Selamat Pagi Inspirasi!

Selamat pagi alarm! Suaramu yang menyebalkan memaksa kedua mataku yang baru tertutup dua jam untuk menyambut satu hari lagi penuh rutinitas yang super membosankan…

Selamat pagi rambut ikalku yang susah diatur! Butuh satu jam penuh untuk mengaturmu lebih rapih meski hanya untuk beberapa saat. Angin nakal pagi hari akan mengganggumu sampai kau marah dan kembali ke bentuk semula…

Selamat pagi bayangan putih menyeramkan di atas pohon! Aku benci harus melihatmu di pagi buta dan merinding karenanya, tapi bila aku meleset lima menit saja dari pukul lima pagi, bisa-bisa gajiku dipotong karena jalanan kota Jakarta tak pernah mengampuni pemakai transportasi umum yang telat berangkat…

Selamat pagi Mikrolet pertama di hari ini! Keluar paling pagi mengangkut orang-orang macamku yang tergopoh-gopoh berlomba dengan matahari yang akan naik. Pak supir penuh semangat menjalankan mobilnya, memacu mesin menghangatkan pagi, membayangkan sirkuit terbentang di depan matanya. Berkelok, menyalip, rem mendadak, dan berakhir di tangan pak polisi…

Selamat pagi gedung angkuh Jakarta! Tempatku mengais harta karun di tengah orang-orang brengsek bermata hijau. Dibenci namun juga dicari. Panas, penuh polusi namun penduduknya bertambah setiap menit…

Selamat pagi rekanku sang penjilat! Siapa kali ini yang coba kau dekati? Rindu kadang kuingat masa lalu dimana kita begitu dekat bersahabat. Sebelum ambisi dan egomu sebesar gedung ini, dan uang adalah satu-satunya yang berkilau di benakmu. Kini yang kau kejar hanyalah bokong para petinggi untuk kau jilat. Aku akan merindukanmu teman, dimana suatu hari akan kulihat karma membayangimu. Sampai hari itu tiba, biarkanlah aku terus meniup luka yang tak kunjung kering ini akibat tusukmu…

Selamat pagi bos! Telat lagi ya? Tidak apa-apa, dengan atau tanpa kau aku tetap bisa mengerjakan pekerjaanku dengan baik. Bukankah fungsimu hanya untuk persetujuan Acc tetek bengek? Kuli sebenarnya adalah kami. Oh ya, tidak masalah kalau kau mau pulang lebih awal (lagi) hari ini…

Selamat pagi wanita-wanita tukang gosip! Katakan siapa lagi yang sedang kau gunjingkan itu? Tidakkah mulutmu lelah menyebutkan sederet kelakuan minusnya di daftar hitammu? Karena telingaku sudah lelah mendengarnya dari hari ke hari. Mungkin suatu hari bila kau menemukan sebuah cermin besar dimana kau tak melihat bayangan apapun kecuali dirimu disana, kuharap itulah hidayah yang akan meluruskan hatimu…

Selamat pagi apapun yang membuatku naik pitam hari ini! Tanpa kalian, otak kananku yang lemah ini takkan bisa menuangkan apapun menjadi sebuah karya yang mungkin akan dipuji atau pula diabaikan…

Selamat pagi Inspirasi…!!!

Advertisements

Karena Ia Seorang Manusia

Kemarin,bayangan sang mantan mencekik (mencekik kutulis,mencekik pula maksudku) ruang dalam kepala yang sedang merindukan entah apa…

Setiap orang membangun dunia masing-masing dalam benaknya. Sebuah dunia yang disebut “sisi lain”. Kadang terdeteksi orang lain,kadang tak disangka-sangka. Tak terkecuali aku. Sebuah fase hampa adalah hal paling menyebalkan yang pernah kualami,tapi yang lebih menyebalkan adalah fase itu akan terus ada,berputar seperti roda berganti tempat dengan oponennya.

