E M O C R A C Y

“My Fault!”

Adalah kalimat pendek kurang ikhlas yang akan terdengar dari mulut saya bila seseorang protes karena merasa tersindir. Salah saya yang tak bisa menahan diri “memotret” kalian dan menempelkannya pada sebuah dinding besar di hadapan publik. Bodohnya, saya memotret kaum berkuasa: Mayoritas. Tentu saja saya akan diserang dari segala arah. Pembelaan: itu bukan potret menghina, itu cuma potret observasi tentang tipikal orang-orang yang saya temui setiap hari di internet: Kalian.

Tidak sedikit orang-orang berkata secara terang-terangan bahkan dengan nada provokasi memancing marah orang banyak dengan kata-kata kasar, dan saya jauh lebih ditekan hanya karena mengungkapkan keheranan dan sedikit pendapat (yang kata mereka menyindir) tentang “Daya magis status updates menarik orang untuk pamer dan curhat”. So what kalo kalian mau pamer? Silahkan aja! Kalian mau curhat? Nggak ada yang larang! Mau jutaan orang denger doa kalian setiap detik? Bukan urusan saya! Kalian bebas mengungkapkan apapun begitu pula saya.

Kalau ada kata-kata saya yang membuat kalian tersindir…untuk apa? Saya bukan orang pintar, bukan pula orang yang berkuasa atas hidup kalian, kenapa harus pusing dengan apa yang saya katakan? Kenapa resah dengan pendaat saya? Marah dan menyindir balik pun nggak ada gunanya karena saya tak pernah perduli terhadap respon yang ada. Saya hanya mengatakan apa yang ingin saya katakan, dan saya katakan dengan cara yang sesuai. Saya tidak pernah menyinggung SARA, tidak dibumbui kata-kata kotor dan berbagai prikehewanan. Tapi kalau anda merasa itu menusuk langsung ke jantung anda, tanya kembali pada diri anda? Apa yang salah dengan itu?

Saya tahu rasanya diejek, dihina, diperlakukan tidak sederajat (terimakasih untuk anak-anak FKUI S1 yang terhormat), karena sikap saya yang bossy dan menyebalkan seorang teman waktu kuliah pernah melayangkan SMS hinaan bernada super marah “Lo brengsek, pantes aja nggak ada cowok yang suka sama lo”. Saya marah, saya sedih. Tapi lalu saya bertanya kembali, kenapa saya harus marah? Itu pendapat dia dan bisa saja dia benar namun saat itu saya yakin dengan apa yang saya lakukan dan saya ada benarnya. Jadi kalau kalian merasa benar dengan apa yang kalian lakukan, katakan, pikirkan, kenapa harus marah dengan orang yang tidak sependapat atau menyindir atau bahkan terang-terangan menentang?

Saya bukan orang dengan ilmu agama yang tinggi tapi saya mengerti batas antara bangga dan riya itu tipis, saya hanya ingin bilang hati-hati. Setiap orang pasti melakukan sebuah kebaikan setiap harinya dan kebaikan itu tak akan ada gunanya bila terus dibahas. Menjadi inspirasi kebaikan tidak selalu dengan membahas kebaikan anda setiap saat pada orang lain.

Bila orang masing-masing berbesar hati, kita sudah pantas dilabelkan sebagai democracy. Tapi selama kritikan dan sindiran dibalas mentah tanpa dipikirkan, kita tak lebih hanya rakyat dengan aturan emocracy.

Advertisements

Situs Ratu Boko

Kalau kita jalan-jalan ke Jogja yang diinget selain beli oleh-oleh di Malioboro adalah mengunjungi candi Borobudur dan Prambanan. Sejak SD kita udah sering liat di buku-buku sejarah tentang bangunan yang jadi salah satu keajaiban dunia itu. Tak ada yang meragukan keindahan Borobudur dan Prambanan, terutama kalau kita tahu benar sejarah di balik bangunan batu itu.

Tapi tahukah kalau di Jogja juga salah satu situs purbakala yang tempatnya di atas bukit Boko? Namanya Keraton Boko, atau lebih dikenal dengan Candi Boko. Terletak kurang lebih di Km 17 Jalan Raya Jogja-Solo. Atau bila kalian berkunjung ke Prambanan ada penawaran tiket terusan Prambanan-Borobudur atau Prambanan-Boko. Bila kalian membeli tiket terusan tersebut, nanti diantar oleh mobil shuttle ke tujuan. Letaknya naik ke atas, sekitar 3 KM dari pertigaan lokasi Prambanan.

