Somethings Better Left Unsaid

Interview kerja adalah saat terpenting, lebih penting daripada wisuda menurut gw, hahahaha… . Kita cuma punya satu kali kesempatan untuk memenangkan hati si pewawancara. Begitu banyak tips bagi para pelamar kerja untuk menghadapi wawancara kerja. Saking banyaknya malah bikin gw gugup sendiri. Seseorang pernah memberikan satu nasehat singkat untuk gw sebelum diwawancara, “Be yourself!” katanya. Kemudian gw belajar sesuatu bahwa nasehat itu agak menyesatkan 😀

“Be Yourself” dalam artian literal sebaiknya tidak dibuat sebagai nasehat untuk hal-hal tertentu. Karena (menurut gw) dua kata itu berarti meminta kita untuk jadi diri kita sendiri, sesungguhnya, apa adanya, inilah gw. Padahal dalam bersosialisasi ada banyak sekali situasi yang sebaiknya tidak memperlihatkan siapa diri kita yang sebenarnya. Salah satunya waktu wawancara kerja.

Ada satu kenangan yang nggak akan pernah gw lupain waktu tes penerimaan pegawai di sebuah perusahaan farmasi di daerah Jakarta Selatan. Waktu itu gw masih fresh graduate dan itu tes penerimaan pegawai gw yang pertama. Waktu nyampe di tempat udah banyak peserta yang lain pada dateng, ngumpul dan akhirnya mereka ngobrol berkelompok. Gw duduk sendirian karena bingung dan cuma nguping kanan kiri sambil mainin HP. Lama gw perhatikan kalo ternyata kebanyakan dari mereka yang direkrut adalah suatu etnis tertentu dan dari pembicaraan mereka sepertinya juga berasal dari universitas yang sama. Kok bisa ya?

Jam 8 tes yang berupa psikotes dimulai. Karena waktu sekolah gw udah beberapa kali ikut psikotes jadi sedikit-sedikit gw udah tahu gambaran dan “celah-celah” yang harus “dicermati”. Cuma terakhir ada satu tes yang sama sekali nggak familiar buat gw. Waktu itu semua peserta dikasih selembar kertas HVS dan diminta menggambar seseorang, setelah itu ceritakan siapa dia dan apa kebaikan juga keburukan orang yang kita gambar tersebut.

Gw pun mulai menggambar (sedikit-sedikit sih bisa gw menggambar, dulu pernah njiplak pake kertas karbon dari buku bergambar Cinderella huahahaha…). Gw gambar seorang cewek, gw deskripsiin kalo dia berprofesi sebagai seorang penulis. Angan-angan gw pun bermain, kebaikan cewek ini dia seorang yang baik hati, cerdas dan imajinatif, keburukannya adalah dia bisa menjadi seorang yang licik bahkan berubah sangat kejam kalau dia mau. Bel berbunyi, tes pun selesai.

Beberapa minggu kemudian nggak ada kabar yang ngasih tahu gw untuk panggilan berikutnya dan gw pun ngerasa yakin juga sedikit lega. Lega karena bisa jadi gw bakalan jadi kaum minoritas disana dan yakin kalo tim personalia yang periksa hasil tes gw mengernyitkan dahi baca tulisan terakhir gw. Ditambah kata kakak gw waktu itu, apa yang kita gambar adalah mencerminkan siapa sesungguhnya kita. Wow, tapi untuk bagian terakhir kayanya nggak lebih dari sekedar angan-angan gw deh, percayalah…gw nggak ada bakat jadi kejam, psikopat atau sejenisnya 😛

Lain waktu gw pernah wawancara juga (nggak pake psikotes, syukurlah! bisa-bisa jadi gila kalo psikotes terus) di sebuah perusahaan outsourcing untuk bagian pemasarannya. Salah satu orang HRD yang wawancara gw lumayan asyik, mukanya mirip Uya Kuya dan dia sangat senang (katanya) dengan pembawaan gw, maka dia menasehati gw (seperti yang udah gw bilang) “Be Yourself!” waktu gw diserahkan ke manajernya untuk diwawancara lagi. I try to be myself at that time with the manager, sedikit gugup karena tampangnya jutek (ganteng sih tapi jutek) tapi gw berusaha menjawab jujur apa adanya sesuai kemampuan yang gw punya. Dan terakhir dia menatap gw dengan tatapan “Oh, please…”.

Dari waktu ke waktu beberapa wawancara lagi adalah mendengarkan ulang pertanyaan yang sama dari orang HRD, sang manajer dan (bahkan) direkturnya sendiri. Satu hal yang pasti mereka tanyain adalah: “Ceritakan tentang diri anda”. Banyak tips yang menyarankan untuk menjawab pertanyaan itu adalah tetap fokus pada jawaban yang menceritakan lebih banyak sisi baik anda. Nasehat yang mudah tapi sampe sekarang setiap kali ada orang yang nanya begitu ke gw, tiba-tiba gw ngerasa jadi amuba: membelah diri. Satu sisi dari diri gw berbisik, jujur aja apa adanya, kenapa sih orang nggak bisa terima keburukan orang lain? toh karyawan mereka juga pasti ada yang brengsek yang dilolosin jadi pegawai? Sisi yang lain bersikukuh realistis aja, lo mesti se-perfect mungkin di hadapan si pemutus perkara ini, maling aja akan membela diri di depan hakim meskipun dia jelas salah!

