidur, bagian dari mesin besar yang ada di atas kepala kita saat tiduran, disediain bantal sih, itu satu-satunya “daratan” empuk di “tempat tidur” tersebut. Sesaat gw ngerasa kaya Frankenstein, tapi paling tidak nggak akan ada acara potong memotong atau bedah membedah apalagi menjejalkan paksa segumpal otak ke dalam kepala ditutup dengan jahitan yang nggak rapih.Ketika dokter mulai masukin speculum dan bunyi alat itu sangat mengganggu gw coba untuk rileks..tapi tahulah..suaranya itu lho..lo tahu pencapit kue bentuk gunting yang suka dipake di toko roti untuk ngambil roti dan kue? bunyinya kaya lagi nyapit-nyapit gitu, bunyi besi pencapit, terdengar halus sih tapi tetep aja lo nggak akan mau ngebayangin ada pencapit besi masuk ke alat reproduksi lo *Doh!*.

Gw pikir sih gw udah rileks tapi sang suster terus aja minta gw untuk nggak tegang karena alatnya jadi susah dimasukkin. Gw berusaha ngebayangin hal-hal menyenangkan supaya rileks (gw bener-bener berpikir saat itu gw bener-bener udah rileks!), pikirkan liburan, berleha-leha di hotel kelas satu di suatu tempat yang paling indah, tidur seharian, makan angel cake, bunyi nada-nada Canon-nya Pachelbel…

“Bu, tolong rileks ya bu..alatnya nggak bisa masuk..”

I wont lie to you girls, it’s really hurt..physically. Setelah itu sepertinya sang dokter mulai masukin cairan kontras dan rasanya luar biasa mules, badan gw sampe lemes dan susternya ngira gw hampir pingsan karena dia mulai nepuk-nepuk bahu gw (I hate when they’re doing that..sekarang gw paham rasanya waktu gw nepuk-nepuk pipi laki gw untuk nyadarin dia pasca operasi dulu, sakit sih nggak tapi sedikit annoying, rasanya kaya kita baru mau tidur eh malah dibangunin :D), setelah itu baru difoto. Untungnya nggak lama, kurang lebih lima belas menit setelah itu nunggu hasilnya sebentar.

Ini baru acara screening, belum proses hamil dan melahirkan. Saat itu gw baru sadar kalo perempuan dilahirkan dengan tanggungjawab yang besar. Itu baru rasa sakit secara fisik, belum psikis. Jauh di balik status “makhluk yang lemah” yang menempel di diri kami, ngejalanin hal-hal seperti itu, bertahan dari semua rasa sakit adalah prestasi (setidaknya buat gw :D). So, guys, dudes, gentleman.. kalo kalian mencoba atau berpikir akan menyakiti kami..pikirkanlah tentang pencapit besi yang masuk ke dalam alat reproduksi kalian…rasanya jaauuuuuuuhh lebih sakit dari itu, itu sebabnya sumpah kami bertuah, karena setengah rasa sakit yang bisa kalian rasakan diberikan pada kami πŸ˜‰ Berterimakasihlah! hahahahaha…

Sumpah deh, makin ngaco aja gw…rasa mulesnya bersambung sih.. πŸ˜›

Iseng-Iseng Berhadiah

Gw cuma pengen tahu apa maksud pak polisi tadi.

Sepulang check up dari rumah sakit gw sama laki gw memutuskan untuk ngelayap dulu, kali ini nonton di XXI Mega Mall. Di perempatan lampu merah deket Mega Mall kita berhenti karena kebetulan lampu merah. Di perempatan itu ada beberapa polisi yang lagi ngawasin lalu lintas. Tahu-tahu polisi yang berdiri di deket motor gw nyuruh laki gw menepi (padahal itu lagi berhenti lampu merah). Trus dia minta laki gw nunjukkin SIM. Dikasih. Dibolak-balik itu SIM. Jeda sedikit trus minta keluarin STNK. Dikasih. Dibolak-balik tu STNK. Trus dia ngelirik motor laki gw, diliatin atas ke bawah bawah ke atas seluruhnya. Trus…melengos ngeloyor.

Gw tanya laki gw “Kenapa dia?” laki gw ngangkat bahu “Mbuh, gagal kali mau ‘iseng-iseng berhadiah'”.

Dulu, kalo denger cerita temen-temen gw tentang “polisi iseng” yang suka nyari-nyari kesalahan pengendara, gw kadang suka nggak percaya. Gw pikir..ngapain kurang kerjaan amat kaya begitu. Tapi hari ini sepertinya gw tarik kembali rasa nggak percaya gw, sungguh aneh tuh orang. Ngebut nggak, ngelanggar marka jalan nggak, nerobos lampu merah nggak. Mungkin dia juga kecewa karena kami berdua pake helm SNI, spion motor ada dua, dan surat-surat lengkap.