Pernahkah kau merasakan sebuah abstraksi di dalam benakmu,lama-lama ia menjadi sebuah lubang hitam dan tiba-tiba menyedotmo masuk ke dalamnya. Rasa takut adalah yang dominan diantara rintik-rintik penyesalan masa lalu,resah,sedih,marah,kecewa. Orang-orang menyebut keadaan ini sebagai Depresi. Dan Depresi ini bak sahabat lama yang kedatangannya telah pasti namun tak bisa kuhindari setiap kali ia melangkah perlahan merentangkan tangannya untuk memelukku. Karena itu kusebut Fase.

Abstraksi ini luar biasa,teman. Ia akan mengguncangmu dengan flashback seperti potongan-potongan film yang seharusnya sudah kaubuang. Tapi tak mungkin karena ia akan terus kembali sekalipun tak kaupanggil. Keadaan ini akan diawali dengan rasa sedih,lalu rasa marah sebagai klimaks-nya dan hilang bagai asap tanpa penyelesaian.

Satu-satunya orang yang mengerti keadaan ini adalah Noey. Seseorang dengan jiwa terdalam dimana palungnya pernah kuselami dalam diam. Dan dalam diam pula kami tersenyum,mengangguk mengerti. Sadar bahwa aku bukan satu-satunya dan tahu ada orang yang kukenal memiliki kasus yang sama adalah sebuah kelegaan. Seperti menemukan orang satu kampung di negeri asing dan kami dengan leluasa berbicara dalam bahasa ibu. Begitulah aku mengenal Noey,menatapnya sebagai belahan jiwa,berharap tak terpisahkan karena belum tentu ada yang mengerti masalah abstraksi ini selain dirinya.

Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Mengerti,mengangguk,tersenyum,menepuk punggung,lalu pergi disaat keadaan tak terkendali. Tali kekang leher ini tetap ada di tanganku,teman. Aku adalah majikan dari jiwa anjing penjagaku sendiri. Namun adakalanya sang anjing penjaga hilang kontrol tanpa sebab,menggila,tak kenal siapapun,merobek apapun yang ada di dekatnya. Saat itulah kubutuhkan tangan yang lain untuk menangkap tali kekang yang terlepas sementara tanganku lemas tak berdaya. Dan Noey tak pernah meminjamkan tangannya untukku.

Suatu hari ia benar-benar pergi tanpa alasan. Dan datang seorang Mandhala. Manusia laki-laki yang penuh ketidaksempurnaan,logis,penganut otak kiri. Ia tak mengerti apa itu abstraksi. Ia tak mengagungkan fase depresi seperti yang kulakukan. Ia hanya tahu cara survive di atas tanah yang ia injak sekarang ini.

Mandhala tak pernah kuakui menjadi belahan jiwaku. Ia tak punya visi luar biasa seperti yang dimiliki Noey. Tapi si penganut otak kiri ini tidak hanya meminjamkan tangannya,ia memberikan tangannya untuk menjaga tali kekangku. Ia tak pernah paham akan sisi lainku,tapi ia duduk menunggu sementara ku bergulat dengan segala kegilaanku,sampai aku lelah tak bertenaga,itulah saatnya ia datang untuk menangkapku. Memasang telinga mendengarkan ocehan-ocehan tak karuan yang mungkin tak ia mengerti. Tapi lihatlah sepasang mata itu,teman…

Dalam sebuah kelas ketika sang guru sedang menjelaskan kerumitan sebuah rumus matematika,pernahkah kau melihat dua jenis murid yang ada diantara kita? yang satu adalah si pintar yang tahu lebih dulu penjelasan rumus itu dari berbagai bimbingan belajar yang ia ikuti,ia akan tersenyum sambil mengangguk-angguk bersemangat merasa lebih mengerti daripada yang lainnya. Yang satu lagi adalah si otak pas-pasan yang mendengarkan dengan kening berkerut,mengulang-ulang kalimat yang ia dengar dari mulut sang guru dan berusaha keras mencernanya di dalam otak. Seperti itulah Mandhala,ia tak pintar menguasai duniaku,namun ia berusaha keras untuk mengerti,dengan begitulah ia mengenalku semakin dalam.

Kali ini kuulang lagi dengan menguji Noey satu kali untuk meyakinkanku akan kehadiran Mandhala. Dan memang hasil uji abstraksi tak pernah berbohong.