Gw bukan orang yang jujur, dan gw pun banyak belajar gimana cara mengendalikan diri. Tapi gw adalah tipe orang yang selalu gatel untuk selalu ceritain hal-hal jelek tentang gw bahkan setelah gw ngebanggain diri sendiri. Dan menutupi sebagian diri gw yang perlu orang lain tahu, itu luar biasa susah, sekalipun itu adalah regulasi yang harus gw lakuin untuk dapetin pekerjaan. Once in a day at least, I have to be ME.

Di setiap wawancara gw nggak pernah konsen sama pertanyaan karena gw selalu ngebayanin hal lain yang apa jadinya kalo gw jawab sesuai apa yang mau gw jawab.

HRD: Ceritakan tentang diri anda
Gw (formal): Saya sudah berkeluarga, belum punya anak, setahun yang lalu saya resign dari tempat saya bekerja karena harus pindah beberapa bulan keluar kota karena urusan keluarga yang sangat mendesak
Gw (yang sebenarnya): Saya sudah berkeluarga, belum punya anak, setahun yang lalu saya resign dari tempat saya bekerja karena tidak tahan dengan orang-orang di kantor saya yang dulu, mereka orang-orang yang hanya mau terima beres dengan sistem komputer paling bobrok yang pernah saya temui, masih memakai cara manual di dalam sebuah gedung luar biasa mewah.

HRD: Ceritakan tentang kelebihan anda
Gw (formal): Saya senang bekerja dalam tim dan bahu membahu menyelesaikan suatu masalah juga saling mendukung, Bahasa Inggris saya lumayan aktif dan saya sangat familiar dengan komputer, saya suka tantangan baru dan cepat sekali belajar
Gw (yang sebenarnya): Ask me anything! doh…

HRD: Ceritakan tentang kekurangan anda
Gw (formal): *mikir lamaaaaaaaaaa banget* mungkin saya sedikit tergesa-gesa kalau menyelesaikan sebuah tugas karena saya selalu ingin semua selesai tepat waktu
Gw (yang sebenarnya): Moody, nggak sabaran, temperamen, sedikit (oke, gw ngaku!) licik (tapi sebetulnya lebih cenderung ke CERDIK), bisa menjadi seorang yang pemaksa kalo terdesak, egois (tapi ini untuk kepentingan bersama!), bisa berpikir sangat subyektif, bla bla bla…

HRD: Apa tujuan anda melamar kerja di tempat ini
Gw (formal): Karena saya pikir perusahaan anda sedang berkembang dan saya ingin menjadi bagian dari perusahaan dalam proses memajukan tempat ini
Gw (yang sebenarnya): gaji bulanan??!!!

HRD: Gaji yang anda minta, jujur saja, kami tidak bisa memenuhi sesuai keinginan anda, mungkin hanya setengahnya
Gw (formal): Saya tidak pernah bermasalah dengan gaji, dan saya mengerti perbedaan standar UMR antara wilayah satu dan yang lain
Gw (yang sebenarnya): selama saya mendapat gaji bulanan, nominal betul-betul bukan masalah (mengejutkan ya? hahahaha…gw emang bukan tipe orang rewel soal uang sih :P)

HRD: Terakhir, kenapa waktu itu anda keluar dari kantor lama?
Gw (formal): Seperti yang sudah saya jelaskan, saya harus pindah beberapa bulan keluar kota karena urusan keluarga yang sangat mendesak
Gw (yang sebenarnya): bertahan disana lebih mengerikan daripada bertahan di neraka ketujuh

Meski begitu gw sadar itu adalah kenyataan yang harus kita jalanin. Jangankan untuk situasi formal macam tes atau wawancara kerja, kadang dalam pergaulan informal pun kita tetep harus meyembunyikan sebagian dari kita. Ya taaaaakkk??? 😀

Advertisements

Emansipasi Bulan April :))

Bulan April hampir tiba, berbagai majalah wanita siap-siap nyiapin artikel berbau Girl Power, Emansipasi, Wanita-Wanita Paling Berpengaruh, atau apalah itu sesuai dengan tema bulan April: Harumnya Kartini (hentikan lelucon bait pertama lagu itu “Ibu kita Kartini harum namanya”–namanya Kartini apa Harum? doh…). Dari tahun ke tahun tema ini beda-beda sama, sama-sama beda, beda tapi tetep sama, sama tapi sedikit beda. Yang jelas theme of the month-nya adalah “wanita super”.

Gw nggak terlalu paham lika-liku perjuangan Ibu Kartini dalam membela hak-hak wanita. Yang gw tahu beliau sudah berhasil apa ya namanya…”mensahkan” kalo wanita sederajat dengan laki-laki, wanita juga punya hak untuk disamakan dengan laki-laki. Waktu berjalan dan pengesahan itu semakin kuat, dan tentu aja ada beberapa pergeseran nilai perjuangan dari emansipasi tersebut.

Namuuunn…observer awam yang menulis blog ini merasa, kalo saat ini perjuangan membela hak-hak wanita sudah menguap, hilang menyublim. Kalo dulu ada yang berteriak wanita menuntut hak yang sama di dalam pekerjaan, sekarang kayanya sih semua udah terpenuhi. Wanita yang mengalami KDRT pun sekarang udah ada tempat mengadu. Yang gw rasa akhir-akhir ini adalah…kemana wanita dengan harga diri?

Temen gw pernah cerita, waktu itu dia lagi jalan sama temennya, sebut aja kali ya namanya Uli. Uli adalah cewek khas metropolitan, cantik, bergaya dan percaya diri. Persis gambaran tokoh-tokoh utama Chick Lit lah. Menjunjung tinggi semangat Girl Power. Suatu hari setelah pulang kerja mereka dugem. Kami setuju merasa hal yang wajar aja sih kalo dugem mau pake rok mini, celana sangat pendek, atau bahkan BH doang juga terserah lah ya, itu memang tempat yang tepat. Uli ini trus minum, setengah mabuk tapi masih bisa dikontrol lah kesadarannya. Tiba-tiba dia mengaku ada cowok yang (sorry) meremas pantatnya. Dia marah ke cowok itu, biasalah teriak “Kurang ajar lo!”. Cowok itu ketawa doang sama temen-temennya, seakan-akan itu hal yang biasa.