Kira-kira apa sebetulnya maksud dia memberhentikan kami yang sudah berhenti ya…

Untitled II

Hari ini full smile!! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Setelah potong rambut dari salon hari ini, karena males pulang gw putuskan untuk ngelayap dulu ke Mall terdekat. Gw udah kenal Mall ini sejak gw duduk di bangku SMP, dan semakin kesini semakin dipenuhi toko-toko mewah. Misi gw hari ini kesana adalah nyari blus, maka gw ke salah satu toko baju terbesar disana. Mondar-mandir nggak dapet yang cocok, gw brenti dan duduk sebentar di kursi. Trus gw baru sadar kalo ternyata pramuniaga disana semuanya pada pake wig bermodel Bob. Jujur aja, mereka terlihat seperti manekin di kios-kios ITC. Padahal gw suka tata rambut mereka yang lama, sanggul cepol atau ala French Twist, lebih rapih dan wajar. Udah wig-nya bentuknya kasar banget, sumprit aneh bangeeeettt….

Karena nggak ada blus yang cocok di hati, akhirnya gw muter-muter aja sekalian. Di Lobby gw lihat spanduk besar menggantung dari langit-langit sampe lantai 2. Tulisannya “Jadikan Donor Darah Sebagai Gaya Hidup”, pokoknya intinya ajakan untuk donor darah gitu deh, ada logo besar juga diatasnya, PMI. Gw pikir itu cuma iklan layanan masyarakat aja tapi ternyata PMI juga buka “konter” di lantai 4 Mall itu, kemaren gw pernah lihat dan dari dinding kacanya gw juga lihat ada beberapa orang yang sepertinya lagi donor darah juga. Gw nggak tahu sih mungkin ada alasan tertentu humasnya nggak ngasih tahu sekalian di spanduk itu kalo mereka ada di lantai 4 seandainya ada pengunjung Mall yang tiba-tiba berminat donor darah saat itu juga. Kalo mereka tambahin sedikit kalimat “Kami hadir di lantai 4” kan akan lebih enak. Maksud gw rata-rata orang yang diajak “Makan mie yang enak yuk” biasanya spontan menjawab “Dimana?”.

Setelah selesai muter-muter tanpa hasil akhirnya gw pulang. Kebtulan jalan depan bekas SMA gw dulu, ada anak SMA naik motor (nggak tahu tuh anak sekolah situ apa bukan, kayanya bukan soalnya tampangnya beda -bukan sombong tapi siswa-siswa sekolah gw nggak ada yang sedekil itu hehehe). Motornya..yah, biasa kali ya anak seumuran gitu dimodifikasi sedemikian rupa, motor bebek stangnya lah dibikin panjang, mesin bawah didodorin (maksudnya dibikin lebih rendah jadi ceper gitu) mungkin dia lupa kalo ini Bekasi dimana jalanannya nggak semulus Beverly Hills, alhasil tiap ngelewatin polisi tidur dia mesti sedikit brenti dan naikin roda depan motornya owh em ji… XD Bapak-bapak yang lagi nyebrang depan gw ngakak “Lihat tuh..sengsara dibikin sendiri..” wakakakakakaka…. Lagi heran gw kadang sama orang-orang yang suka modif ngasal gitu, dik..dik..kamu itu beli motor yang didesain melalui berbagai penelitian mahal oleh insyinyur-insinyur terbaik, bentuknya udah ergonomis kok ya malah dibikin jadi nyusahin diri sendiri…

Masih di lingkungan ex sekolah tercinta, gw pun berbelok dan dikejutkan dengan trotoar tempat orang-orang biasa jalan kaki ngelewatin jalan itu sekarang tertutup barisan tong-tong lebar berisi tanaman, setiap satu meter sepanjang trotoar sampe mentok. Maaf ya, siapapun yang punya ide itu pasti ada yang salah dengan otaknya.

Mungkin maksudnya baik mau bikin “jalur hijau” dipinggir jalanan aspal yang panas, tapi semula itu adalah trotoar, bentuknya sudah memenuhi standar trotoar (bahkan udah dicat zebra), banyak orang-orang yang melewati trotoar itu menghindari jalanan aspal tempat kendaraan lalu lalang dan (Demi Tuhan!) itu adalah trotoar ternyaman karena nggak dibajak pedagang dan warung kaki lima (paling nggak sampe sebelum ujung pertigaan) lha kok dibajak sama jalur hijau juga…tumbuhan punya hak, tapi pejalan kaki juga cukup menderita, lagipula jalur hijau udah ada ditengah-tengah tepatnya di pembatas dua jalur jalanan tersebut.