Bangunan utama situs ini ditemukan pertama kali oleh arkeolog kebangsaan Belanda, H.J.De Graaf. Situs ini diduga ada hubungannya dengan Prabu Boko (atau pemakaian kata “Ratu” yang juga berarti “Raja”) yang berasal dari Bali. Bukti tertua dari situs tersebut berupa prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 792 Masehi. Meskipun orang-orang memperkirakan itu adalah bangunan Keraton namun situs tersebut masih diliputi misteri, konon belum diketahui bangunan tersebut dibangun oleh siapa, untuk apa dan sebagainya.
Situs ini mempunyai beberapa bagian. Selain dua gerbang utama, terdapat pula candi pembakaran (krematorium), paseban (semacam audience hall), pendopo, keputren, serta dua buah gua yaitu Gua Lanang (laki-laki) dan Gua Wadon (wanita).

Karena terletak di atas bukit, meskipun panas terik tapi udara tetap sejuk. Sebelum pintu masuk terdapat tempat istirahat, musholla, rumah makan dan informasi ditemani live gamelan dengan pemandangan tepi lekuk gunung Merapi. Jangan lupa untuk bawa minum atau sekadar cemilan karena jalan menuju lokasi cukup jauh serta menanjak.

Kalau kamu memakai jasa shuttle dari candi Prambanan, santai saja karena mereka akan menunggu sampai kita puas berkeliling. Tidak seperti Borobudur atau Prambanan, Keraton Boko dibilang cukup sepi pengungjung karena tempat ini tak sepopuler candi yang lain. Namun keindahannya jangan ditanya.

StatuS Updates

…yang mau nggak mau terlihat setiap kali buka facebook, dan cukup annoying menurut gw….

1.Semangat!
Ririn Sastina. Flu berat, kepala masih sakit, nggak bisa tidur semaleman tapi mesti bangun nih wat UAS…Semangat!!! ^_^

2.Mengeluh soal cuaca.
Kevin Budianto. Gila, neraka bocor ya panas banget, jadi males kemana-mana
Besoknya…
Kevin Budianto. Anjriiiit…ujan deres banget, ga bakal bisa kemana-mana nih!!!

3. Mr.Around The World
Heri Yudhistira. Alhamdulillah, baru landing di CHANGI, kangen banget ma Indonesia
2 Jam kemudian…
Heri Yudhistira. Baru juga nyampe SINGAPUR besok udah mesti terbang lagi ke WASHINGTON DC, USA.

4.Melek politik
Rinto Rahman. POLRI harus membebaskan BIbit-Chandra, sudah waktunya bangsa ini menegakkan keadilan dan demokrasi! Hidup KPK!

5. “Alay”!!!
Nhie Chantique. mEski tEruS K4u s4KiTi QuWh, QuWh K4N tErUs MeNy4y4NgImU…wAlO h4Ti nI s4kIt b9t…

Astaga, nulis contoh aja gw mblenger…salut deh para alay yang biasa ngetik kaya gini!!!!

6. Miss “Jagalah Hati”
Ambarwati Yuniar. Kumohon padaMu, agar apa yang telah kami lakukan berguna bagi keluarga,teman dan bangsa ini…amien.

7. Membicarakan diri sendiri
Yoga Armando. Kan gw udah bilang, pake program itu nggak support. RAM nya aja kecil,kemaren gw saranin pake Mac sekalian, eh sekarang malah komplen soal LAN yang (bla bla bla)…

8. Uptown Girls
Stella Maria. @Pacific Place, Tas Prada merah yang itu udah out of date, dari katalog lama,ahh..mending beli Blahnik item yang tadi aja…

9. Keluarga Kecil Bahagia
Lilis Suryaningsih. Raihan sama Aqiya seneng banget ayahnya pulang…duh,bunda jadi seneng lihat kamu, nak…

10. Seniman
Tombak Arya. Tak terpeluk kalbu dibawah sang Kala…ah, maldu. Ingin menggenggam cumbu sang mawar tak berkesudahan…ya, madu.

