10 Hal Paling Menyenangkan Yang Pernah Dialami

-just for fun :P-

1. Menikah!

2. Jatuh cinta dengan orang yang jauh dari sempurna

3. Seseorang mengutip kata-kata orisinil gw

4. Membungkam mulut seseorang dengan kesalahannya sendiri

5. Mempermalukan si mulut besar disebuah presentasi *itu nggak sengaja, but definitely damn fun!*

6. Punya keluarga kedua di Jogja!

7. Pernah punya rekan-rekan kerja paling berbahaya hahahahaha…snakes…hahahaha….

8. Punya rambut ikal, lucu 😀

9. Bikin pacar seseorang ngamuk karena lucu-lucuan “psiko-cyber” gw dan temen-temen

10. Sushi! thx to Japanese for discover this food…yummy!

Lagi…Racun Bernama FB :D

Dunia maya bisa lebih panas daripada dunia yang sebenarnya. Dunia maya bisa bikin orang lain punya kepribadian yang begitu berbeda dari yang sebenarnya. Setidaknya itulah yang gw rasain. Apalagi yang menginspirasi gw kalo bukan facebook?

Sebetulnya gw hampir bosen dengan situs ini, kalo bukan karena bisa keep in touch sama temen-temen yang lain, udah gw tutup akunnya. Entah virus jenis apa yang ada disini yang jelas situs ini bisa mempengaruhi pemikiran dan terutama emosi seseorang. Bahkan seorang cewek di Bogor dituntut atas pencemaran nama baik cuma gara-gara komentar di FB! malah itu bukan kasus pertama yang ada gara-gara FB.

Tapi FB pun bikin gw menarik banyak pelajaran. Banyak banget. Salah satunya, kalo nggak mau disebelin orang, jangan bertingkah nyebelin! Semua orang pasti pernah bertingkah menyebalkan, toh? Apalagi gw, lucunya awal kali bertingkah menyebalkan justru dari orang yang menurut gw menyebalkan juga. Apa menyebalkan juga salah satu penyakit menular ya? 😀

Tingkah orang-orang di FB jelas beraneka ragam. Ada yang doyan pamer, ada yang sok kritis, ada yang bermelodrama ala Realigi Trans TV, ada juga yang ngebeberin kejelekan mantan pacarnya. Suatu hari gw pernah “memotret” hal-hal macam itu. Tapi ternyata banyak yang protes, katanya suka-suka dong ini kan situs untuk umum. Padahal gw nggak pernah bilang itu salah atau dilarang. Itu cuma masalah antara lebay dan nggak lebay. Seperti kata iklan rokok “Mau eksis? Jangan lebay plis!”. Kalo dia mau terus termehek-mehek ya silahkan aja sih…

Tapi yang paling lucu sih salah satu komentar temen gw hari ini. Emang beberapa kali update status di waktu yang lumayan berdekatan. Status gw nggak mengandung SARA, nggak memprovokasi orang juga dan tiba-tiba dia naro komentar “Berisik! dari tadi kerjaannya comment melulu :(”

Gw nggak perduli maksud dia bercanda apa nggak tapi yang jelas gw ketawa. Pertama, yang gw lakukan itu adalah update status bukan comment. Kedua, gw itu nulis (atau ngetik tepatnya) dan bukan teriak-teriak, jadi mana mungkin terdengar berisik? hahahahaha….., haduh haduh…mbok ya kalo mo ngritik orang itu pake kata-kata yang minimal mendekati benar lah hahahahaha 😀

Gw sih nggak marah, cuma gatel aja untuk mengoreksi komentarnya. Trus setelah itu gw mikir, mungkin kalo gw mengucapkan atau menulis sesuatu yang bikin orang kesel, ya seperti itu lah ya? Gw emang bukan orang yang nice to everyone, tapi gw juga ngerti gimana cara menempatkan diri. Being nice is good, being yourself is quite dangerous, jadi gw lebih suka jujur sama diri sendiri aja dulu. Gw nggak mau mempermalukan orang di depan umum karena bisa jadi kita malah kena bumerang yang kita lempar sendiri.