Hastaga…gw jadi senyum-senyum gimana gitu sepanjang jalan (sambil sesekali minggir menghindari motor dan angkot dimana gw berbagi jalanan bersama mereka). Lama-lama gw jadi mikir…sebetulnya gw yang punya kecenderungan berpikir terlalu jauh, atau dunia emang udah dipenuhi orang-orang yang suka nggak mungkin? πŸ˜•

Curhat Midnite

Suspicion always haunts the guilty mind -Shakespeare-

Menurut gw pertemanan adalah hubungan yang unik. Putus hubungan pacaran kadang lebih mudah daripada putus hubungan pertemanan. Putus sama pacar mungkin akan selesai sakit hatinya ketika kita nemuin pengganti yang baru, putus hubungan pertemanan akan selalu ninggalin bekas yang campur aduk, sayang, dendam, sakit hati, dan nggak akan pernah lupa apa yang pernah dia lakukan.

Gw nggak pernah menganggap orang-orang yang memutuskan hubungan pertemanan itu jahat, mereka pasti punya alasan. Tahu dan berada di sekitar konflik dua teman yang bertikai akan terasa sedikit sulit karena meskipun lo tahu kejadiannya, tetep ada dua versi cerita dimana (menurut lo) nggak ada yang salah tapi juga nggak ada yang bener, pernah ngerasain hal itu?

Seperti yang terjadi pada dua temen gw, Diaz dan Vina. Mereka cewek-cewek yang menyenangkan, dulu kita sering jalan bareng. Gw rasa awal masalahnya ada di mantan pacar Diaz, sebut aja Geri. Diaz yang mudah percaya dan mudah sekali curhat sama orang cerita semua masalahnya sama Geri ke Vina. Vina yang dikenalin pun ternyata jadi tempat cerita Geri. Suatu hari Diaz dan Geri putus, kalo nggak salah Diaz taunya pertama kali kalo Geri mau putus itu dari Vina. Jadi dengan kata lain Vinalah yang pertama tahu kalo Geri dan Diaz akan putus, dia yang pertama tahu dan bukan Diaz sendiri.

Oke, mereka putus. Tapi karena Diaz orang yang cuek dia cepet happy lagi setelah diputusin, bahkan waktu nikahan gw mereka bertiga berangkat bareng ke tempat gw. Waktu itu kami ngerasa Vina dan Geri begitu deket (dan itu belum ada dua minggu setelah Diaz dan Geri putus) tapi Diaz bilang “Ah, biarinlah kalo mereka mau jadian, kalo cocok kenapa nggak.”

Waktu itu Vina masih (kentara banget) nutup-nutupin hal itu, tapi bahkan nggak perlu ilmuwan roket untuk ngebaca kedekatan mereka, apalagi beberapa sumber meyakini kalo mereka pacaran. Temen kami yang lain, Erin (wanita yang sedikit konvensional kalo menurut gw) “Kalo emang mereka jadian (secepat itu) kok Vina tega ya sama temen deketnya sendiri.” Tapi waktu itu kita cuma ngangkat bahu dan berkata “Biarinlah..hak mereka.”

Suatu sore di Plaza Semanggi, beberapa minggu setelah pernikahan gw kita berempat jalan (Gw, Erin, Diaz dan Vina). Biasalah cewek, ngomongin ini itu dan satu hal yang masih gw Diaz dan Erin inget sampe detik ini waktu Vina cerita bahwa dia udah serius mau nikah sama pacarnya (kita semua tahu itu Geri dan Vina masih tetep hidup dalam ketidakjujurannya sendiri). Yang paling gw inget dari omongan Vina dia bilang dia dan ibunya Geri udah mulai cari kebaya untuk akad dan di pelaminan, bahkan udah nanya-nanya gedung di daerah Jakarta Selatan, dia bahkan udah menetapkan kami bertiga sebagai pagar ayu. Rencananya terdengar udah sangat matang, sebagai teman jelas kami bahagia denger itu semua, siapa yang nggak?

Seminggu kemudian Diaz ketemu sama seorang temennya yang juga temennya Geri, namanya Julie. Omong punya omong diapun bilang “Geri katanya mau nikah, itu lho sama temen gw yang namanya Vina..” Julie yang baru denger langsung nanya ke Geri apa betul dia mau nikah.