Dewi Lestari melantunkan “…Tapi tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap,tak cemerlang,tak rupawan…”. Tapi Mandhala bahkan bukan seorang malaikat. Dan anehnya,itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Itulah yang membuatku memilihnya. Karena ia seorang manusia biasa…

AFGAN (Terlalu Sadis Caramu)

Sebetulnya bukan kegemaranku untuk nonton sebuah acara musi secara live macam konser. Tapi sebuah telepon dengan suara yang tak dapat kutolak membuka paksa mataku, berpakaian dan berjalan menuju sebuah pusat perbelanjaan yang letaknya tak jauh dari rumah. Disana sedang berlangsung syuting acara musik sebuah stasiun TV, dan mataku yang baru setengah terbuka menjadi terbuka total melihat kerumunan (cewek-cewek) di pelataran parkir nan luas plaza itu. Tidak mungkin aku menembus orang-orang sebanyak itu untuk mendekati point stage yang hanya berupa area kecil untuk para bintang tamu yang akan tampil nanti. Maka kutelepon orang yang paling bertanggungjawab membuatku datang kesini. Tak lama orang itupun muncul dengan senyum bahagia menghiasi wajahnya yang berkeringat.

“Kamu mau membunuhku ya?” kataku menunjuk dengan mata ke arah kerumunan gadis-gadis yang terlihat seperti lilin-lilin yang meleleh perlahan dibakar sinar matahari pagi yang mulai meninggi. Ia tertawa dan mengajakku ke sebuah pintu dimana kami masuk ke dalamnya, berjalan tenang diapit pagar setinggi dada membatasi kami dengan kerumunan gadis-gadis yang masih berteriak memanggil nama seorang penyanyi. Dan sampailah kami pada point stage. Disitulah aku paham apa yang ditunggu gadis-gadis belia itu.

Duduk disamping Ramon Y.Tungka sebagai host, seorang laki-laki muda bernama Afgan yang namanya saat ini sedang melambung bak bola tenis yang dipukul oleh Martina Hingis, melesat cepat dan mantap dikenal seluruh nusantara. Bagiku ia tak seperti seorang yang glamour. Ia layaknya seorang mahasiswa biasa yang kebetulan punya bakat menyanyi, wajah innocent yang disukai para gadis dan senyum rendah hati. Simple, namun dengan efek dahsyat yang bisa terjadi pada kaum hawa seusianya. Dan efek itu membuatku tak berhenti menggeleng-gelengkan kepala.

Gadis-gadis itu berusia paling tidak antara umur 13 sampai 20 tahun, berpola penampilan identik satu sama lain: celana pensil, t-shirt berwarna cerah, rambut panjang yang setiap dua menit sekali mereka elus sampai terlihat berminyak dan sebuah HP kamera di tangan, memaksa zoom hingga mendapatkan wajah si target dengan jelas. Mereka berdiri hampir dua jam dengan posisi tetap di tempat karena dikepung “kloning”-an mereka dari berbagai penjuru dengan maksud dan tujuan yang sama. Posisi yang berada di paling depan adalah sebuah keberuntungan karena bisa melihat dengan jelas sang artis, tapi mereka yang ditengah bahkan paling belakang? Tidakkah yang mereka lihat hanya kepala dan punggung orang-orang yang ada di depannya sambil merasakan bau sepuluh macam zat kimia yang keluar dari tubuh manusia-manusia di dekatnya yang senasib? Keringat sudah terlihat deras di kepala, wajah dan ketiak mereka, tapi akankah sang pujaan mendengar lalu menyeruak ke tengah kerumunan mendatangi mereka hanya untuk berkata “Hai!”?

Untuk berdiri dan memandang mereka saja membuatku tidak enak hati, karena beberapa jelas-jelas menatapku iri karena bisa masuk ke area khusus ini. Dan tontonanku bukan lagi Afgan, D’Masiv dan Baron Soulmate yang menjadi bintang tamu hari ini, melainkan gadis-gadis dari balik pagar yang jauh lebih menarik untuk dilihat. Mereka berteriak nyaring mengelu-elukan nama Afgan. Si empunya nama masih duduk santai diwawancara dan sesekali melambai ke arah mereka yang kemudian disambut riuh. Sambutan seperti melihat pesta kembang api di malam tahun baru.