Buat gw, cowok itu emang kurang ajar banget, TAPI Uli pun nggak lebih baik dari cowok itu. Kalo dia (atau kita) bisa bilang bajunya yang mengundang (waktu itu dia pake hot pants dan backless, standar dugem lah) adalah wajar di tempat seperti itu, mestinya dia nggak harus marah. Dia tahu, gw rasa kita semua tahu, resiko pake pakaian minim seperti itu adalah gangguan dari cowok-cowok jahil. Dan mengingat tempat itu kebanyakan orang-orang seperti itu pula, terus apa yang salah? Kecuali kalo dia pake pakaian biasa, wajar, celana panjang dan t-shirt, dan lagi jalan di tempat biasa trus ada cowok yang meremas pantatnya, bisa gw pastiin cowok itu nggak waras, dan kalopun waras sang cewek berhak marah (direbus-goreng juga boleh hahahaha :D). Emansipasi apa yang harus diperjuangkan disini?

Sebuah band Indonesia pernah membuat lagu terinspirasi dari seorang penyanyi dangdut yang pernah dipojokkan gara-gara tampilannya yang seronok. Sang drummer berkata “Menurut kami, wanita Indonesia bebas berpakaian apa saja asal laki-lakinya bisa menahan diri”. Doh…kaya kita nggak tahu aja laki-laki itu kaya gimana (no offense for guys). Bagaimanapun, terimakasih karena sudah mengizinkan kami bebas berpenampilan, tapi…

Gw nggak akan menggantungkan rasa percaya ke orang lain (laki-laki) yang harusnya bisa bersikap sopan terhadap wanita. Bagaimanapun, manusia mempunyai sisi binatang dalam dirinya. Karena jenis manusia di bumi cuma laki-laki dan perempuan, berarti udah jelas siapa memangsa dan siapa dimangsa (dan sebaliknya).

Gw nggak akan bicara aturan agama, meskipun gw berusaha bertahan dengan itu, tapi gw tahu pasti orang-orang akan menguap bosan mendengarnya. Yang gw yakini adalah, wanita yang punya harga diri adalah wanita yang bisa menjaga dirinya. Menjaga bagian-bagian tubuh tertentu yang layak dibuka dan seharusnya tak diumbar, menjaga sikapnya juga jelas menjaga omongannya. Wanita yang bisa menjaga harga dirinya adalah wanita yang pantas dibela hak-haknya. Wanita yang pantas dikategorikan sebagai subyek emansipasi.

Kita memang bebas dear, bebas melakukan apa saja. Tapi jangan membenci batasan karena batasan bisa ngejaga kita dari berbagai gangguan, well paling nggak itu juga bentuk antisipasi.

Gw kadang sedih sama ibu-ibu jaman sekarang. Seperti yang dulu pernah gw ceritain. Beberapa ibu mendandani anaknya dengan baju-baju yang hanya dipakai Katy Perry kalo manggung. Sering banget gw lihat anak umur sepuluh tahun pake hot pants, pupune mulus diumbar. Itu baru sepuluh tahun lho, mungkin terlihat cute tapi apakah Bunda yakin suasana di sekitar anak itu aman? nggak ada paedofil sedang mengintai mereka? Maraknya orang-orang dengan penyimpangan seks bisa dipicu dari hal-hal kaya gitu. Apa jadinya kalo awal kerusakan sebuah generasi perempuan berawal dari ibunya? Mudah-mudahan sih jangan lah ya. Gw ngerti jadi ibu itu nggak gampang, dan gw cuma ngomong doang ya gampang aja, tapi kalo lihat begini ya paling nggak gw mesti belajar dari hal-hal yang tidak seharusnya, mudah-mudahan aja gw bisa…

Jadi menurut gw, wanita yang independent berarti wanita yang mandiri (sesuai artinya) yang tidak bergantung pada berharap bagaimana orang sesungguhnya harus bersikap. Dunia itu liar, dan penjahat di sini bukan penjahat yang biasa dilihat di film kartun Sabtu pagi (masih kutipan dari The Incredibles, doh…). Mereka akan mengganggu kita setiap ada kesempatan, jadi jangan pernah beri orang-orang jahat itu kesempatan (ya ampun, tu film bener-bener ngena banget kali ya ke gw…). Bebas itu baik, tapi punya batasan adalah hal terbaik dalam sebuah kebebasan.

So girls, jadilah wanita yang pantas untuk dibela! 😀

Rockstar Juga Manusia

Sebelum gw kenal sama suami gw beberapa tahun yang lalu, gw nganggep dunia anak band adalah rimba anak-anak borju yang menyebalkan, snob, sok ngartis, norak, blah blah blah… Lalu kebetulan temen gw yang hijrah ke Jogja tiba-tiba muncul kembali dengan kondisi yang sama sekali berbeda yang pernah gw kenal, dia bergaul sama komunitas anak band disana. Dulu gw nggak tahu kalo selain kota pelajar, Jogja ternyata medium berjamurnya band-band indie. Gw bahkan masih inget respon pertama gw waktu temen gw itu bilang mau ngenalin temennya ke gw (tanda-tanda pencomblangan), dia bilang “Namanya Mas Yudhi, dulu dia pernah jadi operatornya The Rain lho…” dan gw jawab “Operator? Yang ngangkat telepon itu? Kenapa The Rain punya orang yang khusus untuk itu?”. Dan gw bisa bayangin ekspresi wajahnya meskipun saat itu kita lagi ngobrol di telepon.