Kata Julie, Geri yang denger pertanyaan itu malah marah dan malah bilang kalo Diaz itu “full of shit”. Jelas kita kaget denger cerita Julie karena selama ini yang kita tahu Diaz nggak pernah ada masalah sama Geri bahkan semenjak putus. Ditambah Geri ngirim pesan di YM, kata-kata yang sedikit kasar untuk Diaz. Gw masih inget ditunjukkin YM nya, dan gw terus berkeras nanya Diaz apa yang sebetulnya dia lakuin sampe si Geri marah begitu. Sampe sumpah-sumpah dia nggak tahu. Ternyata kami baru tahu kalo rencana pernikahan yang diceritain Vina, yang begitu matang dan nyaris sempurna, calon pengantin prianya nggak tahu menahu. Now who’s bullshit here?

Itu yang gw tahu awal perang dingin Vina dan Diaz. Dan ketika banyak cerita simpang siur di kantor kita juga udah tahu siapa orang yang nggak jujur dalam bercerita. Kalo nggak ada bukti mungkin kita memang jahat, su’uzon dan asal menuduh. Tapi saksinya banyak banget dan saat dikroscek semua makin terungkap. Karena gw udah nggak bersama-sama mereka lagi, jadi gw lebih suka denger cerita dari Erin yang gw anggep punya penilaian yang lebih obyektif tentang Vina. Tapi bahkan obyektivitas Erin pun nggak bisa menutupi kelakuan-kelakuan Vina, dan yang paling gw inget dari sekian banyak cerita adalah kasus Pia.

Pia anak baru di kantor mereka, datang dari daerah dan di Jakarta cuma punya Tante yang rumahnya jauh dari kantor. Karena masih baru di Jakarta dia nggak punya uang banyak dan kebingungan cari tempat kos yang murah. Pia tipe cewek daerah yang lugu dan taat sama agama, jadi apapun yang orang ceritain ke dia nggak pernah diterusin ke orang lain. Waktu itu Vina berbaik hati ngajak Pia satu kamar kos, alasannya biar dia bayarnya juga lebih murah kalo dibagi dua.

Suatu hari Erin (yang juga bos langsungnya Pia) nanya kenapa Pia nggak masuk dua hari. Pia bilang sakit, Erin nanya lagi surat keterangan sakitnya mana? Karena kemaren Vina cerita langsung ke Erin kalo Pia sakit dan dianter Vina ke dokter langganannya (dengan tambahan: pake uang Vina karena kasihan). Pia agak bingung dan bilang dia emang demam tapi nggak ke dokter apalagi diajak Vina, dia cuma istirahat sama minum obat. Erin juga berkeras kalo Vina cerita beda, katanya malah menurut Vina dokternya ngomong ke Vina “Kamu gimana nelantarin temen kamu sampe sakit begini?” dan akhirnya Vina sampe beliin makanan untuk Pia. Saat itulah si anak lugu numpahin uneg-unegnya karena ngerasa ditipu, makin banyak cerita bohong yang tadinya mereka pikir Vina ngomong jujur.

Sejak saat itu hampir semua orang udah tahu siapa Vina dan udah males dengernya. Saat itu kami sadar kalo Vina ternyata berbahaya. Pernah dia cerita tentang karyawati di kantor, Maya (malang sekali sekarang jadi temen deketnya) pernah digerebek di tempat kosnya karena ketangkep basah lagi berbuat nggak bener. Ternyata cerita itu nggak bener, yang bener orang yang satu tempat kos sama Maya yang kena grebeg. Sebetulnya Vina sering ngomongin Maya di belakang dan Maya nggak pernah tahu itu. Diaz yang mendendam pengen ngasih tahu itu semua tapi menurut gw nggak ada gunanya, malah dia yang akan dituduh ngadu domba. Toh suatu hari dia juga akan tahu sendiri.

Tapi kayanya jauh di lubuk hati Vina masih ada sedikit rasa bersalah, jadi apapun yang gw omongin sama Diaz di depan umum sepertinya berasa nyindir dia terus. Kaya kemaren gw yang lagi keranjingan drama Korea (yep, me. Thx to Erin), gw “meng-quote” suatu adegan di salah satu episodenya tentang pacar yang ternyata selingkuh sama sahabat si pemeran utama. Temennya yang lain bilang itu keterlaluan dan menampar si sahabat yang selingkuh itu. Gw bilang…mungkin orang yang ngambil pacar sahabatnya sendiri emang layak dapet tamparan. Diaz meng-copy kutipan gw. Padahal gw nggak nyindir si Vina itu. Tapi beberapa hari kemudian statusnya “berteriak” agar dia tetap bersabar terhadap orang-orang yang dengki, dan tambahan kalimat di belakangnya jelas ditujukan untuk Diaz. Ih, kamu ngerasa ya sayang?

Karena ngerasa nggak enak sepertinya gara-gara kutipan gw itu dia jadi main sindir-sindiran dan suasana memanas, gw BBM Vina apa masalahnya, apa karena kata-kata gw, tapi dia nggak bales. Yah, dia emang jarang ngerespon BBM gw, padahal gw cuma mau bersikap baik, bukan salah gw kalo gitu. Hapus saja, selesai.