Dugaanku tepat, ketika giliran Afgan bernyanyi suasana semakin menggila. Pagar pembatas mulai bergoyang dan beberapa petugas keamanan bertampang gagah (dan galak) ditambah untuk menenangkan massa. Saat itulah seorang diantara mereka berlari meloncati pagar dengan tangan terentang untuk memeluk (atau menerkam?) sang idola. Dengan sigap petugas keamanan mencekal tangannya, menyeret gadis itu kembali ke balik pagar. Kulihat gadis itu berteriak meronta dambil terus memanggil-manggil Afgan yang masih bernyanyi dan tersenyum pada penonton. Berdebar jantungku, bertanya-tanya apakah gadis itu setengah kesurupan. Aku paling takut dengan orang yang sedang kesurupan.

Tidak tahan kakiku pegal dan panas, dan orang yang bertanggungjawab membawaku kemari tadi kupaksa untuk lebih bertanggungjawab lagi dengan mengantarku melalui pintu yang kami lewati tadi dengan diiringi tatapan sinis untuk keluar dari areal ini. Aku sedah lelah dan ingin pulang, lagipula sebentar lagi acara ini selesai. Ia menyarankan agar menunggu acara ini sampai selesai saja, tapi ngotot lah yang aku tahu bila sedang kelelahan. Ia menyerah dan berkata hanya bisa mengantar sampai pintu keluar ujung karena harus kembali bekerja. Aku setuju.

Sampai diujung pintu sudah terparkir APV hitam untuk Afgan yang katanya setelah menyanyi akan langsung dikawal menuju mobil itu. Disekitarnya sudah dipadati para fans yang menunggu, berharap bisa mengambil gambar dengan kecepatan sepersekian detik sebelum sang idola masuk ke mobil. Si orang yang bertanggungjawab terhadapku melepas tanggungjawabnya sampai mulut pintu. Meninggalkanku yang kebingungan mencari celah untuk menerobos Pasukan Pecinta Afgan. Seorang sekuriti yang berdiri di samping mobil itu menatapku geli dengan senyum sarkastis.

“Mau keluar? keluar aja” ia meledekku. Sekuriti sialan itu tahu aku kebingungan. Tidak mungkin aku kembali ke point stage karena pintu di ujung sana pun sudah ditutup. Bermodalkan rasa nekat kucoba permisi ke sebuah sisi. Tapi seorang ABG fanatik Afgan menolak memberi jalan dan menyuruhku mencari jalan lain. kalau ia adikku, pasti sudah kutampar sampai berdarah, menarik kepalanya ke bawah kakiku dan berteriak apakah yang ia maksud “jalan lain” itu celah diantara kaki-kaki orang yang hanya bisa dilewati tikus rumah? Berbagai adegan kekerasan pada gadis itu berkecamuk di kepalaku. Mereka begitu kejam, maka tak perlu lagi bersikap sopan pada para Barbie gagal ini.¬† Bak banteng Pamplona, kutundukkan kepalaku dan mulai maju menerobos kerumunan tak bercelah itu. Aku bukan lagi mencari jalan tapi membuat jalan. Kubuat rasa nyeri pada pundak-pundak mereka. Kuinjak satu persatu punggung-punggung kaki mereka. Dan itu memang berhasil menciptakan jalan untukku keluar. Beberapa kali aku terjatuh, namun kembali berdiri dengan susah payah sebelum nasibku mengulang cerita para jamaah haji yang terinjak-injak di terowongan Mina. Itu jauh lebih menyenangkan karena bisa mati syahid, kalau disini yang ada mati konyol.

Akhirnya, Tuhan mengizinkanku keluar dengan selamat dari para jamaah Afgan itu. Kutarik nafas panjang dan melepaskannya dengan nikmat. Mereka masih setia menanti Afgan keluar meskipun kaki mereka masih terasa sakit kuinjak, pundak mereka masih terasa nyeri kutabrak.

Afgan, terlalu sadis caramu menciptakan monster-monster itu….