Setelah gw mengenal Mas Yudhi itu dengan baik, ya pekerjaannya ya dunianya ternyata nggak seburuk persepsi gw selama ini. Bahkan menurut gw dunia anak band itu sama kerasnya dengan dunia-dunia di bidang lain. Dibalik ke-glamor-an mereka, dibalik teriakan-teriakan fans, juga dibalik skandal-skandal mereka yang disebarluaskan di media.

Adalah suami gw saat ini bekerja untuk sebuah band bernama DM. Meskipun gw bukan fans mereka, tapi gw akui, lagu-lagunya lumayan dan (apalagi) jobnya pun padat. Orang-orang banyak mengecam lagu-lagu mereka yang mellow, mlenyak mlenyek (what the maksud?), bahkan sekali waktu dihujat karena memplagiat lagu dari band bule. Udah sempet ada klarifikasi, dalihnya karena influence, tapi tetep orang-orang masih aja menghujat, bahkan terakhir gw denger lagu yang dinyanyiin sekelompok rapper tidak terkenal menghina mereka dengan kata-kata yang…waw, entah mereka benci dengan skandal plagiatnya atau benci sama band DM sendiri. Terakhir gw denger kelompok itu bikin lagu yang menghina adalah menghujat sebuah band yang juga naik daun, KGN Band. Parahlah pokoknya.

Suami gw cerita (tanpa maksud membela), karena hampir setiap hari dia kerja untuk mereka ketika event ataupun latihan dan rekaman, “plagiat” tersebut ternyata memang bukan hal yang disengaja. Misalnya mereka memainkan satu lagu dalam bentuk demo, yang namanya beberapa kepala dalam prosesnya pasti muncul ide-ide untuk aransemen yang lebih baik, si A berniat nambahin ini, si B pengen kayanya ditambahin itu lebih oke dan…voila! Jadilah sebuah lagu yang akhirnya kita dengar sekarang ini. Lagipula, siapa sih yang pengen karyanya disamain sama orang lain? Semua seniman selalu pengen karyanya orisinil dengan harapan orang-orang akan mengingat mereka melalui karyanya. Selain ada yang namanya aturan 8 Bar. Suatu lagu dinyatakan plagiat kalo terdapat nada yang sama sebanyak 8 bar. Dan dulu, gw juga pernah membuktikan “dalih influence” tersebut. Gw sok-sok an bikin lagu. Susaaah banget, dan setelah selesai gw minta temen gw dengerin, dan apa jawaban dia? “Itu kan lagunya Ten to Five.” damn…padahal gw nggak mikirin Ten to Five sama sekali waktu bikin lagu itu. Dan gw pun menunduk kecewa.

Persaingan antar mereka juga cukup ketat, tapi gw lebih banyak melihat kalo mereka lebih ke arah berteman dengan sesama ketimbang nge-jelek-jelekin. Meskipun ada satu dua pentolan band yang kaya gitu, tapi kebanyakan mereka lebih suka temenan, tuker informasi soal alat instrumen yang bagus dengan harga terjangkau, atau lainnya.

Dan yang membuat sebuah band terlihat hebat memang dari fans-nya. Dulu, gw pernah diajak nonton syuting Inbox live. Kebetulan lokasinya deket rumah dan juragannya suami gw lagi main disana. Sebetulnya gw males dateng (karena gw tahu itu bakalan rame, gw benci keramaian kaya gitu) tapi karena ditelepon…ya sudahlah. Bener aja, sampe disana penontonnya rame buanget, kebanyakan cewek-cewek berpola penampilan yang sama rata (if you know what I mean) berjejal nunggu idola mereka, kalo nggak salah mereka neriakin nama Afgan waktu itu. Masih gw inget sorot mata kesal mereka waktu lihat gw masuk ke area paling depan panggung yang dibatasi pager besi. Trus beberapa dari mereka protes sama security yang jaga pager itu “Tuh dia boleh masuk!”. Gw cuma muterin bola mata trus jalan aja.Yeee…bukan salah gw dong, gw kan cuma ikut cowok gw!. Tapi salut gw sama mereka, rela berdesakan, berkeringat sampe rambutnya lepek, terutama yang di tengah-tengah, maju nggak bisa, lihat artis nggak bisa, mundur juga nggak bisa tapi teriaknya semangat banget!. Belum lagi mereka kadang rela meluangkan waktu bikin pernak-pernik tentang idolanya. Salut…salut…kalo gw sih mendingan main Cafe World hahahahaha 😀

Yah, begitulah… satu dua orang dari anak-anak band itu mungkin ada yang tengil, ada yang jadi persona non grata bagi sesama anak band juga, ada yang humble, ada yang sangat perduli sama temen-temen deketnya dan nggak sedikit yang berusaha memperjuangkan idealisme dalam lagu-lagu ciptaan mereka supaya selaras sama permintaan music label mereka. Gw salah satu yang pernah merendahkan jenis lagu sebuah band yang sangat terkenal (sampe sekarang pun gw nggak suka musiknya!) tapi ternyata perjuangan mereka juga nggak gampang, kecuali kalo lo musisi “bermodal” yang nggak menggantungkan hidup dari penjualan karya, lo bisa bebas menyebar idealisme tanpa berharap banyak lagu lo laku keras di pasaran. Apalagi penjualan fisik (CD, kaset) sekarang susah banget sejak orang-orang bebas mengunduh lagu dari internet, alhasil mungkin para musisi lebih banyak ngejual lewat RBT. Temen gw pernah bilang (gw terjemahin,soalnya dia ngomong pake bahasa Inggris hahahahaha :D) “Punya hobi bermusik itu bagus, tapi untuk ngejadiin musik itu sebagai sumber mata pencaharian sementara orang-orang bisa ngambil lagu lo dengan gratis di internet, gw pikir lagi berkali-kali.”