Udah gitu yang bikin gw makin nggak suka, si Gerinya kaya cewek, suka ikut-ikutan. Gw ngerti, siapapun entah suami atau pacar emang wajar ngebela pasangannya, tapi ikutan bengak-bengak di depan umum malah bikin dia terlihat seperti seorang ber IQ jongkok. Dan yang lebih parah, Vina melakukan apa yang seperti “ibu peri” yang gw kenal lakukan: menciptakan opini publik bahwa kitalah wanita-wanita jahatnya. Gw nggak ngerti, mereka sadar nggak sih yang pertama nyakitin itu siapa? Yang pertama kali nggak tahu diri itu siapa? Kalo kami mau, dari awal Diaz putus gw udah ngejauhin dia, temen macem apa yang ngerebut pacar sahabatnya? Tapi kita masih temenan sama dia dan ikut ke dalam permainan dia hanya supaya dia nggak ngerasa nyaman dan ngeyakinin kalo kami nggak menghakimi apa yang dia lakuin. Tapi apa yang dia lakuin? Ngomongin temen-temennya sendiri.

If hate could be double extra, it would describe how I feel bout her, bout that couple…may God forgive all your sins!!

Teroris Alay *Terorojeng..Terorojeng..*

Setelah kesel bin gondok gara-gara ngikutin hasrat BM berantai yang diiming-imingi bakal muncul tampilan keren (sumpah ya,sekali lagi gw dapet broadcast tu BM, siap-siap gw broadcast teluh!) gw buka FB..eh..ada yang bikin gw ketawa…

Ada akun temen SMA gw, di akun itu statusnya tertulis: FB INI DIBAJAK, SAYA TERORIS.

Setelah itu ada yang komen, temennya si temen gw yang punya akun, nanyain sesuatu lah (pertanyaan serius), si “TERORIS” menjawab lengak dengan huruf kapital semuanya:

“ANDA SIAPA?? SAYA LAGI BAJAK”

Jiaaaahhh…tong..tong..teroris terorojeng… πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Dalam benak gw (sepertinya sih itu emang bukan temen gw, mungkin orang iseng yang baru belajar nge-hack dan berhasil (selamat ya..), soalnya yang gw tahu temen gw nggak konyol gitu) muncullah sosok konyol si hacker:

Orang yang baru bisa nge-hack, bangga, tukang cari perhatian dan luar biasa konyol yang bodoh. Bisa jadi tu orang hilang ingatan. Matanya melotot-lotot, sesekali ketawa persis orang gila.

Yang lebih lucu lagi waktu temen-temennya temen gw itu ngasih komentar bernada.. “oh,please..” (gw yakin mereka pasti ngetik dengan mata berputar-putar) si terorojeng nulis “ANDA MAU DIBAJAK JUGA??”

Jiiiaaahhh..siapapun yang iseng itu meskipun dia gila pasti dia juga alay…wahahahahaha πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Sudut Pandang Gelas

Pernah denger sudut pandang gelas? Mungkin itu yang menjawab kenapa gw nggak merasa sedih denger temen yang belum lama ini kita deket tahu-tahu udah harus pergi jauh untuk menuntut ilmu, atau waktu semua orang mendakwa kenapa gw mau aja dimanfaatin sama seseorang di waktu lampau? Dan mungkin itu pula alasan seorang temen nggak nampar sahabat yang ngegaet pacarnya dulu.

Seorang temen yang (bahkan gw baru tahu kalo kita pernah satu sekolah! Parah lu Nda!) setahun terakhir ketemu lagi dan kita mulai deket tiba-tiba harus pergi ke Jepang untuk nerusin studinya. Ada rasa haru, tapi gw selalu tahu dia akan kembali mungkin lebih cepat dan kita nggak akan pernah kehilangan kontak dengannya. Internet, thx to you! πŸ™‚

Oh..betapa menyebalkan ketika semua orang satu suara berkata “Nanda, lo tuh dimanfaatin sama dia!” beberapa tahun yang lalu. Betul, emang nggak sedikit yang gw korbanin untuk seseorang pada waktu itu, dan gw tahu semua yang gw berikan nggak akan pernah kembali lagi. Tapi gw selalu bilang ke diri gw sendiri hanya Tuhan yang tahu niat tiap manusia yang sebenarnya yang kadang bahkan nggak disadari oleh manusia itu sendiri. Gw cuma berpikir saat itu, tu orang (terlihat) kesusahan di mata gw dan gw cuma berusaha untuk membantu orang yang (terlihat) kesusahan di mata gw. Dan apa yang gw dapat sekarang? Lebih! meskipun bukan berasal dari orang yang sama.