Gw nggak mau kepancing racun-racun emosional yang ada di FB. Sekiranya ada yang berusaha cuci otak lewat note-note mereka, lebih baik nggak gw baca. Kalo ada yang lebay dengan statusnya lebih baik nggak usah dibaca, cukup lihat sepintas aja meskipun kebaca juga,cuma paling nggak jangan disimak. Kalo ada komentar yang nggak ngenakin lebih baik di hapus semuanya (itulah guna opsi delete, remove dan hide), kalo ada yang invite ke grup-grup politik…please, kalian buang-buang waktu dengan meng-invite gw. Pasti bakalan gw ignore sih hahahahaha 😀

Cuma kadang bosen juga kan ya jadi orang yang selalu sok manis. Nggak apa-apa kok ekstrim dikit, tapi jangan bawa-bawa nama orang. FB itu sebetulnya menyenangkan, cuma butuh kendali diri yang sangat tinggi.

Hometown Album

Salah satu pertanyaan khas orang Indonesia ketika baru kenal seseorang: “Mbak asli mana?”. Kemajemukan bangsa di negara ini yang melahirkan pertanyaan berbau etika tersebut. Cuma please jangan ditanyain ke gw, karena sebelum jawab akan ada jeda paling nggak setengah menit untuk betul-betul bisa memutuskan menjawab apa. Sesungguhnya gw juga bingung, kenapa kita nggak bisa jawab aja “Indonesia asli” tanpa harus bikin orang lain berpikir kalo kita bercanda. Serius, itulah jawaban gw.

Kemajemukan yang menimbulkan kebingungan adalah salah satu kebanggaan gw. Gw lahir di Lampung, sejak umur satu tahun udah tinggal di Bekasi. Bokap gw antara campuran Sunda-Jakarta, nyokap kelahiran Lampung dengan darah Bengkulu. Jangan-jangan anak gw kelak lebih bingung lagi karena suami gw orang Jogja asli!.

Tapi gw pun punya tanah kelahiran sendiri. Di kota kecil Tanjungkarang, Lampung. Disana ada rumah tante dan rumah nenek kakek (alamarhum). Dan buat gw kota kecil itu kota terindah. Meskipun disana nggak ada apa-apa, dalam artian nggak kaya Bandung atau Jogja tapi “bau”nya sangat familiar. Just like mom’s hugs, tempat itu bikin gw nyaman.

Rumah putih dengan halaman samping yang luas. Selalu ada cerita yang ditutur papa dan mama di setiap sudutnya. Kursi di ruang makan depan pintu yang menghadap keluar konon Datuk (panggilan untuk kakek) suka sekali makan di kursi itu. Bunyi alarm pintu kereta yang nggak jauh dari rumah, khas sekali suaranya, berdentang dengan ritme, lirih dan panjang, menandakan kereta rangkaian panjang yang angkut batubara lewat (rangkaiannya emang betul-betul panjang, pernah gw mau nyebrang rel nungguin tu kereta-disebut babaranjang alias batubara rangkaian panjang-sampe duduk dulu saking panjang dan lama). Berisiknya kendaraan yang lewat di jalan raya depan rumah kadang bikin begadang.

Gw nggak terlalu hafal letak-letak tempat disana. Yang gw inget waktu pernah nginep agak lama disana sama almarhum tante gw, setiap pagi dia belanja ke pasar Bambu Kuning, sekalian beli bunga untuk ziarah ke makam keluarga di Kebon Jahe. Seinget gw juga disana ada Plaza Tanjungkarang tapi nggak tahu deh sekarang udah nambah lagi apa belum, soalnya setiap kesana nggak pernah ke plaza kalo nggak perlu.

Biasanya kunjungan rutin kalo ke Lampung itu berkunjung ke rumah kerabat dan sahabat mama papa, trus makan Mie Awi (nama resto nya Mie Ayam Bandar Lampung). Macem mie ayam bangka gitu cuma uenak banget. Mie-nya lumayan banyak, ayamnya melimpah dan yang khas yang bisa gw inget di resto kecil itu pengganti tissue adalah kertas roti yang dipotong-potong kecil.

Dulu, biasanya jalan ke Teluk untuk cari pempek, langganannya Pempek Gloria. Sekarang ada saudara mama yang buka warung pempek di rumahnya dan rasanya jauh lebih enak, so tempat pesen dan pesta pempek pun pindah. Selain itu paling tiap mau pulang mampir dulu di Pantai Selaki. Dulu sih pantai itu masih kosong, pasirnya masih putih dan airnya masih biru. Nggak tahu deh kalo sekarang.

Kota itu termasuk sepi menurut gw tapi tiap kesana nggak bisa untuk nggak exciting. Setiap kali jalan-jalan, muter-muterin kotanya, pasti ada aja cerita dan sejarah dari suatu tempat yang diceritain papa, karena dulu papa sempet tinggal disana agak lama.