11. Box Office Mania
Sena Aditya. Ninja Assassin…two thumbs up. Next…Air Terjun Pengantin.

12. Budak Kapitalis
Susie Marlena. I don’t like Monday, Friday cepetan dooonnnkk…
Akhir minggu…
Susie Marlena. Weekend tapi belum gajian…sama aja! Akhir bulan cepatlah datang!!
Akhir Bulan…
Susie Marlena. Gaji udah masuk, alhasil cuma numpang lewat buat ini itu,kapan ya dapet gaji ketiga belas…

NB: nama-nama yang dipake tu semua fiktif yaaaa… 😉

Bukan Nasehat

Betul, karena gw nggak pandai memberikan nasihat, nggak sepandai salah satu teman yang setiap saat suka sekali berwejangan. Ini cuma “catatan lemari es”, kecil, singkat dan hanya sekedar mengingatkan.
Bulan ini banyak banget yang nikah, pertama-tama gw ucapkan: “welcome to the club!”. Gw cuma mau share aja, seperti orang-orang yang sudah menikah dan gatel pengen ceramahin temen-temennya yang mau gelepas masa lajang mereka, padahal baru juga 6 bulan …norak kan? Udahlah,duduk dan denger aja!

Pepatah lama mengatakan menikah itu seperti mengendarai bahtera (that’s why selalu ada ucapan “Selamat mengarungi bahtera rumah tangga” (sebetulnya salah tuh,harusnya yang diarungi laut,bukan bahtera)di bungkus kado ato amplop angapau). Mungkin ada benernya dan kalo boleh menambahkan bahtera itu diisi dua orang: suami dan istri. Suami adalah nahkoda dan istri adalah navigator. Keduanya harus saling mendengarkan. Suami mungkin fasih membaca arah mata angin dan peta tapi ia harus rela membagi egonya pada sang istri. Istri mungkin juga handal dalam mengemudikan kapal namun ia harus menyerahkan tanggungjawab besar itu pada suami. Kalo keduanya tahu posisi masing-masing pasti udah tahu juga tugasnya dan kapan harus gimana, secara insingtif.

Lo tau kenapa semua dongeng hanya berakhir dengan kata-kata “Dan mereka hidup bahagia selamanya”? karena si penulis nggak mau ngerusak keyakinan akan kebahagiaan pembacanya dengan fakta-fakta yang kadang menyedihkan (selain itu ntar ceritanya ga selesai dan bukunya nggak laku!).
Semua orang pasti tahu kalo menikah itu nggak mudah. Akan banyak pertengkaran, kesalahpahaman, kecurigaan, ke-plin-plan-an dan banyak lagi.

But something you must remember is…semua pasti akan berlalu. Selama setelah bertengkar kita saling mendengarkan, menghilangkan argumen yang nggak perlu dan minta maaf (ikhlas lho!). Suami/ istri adalah sahabat terdekat. Tempat kita bercerita masalah paling pribadi meskipun itu tentang kejelekan pasangan kita sendiri. Jadi untuk para sahabat apalagi mantan pacar yang katanya buaik buanget dan hadir disetiap kita butuh, please menyingkir. Karena orang-orang itu berpotensi menjadi orang ketiga yang bisa memperparah keadaan. Kalo ada orang yang harus tahu kalo lo kesel dengan ke-cuek-an pasangan lo, dia adalah pasangan lo sendiri. Tentu saja, bicarakan dengan duduk berdampingan, bukan ala pelanggan yang komplain ke customer service. Bertengkar dalam pernikahan itu bukan lagi lumrah tapi nyaris wajib karena dengan begitu kita akan tahu kekurangan masing-masing dan saling ngebenerin. Dan satu hal: jangan pernah ngebeberin masalah pribadi ke orang lain. Jangan pernah.

Seperti biasa juga, akan ada banyak mulut yang ngomong selain mulut kalian berdua. Tapi jangan khawatir, nggak semuanya wajib di dengerin. Capek kali kalo mesti dengerin tiap orang ngomong. Kalo lagi pengen ya dengerin, nggak ya tinggalin.

Gw cuma mo ngomong itu doang sih, kalo belum cukup biasanya ntar ada tambahan di komen-komen tulisan ini dari yang umur pernikahannya lebih tua dari gw, bahkan dari yang udah punya anak. Intinya gw cuma mo bilang “Ini tentang kalian berdua, jadi santai aja…”