Ketika seorang temen dikecewakan sahabat dan pacarnya, gw pikir pasangan brengsek itu bener-bener keterlaluan. Tapi itulah berkah untuk temen gw yang ditunjukkan kalo laki-laki itu nggak baik untuk dijadiin pacar dan temannya itu nggak layak menyandang titel sahabat. Emang sih lama kelamaan tu pasangan jadi mirip, mirip kelakuannya maksudnya… πŸ˜€

Suatu hari di ulang tahun gw dulu, ada seseorang yang bilang ke gw supaya gw berhenti bersikap “cengengesan”. Gw nggak tahu pasti apa maksud “cengengesan” itu. Kalo maksudnya gw terlihat selalu tertawa, gw pikir gw nggak perlu dengerin dia. Hidup makin lama makin susah, man. Kalo setiap saat diratapi, dikeluhkan, dipikir berkepanjangan lama kelamaan lingkungan yang tadinya normal akan ikutan mendukung lo untuk terus berpikiran kelam. Lagipula gw nggak ngerasa terus cengengesan..emang gw hilang ingatan apa…

Dan ada satu orang yang bahkan gw nggak kenal ngomentarin gw dengan sok tahunya (coba itu, macem gw ini artis aja!) Gw ngerasa kasihan dengan orang itu, pasti dia orang yang sangat menyebalkan dan banyak tidak disukai, kenapa? Karena pas gw bilang ke temen gw akan hal itu ternyata dia memang seorang persona non grata di lingkungannya! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Nggak setiap saat kita mesti berpikir positif sih, kadang kita juga perlu berpikir negatif untuk kondisi tertentu. Kebanyakan orang mendefinisikan berpikiran positif berarti harus berpikir yang baik-baik aja, padahal nggak gitu juga. Berpikir positif berarti membuka setiap kemungkinan dari segala hal lalu ambil yang terbaik sesuai dengan kondisi yang kita jalanin.

Orang-orang yang bijaksana bukan orang yang baik atau bahkan pintar, orang yang bijaksana mau membuka pikiran terhadap semua perbedaan yang ada meskipun perbedaan itu menyakitkan buat dirinya sendiri dan selalu membayangkan memposisikan dirinya nggak hanya di pihak yang dia percaya tapi gimana kalo dia yang ada di pihak yang bertentangan.

Gelas itu setengah penuh atau gelas itu setengah kosong, itu pilihan masing-masing yang melihat… πŸ˜‰

Chicken Jokes XD

Waktu lagi ngapusin data surel-surel yang terkirim gw nemu ini, salah satu repost dari temen gw di FB,entah dia dapet dari mana yang jelas gw ngakak aja bacanya πŸ˜€

MENGAPA AYAM MENYEBERANG JALAN?

Guru TK:

Supaya sampai ke ujung jalan.

FBI:

Beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa.

Aristoteles:

Karena merupakan sifat alami dari ayam.

Martin Luther King, Jr.:

Saya memimpikan suatu dunia
yang membebaskan semua ayam menyeberang jalan
tanpa mempertanyakan kenapa.

Plato:

Untuk mencari kebaikan yang lebih baik

Pope:

Hanya Tuhan yang tahu

Kapten James T.Kirk:

Karena dia ingin pergi ke tempat yang belum pernah ia datangi

Freud:

Fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu
menunjukkan ketidaknyamanan seksual kalian yang tersembunyi.

George W Bush:

Kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang!
Kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak,
apa dia bersama kami atau melawan kami.
Tidak ada pihak tengah di sini!

Machiavelli:

Poin pentingnya adalah ayam menyebrang jalan!siapa yang peduli kenapa!akhir dari penyebrangan akan menentukan motivasi ayam itu

Mugabe:

Setelah sekian lama jalan dikuasai petani kulit putih, ayam miskin yang tertindas telah menanti terlalu lama agar jalan itu diberikan kepadanya dan sekarang dia menyebranginya dengan dorongan ayam-ayam veteran perang. Kami bertekad mengambil alih jalan tersebut dan memberikannya pada ayam, sehingga dia bisa menyebranginya tanpa ketakutan yang diberikan oleh pemerintahan

Darwin:

Ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa,
telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu
dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.

Einstein:

Apakah ayam itu menyeberang jalan atau jalan yang bergerak di bawah
ayam itu,
itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.

Darwis Triadi:

Karena di seberang jalan, angle dan lightingnya lebih bagus.

Nelson Mandela:

Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyeberang jalan!
Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati!

Thabo Mbeki:

Kita harus mencari tahu apakah memang benar ada kolerasi antara ayam
dan jalan.