Well, kalo pesona Jojga udah menyihir gw dengan aura etnis-nya, Tanjungkarang adalah album foto besar keluarga yang bisa gw lihat di setiap jengkal kota itu. Karena setiap sudutnya adalah sejarah keluarga kami 🙂

Sense of Friendshit

Beberapa orang pernah mendeklarasikan kalo mereka sahabat gw, dan kebetulan orang-orang itu pulalah yang melupakan gw di kemudian hari. Well, paling nggak itu yang gw rasain. Thank God gw nggak terlalu sakit hati karena selama ini juga gw nggak percaya yang namanya “sahabat”. Seperti yang pernah gw bilang pertemanan biasa selalu lebih aman. Buat gw “Sahabat” adalah hubungan yang menguras emosi lebih dari hubungan percintaan.

Seorang sahabat gw (seorang mak comblang gadungan) nyalip jalan gw merebut laki-laki cem-ceman padahal dia janji bahkan menawarkan diri bantuin gw nyomblaing ma tu lelaki.

Sahabat yang lain seorang wanita yang cenderung menjadi diva dalam psikodrama yang dia atur sendiri, setiap kali berantem sama suaminya dengan gampang dan gamblang (sambil diiringi derai tangis ala Bollywood) selalu bilang “Gw mau cerai!”, ga masalah sih dia mo cerai berapa kali juga tapi yang bikin gw nggak terima dia sering melibatkan orang-orang dalam skenario-skenario yang pada akhirnya memutuskan kalo dialah korbannya. Sumpah, sinting tu perempuan.

Sahabat yang lainnya lagi dengan senang hati berteman dengan gw, tapi itu duluuuuuu waktu gw masih berpenghasilan dan bisa nraktir orang-orang. Sekarang dia lebih suka cari sahabat baru yang mampu ngebayarin makan, belanja dan jalan-jalannya ketimbang gw tagih untuk nraktir gw.

Sebagai teman, gw juga pernah menyebalkan, egois, bohong untuk kepentingan sendiri tapi gw nggak pernah bersumpah jadi sahabat setia kalo pada akhirnya nge-dumped sahabat sendiri.

Gw lebih suka kembali ke prinsip teman paling sederhana: gw kenal, gw butuh, gw jaga hubungan baik. Bukannya gw nggak menghargai temen-temen gw yang lebih deket sama gw cuma please nggak usah deh kaya film-film ABG yang dikit-dikit selalu mengagung-agungkan “persahabatan kita”.

Dan untuk orang-orang yang udah nge-dumped gw, nggak usah khawatir, gw nggak pernah dendam cuma untuk hal-hal konyol, makasih untuk semuanya. Karena sejak dulu gw temenan bukan karena lo keren, lo kaya, lo punya selera bagus dalam fashion atau lo temennya artis. Temenan itu bukan kaya nikah yang disahkan “Oke,kita udah nikah”. Temen itu adalah sewaktu lo kenal dan sejak saat itu lo ngejaga hubungan baik.

Tapi gw udah bener-bener ilang feeling 😛

The Holy Preachers

Semua orang mungkin tau, gw paling nggak suka diceramahin. Sebetulnya dulu gw nggak gini-gini amat,kalo lo mengenal gw dengan baik, meskipun ngeyel tapi gw masih mau denger pendapat dan nasehat orang. Ini gara-gara temen gw yang kelewat maniiiiiiiiisssss dan baiiiiiiikkkk hati yang setiap saat selalu berceramah kapan saja dan dimana saja nggak pandang bulu entah tu orang lagi nggak pengen diganggu selalu melancarkan ceramahnya. Gw muak.

Dulu pertama kali nemuin namanya di FB jelas aja gw add karena ngerasa dia temen lama gw, padahal sebetulnya udah timbul perasaan nggak enak mau nge-add dia. Eh bener, aja. Kenapa sih firasat gw selalu beralasan terutama kalo udah nilai orang sejak pertama?

Satu dua kali oke lah ya catatan-catatan dan komentar-komentar dia dengan dalih-dalih kitab sucinya bikin gw berpikir. Cuma ada kalanya gw jangankan diceramahin, dikomentarin aja bikin kesel. Ada kalanya gw pengen berekspresi tanpa diperingati berkenaan dengan ayat ini dan itu. Ada kalanya gw pengen mengungkapkan kekesalan tanpa dilarang untuk marah. Gw juga tau marah itu “penyakit hati”, nggak bagus, bla bla bla. Tapi siapa anda kalau anda tak pernah marah?