Dunia mereka sama keras dan sama penuh intriknya seperti orang lain. Ya pekerjaan, ya kehidupan pribadi, hanya mereka lebih diekspos di media khusus entertainment, dimana (jangankan) kasus besar yang menimpa mereka, jerawat tumbuh satu di muka mereka aja dibahas di TV atau (kata temen gw lagi) artis umur 15 tahun baru pertama kali punya pacar aja udah ditanyain kapan kawin, semua hanya ada di berita entertainment

Dibalik semua itu, mereka cuma manusia yang sama-sama bekerja untuk bertahan hidup dan pasti pernah keliru, bedanya mereka masuk TV, kita nggak 😀

Smile…Don’t!

Tadi siang gw cari udara segar ke mall. Lewat swalayan ge sekalian beli saos buat di rumah. Pas lagi ngantri di kasir tiba-tiba gw liat cewek sekelebat mirip seseorang yang nyebelinnya nggak akan pernah gw lupain. Dari belakang mirip banget, rambutnya yang keriting, putih dan pendek. Suddenly all those revenge feelings blown.

Waktu kuliah dulu, ada seorang karyawan sekertariat jurusan kami, sebut aja namanya Yuli. Yang menarik dari Yuli ini adalah dia terkenal dengan ketidakramahannya dari angkatan ke angkatan. Katanya sih dia alumni sana juga dan sekarang kerja di sekertariat. Tugasnya melayani beberapa administrasi mahasiswa.

Astaga gw benci sekali sama dia. Gw bahkan nggak tahu mulai dari mana untuk ceritain dia.

Sebagai seseorang yang bekerja di bagian pelayanan, udah jelas nggak sepatutnya dia berkelakuan seperti itu. Lulus kuliah gw kerja di rumah sakit, bagian pelayanan juga. Gw tahu rasanya diomelin sama orang-orang yang nggak gw kenal, ditekan dari sana-sini. Tapi setiap kali gw mulai kesel sama pasien gw selalu inget gimana Yuli pernah memperlakukan gw. Dijudesin itu nggak enak, diperlakukan tidak ramah itu sama sekali nggak menyenangkan terlebih karena kita datang dengan sikap baik-baik. Beberapa kali pasti pernah juga gw khilaf bernada tinggi ke orang, tapi setelah itu gw langsung ngerasa bersalah. Seringkali gw nanya, apa si Yuli itu nggak pernah ngerasa bersalah setiap kali dia memperlakukan orang dengan tidak ramah ya?

Beberapa kali waktu kuliah pernah juga disebar angket dengan tujuan untuk ningkatin kualitas pelayanan sekertariat pada mahasiswa. Dan setiap disebar angket itu pula rasanya pengen gw sobek jadi serpihan kecil. Karena sia-sia aja, udah banyak orang ngritik tu sundal satu tetep aja doi nggak pernah berubah.

Pernah suatu waktu gw telat ngasih laporan magang (laporan akhir dikumpulin ke sekertariat dan SIALnya dia yang nerima) karena satu dan lain hal. Gw tahu deh dia pasti nyap-nyap karena ketelatan gw. Sebetulnya waktu itu gw sempet nanya pembimbing gw, boleh nggak gw kasih laporan yang seharusnya bertahap per bab tapi gw satuin semua di akhir batas tempo. Pembimbing gw bilang boleh aja, selama nggak lebih dari batas tanggal yang ditentuin. Nah, waktu itu gw sengaja ngumpulin semua laporan gw dan diserahin sebelum batas waktu. Doi nyap-nyap yang katanya gw nggak tahu aturanlah, nge-cap buku magang gw pake acara banting-banting, pokoknya kasar lah. Gw diem aja, males nanggepinnya, yang penting laporan gw diterima. Dalem hati gw berdoa semoga orang ini tertimpa kesialan tujuh turunan. Apapun kesialan itu, se-sial-sialnya.

Udah selesai urusan gw, lain waktu ngobrol lah gw sama temen gw yang yah..bisa dianggap mengaku “kenal dekat” sama wanita sundal itu, and you know what she said? “Gw juga ngumpulin laporan disatuin belakangan, nggak tuh Yuli nggak marah sama gw…” WTF!!! (oh! I wish I could say WTF is Wow That’s Fantastic).

Saat ini gw nggak tahu dia masih kerja di kampus itu apa nggak, dan udah nikah apa belum. Kalo dia udah nikah dan punya anak, gw pengen tahu gimana perasaannya punya ibu yang dikenal judes di tiap angkatan. Dan gw juga pengen tahu gimana kalo anaknya diperlakukan sama orang lain seperti dia memperlakukan orang.

Oh, Yuli…smile please…but…DON’T! (coz u better look like a true f*ckin WITCH!!!

Name, Please!

Seseorang baru aja nge-add gw di FB, ada mutual friends yang berarti salah satu dari temen lama. Cuma yang bikin gw kesel dia nggak pake nama aslinya. Gw tau itu nama anaknya karena di angkatan gw nggak pernah kenal seorang temen dengan nama Nasywa Aqiya Putri Salsabila (itu contoh,yang beneran mendekati nama yang sama), itu nama anak jaman sekarang. Dan fotonya pun foto anaknya yang masih bayi, nggak ada tampak foto ibu atau bapaknya. Cuma profile info-nya aja yang bener, kelahiran 1980-an dan menyebutkan nama almamater tempat doi pernah kuliah. Anak bayi nggak mungkin pernah jadi alumni almamater kan?