Isaac Newton:

Semua ayam di bumi ini kan menyeberang jalan secara tegak lurus
dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam,
terkecuali jika ayam berhenti
karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.

Fox Mulder:

Apakah yang kamu liaht itu benar2 ayam yang menyebrang jalan?

Miyabi:

Ooohh… Aahhh… Yeeahh… Mmmhhh…

Programmer J2EE:

Tidak semua ayam dapat menyeberang jalan,
maka dari itu perlu adanya interface untuk ayam yaitu nyeberangable,
ayam-ayam yang ingin atau bisa menyeberang diharuskan untuk
mengimplementasikan nya
jadi di sini sudah jelas terlihat bahwa antara ayam dengan jalan
sudah loosely coupled.

Sutiyoso:

Itu ayam pasti ingin naik busway.

Soeharto:

Ayam-ayam mana yang ndak nyebrang, tak gebuk semua!
Kalo perlu ya dikebumiken saja.

Habibie:

Ayam menyeberang dikarenakan ada daya tarik gravitasi,
dimana terjadi percepatan yang mengakibatkan sang ayam
mengikuti rotasi dan berpindah ke seberang jalan.

Lt. Scotty (USS enterprise):

Soalnya sinyal buat beam up nggak nyampe situ, jadi dia mesti nyeberang jalan supaya dapet sinyal

Shakespeare:

To die. in the rain. alone

Nia Dinata:

Pasti mau casting ’30 Hari Mencari Ayam’ ya?

Desi Ratnasari:

No comment!

Ahmad Dhani:

Asal ayam itu mau poligami, saya rasa gak ada masalah mau nyebrang
kemana juga…

Cinta Laura:

Ayam nyebrang jhalaan..?
Karena gak ada owject…biecheeck. …

Julia Perez:

Memangnya kenapa kalo ayam itu menyeberang jalan?
Karena sang jantan ada di sana!
Daripada sang betina sendirian di seberang sini, yaaahhhh dia kesana
laahh…
Cape khan pake alat bantu terus?

Roy Marten:
Ayam itu khan hanya binatang biasa, pasti bisa khilaf..
(sambil sesenggukan) .

Butet Kartaredjasa:

Lha ya jelas untuk menghindari grebekan kamtib to?

Megawati:
Ayamnya pasti ayam wong cilik. Dia jalan kaki toh?

Harmoko:
Berdasarkan petunjuk presiden.

Gus Dur :
Kenapa ayam nyebrang jalan? Ngapain dipikirin? Gitu aja kok repot!”

Flasher:

Karena pada keyframe tersebut terdapat actionscript yang bertuliskan
perintah ‘GoTo And Run’ …

LB Moerdani:

Selidiki! Apakah ada unsur subversif?

Robert Langdon:

Kemungkinan ada konspirasi antara ayam dengan penguasa saat ini. Kita akan pantau jejak ayam di jalan sampai menemukan simbol-simbol yang bisa jadi titik terang

Bill Gates:

Tidak hanya akan ada satu ayam yang menyebrang jalan, akan ada ayam-ayam menyebrang di seluruh jalan di dunia karena kemudahan jalan untuk bisa disebrangi ayam dengan jalan versi 3000!

Putri Diana:

Ayam yang mana di jalan mana? Yang jelas jalanan di seluruh dunia harus dibersihkan dari ranjau darat.

Jose Mourinho:

Ayam itu akan menunggu bola di seberang jalan. Hadang dia dengan dua bek, agar kesulitan untuk menerima umpan.

Jason Bourne:

Apa? ayam itu menyebrang jalan? Sudah kuperintahkan untuk menunggu sampai aku kembali, karena bahaya sedang mendekat.

Aa Gym:

Biarkan ayam itu menyebrang jalan, jangan kita gunjingkan. Karena menggunjing itu dosa. Jagalah hati.

Thomas Alva Edison:

Ayam itu mempunyai keinginan yang kuat untuk sampai ke seberang jalan. Karena untuk menyebrang jalan hanya 1% dibutuhkan bakat, 99% kerja keras.

John F. Kennedy:

Jangan tanyakan apa yang ayam itu lakukan, tapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk ayam itu.

Warren Buffet:

Karena trend pasar sekarang sedang bullish, maka ayam itu menyebrang. Tunggu saja sampai pasar sedang bearish, pasti ayam itu kembali lagi.

Galileo Galilei:

Kecepatan pergerakan ayam ketika menyebrang, tidak bergantung pada berat ayam itu. Semua ayam dengan berat yang berbeda pasti mempunyai kecepatan yang sama ketika menyebrang.

Customer Service:

Selamat pagi, ayam itu pasti ingin ke ATM terdekat. Terima kasih, selamat pagi.