Temen-temen gw yang lain nganggep dia anak yang baik dan manis. Betul, tapi selama dia nggak ikut campur urusan orang terlalu jauh. Mungkin dia pengen melakukan sesuatu yang baik terhadap orang lain, tapi ada kalanya yang baik menurut dia bisa jadi tidak baik menurut gw. Buat gw dia terlalu nyinyir dan bikin gw nggak tahan sampe gw mesti nge-remove dia.

Tapi tentu aja, orang macem dia pastinya nggak cuma satu. Yang laen masih tersisa. Masih banyak orang-orang nyinyir lainnya. Tapi kali ini gw capek kalo mesti dihadapi secara frontal terus. Gw coba untuk ignore aja orang-orang kaya gitu. Sesekali berhasil, lain waktu mereka masih nggak sadar kalo gw emoh berinteraksi sama mereka. Apalagi beberapa temen gw yang udah punya anak, ceramahnya ngelebihin nyokap gw. Halo, kalo gw butuh tanya jawab soal anak pasti gw nyari orang untuk tanya-tanya. Ini sama aja kaya waktu gw masih single dan dijejali wejangan nikmatnya menikah.

Sekali lagi, bukannya gw sok pintar dan semacamnya hanya kerna gw benci diceramahin, tapi percayalah, gw bakal cari orang yang tepat untuk gw jadiin tempat tanya jawab bila waktunya tiba.

Kalo bukan takdir gw sebagai makhluk sosial yang membutuhkan sesama, udah lama gw pengen hidup menyendiri. Well, paling nggak dari para Holy Preachers itu. Duh, cuma Tuhan deh yang tahu gw dosa apa nggak. Tapi Tuhan pun tahu perasaan setiap manusia.

Saya merasa terganggu!

Catatan Awal

Paaaaggiiiiiii….!!!! *meskipun matahari sudah tinggi*

Kemaren malem gw udah nggak bisa tidur,setiap 10 menit mesti kebangun,dan semalam lebih keganggu lagi karena orang-orang yang gatel pengen nyalain kembang api udah curi start dari jam 8. Coba memejamkan mata dan jam 11.30 malem dikagetin bunyi ledakan fireworks,haaallloooo…masih setengah jam lagi untuk Indonesia bagian barat!!!

Wall FB penuh ucapan selamat tahun baru ala Blingee Book Postcards, why thank you tapi itu sedkit bikin sumpek untuk diliat. Semua orang memanjatkan doa dan resolusi di status mereka. Kata “Semoga” dan “Amin” laku keras selama tiga hari terakhir.

Yang abis pesta tahun baru mungkin belum pada bangun, yang liburan keluar kota siap-siap menampakkan wajah malas karena Senin udah mulai kerja (hari pertama di tahun 2010 ha-ha). Sebagian exciting dengan segala hal yang “serba baru”. Tahun baru,bulan baru, hari baru, kalender baru (dan joke basi “Pacar baru,asal bukan suami baru yaaa…hahaha..piss)

Setelah weekend berakhir gw jamin semua orang nyaris lupa dengan resolusi mereka. Tahun baru berjanji akan berubah. Bulan puasa juga janji akan berubah. Ulang tahun khidmat juga janjinya akan berubah. Alhasil, besok-besok tetep aja pada kaya gitu lagi sampe moment yang sama tahun depan.

Infotainment akan menayangkan Mama Lauren untuk meneropong tahun ini, Mama akan menyebutkan sederet peristiwa kematian dan bencana. Artis-artis mengomentari. Terjadi kontroversi. Kalo dipikir-pikir, jangankan setiap tahun setiap hari juga pasti ada yang meninggal bukan? Semua orang pasti meninggal bukan? cuma yang giliran. Bencana juga pasti terjadi. Trus, kenapa pada resah denger si Mama ngomong? Tugas kita cuma hati-hati dan bersiap-siap.

Nggak ada yang istimewa menurut gw di momen tahun baru. Kecuali setiap tahun matahari gantian terbitnya dari arah utara,tenggara,selatan,trus begitu…baru aneh. Cek jenis kelamin masing-masing, setelah tahun baru ada yang langsung beruba nggak? Tengok kerjaan di kantor yang kemaren mungkin belum diselesain, masih ada toh? So what those fireworks means?

Tapi untuk kalian yang punya ritual seperti diatas ya selamat menjalankan aja deh. Mudah-mudahan nggak lupa resolusinya sampe bikin resolusi selanjutnya. Jadilah Pahlawan Resolusi yang resolusi-resolusinya selalu diingat (gw ga bilang dijalanin). Apa kata anak-anak itu? oh iya…Semangaaaaadddhhh!!!! 😛