Gw tahu, gw ngerti, semua orang pasti saaaaangat bangga punya anak, terutama pasangan muda dengan anak pertamanya. Cuma please…jangan bikin bingung menutupi semua jati dirinya pake semua hal-hal yang berbau anaknya. Gimana gw bisa ngenalin??? Ya..ya…anak lo lucu, anak lo menggemaskan, imut, pinter, dlsb, dlsb. Tapi kalo niat lo ikut di situs jejaring sosial untuk nemuin temen-temen lama….TOLONG PAKE NAMA ASLI!

Gw udah cukup meng-ignore orang-orang dengan nama alay macam Cewek Kesepian, Aku Disini Untukmu atau Nhie Chantiq Sekali. Itu udah cukup buruk! Itu udah cukup memusingkan…

Maaf yang ngerasa pake nama kaya gitu dan maaf orang yang baru aja gw ignore dengan jenis nama yang sama…pusing, gw nggak tahu siapa lo…

Tolong…Nggak…Tolong…Takut..?

Gw baru aja nonton salah satu acara reality show lama di salah satu stasiun TV swasta. Konsepnya, adalah menampilkan seseorang yang sedang kesusahan dan mencari bantuan ke orang-orang yang juga sedang susah. Kalo yang dimintai bantuan itu bersedia membantu maka dia akan mendapat hadiah. Terlepas acara ini pake skenario atau nggak, awalnya memang bagus untuk menyampaikan sebuah pesan sosial untuk masyarakat saling membantu, saling care meskipun dirinya juga sedang kesusahan. Tapi akhir-akhir ini, seiring bertambah canggihnya zaman….I should think twice.

Fatimah Az Zahra, putri Nabi Muhammad SAW adalah salah satu wanita yang sangat menginspirasi gw. Kisahnya selalu jadi favorit gw untuk selalu berpikir positif terhadap kehidupan duniawi, untuk memberi dalam kekurangan. Bila beliau masih hidup gw penasaran apa pendapatnya tentang ke-modern-an saat ini. Ketika manusia mulai berhenti menolong sesama karena rasa takut dan nggak percaya.

Ini ada hubungannya ketika gw baca di internet tentang beberapa berita yang nyaris sama, modus baru pemerkosaan wanita. Disebutkan disitu salah satunya dengan menggunakan anak kecil sebagai umpan. Si penjahat nyuruh seorang anak pura-pura tersesat, targetnya siapa lagi kalo bukan perempuan yang gampang tersentuh hatinya. Kalo si korban bersedia nolong, anak itu akan minta dianter ke suatu tempat yang diakui sebagai rumahnya. Sampe di rumah, anak itu akan minta si korban untuk memencet bel dan tanpa disadari itu bel yang sudah dialiri listrik. Karena tersengat dan pingsan, maka si korban mulai dikerjai penjahat, direkam dan rekamannya disebarkan di internet (dan di download ribuan bahkan jutaan laki-laki berotak ngeres..ha).

Selain gw pikir setiap orang harus mempelajari ilmu membaca orang (mungkin dalam kurikulum sekolah bisa disisipin psikologi praktis hahahaha…), lantas bagaimana kita tahu apakah orang itu butuh ditolong atau nggak? Terus gimana kalo ada orang yang emang bener-bener harus ditolong? Pengemis-pengemis, anak-anak jalanan, kita semua tahu sebagian besar dari mereka palsu, terorganisir dan bahkan mungkin berniat jahat dengan kedok minta tolong. Lama-lama orang-orang bakal nggak percaya, atau lebih ekstrim lagi jadi paranoid sama hal-hal kaya gitu. Dan jelas, mengaburkan kenyataan bahwa memang ada orang-orang yang perlu ditolong.

Jujur kalo lagi di jalan, naik angkot. Gw masih nggak tega lihat anak-anak kecil didorong-dorong sama orang yang lebih tua untuk nyebarin amplop bertulisan nada mengemis waktu ngamen Nggak jarang dari mereka yang dipukul di depan orang-orang karena bergerak lambat. Dan yang tersentuh dengan hal macam ini, siapa lagi kalo bukan perempuan? Dengan iba mereka akan merogoh receh dari kantong untuk dikasih ke anak-anak itu. Ya kita tahu mereka punya bos, dan kadang hasil ngamen itu dipake untuk hal-hal yang nggak bener, tapi drama yang terjadi waktu mereka menengadahkan tangan adalah “gendam”, mengelus lapisan perasaan paling halus seorang manusia.

Mungkin bisa aja pada bilang, mending sumbangin aja ke masjid atau panti asuhan. Oke, itu ide yang bagus. Tapi tanpa penjelasan tertulis, bisakah seseorang membandingkan ngasih uang lima ratus perak untuk masjid yang mungkin akan digunakan untuk pemeliharaan tempat ibadah atau untuk anak kecil yang ngamen di siang hari yang terik dililit rasa haus dan mungkin uang itu akan dibelikan air untuk minum? Mana yang lebih cepat dibutuhkan?