Amrozi:

Kuakui ayam itu memang menyebrang jalan. Tapi itu dia lakukan untuk kebaikan umat manusia di bumi. Jangan salahkan dia.

Saddam Hussein:

Tidak ada yang namanya ayam menyebrang jalan di negara saya. Tapi jika anda akan datang untuk membuktikannya, saya tidak akan mengizinkan.

Kolonel Sanders:

Apa!!! Ada satu ayam yang lolos???

Rhoma Irama:

Yaakh….kharenha bheghithulakh adhanyakh.

Stephen Hawking:

Ayam itu barangkali mengira di seberang jalan ada Black Hole yang bisa tembus ke dunia lain.

Soekarno:

Ia sedang mencari identitas kebangsaannya!

Aburizal Bakrie:

Pasti Ayam Ngungsi Dari Lapindo

SBY:

Ia kurang pengertian dengan kebijakan saya, Dengan ketenangan, kita harus hati-hati,
jangan sampai masalah ini menjadi fitnah dan pembunuhan
karakter ayam, dalam hal ini merupakan kampanye hitam
yang merugikan ayam.

JK:

Ia takut diperdagangkan

Menteri Kesehatan:

Pasti mengidap flu burung

Cassanova:

Dari seberang jalan, ayam memang terlihat lebih sexy

Deddy Corbuzier:

Saya sudah prediksi ayam itu akan menyeberang

Roy Suryo:

Ini rekayasa, kalau saya teliti dari metadata ayam tersebut bahwa ayam itu telah mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga jadilah dalam tanda kutep ayam yang sempurna. Jadi bahwa ayam ini adalah rekayasa adalah bhenar bahwa 100% ini adalah rekayasa.

Barack Obama:

The Chicken We Believe in! Chicken, Yes We Can !!

Munarman:

Ayam itu menyeberang ke Ahmadiyah???? Hajar!!!!!!!!!!!!!!

Sun Tzu:
Know the chicken, know the road, and you can cross every road

Nobita:

Karena tidak punya “pintu ke mana saja” dan “baling-baling bambu”

Caleg:

Kalau saya terpilih nanti, saya akan memperjuangkan hak-hak ayam untuk bisa menyebrang dengan selamat. Maka cobloslah, eh salah…, contrenglah saya di pemilu nanti

Environmentalist:

Itu karena lingkungan habitat asli ayam-ayam itu telah dirusak oleh pihak-pihak korporasi yg mengeksploitasi sumber daya alam dengan tidak bertanggungjawab!
Maka ayam-ayam itu terpaksa harus menyebrang jalan untuk mencari tempat tinggal baru.
Kami menuntut agar perusakan terhadap alam dan penganiayaan terhadap spesies langka ini dihentikan!

Feminist:

Karena ayam BETINA itu diperlakukan dengan tidak baik oleh ayam JANTAN. Pasti ada masalah kekerasan dalam rumah tangga, atau poligami, atau masalah diskriminasi terhadap BETINA yg lain. Maka Ayam BETINA itu menyebrang jalan untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Tukul Arwana:

Silen Plis, kita coba dengerin dulu dia mau ngomong apa. Ehm, Mas / Mbak Ayam Arwana, kenapa sih, kamu kok menyeberang jalan ?

Pejabat Korup:
Ndak ada itu. Siapa yang bilang ayam itu menyebrang jalan. Harus dibuktikan dulu dong, jangan asal bicara.

Kamtib Dispol pp:

Pasti dia denger bocoran kalo gw ma temen2 mo grebeg tempat mangkalnya, jadi dia keburu kabur nyebrang jalan

Blogger:

Chicken Walking

Persepsi dan kognisi bisa memunculkan banyak arti dan pemahaman. Menurut Profesor saya bermain persepsi bisa berbahaya. Faktanya memang begitu, seringkali kita bertengkar karena perbedaan persepsi dan kognisi. Cerita β€œKenapa Ayam Menyeberang Jalan” merupakan salah satu contoh bagaimana persepsi dan kognisi orang bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda untuk satu hal yang sama yaitu suatu pertanyaan dengan awalan β€œKenapa..”.

Kisah ini semula beredar di kalangan mistikus, gnostikus, pemikir serius, filsuf, ilmuwan, sastrawan, wartawan, jutawan, dermawan, dan para pencari kebenaran lainnya. Di zaman Internet cerita ini beredar dari milis ke milis, dan bisa membuat orang tertawa tanpa mengetahui apa sebabnya. Jika Anda tertarik untuk menambah daftar persepsi dan kognisi menurut versi Anda silahkan isi di bagian komentar tulisan ini.

menurut anda??