Gw sebetulnya agak bingung ngungkapin kaya gini nggak tahu arahnya kemana. Di satu sisi setiap manusia pasti pengen berbuat baik terhadap sesama Di sisi lain orang-orang brengsek memanfaatkan perasaan sentimentil itu untuk ngambil keuntungan. Dan kemiskinan seharusnya dijadiin alasan supaya manusia terus berjuang agar hidupnya lebih baik, bukan malah alasan untuk berbuat kejahatan atau malah bunuh diri. Ya..ya..tentu aja realitanya berbeda kan? ngomong mah gampang. Lagipula gw juga tahu kok tanggepannya kalo nggak nyalahin pemerintah pasti suruh balik lagi ke diri masing-masing.

Jadi yah…ada baiknya lebih berhati-hati dalam berbuat baik di jalanan. Ada kalanya kita harus memaksa diri kita jadi kejam, tutup kuping dari suara-suara melas. Meskipun begitu gw sih yakin, selalu ada tanda apakah kita layak menolong seseorang atau lebih baik ditinggalkan. Semoga kita selalu diberikan petunjuk olehNya.

Yourself vs Somebody Else

Entertainment show mana sih di TV swasta Indonesia yang nggak niru produk luar? Dan mereka menyebut diri mereka kreatif di setiap ulangtahunnya. Ha-ha. Okelah otak kanan manusia juga punya batas dalam menciptakan sesuatu yang orisinil tapi kreatif bukan cuma lihai dalam mencipta, tapi juga dalam meramu dan mengemas plagiarisme biar nggak ketahuan nyontek.

Gw baru aja nonton salah satu acara pencarian bakat di salah satu stasiun TV swasta. Kita semua tahu itu saduran dari America’s Got Talent yang bahkan sebentar lagipun di stasiun TV lainnya bakal dibuat juga Indonesia’s Got Talent. Kalo versi asli jurinya ada 3, yang lokal ini jurinya ada 4 jadi kalo voting hasilnya seri si peserta disuruh tampil lagi di episode berikutnya. Wasting time menurut gw. Karena malam ini tayangan perdana jadi bola mata gw nggak muter terlalu sering so otomatis ga terlalu bikin pusing. Cuma tetep aja gw ngerasa gatel untuk nggak bandingin sama versi luar.

Ada peserta macam boysband gitu, cowok 5 orang nge-dance dan lipsing lagu Korea, jelas-jelas juga mereka bilang terinspirasi sama boysband Korea. Koreografi mereka itu biasa aja (kalo nggak tega disebut payah) dan merekapun nggak nyanyi tapi keempat juri yang katanya artis dan entertainer kawakan itu meloloskan mereka. Letak bakatnya ada dimana? Di America’s Got Talent gw pernah lihat ada peserta yang perform sulap. Buat gw sulapnya bagus dan juri pun agak tercengang tapi karena sulapnya dinilai udah banyak orang yang ngelakuin maka peserta itu ditolak padahal semua yang ada disana mengakui kalo peserta itu bermain bagus. Dan yang jelas penilaian mereka nggak terpengaruh sama latar belakang cerita menyayat tentang perekonomian si peserta. Nggak ya nggak. Iya ya Iya.

Gw nggak bilang orang-orang Indonesia payah. Terutama karena kemaren nonton Kick Andy tentang remaja-remaja luar biasa yang nyiptain software yang bahkan gw terkejut ternyata orang Indonesia bisa menciptakan hal seperti itu. Ciptaan mereka juga mau dibeli sama negara tetangga tapi mereka nggak mau dan pengen dipake khusus untuk negerinya dulu. Tapi adakah masyarakat luas tahu? (selain yang nonton Kick Andy atau update berita tentunya) nggak ada, mereka cuma tahu kalo Bunga Citra Lestari selalu tampil seksi dan Nikita Willy pernah digosipkan dekat dengan Dude Herlino. Masyarakat lebih dicekokin berita nggak penting daripada penemuan-penemuan brilian orang-orang di negerinya sendiri.

Nggak salah juga sih kalo cita-citanya jadi artis, tapi mbok ya kemampuannya diasah. Sorry, maaf banget bukannya gw meng-underestimate sineas-sineas muda kita dan berpaling ke film-film barat, tapi layakkah film Indonesia ber-genre pop atau komedi ditonton? Kalo soal horornya gw udah males komentar, seperti kata temen gw “Sampah itu harusnya ada di tempat sampah, bukan di gedung teater”. Film Indonesia gw lihat-lihat dulu, gw cuma mau nonton film Indonesia dengan tema idealis, bukan nge-pop ala film remaja Hollywood, nggak akan pernah masuk!

Aktor-aktornya pun…aaah.., mesti gimana lagi gw berpendapat? Para entertainer Indonesia dan entertainer barat itu berbanding terbalik. Contoh, aktor Indonesia, yang paling sering gw perhatiin itu Tora Sudiro. Di setiap film apapun, lakon apapun, Tora Sudiro akan tetap memerankan Tora Sudiro sendiri (dan please…perannya itu di Laskar Pelangi berkesan jangan nggak aja dia main disana)Nicole Kidman memainkan karakter yang berbeda di film berbeda dan lakon yang berbeda pula, pelacur rapuh di Moulin Rouge, penyihir polos di Bewitched dan wanita mandiri yang tertekan di Stepford Wives. Selain itu, tata rias penting banget buat ngebentuk sebuah karakter.

Itu aktor. Beda lagi kalo mereka jadi juri sebuah acara pencarian bakat. Simon Cowell tetaplah menjadi Simon Cowell dalam menilai orang, nggak mengada-ada meskipun terkenal dengan ketusnya. Yang gw lihat dari seorang musisi yang jadi juri di Indonesian Idol waktu pertama kali tayang, kok sok ketus ya. Sesuatu yang sebetulnya bisa ditanggapi dengan biasa aja ditambah-tambahin nada sinis, mungkin biar ada nilai hiburan untuk tayang di TV kali ya, tapi jelas terlihat banget kalo itu terlalu dibuat-buat.

Emang sih, kata orang dunia hiburan itu dunia yang nggak nyata, yang diciptain semata buat menghibur orang. Cuma mungkin harus lebih sadar kali ya gimana memposisikan diri. Kalo waktunya berakting jadi orang lain, jadilah orang lain dengan total, giliran waktunya jadi diri sendiri untuk acara yang lebih real, nggak usah terlalu berlebihan kali ya.

Jangan bilang “Jangan ngomong aja, coba kalo lo yang disuruh akting bisa nggak”. Gw tahu rasanya akting, itu sama sekali nggak gampang. Nangis di atas panggung teater nggak segampang nangis di layar sinetron, dan itulah perlu yang namanya latihan. Dan gw nggak heran juga sih, aktor sana rata-rata ngantongin ijazah sekolah peran, kalo disini ijazah sekolah artis (setidaknya itu yang gw baca di sebuah papan nama di pinggir jalan “Telah Dibuka Sekolah Artis”) dan kru macem penata rias atau desainer kostum juga jebolan sekolah-sekolah seni.

Untuk menghasilkan produk berkualitas dibutuhkan bahan baku terbaik dengan proses yang matang. Nah kalo bahan bakunya aja udah kualitas rendah dan prosesnya payah? ya selamat menonton sampah…

“The Reason”

Kata orang-orang, kita nggak boleh iri sama orang lain karena iri itu penyakit hati. Nggak boleh iri ataupun dengki. Untuk gw, rasa iri adalah perasaan alami manusia. Setiap hari kita merasakan iri sekalipun setipis rambut. Tuhan menciptakan hal-hal yang dilarang agar kita bisa belajar untuk hidup lebih baik. Dan sepertinya gw harus berterima kasih pada salah satu penyakit hati ini.

Gw iri dengan seseorang. Bukan karena kecerdasan atau kekayaannya, tapi (alasan klasik) karena dia punya sesuatu yang gw nggak punya. Anehnya semakin gw iri, semakin gw pengen temenan sama dia bahkan ketika gw sadar kalo gw udah nggak lagi pengen sesuatu yang dia miliki itu.

Tapi orang ini adalah inspirasi yang lahir dari rasa iri gw. Setiap ketidakmampuan gw untuk menggapai setengah aja dari dirinya menghasilkan satu cerita dengan ribuan kata kiasan yang untuk sebagian orang mengaku nggak bisa mengerti secara literal. Nggak usahlah kita membicarakan bahwa “…setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing…” untuk membangkitkan rasa percaya diri gw. Jujur, gw bener-bener menikmati rasa iri ini.

Perasaan ini pula yang bikin gw yakin untuk terus melakukan apa yang paling gw ingin selama ini: menulis. Gw emang bukan penulis betulan dan gw nggak pernah berusaha bersaing dengan para penulis yang lain karena mungkin gaya gw jauh berbeda dengan mereka. Nggak ada yang lebih baik atau lebih buruk, cuma beda jalur aja.

Gw nggak akan pernah tahu berapa lama tanah di bawah kaki gw cukup kuat untuk menopang orang-orang yang hidup diatasnya dan kalo gw sia-siakan hari-hari gw cuma untuk ngejalanin sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan gw, rasanya sayang, meskipun itu adalah yang gw butuhkan. Sebagian orang mungkin nggak bisa ngelihat hasil real dari keseharian gw, tapi apa yang hari ini gw pelajari biarlah jadi bonus harian untuk hidup gw. Mungkin sesekali gw share ke orang lain dengan satu atau dua kalimat yang nggak jarang diketawain sebagian orang. But trust me, untuk belajar filsafat akan lebih baik menemukannya sendiri di dalam bak sampah ketimbang mati-matian berusaha mengerti kalimat misterius dari sang guru.

Sebagian besar masa lalu udah gw persembahkan untuk prosedur standar hidup alias melakukan sesuatu yang begitu-begitu aja. Tapi kali ini gw mau sedikit egois dengan menutup telinga terhadap ucapan-ucapan apapun. Jadi khusus untuk teman yang bikin gw iri ini…please, tetaplah hidup dan selalu ada di sekitar gw. Kalo dia seorang supermodel, maka biar gw jadi fotografernya, dia akan selalu tetap terlihat bersinar dan gw adalah orang di belakang kamera yang mengabadikan ke-luar biasa-an nya dengan gaya gw sendiri.

Rival mungkin tetaplah rival, tapi rival adalah alasan untuk kita tetap bergerak maju.

“Nothing is Impossible”

Gw sering banget denger frase itu, biasanya untuk membakar semangat dan bikin percaya diri seseorang kembali untuk melakukan atau melewati sesuatu yang berat. Bener sih, tapi pas gw pikir lagi…nggak bener juga. Maksud gw diluar konteks puitis yang tersirat di frase itu. Gw lebih nganggep cuma sekedar magic words sugestif.

Nggak ada yang nggak mungkin. Di dunia ini pastilah ada yang nggak mungkin Kalo semua hal di dunia ini mungkin, untuk apa ada Tuhan?

Hmm…agak menyakitkan buat gw kalo disemangati pake frase ini, jelas kalo maknanya agak..yeah…kosong. Tapi untuk sugesti orang-orang yang mudah percaya sih mungkin hasilnya akan bagus. Cuma kalo buat gw, cari pemikiran yang lebih masuk akal aja deh 😀

Jangan dengerin gw, lanjutkan aja hidup kalo frase ini bisa bikin lo lebih bahagia 😉